Married With My Arrogant Friend

Married With My Arrogant Friend
Bab 2 - Kehidupan Baru Dengan Perasaan Rindu


__ADS_3

10 tahun sebelumnya  ….


Pesawat yang terbang dari kota S ini akhirnya landing di


Bandara internasional Jhon. F.Kennedy, New York, Amerika .


Para penumpang pun berbondong-bondong berjalan menuju ke arah gate arrival, menemui sanak-saudara yang menjemput. Begitu pula dengan keempat orang ini, yang juga berasal dari kota S.


Mereka  berjalan kearah seseorang, yang sengaja diutus oleh Daddy dari Gavriel untuk mengantar keempatnya ke hunian selama mereka di Amerika.


“Halo … Mr.Dani and Mr.Gavriel Wijaya, right?(Halo … Tuan Dani dan Tuan Gavriel Wijaya, benar?” tanya si penjemput saat keempatnya tiba di hadapannya.


Dani mengangguk, begitu pula dengan Gavriel yang merasa disebut namanya.


“Let me introduce my self, my name is Oniel, Andy Oniel. Nice to meet  you ,” lanjut si penjemput, yang memperkenalkan diri dengan nama Andy Oniel , sambil mengulurkan tangannya kepada Gavriel juga Dani yang segera menyambutnya.


“Halo Mr.Oniel , I’m Dani, this is my wife Ros and my son Aksa  Iriyandi. Nice to meet you too,” balas Dani ramah memperkenalkan diri.


Berbeda dengan Gavriel, yang hanya menyebut nama, itu pun dengan nada bawaanya apalagi kalau bukan datar dan wajah tanpa ekspresinya. Tapi Andy tidak heran karena Tuan besarnya pun seperti itu, sehingga ia pun tidak heran lagi.


“Gavriel Wijaya.”


Setelahnya keempatnya di persilakan Andi untuk mengikutinya, menuju mobil terparkir dan ia juga yang bertugas untuk mengantar kemanapunmereka, hingga keempatnya terbiasadengan kota ini.


Thornwood, New York , Amerika Serikat.


Perjalanan berlangsung selama 47 menit, dari bandara menujuasrama tempat Gavriel tinggal. Sedangkan Dani akan tinggal di apartemen dekat gedung perusahaan di Cambridge, mengurus perusahaan hingga Gavriel menyelesaikan diplomanya selama satu tahun di EF ACADEMY.


Mereka pun sampai di depan asrama, yang akan ditinggali Gavriel selama satu tahun, Dani berharap Gavriel akan cepat beradaptasi dengan lingkungan dan tidak menutup dirinya terhadap lingkungan baru.


“Nah! Gavriel , selamat berjuang, unkel akan jemput kamu lagi satu tahun dari sekarang, begitu pula dengan Aksa satu tahun setelahnya. Good luck, Aksa, Gavriel,” ujar Dani melihat anaknya dan anak sahabatnya sedih.


Gavriel mengangguk sedangkan Aksa memeluk sang Mama , dengan sang Papa yang mengusap kepalanya, sedih dan bahagia karena sebentar lagi impiannya dari zaman masih berjuang mendapatkan sang istri terlaksana.


Jika masih ingat , saat Dani meminta kepada Dirga , maka inilah yang di maksudnya untuk membuat keturunannya mengabdi kepada keluarga Wijaya juga, karena keluarga Wijaya telah banyak membantunya.


“Kalian hati-hari, selalu lah bersama dan saling bantu. Ok?” nasihat Ros yang diangguki oleh keduanya.


Kemudian Dani dan Ros pun melanjutkan perjalanan, menuju Cambridge yang akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam dari tempat mereka berada saat ini.


Gavriel menghadap ke arah pintu gerbang disambut ramah oleh pengurus asrama, yang membawa keduanya masuk segera dan mengantarnya ke masing-masing kamar  yang bersebelan di lantai tiga .

__ADS_1


Kemudian pengurus asrama itu menghadap ke arah Gavriel dan Aksa, menatap keduanya dengan tegas.


“This is your room’s . I hope you feel at home here. Remember the prohibitions and rules here, understand kids?” ujar si pengurus dengan nada ramah, namun juga tegas disaat bersamaan.


“Of course, sir,” jawab keduanya bersamaa, meski dengan nada yang berbeda.


“Ok. Have a good rest,” balas si pengurus asrama lalu pergi meninggalkan keduanya, yang masih berdiri di depan pintu kamar masing-masing.


 “Aksa.”


Gavriel memanggil anak Dani, yang berdiri di depan pintu dan memandang pintu dengan gugup. Ia mengerti perasaan Aksa , karena selain usianya yang masih muda, Aksa juga punya tanggung jawab hampi  sama besar dengannya.


“Ya, Tuan Gavriel, ada apa?” sahut dan tanya Aksa , menoleh ke arah Gavriel yang saat ini sedang menatap pintu kamar dengan ekspresi datar.


Gavriel tidak langsung menjawab, melainkan menghela napas sejenak.


