
Selamat membaca
{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{
W&M Boutique And Photo Studio
Di kantornya, Queeneira yang baru saja meletakan handphonenya setelah selesai menerima panggilan dari Gavriel pun segera melirik ke sisa potongan kue, yang sengaja ia simpan di atas meja dekat sofa sana.
Kue red velvet itu jelas sekali kesukaan Mommy dari Gavriel atau juga Onty Kiara. Ia juga yakin jika bukan hanya kepadanya, Gavriel mengirimkan kue yang tadi di terimanya. Tapi juga kepada Mommy dan adiknya, Selyn.
Dalam hatinya tentu saja senang, saat tahu jika ia termasuk salah satu dari jajaran oragng yang berarti di dalam kehidupan seorang Gavriel Wijaya.
Bibirnya melengkung menampilkan senyum salah tingkah.
Jantungnya berdetak dengan perasaan tak karuan, saat akhirnya ia bisa sedikit berbincang santai seperti ini dengan Gavriel. Tapi ia juga sedikit kesal, saat ia merasa dulu Gavriel sama sekali tidak memperdulikannya.
Oke, ia akui jika ia juga akan seperti Gavriel saat banyak pekerjaan penting dan banyak juga menyita waktunya.
Tapi apakah iya, selama itu juga ia tidak punya waktu santai barang sejenak.
“Ck, jika mengingat dulu aku semakin kesal. Tapi, kalau hidup di masa lalu terus, kapan aku akan melangkah ke depan. Kapan aku akan menjalani dengan tenang, kehidupan aku yang sekarang,” gumam Queeneira dengan
gerutuan kesal.
Tangannya, yang awalnya ingin menggapai sebuah map berisi laporan bulanan berbelok arah, menjadi masuk ke dalam tas kecil yang tadi ia gunakan untuk menyimpan surat kecil, yang datang berbarengan dengan kue yang di
terimanya.
Dibukanya surat itu, kemudian sebaris kalimat sederhana pun terlihat oleh netranya.
Tulisannya jelas bukan tulisan rapi sahabatnya. Namun ia tahu, jika ini adalah perwakilan dari kalimat yang diucapkan olehnya.
Hn, hope you like it.
“Pftt … Mesti yah ada hn-nya, tipikal sekali,” dengkus Queeneira dengan menahan tawanya.
Ia pun melipat lagi surat kecil itu, kemudian menyimpannya di laci kerjanya dan memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, yang sempat tertunda dengan adanya gangguan berupa panggilan dari Gavriel.
“Dan dia dengan seenaknya, memerintahkan aku untuk menerima panggilannya kapan pun. Bagaimana jika saat itu aku sedang mandi, huh. Menyebalkan,” lanjut Queeneira masih dengan gerutuannya.
Bibirnya mengurucut saat menggerutu tentang kamvretnya kelakuan Gavriel. Tapi jika di lihat,tangannya seperti bergerak ke arah lainnya, bukannya ke arah keyboard atau pun mengambil map seperti awal rencananya.
Tangan dengan jari berhiaskan kuteks berwarna putih di ujungnya itu bergerak mengambil handphonenya lagi, untuk mengetik sebaris pesan singkat tanpa peduli jika orang yang menerimanya segera membacanya atu tidak.
__ADS_1
Tapi yang jelas, dengan lincah jarinya mengetik satu per satu huruf dan membentuk sebuah kalimat singkat. Namun, Queeniera tidak tahu jika kalimat yang baginya sederhana, efeknya akan sangat berbeda bagi si penerima.
“Ck, Gavriel,” gumamnya salah tingkah, sebelum benar-benar fokus dengan pekerjaanya.
Kota X
Di ruangan dengan pendingin sebagai penghalau rasa panas efek matahari, terdapat beberapa orang yang sedang menghadiri rapat membahas tentang proyek pembangunan, yang akan menjadi tanggung jawab Wijaya.
Pembicaraan bisnis yang berlangsung membuat Gavriel yang sedang fokus tersentak kecil, saat mendengar dering nyaring pada handphone yang ia simpan di saku jasnya, membuatnya jadi pusat perhatian namun tidak ada pula
yang menegurnya.
Ah! Sepertinya ia lupa mengubah mode deringnya menjadi getar, setelah mengakhiri sambungannya dengan Queeneira sewaktu ingin memasuki ruangan.
Dengan gerakan tenang ia menegakkan punggungnya, kemudian Gavriel mengulas senyum kecil sebagai bentuk ucapan permintaan maafannya.
“Hn, maaf, silakan di lanjut,” ucap Gavriel singkat.
