Married With My Arrogant Friend

Married With My Arrogant Friend
Bab 49 ~ Pesonanya


__ADS_3

Selamat membaca


 


Gambar hanya referensi 


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Pemotretan pertama selesai, kini seluruh kru sedang bersiap untuk melanjutkan di sesi sebenarnya yaitu model yang akan memakai jam tangan dari perusahaan yang memakai jasa mereka.


Seperti yang kita ketahui, jika Gavriel akan berganti pakaian dan property sebanyak 4 kali. Maka itu ia saat ini sedang berjalan dengan make-up artis dan Queeneira yang setia berjalan disisinya.


Sesampainya di ruang ganti, Gavriel menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah orang yang setia mengikutinya untuk menunggu di ruang make-up, termasuk Queeneira yang mengernyit, bingung dan penasaran.


“Biar saya sendiri yang mengganti dan menata rambut untuk pemotretan selanjutnya. Kalian tunggu di studio saja,” ucap Gavriel dengan nada tegas. Ia menatap semuanya dengan sorot mata tidak ingin di bantah, bahkan


kepada Queeneira yang hendak membantahnya.


“Tap-


“Aku sudah tahu ruangan dan aku bisa memakai sendiri pakain untuk nanti,” kilah Gavriel dengan cepat, sehingga mereka pun mengangguk mengerti, namun beda dengan Queeneira yang merasa aneh.


Bukan kah tadi Gavriel memakai kemeja di depan kami semua, kenapa sekarang seakan menghindar, batin Queeneira curiga.


Aku tidak ingin ada yang melihat punggungku, mungkin tadi aku tidak perlu risih karena aku memakai kaos polos. Tapi saat ini aku berkeringat, aku tidak mungkin memakai kaos yang basah, batin Gavriel.


Studio yang padat, juga lighting yang panas membuatnya berkeringat dan itu sungguh tidak nyaman.


Ini yang ia malaskan, jika pemotretan di lakukan di dalam studio. Pencahayaan yang berasal dari lampu, mengantar panas yang terfokus dengan satu titik, yaitu ia sebagai objek yang dibidik gambarnya.


Akhirnya semua kru make-up pergi meninggalkan Gavriel, kecuali Queeneira yang masih menatap Gavriel penasaran.


“Kamu tidak pergi?” tanya Gavriel dengan alis terangkat, tangannya sebisa mungkin di tahan untuk tidak mengipasi bagian lehernya yang sudah mengeluarkan keringat.


“Aku-


Mencari alasan agar Queeneira segera meninggalkannya sendiri, Gavriel pun mulai melancarkan jurus echinya dengan memasang wajah dan senyum dengan bibir tersenyum mencurigakan. Kemudian mengulurkan tangannya, seakan mengajak ke dalam ruangan seraya berkata dengan nada menggoda.



“Maksa nih. Yuk! Masuk ke dalam, kamu bisa melihat perut dan juga lengan terlatihku saat ini juga.”


Queeneira melotot horror, dengan wajah memerah layaknya buah tomat ia membalikkan tubuh diirngi umpatan kesal untuk Gavriel yang tergelak di belakangnya.


“Gavriel kamvret! Mati saja kamu, siapa juga yang ingin melihat tubuh kurusmu itu. Tidak mau, cih,” kata Queeneira sambil melangkahkan kakinya segera, meninggalkan ruangan tempat Gavriel ganti kostum.


“Ha-ha-ha … Ayolah, love. Banyak loh yang mau melihatnya,” goda Gavriel semakin menjadi.


“Mati saja kau. Gavriel!” seru Queeneira untuk terakhir kali, sebelum menghilang di persimpangan dengan Gavriel yang tawa renyah seketika hilang, di gantikan dengan ekspresi datar seakan tidak pernah ada tawa sebelumnya.


Setelah memastikan Queeneira pergi meninggalkan depan ruangan ganti, ia pun memasuki ruangan dan mengunci dari dalam dengan segera. Ia tidak ingin ada yang memasuki ruangannya tiba-tiba, apalagi ketika ia melepas dan


mengganti baju basah yang saat ia pakai.


Blam!


Melepas dengan segera kemeja dan kaos putih polos yang di pakainya, Gavriel membalik tubuhnya di dapan cermin besar di depannya. Kemudian melirik melalui bahunya, bagaimana sisa kesedihannya tertinggal di punggungnya saat ini.


Tangannya mengepal dengan gigi menggeletuk menahan marah, saat ingat dulu  bagaiman bisa ia mendapat


torehan ini di punggungnya.


Sialan, lupakan itu. Sebaiknya aku segera berganti pakaian untuk pemotretan selanjutnya, batin Gavriel kemudian bergegas melempar asal baju yang tadi di pakainya ke arah sofa.


