
"Ayah tidak ikut makan siang bund?" tanya Digo yang baru saja bergabung dengan bundanya di meja makan namun tidak melihat keberadaan ayahnya.
"Ayahmu sudah kembali bertugas pagi tadi" jawab Liana dengan mengambilkan nasi untuk Digo.
"Makanlah, kamu makan siang di rumah hanya waktu hari Minggu saja bukan?" ucap Liana dengan menyodorkan satu piring nasi dan lauk di hadapan Digo.
"Makanan bunda adalah yang terbaik" puji Digo dengan menyantap habis semua makanan yang ada di piringnya.
"Diva dimana bund?" tanya Digo dengan memincingkan matanya saat baru menyadari jika adik cerewetnya tidak ikut makan siang.
"Itu..." jawab Liana dengan mengarahkan pandangannya pada kursi sofa yang terdapat sosok Diva yang tengah tertidur lelap dengan mulut terbuka.
Saat itu juga ide jahil terlintas di pikiran Digo, entah apa yang ia rencanakan tapi dengan tersenyum jahil ia berlari menuju dapur.
Ia kembali dengan membawa satu sendok teh yang berisi garam.
Melihat hal itu, Liana hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua anaknya yang selalu saling menjahili satu sama lain, tapi jika sedang akur maka mereka akan saling melindungi satu sama lain, meskipun Digo susah diatur tapi ia bersyukur karena Digo masih mempunyai kasih sayang besar untuk keluarganya.
Digo tertawa cekikikan saat berhasil menaburkan garam di mulut adiknya, tidak sampai disitu ia juga mencoreti wajah sang adik dengan spidol warna, ia tak akan puas jika belum sampai membuat Diva mengobrak-abrik kamarnya.
"Digo kamu bantu bunda membereskan meja makan!" seru Liana yang langsung membuat senyuman Digo memudar secara cepat.
Akhirnya dengan terpaksa ia mengangkut semua piring kotor di meja makan dan membawanya ke dapur sesuai perintah bundanya. Liana tersenyum tipis melihat ekspresi pasrah Digo, anak yang biasanya selalu membuatnya kesal kini telah berubah menjadi anak kucing yang polos.
Tapi Digo tak membiarkan sang bunda berbahagia di atas penderitaannya begitu saja, ia diam-diam masuk kedalam kamar lalu memakai sepatu dan tidak lupa membawa ponselnya pula, ia keluar dari kamar dengan mengendap-endap melewati bundanya yang tengah duduk di depan tv, setelah berjuang agar bisa keluar tanpa diketahui oleh bundanya akhirnya ia sampai di garasi yang biasanya ditempati mobil ayahnya, dengan segera ia mengeluarkan sepeda nya menuju pintu gerbang, ia membuka pagar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, tapi tiba-tiba....
"Kak Digooooo......" suara melengking khas Diva sudah terdengar, itu artinya Diva sudah terbangun dan sudah merasakan betapa asinnya garam satu sendok.
Itu saja Diva belum mengetahui jika Digo sudah melakukan vandalisme di mukanya, mungkin suaranya akan memekakkan telinga satu kompleks jika sudah melihat mukanya yang penuh gambaran tidak jelas itu.
Digo tertawa cekikikan dengan buru-buru menutup pagar agar bisa segera pergi karena ia tak mau jika sampai terkena amukan dari sang adik.
Di perjalanan ia sudah bisa membayangkan apa yang selanjutnya terjadi dirumahnya, adiknya yang akan mengobrak-abrik isi kamarnya, bundanya yang akan menyiapkan kursi didepan pintu untuk mencegatnya dan tetangganya yang akan menggedor pintu rumahnya karena terganggu suara bising Diva.
__ADS_1
Ia tersenyum geli saat membayangkan itu semua, ia juga sudah menyiapkan cara untuk bisa pulang tanpa terkena ceramah dari bunda dan adiknya nanti.
"Halu lagi lo go?" ucap Reyhan, salah satu teman sekumpulan Digo yang mengayuh sepedanya berdampingan dengan Digo.
"Gak, gue hanya membayangkan" jawab Digo dengan menatap Rey, ia sudah biasa menjadi bahan ejekan teman-temannya karena halusinasinya yang tinggi.
"Bayangin apa? jangan-jangan lo bayangin tante-tante yang kemarin ya" tuduh Rey dengan menatap Digo penuh selidik.
"Sorry gak berminat" jawabnya acuh lalu mengayuh sepedanya lebih kencang meninggalkan Rey dibelakangnya.
"Woy prince halu" teriak Rey dengan tertawa lebar lalu mempercepat sepedanya untuk mengejar Digo.
***
"Wuihh datang juga akhirnya lo" ucap Jeki yang sudah sampai terlebih dahulu bersama Henky dan Riko.
"Si Rey gak ikut bareng sama lo?" tanya Henk dengan celingak-celinguk mencari keberadaan Rey di belakang Digo.
