Married With My Arrogant Friend

Married With My Arrogant Friend
Bab 62 ~ Pesta Bisnis


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Saat ini Gavriel sedang beristirahat di hotel yang di sediakan oleh partner bisnisnya, dengan Aksa yang menginap di sebelahnya besama Carnell, sedangkan sisa anak buahnya berjaga di luar hotel juga beberapa bersembunyi di tempat yang sama sekali tidak akan di pikirkan oleh orang biasa.


Berdiri dengan tangan bersedekap dada, Gavriel menengadahkan wajahnya untuk melihat langit-langit di atas sana. Mengingat jika saat ini ia sedang ada di balkon kamarnya, menunggu Aksa yang bilang akan menemuinya dan


akan menghadiri pesta bisnis bersama di luar hotel.


Pesta bisnis yang di selenggarakan oleh pemilik perusahaan besar, yang kebetulan saat ini sedang bekerja sama dengannya.


Iseng dengan kesunyian yang ia rasakan. Gavriel pun merogoh saku celananya, untuk mengambil handphone dan mengecek pesan dari seseorang yang ia tunggu balasannya.


“Ck.”


Terdengar decakan saat ia tidak mendapati balasan pesan dari Queeneira. Padahal ia mengirim semenjak lima menit yang lalu, tapi sampai saat ini Queeneira belum juga membalasnya, membuatnya kesal dan curiga jika saat ini Queeneira sedang berselingkuh darinya.


Oh! Gavriel, Queeneira bahkan belum resmi menjadi kekasih apalagi menjadi istrimu.


“Sebaiknya aku tanya dengan mereka, sedang apa sebenarnya dia. Sehingga tidak membalas pesan dariku,” gumam Gavriel memutuskan setelah menggerutu kesal, kemudian memutuskan untuk menghubungi anak buahnya yang berjaga di sekitar kantor dan apartemen Queeneira.


Ia menekan kontak milik salah satu anak buahnya, yang segera menerima panggilannya di nada tunggu ke dua dengan nada tegas sebagai salam pembuka.


"Selamat malam, Bos."


“Hn. Bagaimana dengan situasi di sana?” tanya Gavriel setelah panggilannya di terima.


"Aman, Bos. Nona juga baru saja pulang dari kantor dan saat ini sedang dalam perjalanan."


Hum, pantas saja. Baguslah, dia harus fokus saat menyetir. Tapi kenapa dia malam sekali pulangnya, batin Gavriel terdiam, hingga panggilan dari anak buahnya membuatnya tersentak kaget dan sadar dari keterdiamannya.


"Bos!"


“Hn, kalau begitu lanjutkan dan beri kabar jika Queene sudah pulang,” sahut Gavriel kemudian memutus panggilan sepihak setelah menerima jawaban dari anak buahnya.


"Siap, Bos!"


Tut!


Memandangi foto wallpaper di layar handphonenya, Gavriel tersenyum tipis dan segera menoleh ke arah pintu saat terdengar bel pintu terdengar. Ia memasukan kembali handphonenya ke dalam saku celana, kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu keluar dan melihat dari lubang kecil di daun pintu, di mana ada Aksa yang berdiri dengan Carnell di sebelahnya.


Ceklek!


“Hn, kalian berdua sudah siap?” tanya Gavriel dengan nada datar andalannya, menatap tanpa ekspresi kedua tangan kiri dan kanannya, yang berdiri sudah rapih dengan pakaian resminya.


“Siap, Bos!” jawab keduanya kompak, membuat Gavriel yang mendengarnya mengangguk mengerti dan keluar dari kamarnya, kemudian menutup pintu segera.

__ADS_1


Melangkahkan kakinya menuju lift yang ada di ujung koridor, Gavriel bersama Aksa dan Carnell pun akhirnya berangkat bersama mobil jemputan Tuan Alberto Hanson untuk menghadiri acara makan malam, dengan tamu yang tentu saja para pengusaha terbaik di kota X.


Ck, seharusnya aku mengajak Queeneira serta malam ini, batin Gavriel berdecak sebal, melihat jalanan ramai di luar mobil yang di tumpanginya dengan tatapan tanpa minat.


Sekitar 15 menit kemudian akhirnya mobil yang di tumpangi oleh Gavriel sampai di halaman luas kediaman Hanson. Rumah dengan gaya eropa ini terlihat megah dan mewah, dengan cat berwarna putih gading hampir sama mewahnya dengan mansion utama Wijaya, yang di tempati oleh kakek dan nenek Gavriel.


Pintu mobil terbuka dengan Carnell sebagai si pembuka pintu, setelah mengecek keberadaan anak buahnya yang sudah berjaga di sekitar. Ia mempersilakan Gavriel, yang melihat ke arahnya dengan tatapan bertanya dan di


jawab olehnya dengan anggukan singkat.


Ceklek!


Sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap terlihat turun dari dalam mobil, menopang tubuh tegap seorang laki-laki muda anak dari pasangan Wijaya-Wicaksono. Gavriel berdiri gagah dengan kedua tangan menarik sedikit


jasnya kebawah bermaksud merapihkannya.