“Tuan Gavriel, silakan di terima dulu sambungannya,” sahut si pemilik perusahaan dengan nada bersahabat, juga senyum ramahnya membuat Gavriel menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
“Tidak masalah. Sebaiknya kita lanjutkan saja,” tolak Gavriel segera dan akhirnya meeting pun di lanjutkan, dengan Aksa yang berganti menjelaskan setelah pihak partner selesai dengan persentasinya.
Gavriel mengumpat dalam hati, dengan kecerobohannya sendiri. Bagaimana ia sampai lupa dengan handphonenya sendiri, sangking asiknya bertelepon ria dengan Queeneira. Padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti ini, selalu mengecek sesuatu hal yang terkecil sebelum melakukan meeting.
Ia pun dengan sembunyi-sembunyi memeriksa handphonenya, menekan sidik jari sebagai password dan membuka notifikasi pesan dari seseorang, yang membuat umpatan kesalnya berubah menjadi bibir tersenyum senang tiba-tiba.
(Hei! Terima kasih kuenya. Aku suka. Lalu, semangat bekerja, Gavriel.)
mereka yang merasakannya mengernyit saat udara terasa berbada.
Apakah sedang ada yang sedang jatuh cinta? batin semua yang ada di dalam ruangan bersamaan.
Kembali pada Queeneira yang saat ini baru saja mulai fokus dengan pekerjaanya. Ia hendak membuka salah satu dari sekian banyak lembar di dalam map, namun getaran dari handphone yang ia letakan di meja dekat laptopnya
membuat ia urung.
Ia dengan segera mengecek apa gerangan yang tertera dalam notifikasi pesannya, lalu menemukan jika balasan datang disaat ia berpikir jika seseorang yang tadi di kirimnya pesan tidak sempat melihat karena sibuk.
Namun lihat, bahkan balasan tidak lama di terimanya dengan kalimat andalan singkat masih dengan dua huruf yang selalu di keluarkan Gavriel.
(Hn, jika kamu memberiku semangat, aku tentu saja semangat.)
“Ck, apa kamu selalu menggombal seperti ini, dengan wanita lainnya,” dengkus Queeneira kemudian iseng mengirim pesan kembali sebagai jawaban. Ia ingin tahu, apakah Gavriel akan cepat membalasnya atau tidak.
(Apakah kamu selalu menggombal, Tuan Gavriel. Kenapa mulutmu berubah menjadi manis seperti ini.)
“Huh, kita lihat berap-
__ADS_1
Drt! Drt!
“Woah! Cepat sekali dia membalasnya,” pekik Queeneira mengubah dengkusannya, saat mengira jika Gavriel akan lama membalas pesannya.
(Yang mengetik jariku, love. Mulutku hanya untuk membungkam bibirmu seorang.)
Dengan netra membulat sempurna, Queeneira memandangi layar handhponenya berharap ini hanyalah efek lelah pada kedua bola matanya. Namun sayang, berkali-kali ia membacanya ternyata tetap benar jika Gavriel memang
mengirim balasan yang lagi-lagi berbau mesum.
Dengan gerakan bar-bar, ia pun mengetik balasan singkat kemudian dengan cepat menyimpan handphonenya di laci, tidak ingin membaca pesan balasan lagi takut jika isinya lebih membuatnya kesal.
“Ah! Gavriel siala-
Drt! Drt! Drt!
Lagi-lagi kalimatnya disela oleh getaran yang berasal dari handponenya. Ia pun memutuskan untuk membiarkan dan tidak ingin membacanya dengan menguatkan hati.
“Tidak. Aku tidak akan membuka pesan darinya lagi,”putus Queeneira kemudian menggelengkan kepalanya, namun detik berikutnya tangannya kembali berkhianat dengan membuka laci dan membuka aplikasi pesan chatnya.
Kemudian ia membaca dalam hati dan kali ini bukan hanya netranya yang melebar karena kaget. Melainkan jantungnya juga, yang ikut berdebar dengan apa yang di tertera di layar handponenya.
(Hn, love you too.)
“Hell! Kapan aku bilang, aku mencintainya!”
Dan teriakan Queeneira adalah yang terakhir terdengar, sebelum berpindah kembali kepada Gavriel yang saat ini sedang menahan senyumnya di tengah-tengah meeting berlangsung.
Pftt … Kirim pesan kok kejam sekali, masa balasanku dibalas dengan 4 kalimat kejam. Bikin kesal saja, batin Gavriel kemudian melihat sekali lagi pesan-pesan dari Queeneira, baru setelahnya berusaha fokus dengan meetingnya lagi.
(Go to the hell)
Dari pada ke neraka, mendiang ke surga dengannya. Pftt ... Maksudnya surga dunia, lanjut Gavriel dengan aura bunga-bunga berterbangan.
Bersambung.
\============================
Ikuti kisah selanjutnya ...
Jangan lupa komentar
__ADS_1
Terima kasih dan sampai babai.