“Belajarlah dengan giat dan jadi orang yang kuat , agar aku pun menjadi semakin kuat. Apa kamu mengerti, maksudku?” ujar Gavriel tanpa menoleh. Terdengar seperti perintah yang absolute , tapi Aksa mengerti jika apa


yang dikatakan caalon Tuannya adalah benar.


“Tentu, aku akan belajar dengan baik.”


“Bagus! Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik di kemudian hari, Aksa .”


bersama Aksa yang berdiri disisinya dengan ekspresi takut. Ya , Aksa memiliki


beban yang di berikan oleh sang ayah, untuk bias berhasil dalam pendidikannya


mengambil diploma selama dua tahun.


Dipersiapkan sebagai asisten__tangan kanan, bagi seorang calon CEO perusahaan raksasa adalah beban tersendiri bagi siapa saja yang akan menjalaninya.


Gavriel pun memasuki kamarnya, meninggalkan Aksa yang menatap pintu kamar Gavriel dengan tatapan dalam, baru kemudian ikut masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Sedangkan di belahan dunia lainya, tepatnya di kota S.


25 jam setelah kepergian Gavriel, Queeneira yang masih bersedih memutuskan untuk berdiam diri di kamar. Padahal adik dari sahabtnya__Selyn, mengajaknya untuk mengunjungi taman tempat terakhir ia dan Gavriel menghabiskan sisa hari terakhir.


Berdiri di depan jendela kamarnya, Queeneira mengingat saat ia dan Gavriel  bermain di taman itu, taman tempat mereka mengahabiskan masa kecil juga. Ia masih mengingat saat Gavriel menggengam tangannya, masih ingat bagaimana Gavriel tersenyum kepadanaya, juga bagaiaman Gavriel tertawa bersamanya.


Ia berharap selamanya ia akan mengingat kenangan itu, tanpa melupakan sedikit pun kesenangan di dalamnya. Ia akan menjadikan kenangan dan juga kata-kata dari Gavriel sebagai pengingat saat ia mulai lelah menunggu. Ia juga akan pastikan jika selain dia, tidak aka nada orang yang membuatnya merasa bahagia saat ia bersamanya.

__ADS_1


Tangannya yang saat ini sedang memegang sebuah kotak terangkat, memperlihatkan kotak hitam using dengan isi yang belum di ketahuinya.


Gavriel bilang, ia diperbolehkan membukanya saat si empunya kotak sudah pergi dari hadapanya dan ia rasa inilah saatnya.


Ia bersiap membuka kotak itu, namun sayang ketukan pada pintu kamarnya menggangu dan membuatnya urung, menyimpan kembali saat suara sang Mama memanggil namanya .


Tok! Tok! Tok!


“Que-que , keluar sini, sayang. Temani Mama!”


Tidak ingin membuat sang Mama mengeluarkan suara emasnya


lagi, Queene pun akhirnya keluar dari kamar menuruti keinganan sang Mama,


setelah  menyimpan kotak hitam using itu


ke dalam laci meja belajarnya.


“Yes … Mom, I coming!”


Tahun-tahun berikutnya  ….


Hari-hari berlalu tidak terasa waktu cepat berlalu, ini adalah tahun ke dua saat keduanya terpisah . kini Queeneira sedang ada di acara perpisahannya sendiri, setelah teman seangkatannya melaksanakan ujian negara__ujian kelulusan tepatnya.


Dihadiri oleh orang tua seluruh murid, juga beberapa alumni lulusan tahun lalu, acara sukses di gelar dengan meriah di aula besar sekolah Trisakti.


Queeneira , Ezra dan tentu saja Selyn, yang tahun ini naik kelas 3 merayakan bersama dengan perasaan kurang. Sebab mereka kumpul dengan satu orang tidak ikut serta, dia adalah Gavriel yang juga saat ini telah resmi menjadi mahasiswa di Universitas Harvard .


Mereka pikir mereka bisa menghubungi Gavriel, sekedar untuk memamerkan pakaian kelulusan yang saat ini mereka pakai, namun sayang mereka hanya mendapatkan kata selamat dari Gavriel melalui pesan , yang masuk dalam kotak pesan Selyn seorang.


Gavriel , kamu saat ini sedang apa? Batin Queneeira sedikit sedih


Sementara Queeneira dengan rasa rindunya, Gavriel yang saat ini sedang duduk di tengah-tengah orang asing hanya bisa memegang handphone di tanganya dengan remasan pelan. Ia tidak bisa mengabaikan pelajaran, hanya untuk menelpon dan mengucapkan selamat meskipun ia sangat ingin.


Di dalam hatinya Gavriel berjanji, akan menghubungi ketiganya setelah ia menyelesaikan pelajarannya, namun sayang hingga mata pelajaran usai Gavriel tidak punya waktu, karena saat pelajaran usai ia masih harus mengerjakan tuganya yang datang selalu berbondong-bondong.


Huuft  … ini sudah sekian lamanya, aku tidak mendengar suaranya.


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya .


Terima kasih dan sampai baba.


__ADS_2