Mama Bukan Idola Vina

Mama Bukan Idola Vina
07


__ADS_3

Selamat membaca!!


Seminggu setelah perdebatan si om dan Vian semua terasa canggung.


Vian semakin tidak suka dengan kehadiran si om. Mama seperti bimbang, antara suami dan anak. Tidak bisa memilih salah satu sisi , mungkin terselip rasa bersalah.


Saat tiba-tiba papa yang menjemputku pulang sekolah,karena libur kerja. "Kak, kata adek kakak sama adek mau ikut papah iya kak?" tanya papah. "Haah…!" Vina tercengang dengan petanyaan papah. "Emangnya … Vian bilang apa sama papah?" tanya Vina karena kebingungan. "Kata adek sudah ga mau ikut mamah lagi mau ikut papah aja, gitu!",jawab papah. "Ooh, ya udah kalo gitu. Kapan bajunya dibawa" lanjut Vina. " Ya nanti sore kita ambil, kakak siapin aja bajunya nanti papah jemput".


Pulang sekolah Vina langsung diantar pulang kerumah kontrakan mama. Vian sudah tidak ada dirumah kontrakan. Vian sudah berada dirumah papa lebih dulu. Vian pulang sekolah lebih awal dari Vina. Karena Vina kelas 6 maka diperlukan pelajaran tambahan.

__ADS_1


Vian mengutarakan keinginannya saat pulang sekolah kepada papa. Tanpa membicarakan terlebih dulu demgan Vina. Papa juga mengamini permintaan Vian karena begitu antusias.


Jam 3 sore itu papa datang dengan maksud mengambil baju dan perlengkapan Vian dan Vina sekalian memboyong Vina kerumah papa. Papa menyewa sebuah rumah barakan, berkamar satu.


Mama menyiapkan semua pakaian Vina dan Vian dengan derai air mata. Mama memasukan baju-baju dan perlengkapan kedalam tas besar dengan diam. Air mata mama tak berhenti meleleh dipipinya, tanpa bicara terus merapikan isi tas baju Vina dan Vian.


Sampai dirumah papa semua air mata yang tertahan pun tumpah juga. Vina menangis tanpa suara menggigit bibir bawahnya.


Keesokan harinya setelah drama tangis menangis selesai,adaptasi pun dimulai lagi.Di malam pertama Vian dan Vina tidur dirumah papa, kami tidur berempat diruang tamu.

__ADS_1


Rumah kontrakan papa lebih kecil dari rumah kontrakan mama.Papa tinggal rumah dibarakan, sedangkan mama menyewa rumah tunggal. Rumah dengan 2 kamar tidur.


Vian dan Vina tidak memiliki kamar ditempat papa,karena memang rumah itu hanya punya satu kamar tidur. Kamar itu punya papa dan istrinya. Vina dan Vian tidur diruang tamu.


Setelah malam pertama itu kami tidur bersama berempat. Selanjutnya malam berikutnya Vina dan Vian tidur berdua di ruang tamu.


Tidak ada barang atau perabotan yang biasa ada dirumah-rumah. Tv, kulkas, mesin cuci, tempat tidur,ataupun lemari tidak ada. Semua minimalis. Vian dan Vina tidur dengan kasur busa. Satu kasur size no 2 untuk tidur berdua.


Tak ada yang istimewa sebenarnya tinggal dengan papa. Karna memang papa menikah seperti mulai dari awal. Tapi lingkungan tinggal yang berdekatan dengan masjid maka banyak anak-anak tetangga yang sebaya Vina dan Vian. Teman sebaya adalah hal yang luar biasa bagi Vina dan Vian. Karena biasa bermain dan punya teman hanya disekolah saja.

__ADS_1


__ADS_2