Alasan Queeneira pun turut di usir secara halus olehnya adalah karena Gavriel belum siap menunjukan lukisan menyedihkan di punggungnya kepada Queeneira, ia tidak ingin Queeneira bertanya dan tahu lebih banyak penderitaan yang sudah ia lalui.


Setelah berganti dengan pakain untuk set selanjutnya, Gavriel pun kembali ke Studio dan berdiri dengan tangan-tangan para kru make-up artis menjamahnya, untuk membenarkan pakaian atau rambut agar sesuai tema.


Ia hanya menurut, karena ia tahu jika mereka hanya sedang mengerjakan tugas meskipun sebenarnya ia merasakan perasaan senang mereka melalui tatapan mata, yang sesekali mencuri pandang ke arahnya.


Mata tajamnya segera menjelajah melihat sekeliling, mencari eksistensi dari Queeneira yang ternyata sedang duduk dengan pak Bara di ujung sana. Entah apa yang di obrolkan keduanya, karena telinga tajamnya tidak

__ADS_1


terjangkau untuk mendengarnya,wajar … Agak sedikit jauh jaraknya.


“Panggilkan Nona Queeneira sekarang juga,” ucap Gavriel dengan nada datar, menatap Queeneira yang duduk di ujung sana dengan tajam.


Seharusnya dia di samping aku saja, huh, batin Gavriel mendengkus kesal.


“Baik, Tuan.”


Ia pun menunggu masih dengan menatap Queeneira yang saat ini sedang di bisiki oleh salah satu kru make-up yang tadi di perintah olehnya, kemudian menatap lurus ke sana saat Queeneira mengalihkan pandangannya ke


arahnya.


Menggerakan bibir seolah memerintah tanpa kata, Gavriel bisa melihat jika Queeneira memasang wajah kesal ke arahnya setelah ia selesai dengan ucapannya.


Bagus, kamu seharusnya menemani aku saja, batin Gavriel senang saat melihat Queeneira berjalan menghampirinya.


Tak! Tak! Tak!


Bunyi sepatu hill yang menghentak menandakan jika seseorang yang saat ini  memakainya sedang di landa


kesal. Bagaimana tidak kesal, jika seseorang yang membuatnya kesal saat ini sedang menampilkan ekspresi yang sungguh menyebalkan.


Hieh … Apa sih maunya, batin Queeneira dengan wajah berlipat kesal.


Tap!


“Apa?” ujar Queeneira ketus, melipat tangannya di pertengahan perut dan dadanya, kemudian memasang senyum di paksakan berusaha sabar.



 


 


“Ck, galak sekali, tadi ngintilin aku,” gumam Gavriel berubah menjadi manja, jika sedang berdua seperti ini dengan Queeneira.


“Mimpi, aku bukan ngintilin kamu yah. Tapi aku hanya melakukan tugasku, sebagai penanggung jawabmu. Itu saja,” tukas Queeneira mengelak dengan nada ketus.


“Isk, mengelak saja,” timpal Gavriel keras kepala.


“Kenapa? Takut ada yang lihat, yah?” bisik Gavriel tiba-tiba, dengan usil ia mendekat wajahnya ke arah Queeneira, membuat Queeneira reflex mundur dan kembali melotot ganas ke arahnya.


“Jangan dekat-dekat, isk,” balas Queeneira seraya mendorong wajah Gavriel yang ada di dekat telinganya.


“Pelit.”


“Biarin, dari pada kamu melakukan hal echi lagi,” sewot Queeneira, menuai dengkusan dari Gavriel yang harus menunda gemasnya, saat Doni memanggilnya untuk memulai pemotretan.


“Gavriel, sudah siap!”


“Yes!”


Dengan tidak ikhlas Gavriel pun meninggalkan Queeneira yang memasang wajah meledek, lengkap dengan lidah menjulur dan di balas dengan Gavriel yang memasang senyum dengan bibir tergigit, pose menggoda.


Queeneira melotot dengan wajah melengos, kesal dengan Gavriel yang selalu menampilkan wajah mesum jika sedang bersamanya.


Sehari nggak bikin orang kesal apa tidak bisa yah, itu manusia, batin Queeneira sebal.


Sesi kedua pemotretan pun di mulai, Queeneira kemudian melihat dengan serius Gavriel yang memulai sesi pemotretannya. Di mulai dengan berdiri serta lengan di letakan di depan wajah, berlanjut dengan duduk hingga pose-pose yang sama sekali tidak di intrusikan oleh Doni sebagai pengatur gaya.


Gavriel berpose layaknya ia model professional, memasang ekpresi wajah datar dengan mata menatap tajam kamera atau juga membawa netranya melihat ke arah lainnya, juga mengarah ke arah arloji yang ada di lengannya sambil memejamkan matanya, jangan lupa senyum yang membuat siapapun yang melihatnya menggigit jari sangking mempesonanya.


