Malam Untuk Pemimpi

Malam Untuk Pemimpi
Kawin lari


__ADS_3

"Rik ambil gitar lo, gue sama Rey mau ke kedai depan beli snack" ucap Digo yang langsung disetujui oleh Riko.


"Go, lo beli sendiri yak gue mau pulang bentar buat ambil baju sama seragam" ucap Rey saat masih ditengah perjalanan, ia baru teringat jika besok adalah hari Senin dan jika dihitung dari jam bangunnya sampai waktu bersiap itu bisa dipastikan jika ia akan telat ikut upacara.


"Tumben, biasanya lo juga pinjem baju gue" ucap Digo dengan memincingkan mata.


"Yaelah gak enak gue, baju lo udah banyak yang ada di gue, isi lemari gue juga kebanyakan baju lo" jawab Rey dengan tersenyum kaku.


"Hobi lo kan emang koleksi baju orang, sejak kapan seorang Reyhan punya rasa gak enakan" balas Digo dengan melirik singkat kepada sahabatnya itu.


"Udah ah mau balik gue, baek-baek lo jangan sampai kecantol mama muda" ucap Rey dengan tertawa lebar lalu segera berbalik untuk segera pulang dan mengambil bajunya.


***


Chat pribadi


"Ngopi kuyy, sekalian cuci mata" Henk


"Kuylah, jam 8 yak" Jek


"Apaan lo jam 8 mah ciwi-ciwi udah pada masuk kandang, paling cuma nyisa yang panggilan" Henk


"Udah pengalaman ya mas, apal banget sih sama jam mangkalnya wkwkwk" Jek


"Aduh bang, dedek masih polos yups, gak paham sama yang porsi dewasa, hahaha" Henk


"Cuma orang idiot yang percaya kalau lu masih polos bege, otak lu aja udah gedeg sama piktor lu ya kelewat parah" Jek


"Gini-gini masih sayang orang tua gue, tapi sayangnya gak di sayang balik huaaaa..hiks" Henk


"Yeee...malah curcol lu" Jek


"Kamu gak pernah ngertiin aku banget sih yang, rindu sekarung aku tu hiks..." Henk


"Idihh jijik gua" Jek


Begitulah akhir dari chat kedua playboy yang sudah kumat sifat alay nya.


"Gila si Henk, geli gue lama-lama" ucap Jek dengan bergidik membayangkan sifat Henk yang kadang menjadi letoy tanpa aba-aba.


"Apa nanti gue masukin rumah sakit jiwa aja yak" ucap konyol Jek dengan berpikir keras, seakan pemikirannya itu adalah sesuatu yang pantas dipertimbangkan.

__ADS_1


"Udahlah ngapain gue mikirin tu bocah" ucap Jek yang sewot dengan sendirinya lalu melangkah pergi dari kamarnya tak lupa membawa sang jaket kebanggaan.


"Mau kemana Jek?" tanya sang ayah yang kebetulan berpapasan di pintu.


"Mau keluar pi sama Jek" jawab Jek dengan tersenyum lebar.


"Udah ijin sama mami?"


"Hehe belum pi, Jek udah nyari tapi gak ada" jawab Jek dengan tersenyum kaku.


"Yaudah cari dulu!" seru sang ayah.


Jek langsung berbalik masuk untuk menjalankan perintah sang ayah, sebenarnya ia sangat malas tapi karena ayahnya sudah mengeluarkan perintah maka ia tidak bisa membantahnya.


Setidaknya butuh 5 menit ia mencari sang ibu, bahkan di kolong ranjang pun ia intip tapi ia tetap tidak menemukan keberadaan sang ibu, karena sudah lelah akhirnya ia memutuskan untuk kembali menemui ayahnya dan mengatakan jika ibunya tidak berada di rumah.


"Mami gak ada di rumah pi, Jek langsung pergi ya" ucap Jek dengan nada memohon.


"Duhh anak papi yang paling tampan lelah ya? pergilah mami mu belanja ke supermarket jadi kau tak perlu ijin" ucap sang ayah dengan tersenyum tipis lalu langsung pergi begitu saja.


Mendengar ucapan sang ayah Jek tidak tau harus menangis atau tertawa, sebenarnya ia sudah sering dijahili oleh ayahnya tapi entah karena polos atau otaknya sedang ngelag ia tidak pernah menyadari hal itu karena ayahnya pun tidak terlalu mencolok saat menjahili sang anak.


Akhirnya ia pergi dari rumah dengan menahan kekesalannya, tujuannya kali ini adalah rumah Henk untuk segera pergi minum kopi agar pikirannya rileks.


***


"Meneketehek" (mana ku tau) jawab Rey santai dengan menurunkan tasnya yang berisi seragam sekolah.


"Wah parah perginya kan bareng lo terus kenapa sekarang lo gak tau?" ucap Riko dengan menatap Rey yang masih fokus mengecek barang bawaannya apakah ada yang tertinggal atau tidak.


