Married With My Arrogant Friend

Married With My Arrogant Friend
Bab 63 ~ Aku Bukan Istrimu


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Apartemen Queeneira


Queeniera baru saja pulang dari lembur di perusahaannya sendiri. Ia memiliki banyak tugas, saat banyaknya juga kerja sama yang berdatangan baik itu di studio miliknya, juga butiknya yang mendapat banyak pesanan rancangan gaun dan jas.


Ia tidak sedang mengeluh karena akhir-akhir ini ia dibuat hampir setiap malam lembur, jika hasilnya sebanding dengan apa yang di kerjakan olehnya. Terlebih ini juga membuat para karyawannya semakin semangat bekerja,


semangat yang turut menularinya.


Di dalam perjalanannya menuju lift, ia menyempatkan diri untuk mengecek handphonenya yang tadi sempat bergetar beberapa kali. Namun sayang, saat itu ia sedang tanggung dan tidak bisa menunda pekerjaanya.


Ada beberapa notifikasi berupa pesan singkat dan juga pemberitahuan media sosial.


Ting!


Memasuki lift yang terbuka, Queeneira yang fokus dengan layar handphonenya tersetak kecil, saat pintu yang hampir tertutup kembali terbuka dengan seorang pria asing ikut masuk dan berdiri di sampingnya.


“Permisi,” kata si pria asing dengan senyum tidak ke arahnya.


“Iya, tidak apa-apa,” balas Queeneira dan menggeser sedikit tubuhnya, saat si pria itu berdiri terlalu dekat dengannya.


“Ah! Maaf,” imbuhnya saat merasa Queeneira yang terlihat tidak nyaman.


“Tidak, tidak apa-apa,” sahut Queeneira dengan segera dan terpaksa memasukkan kembali handphonenya ke dalam tasnya, kemudian membawa tas tangannya untuk ia peluk erat di dada.


Kenapa tidak ada orang selain kami, batin Queeneira seraya merapalkan doa dalam hati, saat merasa jika tidak biasanya suasana akward di antar mereka.


Matanya melirik dengan awas kiri-kanan bergantian, antara angka yang tertera di atas angka yang menunjukan lantai juga pria di sebelahnya yang menekan papan tombol lift 1 lantai di atasnya.


Ting!      


Pintu lift akhirnya terbuka, Queeneira pun dengan segera melanjutkan langkah kakinya dan tanpa melirik ia berjalan ke arah huniannya berada.


Ting!


Dan yang terakhir ia dengar adalah pintu lift yang kembali tertutup, membuatnya diam-diam menghela napas lega.


“Huft … Tidak biasanya aku merasa takut seperti ini,” lirih Queeneira dengan tangan mengusap dadanya pelan, menenangkan jantungnya yang sempat berdetak kencang.


Ia pun dengan segera mengeluarkan kartu akses untuk membuka pintu apartemennya yang terkunci, karena kebetulan malam ini Andine sedang pulang ke rumah orang tuannya, besok libur dan Andine berkata jika ia ingin


menghabiskan waktu dengan adiknya yang paling kecil.


Klik!


Ceklek!


Blam!


Masuk ke dalam apartemennya, Queeneira segera menekan saklar lampu dan seketika ruangan yang gelap pun berganti menjadi terang. Biasanya jika ia pulang, ia akan di sambut dengan cengiran Andine yang merecokinya


dengan pertanyaan macam-macam. Tapi, malam ini telinganya aman dari radiasi suara toa temannya yang sudah lama menemaninya itu.


Queeneira melanjutkan langkah kakinya, memasuki kamar dan menutupnya segera untuk melakukan ritualnya. Rencananya ia akan mandi, kemudian tidur hingga esok hari, mengingat jika besok akan ada banyak pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya.


Tiga puluh menit kemudian …


Rencana Queeneira batal ketika ia menerima pesan beruntun yang baru sempat baca, ketika ia urungkan saat di lift hendak membaca karena ada pria asing di sebelahnya.

__ADS_1


 



 


 


 


Pesan dari Gavriel yang datang sekitar 2 jam yang lalu isinya singkat dan menyebalkan, belum lagi jumlahnya yang tidak kira-kira, membuatnya menggerutu dan bersiap lahir-batin jika saat ia membalas akan dapat balasan lagi dengan kalimat lebih mengesalkan.


(Queeneira Wardhana, sedang apa?)


(P)


(Quee)


(P)


Dan pesan-pesan lainnya yang isinya hampir sama.


“Astaga, apakah dia tidak pernah berkirim pesan dengan seorang wanita? Perasaanku sewaktu dulu dia tidak pernah mengirimku lebih dari 5 pesan jika aku belum membalanya,” gerutu Queeneira saat membaca chat beruntun


dari Gavriel.


Kemudian ia membaca pesan paling terakhir, dengan wajah kesal namun bibir tersenyum salah tingkah.


“Sialan, Gavriel beraninya di pesan saja. Giliran sedang berhadapan, yang ada selalu membuatku kesal dan menghabiskan waktu dengan menggodaku,” lanjutnya dan memutuskan untuk membalas dengan pesan sesingkat


mungkin, seakan-akan ia tidak bersalah telah menunggu Gavriel menerima balasan pesannya.


(Miss you, love you)


Setelah memastikan jika pesannya telah terkirim, Queeneira memutuskan untuk pergi ke dapurnya, mencari sesuatu yang bisa di makannya dengan membawa handphone takut jika tiba-tiba Gavriel menghubunginya.


