
Saat masih asik berbincang, tiba-tiba suara Jek berhasil mengagetkan mereka semua.
"Bro, ada di Diva" ucap Rey dengan menepuk-nepuk pundak Digo.
Mendengar nama sang adik disebut sontak saja Digo langsung gelagapan dan dengan cepat menoleh ke arah yang ditunjuk Jek. Benar saja dari kejauhan terlihat sosok Diva yang mengayuh sepeda dengan ekspresi kesal.
"Wuihh adik lo cantik juga go" ucap Henk yang memandang diva dengan tersenyum lebar.
"Jangan macem-macem, playboy karatan kayak lo gak bakal gue ijinnkan dekat dengan Diva" ucap Digo dengan melirik tajam pada Henk yang masih memandang diva dengan tatapan memuja.
"Wuihh santai bro, kalau kakaknya kayak gini siapa yang mau deket sama si Diva" balas Henk dengan tersenyum mengejek.
Saat Diva sudah sampai didepan warung kopi bang Ali, ia langsung memarkirkan sepedanya lalu menghampiri sang kakak.
"Kak Digo, kakak sekarang ikut Diva pulang" ucap Diva marah dengan kedua tangan yang berada di pinggang.
"Ada apa?" tanya Digo polos tanpa rasa bersalah.
Mata Diva mendelik tajam melihat tingkah sok polos Digo yang semakin membuatnya geram dan ingin memukul kakak nakalnya itu.
"Kakak lupa sama kesalahan kakak" ucap Diva dengan mengerucutkan bibirnya. Melihat tingkah Diva yang seperti itu berhasil membuat keempat sahabat Digo merasa gemas.
"Kalian semua kenapa?" tanya diva dengan memincingkan matanya saat melihat Rey, Riko, Jek dan Henk yang menatapnya dengan tertawa kecil.
"Kamu suka kelinci ya" ucap Henk yang sudah mulai mengeluarkan ilmu gombalnya.
"Tidak, aku sukanya colok mata orang" jawab Diva ketus yang sontak saja membuat mereka semua tertawa karena seorang Henk si penakluk wanita gagal dalam merayu anak kecil seperti Diva.
"Emm...kamu pasti suka permen ya" ucapnya lagi dengan nada yang semakin melembut, seorang Henk tidak akan menyerah dengan mudah dalam menaklukkan hati wanita.
"Tidak juga, karena nabok mulut seorang playboy lebih menarik daripada sebatang permen" jawab Diva lagi dengan mengambil satu persatu cabai merah yang ada di meja ke tangannya.
"Buset go, adik lo gini amat yak" ucap Henk dengan mengusap wajahnya pasrah karena berhasil di skak mat oleh adik dari sahabatnya itu.
Tawa Rey, Riko dan Jek semakin keras saat melihat muka merah padam Henk yang berhasil dikalahkan oleh seorang anak kecil.
"Udah gue mau pulang, bang Ali uangnya Digo taruh dimeja ya sekalian sama kopinya anak-anak" ucap Digo dengan sedikit berteriak lalu melangkah pergi dengan menarik tangan Diva.
"Adiknya Digo cantik kan" ucap Riko dengan tersenyum lembut mengingat sosok Diva yang begitu sempurna di matanya.
__ADS_1
"Wuihh baru kali ini gue liat seorang Enriko memuja seorang gadis" ucap Rey dengan tertawa lebar.
"Sini gue ceritain waktu pertama kali gue ketemu sama Diva sampai akhirnya gue suka sama dia" ucap Riko santai lalu memakan gorengan yang ada di hadapannya.
Grebbb...
Mulut Riko berhenti mengunyah secara tiba-tiba dengan tatapan linglung saat melihat Rey, Jek dan Henk yang dengan cepat duduk melingkarinya dengan menatapnya penuh keingintahuan.
Setelah berhasil kembali ke mode awalnya ia langsung merangkul pundak ketiga sahabatnya agar lebih dekat dengannya.
"Kalian penasaran?" tanya Riko dengan sedikit berbisik yang dibalas anggukan polos dari ketiganya.
"Jadi......
***
"Kamu untuk apa susul kakak ke tempat tadi? di tempat itu banyak laki-laki Diva, kamu tau kan bagimana sifat laki-laki kalau sudah melihat seorang gadis, kalau untuk teman-teman kakak...kakak sudah bisa atasi, tapi untuk yang lainnya kakak gak bisa berbuat apa-apa" ucap Digo menasehati sang adik panjang lebar saat sudah sampai di teras rumah.
Ia bukanya mengekang Diva, tapi ia hanya berniat menjaga Diva agar tidak bertemu dengan laki-laki yang salah, di warung bang Ali bukan hanya ada ia dan teman-temannya saja, tapi masih banyak juga laki-laki lain yang mungkin tidak sebaik teman-temannya.
