
Vina sendiri sebenarnya kurang faham apa pemicunya,sampai Vian akhirnya berontak.
Samar dalam ingatan, saat itu didalam kamar tiba-tiba Vian nengutarakan maksud hatinya ingin pergi dari rumah. Vian mau ikut tinggal dengan sahabatnya. Wagiran sahabatnya Vian dikelas, anak seorang pemulung. Wagiran juga akan memulung sepulang sekolah.
flashback on
Suatu ketika pernah Vian sepulang sekolah singgah kerumah Wagiran dengan mengantongi izin dari mama.*Vian ikut melihat keseharian Wagirin. Wagirin yang tau kalau Vian merasa kesepian dan kecewa dengan keadaan merasa kasihan pun menawarkan agar ikut tinggal bersama dan ikut memulung. Vian yang tertarik pun menceritakan niatnya pada Vina. " Kak,aku gak mau tinggal lagi sama mama. Mama udah berubah kak. Gak sayang kita lagi " , Vian menarik nafas panjang menahan air matanya. " Aku mau tinggal sendiri, aku nanti ikut mulung kayak Wagirin mulung buat cari uang untuk makan ", lanjutnya. Vina yang khawatir Vian pergi pun menceritakan masalah ini kepada mama.
flashback off*
__ADS_1
Seperti biasa setelah waktu maghrib Vian sadang dikamar bersama Vina . Ini adalah kebiasaan baru Vian dan Vina , karena setelah makan malam mama biasa akan berduaan dengan si om. Tak pernah lagi mengobrol ataupun menonton tv bersama.
Peraturan baru dari si om yang diamini mama bahwa anak-anak tidak boleh mendekat ketika orangtua lagi berdua, karena itu tidak sopan dan mengganggu. Anak-anak harus mencari kesibukan sendiri, mandiri bermain sendiri. Si om berusaha menerapkan pola asuh anaknya kepada Vian dan Vina.
Dan pengecualian hari itu tiba-tiba si om masuk kekamar tempat Vina dan Vian. Saat itu si om mengungkapkan pendapatnya,tentang suatu hal kepada Vian. Ternyata si om membahas tentang rencana Vian. Rupanya mama menceritakan apa yang Vina katakan, tentang perasaan Vian sehingga mumutuskan ingin pergi dan ikut memulung dengan Wagirin.
Si om mencoba berdiskusi pada Vian dan si om menyampaikan pendapat dan gambaran tentang apa yang akan dilalui Vian jika dia mengambil keputusan itu.
" Om itu suami mama mu sekarang, jadi om berhak bawa mama mu. Cuma saya gak sampe hati karena, ada kalian anak-anaknya ", ucapnya. " Saya bukan menghalangi kalian dekati mama mu, tapi supaya kalian mandiri. Kalau kamu ga suka karena itu terus mau pergi dari rumah, apa kira-kira orang tua temanmu itu senang kamu tumpangi? mungkin sehari dua hari ga masalah kasih makan kamu... " belum selesai bicara Vian memotong. " Aku juga kan nanti ikut mulung biar punya uang sendiri, nanti aku beli makan sendiri. Yang ajak aku si Wagirinnya sendiri, jadi aku gak ngusahin ", jawab Vian.
__ADS_1
Vian yang sejak awal tadi memegang pistol mainan berpeluru plastik butiran. Si om yang tidak suka dipotong omonganya pun berkata , " Memotong omongan orang itu tidak sopan, apalagi kalau....."
DORRR!!!
Tanpa disengaja jari Vian menarik pelatuk pistolnya, peluru biji butiran plastik itu melesat. Peluru itu hanya kurang beberapa mili lagi menyerempet pelipis si om.
" Itu juga perbuatan KURANGG AJARR!!!... namanya ", bentaknya si om.
Suasana yang berawal lebih seperti diskusi antara laki-laki dewasa dan anak laki-laki yang diajak bicara seperti orang dewasa. Berubah 180° jadi mencekam.
__ADS_1