
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Keesokan harinya sesuai dengan yang di ucapkan oleh Gavriel, jika hari ini ia ada perjalanan bisnis ke luar kota.
Gavriel yang sudah siap dengan kemeja putih juga jas hitamnya berjalan seraya menghubungi asistennya, Aksa. Rencananya ia dan Aksa akan bermalam beberapa hari, lalu pulang kemudian menghadiri meeting untuk mendapatkan tender dengan nilai kerja sama besar. Tender yang juga membuat sang Daddy khawatir, tentang keselamatannya setelah pengumuman kemenangan.
“Hn, sudah siap pesawatnya?” tanya Gavriel tanpa berbasa-basi, saat panggilannya di terima.
“Sudah, Bos. Hanya menunggu kedatangan Bos.”
“Hn, aku berangkat,” sahut Gavriel kemudian memasuki mobil, yang pintunya di bukakan oleh seorang sopir seraya memutuskan sambungannya.
Brakh!
Brumm!
Mobil pun meluncur dengan kecepatan sedang, meninggalkan pelataran parkir apartemen mewah yang di huni oleh kaum kalangan jetset seperti Gavriel.
Di mobil Gavriel tidak hanya duduk tampan dengan aura wibawanya. Tapi ia juga memainkan handphonenya, berniat menggangu pagi hari wanita yang dicintainya, Queeneira.
Ia yakin sekali, jika saat ini Queeneira masih tertidur mengingat jika waktu masih terlalu pagi tepatnya pukul 4 subuh. Waktu enak-enaknya untuk tidur cantik, di tambah cuaca yang sedikit dingin.
“Hum,” gumam Gavriel saat nada sambung terdengar, namun si empunya handphone belum juga menerima panggilannya.
“Ck, apakah dia masih tertidur,” lanjutnya setelah berdecak sebal.
Tut! Tut! Tu-
Klik!
“Hum … Haloo.”
Dari seberang sana ia bisa mendengar sahutan dengan suara serak khas orang bangun tidur, membuat senyumnya terulas senang saat bisa menggangu pagi hari dari wanita yang tadi malam menemani waktu istirahatnya.
“Kucing pemalas, lihat waktu sudah menunjukan pukul berapa ini,” ujar Gavriel menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar bersemangat.
“Ukh, siapa ini. Jangan mengangguku.”
Pfftt …
Ia hampir saja menyemburkan tawanya, saat suara kesal selanjutnya menjawab perkataan usilnya.
Ah! Seketika ia bepikir, jika akan sangat menyenangkan kalau ia bisa melihat langsung wajah bantal Queeneira di sana.
“Hum, tebak, siapa mahluk Tuhan paling tampan yang berani mengganggumu pagi-pagi seperti ini,” balas Gavriel tanpa menyebutkan namanya. Ia ingin membuat Queeneira kaget dan terbukti dengan keterdiaman sesaat, namun
berubah menjadi gaduh saat ia rasa Queeneira tahu siapa yang saat ini menghubunginya.
“Huwaa!!”
“Ha-ha-ha!”
Gavriel pun tak kuasa menahan gelak tawanya, sehingga kini mobil yang awalnya sunyi itu di penuhi gelak tawa dari Gavriel yang gemas dengan reaksi dari Queeneira di seberang sana.
Gelak tawa dari Gavriel tentu saja membuat sopir pribadinya ikut tersenyum, karena baru ini ia melihat Tuannya yang tertawa lepas, saat biasanya selalu memperlihatkan wajah datar seperti Tuan besar Wijaya.
__ADS_1
Apa ini karena wanita yang tadi malam, batin si sopir penasaran.
“Gavriel, ini bahkan baru pukul 4 subuh.”
Gavriel menghentikan gelak tawa dengan deheman singkatnya. Kemudian menegakkan punggung dan kemudian menahan senyum yang masih tersisa akibat gelak tawanya.
“Hn, aku tahu. Kata siapa ini sudah pukul 12 siang, heum?” sahut Gavriel dengan nada cuek, ia melihat arloji yang melingkar apik di pergelangan tangan kanannya, kemudian meminta sang sopir untuk menambah laju kendaraannya.
“Baik, Tuan,” jawab si sopir dengan segera mengikuti perintah Tuannya.
“Kamu sedang di mana?”
Gavriel kembali fokus pada panggilannya, tepatnya saat ia mendengar pertanyaan dari Queeneira di sambungannya.
“Hn, aku sedang ada di perjalanan menuju bandara,” balas Gavriel menjelaskan.
“Kamu jadi ke luar kota?”
“Hn, beberapa hari aku menginap. Jangan kangen yah,” jawab Gavriel mengiyakan,kemudian seperti biasa menggoda Queeneira yang segera menampiknya dengan cibiran, terdengar saat Queeneira membalas perkataannya.
“Mimpi kamu, Gav. Aku justru akan bersyukur dengan kepergianmu.”
“Yakin? Apa kamu tidak menyesal, kalau di luar kota nanti aku bertemu wanita lain?” tanya Gavriel dengan alis sebelah terangkat. Ia menunggu dengan tidak sabar balasan apa yang akan di terimanya dari bibir yang pernah dikecupnya itu seperti apa.