"Kamu tau div, kakak adalah anak luar dan kakak juga punya musuh, kamu gak tau se-arogan apa laki-laki di luaran sana, apalagi jika orang yang tidak suka sama kakak tau jika kamu adalah adik kakak"
"Diva minta maaf kak" ucap Diva dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda rasa bersalah.
"Kakak tidak marah sama kamu, kakak hanya berusaha untuk menjaga kamu karena kakak tidak mau jika kamu sampai kenapa-napa apalagi gara-gara kakak" balas Digo dengan mengusap pelan pucuk kepala Diva.
"Diva sayang sama kakak" ucap Diva dengan memeluk sang kakak erat.
Digo membalas pelukan sang adik dengan penuh kasih sayang, meskipun sering tidak akur tapi ia benar-benar menyayangi Diva bahkan rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaan Diva.
"Kita masuk" ucap Digo dengan menatap sang adik yang masih menempel padanya.
"Yuk" jawab diva yang tersenyum ceria dengan bergelayut di lengan Digo.
Saat baru akan menaiki tangga untuk menuju kamar tiba-tiba suara sang bunda mengangetkan Digo dan Diva.
"Dari mana kalian?" tanya Liana dengan nada santai namun penuh aura kemarahan.
"Maaf bunda, Digo yang mengajak Diva untuk ikut dengan Digo" ucap Digo yang berusaha membela sang adik agar tidak terkena marah oleh bundanya.
__ADS_1
"Tidak bunda, Diva sendiri yang berniat menyusul kak Digo" ucap Diva yang juga tidak rela jika hanya kakaknya yang terkena marah padahal ia juga ikut bersalah.
Mendengar ucapan sang adik sontak saja membuat Digo menatap tajam pada adiknya, ia tidak tega jika harus melihat diva ikut terkena marah gara-gara dirinya.
"Kalian tau apa kesalahan kalian?" tanya Liana dengan nada tegas.
"Diva, sekarang kamu juga akan mengikuti jejak kakakmu untuk menjadi anak tongkrongan?" tanya Liana dengan menatap anak perempuannya.
"Diva tidak salah bunda, Diva hanya keluar untuk mencari Digo, Diva tidak berniat untuk menjadi anak brandal seperti Digo" ucap Digo dengan sedikit menaikan suaranya untuk membela Diva.
"Adikmu salah Digo, dia seorang gadis tapi dia berani pergi ke tempat tongkrongan anak laki-laki, kamu sendiri pasti tau se-bajingan apa anak-anak itu" ucap Liana dengan mimik muka yang amat sangat marah.
"Dan ini berawal dari kamu Digo, kamu sudah memberi contoh yang tidak baik pada adikmu" imbuhan lagi.
"Bunda ini bukan salah kak Digo, Diva tau Diva salah tapi bunda tidak bisa menyalahkan kak Digo" ucap Diva juga dengan sedikit menaikan suaranya.
"Kamu diam Diva, kamu salah dan kakakmu lebih bersalah, mau jadi gadis seperti apa kamu jika mengikuti kakakmu" bentak Liana dengan suara meninggi.
Mendengar suara bundanya yang meninggi membuat Diva mengeluarkan air matanya, biasanya ia hanya melihat bundanya memarahi sang kakak, itupun tidak pernah semarah ini.
Digo yang melihat diva menangis pun dengan segera memeluk Diva agar Diva bisa sedikit lebih tenang.
"Bunda bebas marah pada Digo, bunda bebas bentak-bentak Digo, tapi jangan pernah bunda bentak Diva, aku adalah kakaknya dan aku juga bertanggung jawab dengan masa depan Diva" ucap Digo dengan suara meninggi, ia sebenarnya tidak ingin sampai harus membentak bundanya tapi ia juga tidak terima jika adiknya di bentak-bentak seperti itu.
"Kamu berani bentak-bentak bunda, kamu sudah keterlaluan Digo, ini semua pasti akibat pergaulan mu dengan anak-anak brandalan itu, teman-teman bajingan mu itu sudah memberi pengaruh buruk pada kamu Digo"
"Bunda tidak bisa memaki-maki teman-teman Digo, mereka bukanlah bajingan seperti yang bunda kira" balas Digo yang bertambah marah saat bundanya mengatakan jika teman-temannya bajingan.
Plakkk...
Secara spontan Liana menampar pipi Digo, ia terlalu terbawa emosi saat mengetahui anak gadisnya pergi ketempat yang tidak seharusnya dikunjungi oleh seorang gadis.
Tangannya bergetar saat menyadari jika ia sudah menampar pipi sang anak, rasa bersalah dengan cepat menyelimuti hatinya.
"Di..Digo maafkan bunda nak, bunda tidak berniat untuk...
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Digo sudah berlari menaiki tangga meninggalkan rasa bersalah yang bertambah besar pada hatinya.
"Diva...bunda salah nak, maafkan bunda sayang" ucap Liana dengan suara bergetar lalu memeluk Diva erat.
__ADS_1