Setelah berdiri dengan sempurna, Gavriel juga menolehkan wajahnya ke arah kanan-kirinya yang saat ini ada Aksa dan Carnell  berdiri disisinya.


 



Tanpa kata Gavriel melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk, di mana telah menunggu banyak penjaga dengan masing-masing membawa metal detector, memeriksa dengan teliti setiap orang yang memasuki ruangan.


Pesta pengusaha terkenal di kota X, tentu saja penjagaannya akan ketat dan juga tamu yang di dalam harus steril dari benda seperti itu.


“Permisi,” ucap si penjaga kemudian meletakan alat itu di seluruh permukaan tubuh Gavriel, dengan Gavriel yang hanya merentangkan tangannya santai, menatap si petugas dengan datar saat metal detector itu memindainya.


Mereka tidak membawa senjata, untuk apa? Saat mereka masih bisa menggunakan kedua tangan mereka untuk melindungi dan membela diri. Lagian ini adalah pesta dengan banyak orang penting di dalamnya, beda lagi jika pesta geng mafia yang biasa ia hadiri saat anggota bawah tanah mengundangnya untuk hadir.


Setelah melewati pintu pemeriksa dan ia juga kedua orang yang datang bersamanya steril, Gavriel pun melanjutkan langkahnya dan akhirnya mereka sampai di ruangan yang di hias sedemikian rupa, dengan tema zaman Victoria, membuat ruangan ini Nampak mewah dan elagan disaat bersamaan.


Dari tempatnya berdiri saat ini, Gavriel bisa melihat Tuan Alberto bersama beberapa pria dengan rupa yang tidak asing di penglihatannya.


“Sebaiknya kita menyapa Tuan rumah dulu, sebagai formalitas dan selebihnya lebih baik menyingkir. Jika bisa,” gumam Gavriel tanpa menoleh dan di balas dengan anggukan kepala dari keduanya.


“Siap / Baik.”


Ketiganya pun melangkah menghampiri Alberto dengan langkah pelan namun pasti. Diiringi dengan tatapan kagum dari tamu wanita di sekitar mereka, juga pekikan tertahan dengan menyebut-nyebut namanya disetiap pekikan


tertahan itu.


Aku terkenal sampai sini? Luar biasa, the power of media massa, batin Gavriel dengan wajah datar, mengindahkan setiap pekikan kagum untuknya.


Disisi Alberto yang saat ini sedang berbincang dengan koleganya. Ia yang iseng melihat sekitar tersenyum lebar, saat melihat partner bisnis mudanya terlihat jalan dengan dua tangan kanan-kiri di sebelahnya.


Dengan segera ia mengulurkan tangannya, padahal Gavriel masih berada beberapa langkah di depannya, sehingga Gavriel pun dengan segera mnegikuti dengan mengulurkan tangannya dan menyambut dengan senyum tipis sebagai pemanis.

__ADS_1


“Tuan Wijaya muda, selamat malam. Selamat datang di pesta sederhana ini,” ujar Alberto merendah, menuai kekehan jenaka dari kolega yang ada di dekatnya begitu juga dengan Gavriel yang menarik ujung bibirnya sedikit


ke atas. Sehingga kini matanya menyipit, membentuk smile eye yang terlihat mempesona.


“Tuan Alberto terlalu merendah,” sambut Gavriel dengan nada datar, tidak selaras dengan smile eye yang tadi di tampilkannya.


“Ah! Ini tentu saja benar, untuk Tuan Gavriel yang sudah mendatangi pesta mewah di Amerika sana,” timpal Alberto membanggakan Gavriel dan menuai decakan kagum dari kolega di sekitarnya saat ini.


“Mari saya perkenalkan dengan para partner bisnis, di sini ada .…”


Seperti biasa yang namanya pesta bisnis akan ada kelompok berbicara dengan kepentingan masing-masing, juga ajang untuk mencari dan pamer kelebihan dari masing-masing personal.


Gavriel melihat dan mendengarnya dengan senyum tanpa rasa alias senyum formalitas semata pada sekitarnya, sedangkan Aksa setia berdiri di sampingnya, dengan Carnell yang hanya menampilkan wajah  sudah menahan diri agar tidak kabur.


Diam-diam Gavriel terkikik dalam hati, karena akhirnya bisa membuat Carnell merasakan apa yang dirasakannya.


Pfft  … Rasakan, biasa berjalan-jalan memeriksa sekitar kini mendengar soal bisnis. Pusing kan, batin Gavriel senang bisa mengerjai Carnell.


Berdiri dengan obrolan yang tidak di mengerti, sama seperti orang bangun tidur di tanya 1+ 1 berapa.


Bengong dengan menahan ekspresi agar tetap terlihat sopan.


Sedang asik berbincang dengan sesame pengusaha, terdengar di belakang mereka suara seorang wanita memanggil nama Alberto dengan manja, membuat mereka yang mendengarnya segera menoleh ke asal suara, termasuk Gavriel yang menatap datar tanpa minat.


“Papa, aku cari dari tadi baru bertemu.”


Deg!


Tampan, batin si wanita yang tadi memanggil.


Bersambung.


\==========================


 


Ikuti kisah selanjutnya ....


 


 


Sertakan komentar dan tap like-nya.


 


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2