Mas, Aku Padamu

Mas, Aku Padamu
Part 1


__ADS_3

Part 1


"Pulang pagi terus, ya, kamu, Bang!"


"Lembur, uangnya juga buat siapa lagi."


"Capek-capek aku nidurin anak siang-siang, kamu malah gak pulang,"


"Maaf, Sayang. Abang gak pulang malam lagi, deh, janjiiiiii."


"Janji-janji, yang kemarin aja gak ditepati."


"Habis ini, ya. Hitung-hitung qodo, Mah."


"Uang dulu!"


"Iya, gih. Jangan lama-lama."


Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku terbangun setelah mendengar teriakan tetangga sebelah, mbak Gita dan Bang Rapli. Entah apa yang mereka ributkan, selalu saja saling teriak, hingga aku dan penghuni kost lainnya sudah terbiasa menyaksikan pertengkaran itu.


Baru saja aku selesai menyajikan kopi, dan terduduk di depan sambil memainkan game cacing, mbak Gita sudah mencak-mencak di depan.


"Mas ...!" Dia memanggil agak ngegas.


"Hmmmm," jawabku malas. Gara-gara mbak Gita, cacingku menabrak garis. Huuuuh!


"Titip si Adrian, ya." Mbak Gita senyum-senyum.


"Lah, emang kenapa?" Aku bertanya. Bukan gak mau, cuma si Adrian suka ngacak-ngacak kamarku. Gak bisa diem bocah itu.


"Bapaknya baru balik!" tandasnya mengerlingkan mata.


"Urusannya apa? Aku bentar lagi mau pergi," ujarku sembari menyimpan hape.


Mbak Gita memelototiku. Sementara Adrian main tanah di dekat selokan.


"Lu kagak ngarti, ya. Makanya jangan rebahan mulu, kali-kali mah nyari cewek!" Kembali mbak Gita ngegas, "Lima belas menit doang. Kasian bapaknya si Rian kebelet." Tanpa memedulikan tatapan jengkelku, mbak Gita membawa Adrian mendekatiku.


"Kalau kebelet, ke kamar mandi sana."


Aku memberikan tatapan bosan, sementara ibunya pergi begitu saja setelah menyerahkan bocah berusia tiga tahun itu.


"Mas ... Genta?"


"Ape lu?"


Bau selokan. Aku menggiring Adrian ke keran depan, "Bersihin tangannya. Bisa, kan?" Bocah itu menggeleng. Terpaksa aku yang harus membersihkan sisa lumpur di tangan dan kakinya. Meribetkan sekali.


Aku kembali dibikin jengkel setelah kedatangan Sely, kakak Adrian yang baru berusia enam tahun. Dia datang membawa sebungkus permen.


Adrian dan Sely langsung unboxing permen itu di ranjangku. Meski aku memelotot, keduanya tetap asyik mencecerkan permen itu. Bahkan kini, ranjangku sudah penuh oleh permen-permen yang dibuka setengah.


"Sely, kamu itu udah gede. Nanti mas gimana mau tidur kalau kasurnya penuh semut!" Aku mengacak rambut.


"Maaf, Mas." Sely membereskan permen-permen di ranjangku.


PERCUMA! Karena gulanya masih tersisa di sana. Dan semut-semut mulai berdatangan.


"Mainnya di luar, ya. Mas mau beresin kamar."


Bodo amat, kuusir mereka dari dalam.


Namun, hal menjengkelkan terjadi, yang membuat tanduk-tanduk di kepalaku bermunculan. Adrian pipis di celana.


Ya Tuhan. Ya Allah. Wahai Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, hamba ingin berkata kasar.


"RIAAAAAAANNNNNNNNN!" sergahku mengusap wajah.


Sepertinya setelah ini harus pindah kost. Aku capek ya Tuhan.


"Adrian pipis di celana ... Adrian pipis di celana!" Sely, kakaknya itu malah meledek.


Akhirnya hal yang aku takutkan terjadi. Anak-anak tetangga mampir ke dalam. Mereka menertawakan Adrian. Sementara yang ditertawakan menangis.


