Married With My Arrogant Friend

Married With My Arrogant Friend
Bab 18 ~ Pelampiasan Akan Kemarahannya


__ADS_3

Selamat Membaca


{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{


Gedung kosong


Bunyi suara pukulan juga suara bersahutan lainnya terdengar, memenuhi ruangan dengan dua orang laki-laki sedang duel tinju.


Buggh!


Pats!


 


Bugh! Bugh!


 


 


Buagh!


Dua laki-laki itu saling serang, sama-sama menangkis juga mengayunkan tangannya untuk memukul lawan sparingnya. Head guard dan sarung tinju meminimalis agar tidak terjadi cidera, saat keduanya sparing  hanya bertujuan untuk mengukur kekuatan, bukan untuk saling menyakiti satu sama lain.


Biasanya akan ada Ezra yang menjadi wasit atau juga ikut gabung sparing secara bersamaan, dengan sistem saling serang tanpa peduli siapa dia dan siapa yang lainnya. Sebenarnya, ketiganya saling kenal saat Ezra ada


kerjasama dengan salah satu perusahaan di Amerika,  sekalian mengunjungi juga bermalam di  tempat tinggal Gavriel dan kebetulan saat itu sedang ada Kin di apartemen Gavriel.


Dari perkenalan itu juga Ezra tahu jika sepupunya juga sudah masuk di dunia, yang lebih dulu di tapaki Ezra secara diam-diam dengan sang Pipi(Raka) si orang yang memperkenalkan.


Ezra adalah pengelola selanjutnya dari Bar terkenal, jadi tidak heran jika sang Pipi mengenalkannya pada dunia bawah untuk berjaga-jaga. Karena yang sudah diketahui, jika dunia malam tidak seindah kelihatnya.


Hiburannya indah, penghasilannya juga indah, tapi resiko yang di dapat tidak seindah yang dibayangkan.


Hum intinya, sesuatu yang berhubungan dengan kesuksesan, tidak jauh dari orang-orang berbahaya yang diselimuti dengan rasa iri karena ketidakmampuan.


Buagh!


Tinjuan dengan kekuatan akhirnya bersarang di perut Kin, saat Gavriel dengan gerakan cepat menangkis dan memukul balik serangan yang diberikan Kin kepadanya. Membuat Kin mundur beberapa langkah, meringis namun


sedetik kemudian terkekeh edan.


 


“Kamvret, Gavriel. Aku yakin kamu lagi nggak mood dan aku sedang jadi pelampiasan kamu saat ini, kan,” tebak Kin tepat sasaran, saat ia menerima serangan bertubi-tubi dari Gavriel yang menatapnya buas.


“Hn. Tebak karena apa,” sahut Gavriel santai, sambil kembali melancarkan serangannya kepada Kin yang hampir kehabisan tenaganya.


“Mana aku tahu, perusahaan nggak mungkin dan lagi kamu nggak cerita-


Pats!


“Anzeer! Woles sialan, aku juga butuh istirahat!”


Gavriel tanpa peduli dengan rengekan Kin tetap melayangkan pukulan, kepalan tangan, sesekali memutar tubuh dengan kaki terangkat, siap menendang kepala Kin yang untungnya menghindar dengan cepat, alhasil Gavriel


pun hanya menendang udara kosong.


Hosh! Hosh! Hosh!


Napas keduanya tidak beraturan, saling melihat dengan tatapan berbeda. Gavriel dengan seringai puas, sedangkan Kin dengan decihan kesal karena kepalanya hampir kena dwi hurigi andalan Gavriel.


Jangan anggap enteng dwi harigi yang di pelajari Gavriel saat dulu mengikuti kelas taekwondo, bahkan boneka latihan pun roboh karena kuatnya tenaga, saat Gavriel berputar dan melepaskan tendangannya.


“Ok. Aku selesai,” ujar Gavriel santai, meninggalkan Kin yang roboh dan rebahan dengan dada dan perut naik turun tidak beraturan.


“Sialan kamu, Gavriel!”


Gavriel tanpa peduli dengan umpatan yang diucapkan Kin kembali duduk di sofa, meminum minumannya yang sudah tinggal setengah dalam sekali teguk, kemudian mendesah lega.


Ah!!


 


Mengusap dagunya yang terkena tumpahan minumannya, Gavriel kembali berdiri menghampiri Kin dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kin berdiri dari istirahatnya.


 



 


 


 


Grep!


“Thanks.”


“Yoi, sans aja lah,” sahut Kin dengan senyum tulusnya. Ia tahu dengan jelas, jika saat ini temannya sedang dalam mood tidak bagus dan inilah cara Gavriel yang ia tahu, untuk menghilangkannya meskipun tidak seampuh kelihatnya.


Kin hanya berharap, jika kenangan masa buruk mereka saat di Jepang tidak akan terbawa sampai mereka di sini dan juga Kin berharap, supaya ada seseorang yang segera bisa mengendalikan Gavriel jika sedang tidak mood

__ADS_1


seperti ini.


