
"Jadi ceritanya lo jatuh cinta pada pandangan pertama nih" ucap Henk setelah selesai mendengarkan cerita Riko.
Mereka membubarkan diri dari kerumunan dan kembali duduk di tempat masing-masing setelah beberapa saat bergerombol untuk mendengarkan cerita Riko.
"Ya bisa dibilang gitu sih, gue kan juga gak terlalu sering main ke rumah Digo" jawab Riko santai dengan kembali memakan gorengan yang sempat ditundanya tadi.
"Kenapa? takut sama ayahnya Digo lo?" tanya Jek dengan nada mengejek.
"Gak lah, asal lo tau aja sebenarnya ayahnya Digo itu orangnya receh banget sumpah, tapi emang pembawaannya aja yang tegas dan wajahnya yang garang" jawab Riko.
Dulu waktu masih kelas 7 SMP ia sempat bermain di rumah Digo, waktu itu ayahnya Digo belum kembali bertugas jadi ia sempat berbincang sedikit dengan ayahnya Digo yang berprofesi sebagai polisi itu. Dan ternyata sikap ayahnya Digo berbeda jauh dengan apa yang selama ini ia dan teman-temannya bayangkan. Meskipun wajahnya tegas dan garang tapi ternyata ayahnya digo mempunyai kepribadian yang humoris. Dan sejak itu pula ia bertemu dengan Diva yang saat itu masih kelas 5 SD tapi sudah berhasil membuatnya terpikat.
"Gue sih sering kerumahnya Digo, tapi jarang ketemu ayahnya, jadi gue gak terlalu paham" ucap Rey.
"Lo pernah gak Henk?" tanya Jek dengan menatap Henk yang sedari tadi hanya menyimak.
"Jangankan liat ayahnya, liat rumahnya aja gak pernah gue" jawab Henk santai.
"Sama deh gue juga" balas Jek dengan menepuk pundak Henk.
Jek dan Henk memang tidak pernah bermain atau berkunjung kerumah Digo, ya karena mereka mempunyai kesenangan yang sama maka keduanya sering menghabiskan waktu berdua saja. Sedangkan Rey dan Riko lebih sering berkumpul bertiga bersama Digo.
"Balik lagi lo" ucap Rey saat melihat Digo yang kembali lagi ke warung bang Ali.
"Mau minggat lo? pakai bawa-bawa tas segede itu lagi" tanya Jek dengan mengangkat sebelah alisnya karena bingung dengan Digo yang datang dengan membawa tas besar.
"Jangan bilang lo halu lagi main drama jadi anak badboy yang kabur-kaburan" tebak Henk dengan menatap Digo penuh selidik.
"Di coret dari kartu keluarga kali dia" tambah Riko.
"Apaan sih lu semua, gue emang pergi dari rumah" jawab Digo santai yang sontak membuat keempat sahabatnya mendelik.
"Wah gila, anaknya om ici ternyata bisa ngebrandal juga bro" ucap Jek dengan diiringi tawa kerasnya.
"Kampret lu, gak usah bawa-bawa ayah gue, gue kayak gini juga gara-gara belain kalian" ucap Digo dengan memutar bola matanya jengah.
"Dihh kok ngegas, terus kenapa lo bisa kabur dari rumah?" tanya Rey dengan muka penasarannya.
"Jadi....
__ADS_1
Flashback on
"Kamu berani bentak-bentak bunda, kamu sudah keterlaluan Digo, ini semua pasti akibat pergaulan mu dengan anak-anak brandalan itu, teman-teman bajingan mu itu sudah memberi pengaruh buruk pada kamu Digo"
"Bunda tidak bisa memaki-maki teman-teman Digo, mereka bukanlah bajingan seperti yang bunda kira"
Plakkk...
"Digo, kamu mau kemana nak?" tanya Liana dengan gugup saat melihat sang anak bungsu yang menuruni tangga dengan membawa tas besar.
"Kakak mau kemana?" tanya Diva yang menghampiri sang kakak dengan air mata yang masih berlinang.
"Kamu jangan nangis, adiknya Digo tidak boleh cengeng" ucap Digo lembut dengan mengusap air mata sang adik.
"Tapi kakak mau kemana? kakak gak akan tinggalin Diva kan?" tanya Diva dengan memeluk Digo.
Digo hanya tersenyum lembut memanggapi pertanyaan adiknya. Ia mengusap lembut pucuk kepala Diva dan setelah itu ia langsung berlalu pergi keluar rumah.
"Digo mau kemana kamu, Digo..." teriak Liana dengan mengejar Digo yang sudah keluar dari pagar dengan membawa sepedanya.
Flashback off
"Gue mau nenangin diri dulu" jawab Digo dengan menundukkan kepala. Ia sebenarnya juga merasa kasihan dengan Diva karena Diva pasti akan sangat sedih jika ditinggal olehnya apalagi sejak kecil mereka selalu bersama.
