
"Woy bro udah lama lo" tanya Henk yang baru saja tiba di warung bang Ali tak lupa pula beradu kepalan tangan seperti yang sering mereka lakukan.
"7 hari yang lalu" jawab Jek acuh lalu menyuapkan sesendok mie instan yang telah dipesannya.
"Yaelah lebay amat lo, orang lebay cepet mati" balas Henk yang langsung duduk disebelah Jeki setelah memesan kopi pada bang Ali.
"Dikerjain sama bokap lo lagi?" tanyanya lagi karena ia sudah hafal dengan gelagat sahabatnya yang satu itu jika tengah kesal.
"Yaelah bro kalem aja kali, lagian lo jadi bocah jangan dodol-dodol amat ngapa, di kibulin terus kan lo jadinya"
"Kalem pala lu, lo itu belum ngerasain gimana susahnya punya bokap yang jail akut kek papi gue" balas Jek dengan melirik sinis kepada Henk yang berada di sebelahnya.
"Gue emang gak pernah rasain karena orang tua gue jarang dirumah" jawab Henk dengan wajah suram.
"Sorry bro gak maksud" ucap Jek dengan cepat saat tidak sengaja menyinggung tentang orang tua Henk, ia tau betul jika kedua orang tua Henk jarang di rumah karena sibuk dengan bisnis dan Henk berada di rumah hanya dengan para pembantu saja.
"Udah sante aja gue gapapa kali, lo pikir gue selemah itu, pacar gue banyak dan gue gak mungkin kesepian" ucap Henk saat melihat muka bersalah Jek.
Jeki hanya tersenyum lebar saat Henk mengatakan hal itu, tapi untuk orang yang mempunyai pemikiran jernih maka ucapan Henk mengandung arti jika ia sering berganti pasangan hanya untuk mengurangi rasa kesepiannya saja, tapi karena jek juga mempunyai kebiasaan yang sama maka dia tidak bisa mencerna arti dari ucapan Henk.
"Mana si Ria? katanya mau nemuin lo disini?" tanya Jek.
"Baru on the way katanya"
"Bawa temen gak?"
"Kenapa? mau lo pepet?"
"Tau sendiri lah lo gue kan baru putus dari si Mita, tapi kalau bisa gue dapet yang lebih cantik dari si Mita"
"Yaelah yang penting dapet bro, turun selevel gapapa kali"
"Yakali bisa dibilang selera rendahan gue, kalau masih bisa dapet yang bening kenapa nggak"
"Cih sok banget lo dasar jablay" cibir Henk dengan sinis.
"Masih mending gue jablay, lah lu malah jablay metal hahaha dasar jamet" balas Jek tak mau kalah dengan tertawa terbahak-bahak.
Setelah selesai saling mengejek mereka berdua dibuat terdiam dengan kehadiran tiga gadis yang terlihat sangat cantik.
"Hai, kamu Henk kan?" tanya salah satu gadis dengan tersenyum lembut pada Henk.
"Iya, kamu Ria ya?" tanya balik Henk yang memang belum pernah bertemu secara langsung dengan kekasih barunya itu karena mereka baru berpacaran sekitar dua hari.
__ADS_1
***
"Kalau aja ada uang segebog di dalam bungkus snack ini bisa mendadak sultan gue" ucap Digo yang sudah mulai berhalusinasi.
Mode Halu
"Silahkan tuan" ucap seorang pelayan yang menyuguhkan segelas jus jeruk di hadapan Digo.
"Terimakasih, oh ya coba kau hitung masih berapa jumlah uang yang aku dapatkan dari dalam bungkus snack kemarin" perintahnya pada sang pelayan.
"Baik tuan" jawab pelayan yang juga bisa dibilang asisten itu dengan patuh.
Selagi menunggu sang asisten menghitung jumlah uangnya Digo memilih untuk meminum jus jeruk dengan memainkan ponsel keluaran terbaru yang ia idam-idamkan.
"Sisa uang anda masih 17 triliun tuan" lapor sang asisten dengan tersenyum tipis.
"Baiklah, kau belikan aku jet pribadi dan jangan lupa tulis namaku di jet itu" suruh Digo dengan santainya.
"Baik tuan saya permisi" ucap asisten itu lalu hendak melangkah pergi namun sialnya tangannya tidak sengaja menyenggol ponsel baru milik Digo yang baru saja diletakkan di meja.
Pyar...
"Oh no i'm sorry tuan, saya tidak sengaja" ucap sang asisten dengan gugup karena sudah memecahkan ponsel baru tuannya yang seharga puluhan juta itu.
Tapi reaksi Digo sungguh di luar dugaan, ia hanya berekspresi santai seolah yang jatuh adalah mainannya yang tidak seberapa.
"Tuan memang benar-benar sultan" ucap asisten itu dengan tersenyum lebar.
"Karena aku adalah Radian Digo Jeovandi" balas Digo dengan senyuman indah yang terukir di bibirnya.