Sesampainya di dapur, ia melatakn hanphonenya di meja makan sedangkan dirinya melangkahkan kembali kakinya menuju kulkas. Ia membuka dan menundukkan tubuhnya kemudian berjongkok, untuk melihat lebih jelas ada apa


saja yang tersisa di dalam kulkasnya.


Ia jarang berbelanja dan ia akan berbelanja jika benar-benar tidak ada apa-apa saat ia melihat isi kulkasnya alias kosong. Ia juga jarang memasak jika sedang ada di apartemennya dan lebiih suka makan di luar apartemen


bersama Andine.


Di dalam kulkas ada buah dan juga sekotak susu rasa cokelat, milik Andine yang suka sekali meminum susu dengan lemak tingga.


“Huh, aku hanya makan buah malam ini? Tapi salahku sih, malas berbelanja,” gumamnya dan akhirnya mau tidak mau mengambil buah apel dengan ukuran besar, cukup untuk mengganjel perutnya yang tidak seberapa lapar.


Ia berjalan kembali ke arah meja, tempat ia tadi meletakkan handphone dan mengangkatnya seraya duduk di kursi.


“Huh, giliran aku balas dia tidak balas. Apa dia mau balas dendam,” gerutu Queeneira kemudian memutuskan berdiri kembali dan berjalan menuju washtafel untuk mencuci dan mengupas buah yang ada di tangannya.


“Awas saja kalau dia menelponku,” imbuhnya seraya mencuci dan mengupas kulit apel, kemudian memotongnya dengan potongan cantik, menyusunnya di piring lalu membawanya ke arah ruang tamu.


Ia berniat menonton acara televisi, sambil menunggu balasan dan jika tidak dibalas hingga buahnya habis, maka ia akan benar-benar tidur tanpa peduli dengan kemarahan Gavriel sekalipun dan baru saja ia ingin menghempaskan bokongnya di sofa, ia di kejutkan dengan dering handphone dengan nama Gavriel sebagai pemanggil.


Senyumnya dengan cepat terulas, namun dengan cepat ia hilangkan saat ia merasa aneh. Untuk apa ia tersenyum hanya karena akhirnya Gavriel menghubuninginya.


Hentikan itu, dia itu kamvret dan kamu tidak boleh cepat menyerah, batin Queeneira mengingatkan.


Ia pun berdehem guna menghilangkan rasa senang dan melunturkan senyumnya, baru kemudian menekan tombol terima lalu menempelkan layar handphonenya di daun telinga sebelah kanannya.

__ADS_1


 


 


Klik!


“Halo,” ujar Queeneira dengan nada mencoba biasa saja, tangan lainnya menggapai garpu kecil di piring buah dan menusuk potongan buah kemudian memakannya.


"Kenapa baru membalas pesanku, Que?"


Ukh, apa aku bilang. Ini pasti adalah pertanyaan pertama yang akan di tanyakan olehnya, batin Queeneira dengan bibir mencebil kesal.


“Aku baru selesai mandi,” jawab Queeneira apa adanya, sambil mengunyah potongan apel dengan kunyahan pelan.


"Hn, lain kali balas pesanku, meskipun itu hanya sebuah kalimat singkat dan pemberitahuan, paham?"


Huh, aku sudah seperti tawanan yang di penjara, batin Queeneira menggerutu.


“Hum, akan aku usahakan,” balas Queeneira berusaha tidak membantah, padahal dalam hati sudah sibuk menggerutu dengan perintah seenaknya dari Gavriel saat ini.


"Hn, bukan akan tapi harus, Que."


“Cih, Gavriel. Aku ini bukan istrimu, bagaimana bisa aku harus selalu menurutimu,” sembur Queeneira pada akhirnya.


Rasa kesalnya sudah tidak bisa di tahannya, apalagi saat mendengar keinganan seenaknya Gavriel yang terkekeh di ujung panggilannya sana.


"Khe … Untuk saat ini kamu memang belum jadi istriku, Quee. Tapi, sebentar lagi dan kamu tunggu saja."


“Mimpi! Aku tetap tidak akan mau, titik,”


"Tidak mau? Yakin?"


“Tentu saja, aku tidak mau,” sahut Queeneira cepat.


"Oke, pikirkan lagi benar-benar."


“Tetap tidak mau,” tolak Queeneira cepat. Tidak ingin panggilan telepon mereka isinya perdebatan tidak berujung, Queeneira pun mengalihkan pertanyaannya saat telinganya mendengar suara bising yang masuk di indra pendengarannya.


“Gavriel,” lanjut Queeneira menuai gumaman seperti biasa dari Gavriel.


"Hn?"


“Kamu sedang ada di mana?” lanjut Queeneira bertanya.


"Aku? Aku sedang di pesta, kenapa? Apakah terdengar bising?"


“Iy-


Queeneira tida jadi melanjutkan kalimatnya, saat telinganya menangkap suara wanita di panggilan mereka saat ini. Suara seorang yang memanggil nama Gavriel dengan lembut, juga balasan Gavriel yang terdengar meladeni si wanita dan ini membuatnya seketika merasakan perasaan penasaran, juga tidak suka di saat bersamaan.


Siapa wanita itu, batin Queeneira berhenti dari mengunyah apel yang saat ini ada di dalam mulutnya.


Bersambung.


\========================


Ikuti kisah selanjutnya ...


 


Sertakan komentar dan tap like-nya

__ADS_1


 


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2