Kenapa kamu selalu menjadi orang yang bersinar, batin Queeneira berdecak kagum.


“Kya! Lihat itu Oppa.”


“Yawlah … Keren gitu coba, rela di jadikan selingkuhan deh.”


Queeneira yang sedang serius dan terpana melihat Gavriel sedang berpose mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak menggeram kesal saat ini juga, ketika mendengar bisik-bisik di setiap sudut ruangan, tentunya pelaku


bisik-bisik itu adalah bawahannya sendiri.

__ADS_1


Sialan mereka ini, seperti tidak pernah melihat laki-laki tampan saja, dengkus Queeneira dalam hati.


Ia menghembuskan napasnya agar tetap fokus memperhatikan jalannya sesi pemotretan, mengindahkan segala macam bisikan genit yang di dengar oleh kedua telinganya sendiri.


Isk, menyebalkan.


Tinggalkan Queeneira dan rasa kesal yang menggerogoti hatinya. Kita kembali pada Gavriel yang kali ini sedang mencoba tetap fokus dengan posenya, saat sekitar studio geger akibat senyum dengan mata terpejam yang segera di abadikan oleh si fotografer.


Kenapa mereka bisik sekali, batin Gavriel tidak habis pikir.


 


Tatapan mata juga senyum tanpa sengaja dari Gavriel membuat fotografer berdecak kagum, karena emosi dalam setiap jepretan kameranya tersampaikan melalui tatapan modelnya kali ini, yang meskipun selalu minim dengan ekpresinya. Tapi justru baginya ekspresi ini yang membuat paling natural sepanjang ia


memotret sebuah objek.


Pose berlanjut lagi, kali ini Gavriel sudah berganti kostum dengan kaos berwarna putih lebih santai dari sweater coklat yang tadi di pakainya. Setting dengan ranjang bersprei putih itu sudah di tata sedemkian rupa di tengah-tengah studio.


Sebelum menuju ranjang untuk melakukan posenya, Gavriel mendekati Queeneira dan berdiri di belakang Queeneira. Jika di lihat dari belakang, Gavriel terlihat sedang memeluk Queeneira dengan Gavriel yang menunjuk ke arah ranjang sana.


“Lihat,” bisik Gavriel tepat di telinga Gavriel, membuat Queeneira yang mendengarnya bergidik geli namun tetap menjaga nada suaranya agar tidak terlihat gugup.


“Apa?”


“Ranjang dengan sprei putih,” lanjut Gavriel ambigu, menuai kenyitan di dahi Queeneira yang segera menolehkan wajahnya ke belekang, sehingga kini wajahnya dan wajah Gavriel saling berhadapan dengan jarak sangat dekat. Membuat napas antara satu dan lainnya saling bertabrakan, menciptakan udara hangat bagi keduanya.


“Maksudnya?” tanya Queeneira  tidak mengerti, membuat Gavriel menarik sudut bibirnya menjadi seulas senyum mempesona, lengkap dengan tatapan mata yang menghunus tepat di kedua bola mata Queeneira.


Senyum mempesona yang membuat Queeneira hampir saja tersipu, namun tidak jadi karena selanjutnya Queeneira mendengar kalimat kurang ajar dari Gavriel yang berbisik santai di telinganya.


Seketika Queeneira menggeram kesal dan berikutanya lengkingan suara indah mengakhiri sesi pemotretan hari ini, membuat para kru melihatnya dengan tatapan penasaran yang kentara.


“Gavriel, mati saja kau!!”


Ada apa dengan ibu Queeneira, pikir para kru berjama’ah menatap Queeneira dan Gavriel yang berjalan santai bergantian.


Pfttt … kena lagi , kan. Lagian yakin nih tidak akan menangis kalau aku mati, batin Gavriel sambil melangkahkan kakinya santai dan menahan kekehannya dalam  hati, mendekati setting seperti kamar lengkap dengan ranjang dengan sprei putih.


Sebenarnya apa sih yang di bisikan oleh Gavriel kepada Queeneira? Mau tahu? Tanya saja kepada Queeneira.


Gavriel kamvret, mesum sialan, awas saja akan aku adukan sama Baba dan Daddymu agar kamu secepatnya di kebiri, batin Queeneira dengan wajah memerah layaknya tomat matang.


Kasih tahu ke pembaca, tadi Gavriel kamvret bisikin apa, Queene.


Tidak mau!


Lah, pelit sekali.


Biarin, author dan castnya sama-sama kamvret. Pergi jauh-jauh, syuh!


Pfttt … Queeneira, lucu sekali, batin  Gavriel yang saat ini sedang pose tiduran di atas ranjang sana.



 


 


 


 


 


 


 


Bersambung.


\========================

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ….


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2