Keduanya duduk di sofa, kemudian kembali membicarakan tugas yang kemarin sempat Kin terima dari Gavrie. Ia adalah orang dibalik para investor menarik investasi, tapi sebenarnya tanpa mereka turun tangan juga,


para investor itu memang ingin meninggalkan usaha property itu.


Bisa dibilang jika ini bukan sepenuhnya salah Gavriel, tapi Gavriel sudah terlanjur kesal dan mengiyakan apa yang dituduhkan Queeneira.


Oke  … Memang ini juga salah Gavriel, yang menjadi pemicu para investor itu bersamaan menarik saham di


perusahaan itu, tapi kan kalau saja memang perusahaan itu stabil, mereka masih bisa mencari investor lain dan juga memakai dana pribadi atau likuiditas. Seharusnya juga sebuah perusahaan harus punya dana Inflasi, jika sewaktu-waktu mengalami hal seperti ini.


“Jadi, kemarin Aksa juga sudah mengurus surat-surat untuk akusisi perusahaan property kemarin, apa kamu sudah tanda tangan?” tanya Kin, menatap Gavriel dengan serius.


“Hn. Aku menunggu waktu yang tepat,” jawab Gavriel saat ingat sebelum ia kemari Aksa meminta tanda tangannya.


“Maksudya? Waktu bagaimana?” tanya Kin penasaran, tidak mengerti apa yang diinginkan Gavriel, padahal kemarin bilang ingin segera akusisi.


Aneh sekali, batin Kin bingung.


“Hn, nanti juga kamu tahu,” sahut Gavriel tanpa menjawab pertanyaan Kin, yang mendengkus di sebelanya.


“Terserah.”


W&M Boutique And Photo Studios


Hari menjelang sore, tapi Queeneira yang masih kepikiran tentang perusahaan milik Fredy masih terdiam di kursi kerjanya. Ia masih menyalahkan dirinya sendiri dan kelakuan Queeneira yang seperti ini membuat Andine selaku teman sekaligus asisten menatapnya bingung.


Ada apa dengan Bos cantiknya? Tidak seperti biasanya merenung dan menampilkan wajah kalut seperti itu.


Andine pun dengan rasa penasaran melangkah mendekat ke arah Queeneira, yang hanya diam melihat layar komputer yang mati dengan tatapan mata kosong.


Duduk dengan gerakan pelan, Andine menyentuh punggung tangan Queeneira yang tersentak kaget dan akhirnya sadar, melihatnya dengan ekspresi linglung.


“Ah! And, sejak kapan kamu duduk di situ?” tanya Queeneira dengan mata tak fokus.


Andine tersenyum dengan bahu terangkat santai.


“Yah … Sejak kamu melamun, melihat layar komputer yang layarnya sama sekali tidak ada apa-apa alias mati. Ada apa denganmu, beb. Apa ada sesuatu yang terjadi atau ini ada hubungannya dengan batalnya kerjasama kita dengan pak Ferdy?”


Andine meskipun terkadang membuat Queeneira kesal, tapi kadar kepekaannya sama seperti Selyn yang selalu  tahu dengan apa yang di rasakanya.


Queeenira menggelengkan kepala, menuai tatapan tidak percaya dari Andine yang semakin menatapnya ingin tahu. Membuat Queeneira diam-diam mengghela napas, merasa kesal saat sadar jika selama ini hidupnya di kelilingi oleh orang-orang yang kadar keingintahuannya sangat tinggi.


Tidak orang tuanya, adik dari sahabatnya,sahabatnya juga dia, tentu saja dia yang saat ini jadi biang keladi pikiran semrawutnya.


Sialan, Gavriel sialan.


“Benarkah Queeniera? Tapi kenapa aku merasa kamu sedang ada apa-apa,” Tandas Andine dengan mata memicing.


“Benar sih, apalagi kita dengan semangat ngerjainnya. Tapi kan ini sudah terjadi, mungkin ini bukan rezeki kita,” tutur Andine, mengerti dengan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Bosnya.


Queeneira menatap Andine dengan ragu, antara ingin bertanya namun takut.


“Ada apa, Queeneira?” tanya Andine saat melihat wajah Bosnya yang terlihat ragu.


“Em …”


Queenira hanya bergumam, membuat Andine semakin penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan temannya.


“Emm??” beo Andine, membuat Queeneira mendengkus sebal karena ia tahu, jika Andine tidak akan menyerah jika belum mendapatkan apa yang diinginkan.


“Ck, bukan hal penting. Aku hanya penasaran, kapan pesta yang kata Doni  itu dilaksanakan, soalnya aku juga ada pesta lainnya yang tidak ingin aku hadiri, jadi aku bisa memakai alasan pesta ini untuk menghindari ajakan kedua orang tuaku, begitu.”


Andine menganggukkan kepalanya mengerti, saat selesai mendengar pertanyaan Queeneira kepadanya.


“Oh … Itu, kata Doni pekan yang akan datang. Di hotel Luxury milik keluarga Wicaksono, ah! Ingat tentang pesta, aku sampai lupa menyiapkan gaun buat nanti. Aku ikut yah, Queene. Aku juga ingin berkenalan dengan orang kaya lainnya,” jawab dan bujuk Andine, tanpa mengetahui jika Queeneira saat ini sedang terdiam memikirkan tempat di adakan pesta itu.


