
Siang itu terlihat seorang gadis memandang keluar jendela dengan menopang kepalanya dengan kedua tangan
"Hahhhh.... Bosen" ucap gadis itu.
"Zanna! Kantin yuk!" Teriakan itu membuat beberapa orang menoleh ke sumber suara, sedangkan sang pemilik suara hanya tersenyum malu-malu sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda 'V' yang artinya peace.
"B aja kali, gosah teriak-teriak. Kuping gua masih sehat yaa" jawab gadis yang sedang merasa bosan.
Ya benar, gadis itu adalah Zanna. Zanna Kirania. Gadis cantik namun cuek dan pintar. Memiliki mata hazel, bibir tipis, rambutnya hitam legam sepanjang punggungnya dengan ujung sedikit bergelombang, kulit sawo matang. Sedangkan yang memanggil Zanna adalah sahabatnya, Vania. Vania Keisya. Gadis imut dengan mata belo, bibir tipis. Pendek engga tinggi juga engga. Rambut coklat kehitaman sebahu yang bergelombang, kang gosip, cerewetnya bikin ngelus dada.
"Hehe, maap elah. Namanya juga replek" ucap Vania
"Replek kok tiap hari. Cuih" ujar Zanna
"Iya iya elah gua minta maap! Ayo ke kantin ihh! Laper gua!" ajak Vania sambil menarik tangan kanan Zanna.
"Ish iya iya. Gosa narik-narik juga kali, gua bisa jalan sendiri." ucap Zanna
"Ya, lo lama sih!" jawab Vania
***
Sepanjang jalan mereka menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Wajah mereka bisa dibilang cantik untuk anak seumuran mereka. Tawa mereka benar-benar menawan dan mampu membuat setiap orang yang melihatnya akan jatuh hati. Walaupun sudah sering menjadi pusat perhatian, tetap saja Zanna agak risih. Karena itu Zanna segera menarik tangan Vania agar berjalan cepat menuju kantin.
"Pesen apa lo?" tanya Vania
"Batagor aja deh sama te*jus apel" jawab Zanna
"Oke. Uang?" minta Vania
"Lah kirain lo tanya mau traktir gua" ujar Zanna
"Yeu, enak ajaa kaga lah! Lagi kere nih gua" ucap Vania
Zanna hanya memutar bola matanya malas sembari memberikan uang bewarna hijau kepada Vania. Setelah memberikan uang kepada Vania, Vania segera pergi untuk memesan. Sembari menunggu Vania yang sedang memesan untuk mereka, Zanna memainkan ponselnya untuk membaca ff di app favoritenya dunia oren.
"Zanna?" Ucap seseorang
"E-eh, Kak Kev" jawab Zanna
Yup dia adalah Kevlar. Muhammad Kevlar Putra Liandra. Cowok berparas tampan yang menggunakan kaca mata. Memiliki tubuh yang bisa dibilang cukup atletis untuk anak seumuran mereka. Ahh dan jangan lupakan sifatnya yang ramah dan otak cerdasnya itu.
"Sendirian?" tanya Kevlar
"Ung, engga. Sama Vania" jawab Zanna
"Oh ya udah, duluan ya!" pamit Kevlar
"Ah iya kak, silahkan" ucap Zanna
__ADS_1
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.48 namun Zanna masih tetap setia duduk di halte dekat sekolahnya untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Padahal Zanna tau jika sudah jam segini jarang ada angkutan yang lewat. Kalaupun ada angkutan itu tidak melintasi jalur ke arah rumah Zanna.
Kenapa tidak memesan ojol? Karena baterai handphone Zanna habis maka dia tidak bisa memesan ojol.
Selang beberapa menit tiba-tiba terdapat sebuah motor matic dengan seorang lelaki Yang mengendarainya berhenti di hadapan Zanna.
"Zanna? Kok belum pulang?" tanya Kevlar
"Ah itu kak, nungguin angkutan" jawab Zanna seadanya
"Yeu, jam segini mana ada angkutan yang lewat?" tanya Kevlar
"Ya ga tau sih kak" ucap Zanna
"Ya udah, Ayo naik gua anterin" ajak Kevlar
"Eung, ga usah kak" ujar Zanna
"Mau di culik om-om?" tanya Kevlar
"Ya engga lah!" jawab Zanna dengan sedikit berteriak.
"Ya udah, ayo! Keburu magrib entar" ucap Kevlar
"Ish! Iya-iya!" jawab Zanna sambil berjalan dan duduk di jok belakang motor matic Kevlar.