"Jangan tanya tentang si Rey sama gue" ucap Digo dengan menyandarkan sepedanya di tembok lalu ikut bergabung bersama ketiga temannya.
"Dia bilang gue halu tentang tante-tante yang kemarin, kalau bukan temen udah gue damprat tu bocah" jawab Digo dengan melirik kearah Rey yang baru saja tiba dan memarkirkan sepedanya disamping sepeda Digo.
"Hahaha pantesan aja, kalau gue pinter berhalusinasi juga gak akan selera halu tentang tante-tante" ucap Henk dengan tertawa lebar.
"Udah pesan kopi lo go?" tanya Rey dengan menghampiri mereka semua.
"Bang Al, kopi susu satu yak" imbuh Rey memesan kopi pada pemilik warung yang bernama Ali.
"Siap, go kamu gak ngopi?" tanya bang Ali pada Digo yang masih fokus pada kacang rebus nya.
"Biasa bang, kopi hitam pahit satu" jawabnya dengan sedikit berteriak.
"Kenapa dan apa alasan lo suka kopi pahit?" tanya Jek dengan menatap Digo heran, meskipun sudah lama mengetahui jika Digo menyukai kopi pahit tapi tetap saja ia merasa heran.
__ADS_1
"Ya karena gue suka, kopi pahit akan terasa nikmat jika kita menikmati setiap esapannya" jawab Digo santai dengan memasukkan satu butir kacang yang telah dikupasnya.
"Prince halu kita selalu tampil beda coy" ucap Henk dengan merangkul pundak Digo.
"Go, si Diva apa kabar?" tanya Riko dengan menatap Digo, ia memang sudah lama memiliki rasa kepada adik dari sahabatnya itu, entah itu cinta atau rasa suka biasa tetapi jika sedang bersama Digo yang pertama ia tanyakan adalah Diva.
"Gak baik" jawab Digo acuh dengan kembali mengingat kejadian sebelum ia pergi dari rumah tadi.
"Kenapa? Diva sakit?" tanya Riko dengan nada dan ekspresi khawatir.
"Dia sehat, tapi kurang beruntung aja" jawabnya dengan tersenyum tipis saat melihat perubahan ekspresi Riko ketika ia mengucapkan jika Diva tidak baik-baik saja.
Ia tidak terlalu mempermasalahkan tentang Riko yang suka dengan adiknya, sejauh ia berteman dengan Riko ia tak pernah melihat Riko punya kekasih, apalagi playboy seperti Henk dan Jek, tapi ia juga tidak bisa membiarkan Riko bertindak lebih jauh karena adiknya masih terlalu dini untuk mengenal yang namanya cinta.
"Wahh si bucin udah mulai meresahkan lagi nih" ucap Jek menyindir Riko dengan tersenyum miring.
"Daripada playboy, masih SMP udah playboy apalagi kalau udah gede, bisa jadi casanova lo Jek" balas Riko dengan melirik orang yang dibicarakannya.
"Eitss jangan salah Rik, gini-gini kita juga punya kesetiaan, ya kan Jek" ucap Henk membela Jeki karena ia merasa jika sifatnya dengan Jeki tidak berbeda jauh.
"Yoi, jarang-jarang kan orang ganteng kayak kita mau sama sembarang wanita, pokoknya wanita yang pernah sama kita itu beruntung tujuh turunan" tambah Jek bangga lalu menyeruput kopi hitamnya.
"Yakali beruntung tujuh turunan, baru putus tujuh hari aja udah dijadiin aib lo" ucap Rey dengan melirik Jek dan Henk.
"Hahaha sip Rey, emang lo tuh real tukang nyinyir" ucap Riko dengan mengacungkan jempolnya pada Reyhan.
"Kalian semua kalah sama gue, halu lebih bebas dari keahlian kalian semua" ucap Digo membanggakan diri dengan mengangkat alisnya.
"Lo Rey, lo tukang nyinyir tapi masih bisa di nyinyirin balik, kalau nyinyir dalam halu kan bebas" ucapnya lagi.
"Lo Rik, lo suka sama wanita tapi gak berani sama kakaknya kan, kalau mencintai dalam halu kan lebih bebas" ucapnya dengan beralih menatap Riko.
"Dan lo Jek, Henk, kalian playboy tapi banyak wanita yang benci sama kalian, kalau playboy dalam halu kan bebas gak mikir di hate sama wanita" ucapnya lagi dengan menatap Jek dan Henk yang terlihat mendengarkan ucapannya dengan seksama.
__ADS_1
"Baik cekgu" jawab keempatnya serempak dengan memutar bola mata malas saat Digo sudah selesai berbicara.
Mereka sudah terbiasa dengan Digo yang selalu membangga-banggakan keahliannya dalam berhalusinasi, meskipun memiliki kepribadian yang berbeda-beda tetapi mereka mencintai perbedaan itu dan saling melengkapi satu sama lain.