Seketika bola matanya melebar, saat memikirkan kemungkinan tentang pesta yang kemarin Doni beritahukan kepadanya, dengan pesta yang dibilang kedua orang tuanya.


Jangan bilang jika pesta it-


Menutup bibirnya dengan sebelah telapak tangannya, kemudain Queeneira tiba-tiba memegang tangan Andine yang berjenggit kaget, melotot ke arah Queeneira si pelaku yang juga menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


“Jangan bilang kalau keluarga kaya yang Doni ceritakan itu adalah keluarga Wijaya-Wicaksono? Katakan itu tidak benar, Andine.”


Queeneira menatap memohon kepada Andine, berharap apa yang di pikirkannya hanyalah pikiran buruknya. Namun sayang,  Andine menjawabnya dengan anggukan kepala semangat, lengkap dengan senyum bahagianya, senyum yang berkebalikan dengan senyum dan kekehan miris gadis kesayangan Baba Faro, si pengacara kondang.


 


 


“Ha-ha-ha … Takdir macam apa ini.”


“Loh! Ada apa Queene?” tanya Andine penasaran, saat melihat temannya malah tidak senang beda dengannya yang berpikir bisa bertemu dengan oppa kesayangannya lagi, Gavriel.


Ya Tuhan, sepertinya Engkau ingin hamba cantikmu ini selalu melihat tampang mengesalkan dia lagi, hamba sungguh tidak ingin, lebih baik buat hamba sakit cacar saat acara itu tiba,agar hamba bisa menghindari


kenyataan meskipun hanya semalam.


Queeneira tersentak dan sadar dari ratapannya, saat handphonenya bergetar dengan nama Selyn sebagai pemanggil.


 

__ADS_1


 


Ada apa?


 


 


Klik!


 


 


"Haloo."


 


 


 


 


 


Kembali kepada Gavriel, yang saat ini sedang mengendarai mobilnya, hendak kembali ke kantornya setelah merasa sedikit tenang.


Hari sudah sore, tapi ia tahu jika ia masih ada pekerjaan dan tidak bisa ia tunda lagi. Aksa, asistenya butuh persetujuannya untuk akusisi perusahaan yang kemarin sempat ingin ia hancurkan.


Oke jangan dibahas lagi, yang ada moodnya akan kembali down karena pertengkarannya dengan wanitanya.


Sampai di parkiran kantornya, lampu-lampu di sekitarnya juga sudah menyala, mempercantik tampilan gedung tinggi perusahaannya.


Gavriel berjalan ke dalam, melihat beberapa petugas kebersihan sedang membersihkan lobby, juga seorang petugas resepsionis, mereka semua menyapa ramah dengan ia yang mengangguk sebagai balasan.


Ting!


Gavriel melangkah memasuki lift dan merogoh saku celananya, saat merasakan getaran pada handphonenya. Melihat nama si pemanggil, Gavriel tersenyum samar dan dengan segera menerima panggilan tersebut.


“Yes, princess.”


“Mas! Makan bareng El yuk di luar, dengan Mba Que juga.”


Smirk


Senyum di bibirnya semakin lebar saat mendengar suara malaikat berupa sang adik, yang mengajaknya untuk makan malam bersama wanitanya, yang tadi siang ngambek dengannya.


“Hn. Ok, what time?” tanya Gavriel dengan nada datar menyembunyikan rasa bahagianya.


“Eight o’clock in the evening.”


“Got it,” sahut Gavriel cepat.


“Sip, he-he …Mas yang bayar  yah. El belum turun gajinya.”


Gavriel mendengkus, saat mendengar kekehan tanpa dosa sang adik.


Siapa yang ngajak, siapa yang bayar.


“Hn.  Bila perlu Mas booking satu restoran, untuk kita makan malam nanti, bagaimana?” sahut Gavriel santai, menuai pekikan tidak setuju dari sang adik yang kepribadiannya seperti sang Mommy, Kiara.


“No! Cukup bayarin aja, tidak perlu membuang uang berlebihan.”


“Fine, everything you want.”


Membuka pintu ruangannya, Gavriel duduk di kursi dengan handphone menempel  di telinga kanan, headsetnya lupa di pakai saat selesai sparing tadi.


“Ok, Mas. Sampai jumpa nanti malam.”


 


 


“Hn.”


Tut!


Panggilan berakhir, Gavriel melihat layar handphone dengan senyum kecil, kemudian mengetik beberapa sandi handphone dengan sandi yang tidak pernah berubah.


162044


Handphone terbuka dengan foto adiknya sebagai wallpaper, namun jika di di buka lagi ke bagian lagian maka kamu akan di hadapkan dengan sandi-sandi lainnya sebagai kunci untuk segala aksesnya.


Mengetik lagi sandi yang sama, galeri terbuka dengan banyak foto wanita cantik terpampang yang jumlahnya tidak bisa di hitung lagi oleh jari. Gavriel pun tersenyum, saat melihat barisan foto cintanya di layar handphonenya.


My Queene.


Bersambung.


\==========================


Ikuti kisah selanjutnya …

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai


__ADS_2