***
"Iya elah, sabar!" balas Zanna
"Sana pulang! Ngapain masih disini?" lanjut Zanna
"Ga mau bilang makasih, gitu?" tanya Kevlar
"Iya-iya ish ngeselin banget sih lo kak! Makasih!" ucap Zanna
"Yang tulus dong, Na" ujar Kevlar
"Makasih kak Kevlar" ucap Zanna sambil tersenyum manis yang di paksakan
"Sama-sama, cantik. Gua pulang dulu ya, jangan kangen, nanti ga bisa tidur, jangan lupa sholat oke?" ucap Kevlar sedangkan Zanna hanya menganggukkan kepala dua kali tanda bahwa iya mengiyakan. Setelah melihat Zanna mengangguk Kevlar segera melajukan motor maticnya meninggalkan perkarangan rumah Zanna.
"Kangen sama lo? Ish amit-amit!" ucap Zanna sambil berjalan memasuki rumahnya.
***
Dibawah langit yang bertabur bintang, Kevlar duduk di kursi yang di sediakan oleh taman sembari memainkan ponselnya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian ia memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.
Jika kalian berpikir, mengapa Kevlar malam-malam berada di taman? Jawabannya adalah untuk menenangkan pikirannya. Sudah sebulan belakangan ini banyak yang mengganggu pikirannya. Terutama senyuman manis dari seorang gadis yang bernama Zanna. Ya, Zanna. Kevlar memiliki rasa yang lebih dari sekedar adik kelas. Ia ingin mengungkapkan perasaannya namun ia tidak memiliki nyali yang besar untuk itu.
Sedangkan itu di lain tempat. Zanna sedang bergulat dengan pikirannya. Mengapa tugasnya begitu sulit?! Apakah para guru tidak memiliki rasa kasian kepada para muridnya
"Ahhhh! Kenapa susah banget sih?!" teriak Zanna frustasi.
"Berisik ****!" Ucap Aksa. Abang Zanna.
Umurnya hanya beda empat tahun dengan Zanna. Aksa termasuk kumpulan para cogan di kampusnya. Jika Zanna memiliki kulit sawo matang, berbeda dengan Aksa. Aksa memiliki kulit yang putih bersih.
"Bang, ajarin gua nomer sembilan dong gua ga ngerti nih" pinta Zanna.
"Dih, ga mau! Itu kan tugas lo! Gua juga punya tugas." tolak Aksa
"Ngomong doang punya tugas tapi tiap harinya ngegame mulu" ucap Zanna
"Ehh justru main game gua ga uring-uringan kaya lo. Main game itu suatu kebutuhan, biar lo ga stress." Aksa menjawab tak mau kalah.
"Adek, abang, udah ah berhenti, ga malu apa di dengerin tetangga?" tanya Dira, mama Aksa dan Zanna.
"Abang tuh, mah. Masa adek minta di ajarin abang ga mau. Padahalkan satu nomer doang." adu Zanna kepada namanya
"Ya, Aksa ga mau lah mah. Orang Aksa punya tugas juga" ucap Aksa
"Shhh, udah-udah. Sana abang balik ke kamar abang" suruh Dira kepada Aksa
Aksa pun segera melakukan apa yang mamanya pinta. Setelah Aksa meninggalkan kamar Zanna. Dira berjalan mendekati Zanna
"Kalo masih ga ngerti, kenapa ga tanya sama papa aja?" tanya Dira
"Takut papa sibuk,ma" jawab Zanna
"Papa sekarang ga sibuk kok, sana gih temuin keburu malem" suruh Dira dan dibalas anggukan oleh Zanna sambil mengucapkan terima kasih.
Setelah mengucapkan terima kasih, Zanna segera menuju ke ruang keluarga dimana papanya sekarang berada. Di sofa terlihat ayahnya sedang menonton berita yang disiarkan langsung oleh televisi.
"Pa!" panggil Zanna.
"Eh, sayang. Sini, ada apa?" tanya Rendra, papa Zanna.
"Ajarin nomer sembilan dong, pa" pinta Zanna sembari duduk di samping Rendra.
"Coba mana bukunya?" tanya Rendra. Zanna pun memberikan buku yang dimaksud papanya.
***
Setelah menyelesaikan tugasnya, Zanna segera menuju ke kamarnya. Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih dan memberikan ciuman di pipi papanya.
__ADS_1
Dikamar, yang dilakukan Zanna tidak jauh-jauh dari rebahan. Ia hanya memainkan ponselnya. Sesekali ia melihat notifikasi yang menarik perhatiannya. Karna malam semakin larut, Zanna pun meletakkan ponselnya di atas nakas dan segera tidur.