Tapi ia tak mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah, ia akan tetap pergi tapi hanya dalam waktu singkat untuk menenangkan pikirannya saja.
"Lo seharusnya jangan gitu go, mau bagaimana pun dia itu tetap ibu lo dan gak seharusnya lo bentak-bentak dia" ucap Rey menasehati.
"Keep calm go, kita gak masalah disebut brandalan karena kita memang kayak gitu, lo tau sendiri kan kalau kita emang jarang pulang dan tentunya ibu lo mau yang terbaik buat lo" tambah Jek pula.
"Lo seharusnya buktikan ke orang tua lo kalau lo bisa menjadi lebih dari anggapan mereka, walaupun kita brandalan atau apapun itu tapi kita masih tetap mempunyai etika dan sopan santun" ucap Riko.
"Gue gak nyalahin lo go, apapun pilihan lo kita semua hargai, tapi kita sebagai sahabat lo juga mau yang terbaik buat lo meskipun kita bukan yang terbaik, tapi seenggaknya kita tetap harus hormat sama orang tua walaupun kita anak malam" ucap Henk dengan menepuk-nepuk pundak Digo.
Digo terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh teman-temannya, ia merasa bersalah pada sang bunda karena ia sudah berbicara kasar tadi, tapi ia juga merasa kecewa karena bundanya telah membentak Diva dengan kata-kata kasar.
"Gue paham" ucap Digo dengan menundukkan kepalanya.
"Terus sekarang gimana keputusan lo?" tanya Rey dengan menatap Digo yang masih terdiam dengan menopang kepalanya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Kalau lo emang mau nenangin diri lo bisa tinggal di rumah gue sampai lo tenang" tawar Riko dengan menepuk lengan Digo.
"Oke gue tinggal di rumah lo" jawab Digo dengan tersenyum tipis. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti mereka semua, walaupun mereka sering mengejeknya ataupun menjahilinya tapi sebenarnya mereka semua selalu care satu sama lain dan selalu menyelesaikan masalah bersama-sama dengan tulus.
"Thank you bro" ucap Digo dengan mengarahkan kepalan tangannya yang disambut kepalan tangan juga oleh yang lainnya, mereka selalu melakukan hal itu jika sedang bahagia ataupun saat akan berpamitan sebagai pengganti jabatan tangan.
"Gak usah gitu, kita udah sahabatan dari lama dan ini memang kewajiban kita untuk membantu siapa pun yang ada masalah" ucap Henk dengan tersenyum tulus.
"Rik, gue ikut tidur di rumah lo yak, biar rame" ucap Rey dengan tatapan memohon.
"Oke" jawab Riko santai.
"Lo berdua gak ikut gabung juga?" tanya Digo kepada Jek dan Henk.
"Gue lain kali deh yak, malam ini gue ada janji sama pacar baru gue" jawab Henk dengan tertawa cengengesan.
"Gue absen deh, lagi patah hati gue kemarin baru diputusin sama si Mita" jawab Jek dengan ekspresi sok sedih.
"Gak usah masang tampang kayak gitu, gak mungkin seorang Jek galau cuma gara-gara diputusin sama cewe" ucap Rey dengan menjitak kepala Jek.
"Tapi ya gue beneran cinta sama dia, niat awal cuma penasaran eh makin lama makin cinta, udah dua bulan gue sama dia" ucap Jek dengan benar-benar memasang wajah sedihnya.
"Si Mita cewe yang mana sih? jadi penasaran gue" tanya Digo dengan muka penuh penasaran.
"Aelah lo itu tinggalnya di Antartika apa gimana sih go, si Mita cewe yang sekarang lagi populer di kelas 9 masa lo gak tau" jawab Jek sewot.
"Dia kan masih saudaraan sama vampir bro, maklum lah gak bisa deket-deket sama cewe darah suci" ucap Henk dengan tertawa keras.
"Baru juga sekelas 9, belum se-SMP, belum se-Jakarta, belum juga se-Indonesia, dan belum juga sedunia" balas Digo santai dengan nada acuhnya.
"Cantik bro, mana bisa si Jek nyia-nyiain cewe bening" ucap Rey dengan melirik Jek singkat.
"Mubazir" balas Jek dengan santainya yang membuat Digo, Rey dan Riko yang memang tidak se-frekuensi dengan Jek dan Henk menggeleng-gelengkan kepala.
"Udahlah yok pulang, besok Senin, bisa mampus kita kalau telat masuk sekolah" ucap Riko menginginkan teman-temannya.
"Kuylah" jawab mereka semua serempak lalu bersiap untuk pulang.
Sebelum pulang jangan lupakan pula adat mereka semua yang selalu adu kepalan tangan sebagai pengganti jabatan tangan.
__ADS_1