"Baiklah saya akan pergi tuan dan mungkin harga jet itu sekitar 5 triliun"
"Oke tidak ada apa-apanya, jika kau mau kau bisa membeli handphone yang sama denganku karena kerjamu sangat memuaskan maka anggap itu sebagai hadiah kecil dariku" ucapnya lagi dengan enteng seolah hanya menyuruh sang asisten membeli nasi uduk yang sepuluh ribu dapat tiga.
Setelah kepergian asistennya kini Digo tengah bersantai tetapi tiba-tiba ada suara nyaring yang memakinya padahal disekitarnya tidak ada orang.
"Woy kampret" teriak suara aneh itu.
"Radian Digo bangun dodol" teriak suara lainnya secara bersaut-sautan.
Plak....
Mode Sadar
__ADS_1
"Gila ni bocah tingkat halusinasinya udah meresahkan banget" ucap Rey yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Woy ngapain lo malah bengong kek orang bodoh gitu, dasar prince halu" teriak Riko didepan wajah Digo karena Digo hanya diam tak bergeming seperti orang linglung.
"Ck gak usah teriak-teriak depan muka gue bege, mulut lo bau kentang" balas Digo dengan mendorong wajah Riko agar menjauh dari mukanya.
"Gue udah sadar tapi gue gak nyangka aja kalau tadi tu cuma halu padahal kalau nyata kan enak gue jadi sultan dadakan" imbuhnya lagi dengan membuka salah satu bungkus snack.
"Sialan lo, mulut gue bau kentang juga karena lo beli snack rasa kentang semua, ada rasa keju sama coklat dua aja udah lo gembol" ucap Riko yang tak terima jika Digo mengatakan mulutnya bau.
"Disini yang suka rasa kentang kan lo, udah untung gue beliin gak usah banyak komen" balas Digo tak mau kalah.
"Woy pikun lo, ini tadi pakai uang gue" balas Riko.
"Tapi gue yang beli, lagian uang nya ada di saku gue kok" balas Digo lagi.
"Gue heran padahal bapaknya garang gitu kenapa punya anak tingkahnya kek tuyul gini sih"
"Eh tadi kayaknya pistol ayah kebawa sama gue deh, wuihh manteb nih mana pelurunya masih full lagi, setidaknya masih lebih lah ya kalau cuma buat nembus jantung orang" ucap Digo dengan memutar-mutar sebuah pistol di tangannya yang sukses membuat Riko gelagapan.
Melihat tatapan tajam dari Digo membuat Riko benar-benar menciut, ia berpikir jika itu adalah pistol asli padahal itu hanya pistol yang sering digunakan Digo untuk latihan menembak karena tidak mungkin ia menggunakan pistol asli hanya untuk berlatih, sudah bisa dipastikan jika tetangganya akan heboh saat mendengar suara tembakan.
Karena tak mau berurusan dengan Digo saat Digo sudah mengeluarkan seringai tajam andalannya, akhirnya Riko memilih mengeluarkan jurus seribu kaki untuk kabur.
"Hahaha cemen banget tu anak, padahal ini cuma pistol yang biasa gue pakai latihan dan gak mungkin bisa nembus dadanya dia, gimana Rey cerdik kan gue?" tanya Digo beralih menatap Rey yang sedari tadi tidak ikut bersuara sama sekali.
Tatapan Digo berubah menajam saat melihat Reyhan yang dengan santainya memakan snack dengan mulut penuh dan yang paling parahnya semua snack dam minuman sudah ludes semua dan hanya meninggalkan bungkusnya saja.
Rey yang juga merasa akan terkena kemarahan dari Digo pun ikut memilih menggunakan jurus seribu kakinya dan berlari masuk kedalam rumah.
"Reyhan Dimas Saputra..." teriak Digo dengan kencang tanpa memperdulikan situasi yang sudah malam dan mungkin semua tetangga akan terganggu dengan teriakannya.
Glodak...
Tiba-tiba ada sebuah panci yang meluncur dari luar pagar halaman belakang itu dan mengenai gitar milik Riko.
"Gawat dapat serangan emak-emak komplek gue" ucap Digo yang dengan segera bangkit untuk mencari posisi aman jika sewaktu-waktu ada serangan susulan.
"Andai gue bisa jadi Ultraman pasti udah pada kelimpungan tu emak-emak" pikir Digo yang sudah bersiap-siap untuk berhalusinasi lagi.
Prang...
Tapi sepertinya situasi tidak memberikan celah untuk Digo berhalusinasi karena sebuah sikat WC kembali meluncur dan hampir mengenai kepalanya.
__ADS_1
"Sadar go situasi tidak memungkinkan untuk halu" ucap Digo dengan menepuk kepalanya.
Karena tak ingin muka tampan miliknya menjadi bonyok akhirnya ia memilih menggunakan jurus seperti kedua sahabatnya dan dengan cepat berlari masuk kedalam rumah.