“Hih, kenapa aku harus menyesal. Emangnya kita ada hubungan apa?”
Wanita keras kepala, batin Gavriel kesal, kemudian merilekskan dirinya agar tidak termakan jawaban reseh Queeneira.
“Tidak ada sih. Tapi, apa kamu yakin tidak akan menyesal saat nanti aku bermain dengan wanita lain di sana, heum?” balas Gavriel, kemudian bertanya dengan memanas-manasi Queeneira.
Nada sewot yang di keluarkan oleh Queeneira membuat Gavriel yakin, jika saat ini Queeneira di kamarnya saat ini sedang sibuk menyumpah serapahinya. Ia pun menggelengkan kepalanya, saat melihat ke luar jendela dan menemukan pelataran parkir bandara di luar sana.
“Hum, tenang saja, love. Aku di sana bukan untuk bermain dengan wanita, tapi untuk bekerja. Baiklah, aku sudah sampai di bandara, sebaiknya kamu bersiap untuk bekerja. Ingat, jangan pernah abaikan panggilan dariku,” ujar Gavriel panjang lebar.
Ia menuruni mobil setelah sopirnya membukakan ia pintu, lalu berdiri tegak seraya membenahi jasnya yang sedikit berantakan. Ia berjalan dengan Aksa menunjukan jalan pintas menuju lapangan landas, di mana pesawat pribadinya sudah menunggu.
“Kamu sudah sampai? Kalau begitu hati-hati di luar kota nanti. Lalu, soal menerima panggilan aku tidak jamin. Aku banyak meeting hari ini.”
“Tidak mau tahu,” jawab Gavriel cepat, dengan kepala mengangguk saat melihat awak kabin pesawat pribadinya berjejer dengan kepala menunduk menyambutnya.
“Selamat pagi, Tuan Gavriel!” seru semuanya kompak.
“Hn, pagi,” sahut Gavriel seraya menaiki satu persatu anak tangga, kemudian memasuki ruang pesawat dengan sofa dan meja. Terlihat mewah dengan televisi, juga sofa santai di depannya.
“Jahat sekali, Gavriel.”
“Hum, aku memang jahat. Jadi, aku tidak mau tahu. Pokoknya, saat aku menelponmu nanti, kamu harus menerima,” sahut Gavriel sama sekali tidak membantah.
Ia duduk nyaman di sofa empuk berwarna putih, kemudian menolehkan wajahnya untuk melihat ke arah luar sana, di mana lapangan landas juga beberapa pesawat komersil berada.
“Ck, kamu selalu memaksaku, Gavriel. Tidak adil.”
“Hn, sudah sifatku,” kata Gavriel tidak perduli.
Ia mengangkat tangannya, saat pilot dan Aksa berdiri untuk menanyakan keberangkatan, menuai anggukan kepala singkat dari mereka yang mengerti maksud Tuannya apa.
“Ck, oke. Sudah, sampai sini dulu, sekali lagi hati-hati.”
__ADS_1
Senyumnya terulas saat mendengar pernyataan jika Queeneira menyerah dengan apa maunya.
“That’s my girl. See you on next call, love,” sahut Gavriel, kemudian menunggu hingga Queeneira memutuskan panggilannya.
Tut!
Setelah memastikan jika panggilan benar-benar terputus, Gavriel mengangkat wajahnya dan menghilangkan senyum yang sempat terlukis di wajahnya. Ia menatap Aksa dan Kapten pilot di depannya dengan datar, kemudian
mengangguk singkat sebagai kode jika ia siap.
“Kamu bisa menerbangkan pesawat sekarang, Kapten Lionel,” kata Gavriel dengan nada datar, menuai anggukan kepala mengerti dari sang kapten, dengan kewarganegaraan Amerika ini.
“Yes, Sir.”
“Aksa,” panggil Gavriel seraya mengaktifkan mode pesawat pada handphonenya.
“Ya, Bos?”
“Menurutmu, toko kue di kota S yang enak, toko kue mana?” tanya Gavriel menatap Aksa dengan ekpsresi bertanya serius.
“Eh! Toko kue?” beo Aksa bertanya. Ia kaget, saat Bosnya bertanya toko kue, alih-alih pekerjaan seperti biasanya.
“Hn, apakah kamu tidak tahu,” sahut Gavriel kemudian memastikan.
“Kalau menurut Mama, toko kue Tara’s Bakery enak,” jawab Aksa, menjelaskan apa yang diingatnya menurut pengakuan sang Mama.
“Tara’s Bakery?”
“Iya, Bos. Mama bilang punya istri unkel Ronald, mereka membuka bisnis kue,” jelas Aksa dengan Gavriel yang mengangguk mengerti.
“Segere hubungi dan pesankan kue best seller di sana. Lalu kirim ke rumah, juga ke kantor Queeneira dan Selyn. Paham?” ujar Gavriel memerintah.
Aksa mengangguk, kemudian segera menghubungi toko sesuai perintah.
“Paham, Bos.”
Akhirnya pesawat pribadi yang membawa Gavriel pun lepas landas, menuju kota dengan jarak beratus-ratus kilometer.
Bersambung
\================================
Ikuti kisah selanjutnya ...
Komentar dan like jangan lupa , hihi ...
Terima kasih dan sampai babai!
__ADS_1