Mama Kau Wanita Hebat

Mama Kau Wanita Hebat
Menunggu Sebuah Keajaiban


__ADS_3

2 Bulan sudah berlalu, tetapi kondisi ayahku masih tidak ada perkembangan, mama dan keluarga besar kami sangat sedih akan hal itu, mama tidak pernah absen setiap hari ia selalu menelepon teman kerja ayah yang bernama Om Hasan, berharap ada keajaiban pada ayah. Tak lupa pula doa kami panjatkan siang dan malam, memohon kepada sang pencipta demi kesembuhan ayah.


Setiap hari mama selalu menangis karena memikirkan keadaan ayahku yang jauh di sana tanpa sanak saudara, anak dan istrinya. Sehingga badan mama menjadi kurus karena tak terurus dan makan pun harus kita paksa baru ia mau makan.


" Mama makan duluuu" ucapku


Uwa :" Yi makan dulu, dari pagi kamu belum makan."


Semenjak ada kabar ayahku kecelakaan dan koma, uwa tinggal di rumah kami, ia menemani mama melewati masa masa sulit ini, berharap mengurangi beban pikiran mama dan membantu mama untuk tetap semangat.


Mama :"Nanti aja teh, aku ga selera makan."

__ADS_1


Uwa :" Kamu harus makan , walapun hanya sedikit, nanti kalau kamu sakit gimana? kamu ga kasihan apa sama kita, sama anak-anak. suami mu di sana pasti ikutan sedih ngeliat kamu seperti ini, suamimu butuh dukungan kamu, kamu harus semangat, kuat demi anak-anak dan suamimu." Tegas Uwa


Akhirnya setelah di nasehatin uwa, mama mau makan. yaaaaaa walaupun hanya sedikit.


Drrrrt.....drrrrttt....drrrtttt


Hp mama berbunyi, ada panggilan masuk. mama dengan segera mengangkat telepon tersebut.


Mama :" Assalamualaikum, Apakah ada perkembangan dengan suami saya? saya dan anak anak benar-benar merindukannya."


Mama:" Ya allah, Mas hasan saya mohon tolong selamatkan suami saya, tolong bilang sama dokter, tolong selamatkan suami saya, saya mohon. Kalau suami saya ga ada bagaimana nasib hidup saya dan anak-anak? anak-anak saya masih kecil, siapa yang akan membiayai hidup kami? Saya mohon dengan semohon-mohonnya, tolong bantu suami saya mas, saya yakin suami saya bakalan sembuh.:" ucap mama ku dengan air mata yang berhamburan.

__ADS_1


Pada waktu itu aku masih kecil, aku baru berusia 9 tahun, kakak ku 18 tahun adik ku yang perempuan 6 tahun dan adik ku yang kecil 2 tahu.


Om hasan :" Kami sudah berusaha yi, tinggal menunggu keajaiban."


mama tak menjawab apa yang om hasan katakan, ia menangis dan terkulai lemas.


Aku yang melihat mama dengan keadaan tersebut, tidak kuasa mengeluarkan air mata.


"Mama harus sabar dan kuat, ini demi ayah, mama ga boleh seperti ini mam, ada kaka, aku dan adik-adik yang membutuhkan mama." ucapku sambil memeluk mama.


Walapun dengan kondisi seperti itu, mama tidak pernah lupa dengan tugas nya sebagai seorang ibu, ia selalu merawat kami, dan mengurus rumah meski di bantu uwa karena mama sedikit pendiam dan tidak banyak berbicara seperti biasanya.

__ADS_1


Keluarga besar selalu mensuport mama, supaya mama kuat dan sabar atas musibah yang di alami ayahku.


Di tempat pengajianku, guru ngaji atau yang biasa di panggil bu ustadzah selalu memimpi doa yang di ikuti oleh anak-anak pengajian untuk kesembuhan ayahku, dan tak lupa pula ibu ustadzah selalu memberikan semangat kepadaku agar aku kuat.


__ADS_2