Saat keduanya saling diam tiba-tiba Rey kembali bersuara dengan nada terkejut.


"Gawat, jangan-jangan Digo di bawa pulang sama janda lagi, mana janda di kawasan itu agresif banget lagi" ucap Rey dengan ekspresi gelisah seakan tebakannya itu masuk akal.


Pletak...


Riko yang sudah tegang karena melihat kegelisahan Rey pun langsung menyentil jidat sahabatnya itu karena merasa kesal.


"Gaje banget lo dasar prince nyinyir" ucap Riko dengan melirik sinis pada Rey yang malah nyengir tanpa dosa.


"Ngomongin gue lo berdua?" tanya Digo yang baru saja tiba dengan menenteng satu kantung plastik yang berisi snack dan minuman.

__ADS_1


"Lo dari mana sih go? kenapa pulangnya gak bareng sama si prince nyinyir?" tanya Riko yang begitu penasaran mengapa Digo tidak pulang bareng Rey.


"Dari kedai depan tapi si Rey malah nyasar ke Jonggol" jawab Digo santai dengan membongkar semua snack yang dibelinya.


"Apaan gak asik banget lo berdua, gue serius ini..." geram Riko dengan sedikit kesal karena kedua sahabatnya itu malah mempermainkannya.


"Otak lo yang ngelag, lo gak liat itu si Rey bawa tas segede itu" ucap Digo acuh lalu memasukkan snack keju yang sudah dibukanya.


Riko tampak berpikir sejenak dengan menatap tas milik Rey yang tergeletak disebelahnya lalu beralih menatap kedua orang didepannya itu secara bergantian, ia baru menyadari jika Rey membawa tas yang berisi keperluan sekolah dan itu artinya Rey dari rumahnya dan tidak ikut Digo membeli snack.


"Hehe...." Riko hanya bisa tersenyum kaku dengan menggaruk tengkuknya menyadari kebodohannya itu.


"Apa? kenapa lo cengar-cengir, dasar bucin kurang inspirasi" cibir Digo dengan tersenyum miring.


"Suka trouble emang otaknya si Riko" timpal Rey juga tak mau kalah.


"Udah...terus...terusin aja terus, sampai nyonyor tu mulut" ucap Riko dengan melirik kedua sahabatnya kesal karena jika sudah mendapatkan bahan nyinyiran maka mereka tidak akan berhenti sampai benar-benar puas.


"Gimana ya...sorry aja gitu Rik, masalahnya adek gue pinter masak harus sama lo yang dodol gini" ejek Digo lagi dengan memulai bakat aktingnya.


"Kalau boleh saran sih mending si Diva sama ketua OSIS yang super kece+cerdas itu go, ya gue juga gak tega sama si Diva kalau harus sama ni bocah" imbuh Rey dengan melirik Riko.


"Woy lo berdua bebas ya nyinyir gue, tapi kalau udah nyangkut Diva gue gak akan tinggal diam, gue akan terus perjuangin cinta gue" balas Riko dengan raut wajah serius.


"Wuihhh hebat bro, gue bangga sebagai sahabat lo" ucap Rey dengan menepuk-nepuk lengan Riko.


"Teruskan perjuanganmu bung, gue selaku kakak dari target lo turut mendukung" ucap Digo dengan sedikit nada mengejek.


Riko hanya melirik singkat kepada dua orang itu, ia merasa kesal karena mereka berdua tidak pernah bisa diajak serius dan hanya mempermainkannya saja.


"Serah, kalau nanti lo gak restuin juga gue tinggal ajak dia kawin lari, gampang kan" ucap Riko santai yang langsung mendapat pukulan di lengannya dari Digo.


"Belum pernah di santet lo, tangan gue juga udah gatel banget, bawaannya pengen nonjok muka orang gitu" ucap Digo dengan mengelus tangan kanannya yang terkepal.


"Punya 9 nyawa lo berani mainin anaknya pak ici, pake gaya-gayaan lo" tambah Rey.


"Baru ketemu sama ayah gue aja palingan udah ngompol lo, apalagi kalau udah ngeluarin pistol nya, dan sebelum itu lo juga harus berhadapan sama gue" ucap Digo dengan sorot mata tajam, entah mengapa jika sudah menyangkut soal sang adik ia menjadi gampang terbawa emosi.


"Wuihh sante bro gue juga becanda kali, tenang aja nanti kalau gue mau nikahin Diva bakal minta restu lo dulu kok" ucap Riko dengan tersenyum lebar.


"Kalau gue restuin tapi Diva nya gak cinta bisa apa lo" ucap Digo asal yang sontak membuat Riko menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Riko benar-benar tidak menyangka jika kalimat itu akan keluar dari mulut Digo, pikirannya sudah mulai berkeliaran kemana-mana, ia takut jika cintanya tidak akan terbalas seperti apa yang dikatakan Digo.


__ADS_2