Jiwa-jiwa pembully sudah tertanam sejak dini. Huh!


Adrian memegang betisku.


Woy, air kencing lu kena celana gue.


"Pulang!" Teriakanku tak dihiraukan.


"Sely, Tina, Jaenab , Pian, Asep, Julaeha, PULANG LU PADA!"


Aku tidak memedulikan lagi, berteriak sekencang-kencangnya. Mereka lari terbirit-birit, tapi mengataiku saat sudah di halaman.


"Mas Genta galak!"


Kujawab kencang. "BODO AMAT!"


"Pantes gak punya pacar!"


"Apa lu kata, Julaeha?" Aku menghardik.


Mereka tertawa dan berpencar.


Merasa dibela, Adrian memeluk betisku semakin kencang. Mana bau pipis lagi. Huh! Bodoh! Akhirnya dengan pelan aku buka celananya, lantas dibawa ke depan.


Aku menyiram pantat Adrian dengan air keran. Setelah itu kudiamkan dia di luar.


"Mas Genta bersihin pipis lu dulu. Diem di sini."


Saat aku sedang mengepel lantai, Joko, tetangga sebelah datang.


"Si Adrian pipis!" Tanpa bertanya, aku menceritakan hal yang membuat sebal tadi.


"Gak apa-apa, Bro. Itung-itung latihan buat punya anak nanti." Joko mengambil helm yang tergantung.


"Lu juga, kan, punya helm, Jok!"


"Mau bawa cewek, hehe." Joko menyeringai. "Sampai nanti, sobat." Dia menepuk pundakku.


Aku tersenyum kecut. Saat aku mau mengembalikan Adrian ke mamanya, Joko lewat membaca cewek. Sepintas kudengar dia mengataiku: "Mas Genta ditinggal istrinya kerja ke Arab, ya? Kasian ngurus anak sendirian."


Joko tertawa. Kalau ada batu, sudah kutimpug mereka.


"Mbak!"


Mbak Gita keluar setelah aku berteriak beberapa kali. Dia sudah segar menggunakan daster bunga-bunga, dan rambut terurai, masih basah. Suaminya juga hanya memakai sarung dan kaus oblong.

__ADS_1


Bang Rapli menyapaku.


"Ta, sehat?"


'GUE SEHAT. ANAK LU YANG NGGAK!' Inginku berteriak.


Aku mengangguk.


"Makasih, ya, Mas Genta."


Makasih-makasih palamu. Harusnya aku dapet gajih karena sering dititipin Adrian kalau bapaknya baru balik. Ini cuma ucapan terima kasih!


Aku melenggang. Baru beberapa langkah, kudengar mereka berbisik-bisik.


"Ma, makin mantap aja!"


"Iya, dong. Minum jambu biar keset dari mpok Nur. Harganya mahal," balas mbak Gita. "Kalau mau puas lagi, nanti beli lagi, ya, Pa!"


"Siap, Boskuh!"


Bangke. Mereka ternyata habis mantap-mantap.


"Jangan nambah adik dulu. Si Rian masih pipis di celana, Mbak." Aku berkata tanpa menoleh.


"Banyak anak, banyak rezeki, Mas."


Aku mengangkat bahu. Untuk apa juga mendengarkan mereka.


Mpok Nur memberikan isyarat lewat matanya padaku. Aku hanya mengerutkan kening tak mengerti.


"Kalau habis berantem, terus ena-ena, rasanya kayak setengah diperkosa," ucapnya mengedipkan mata.


Aku langsung takbir, dan menarik pintu dengan keras.


"ALLAHU AKBAR."


Terdengar mpok Nur dan tetangga lain cekikikan. Aku menutup telinga dengan bantal.


\*\*\*\*


Grup WhatsApp bernama 'Keluarga Bahagia' sangat ramai di sore hari. Biasanya setelah mereka selesai pengajian, atau aktivitas lain pada kumpul di grup.


Keseringan yang dibahas bukan tentang kost. Tapi menggibahkan orang lain.


Seperti sore ini, sudah lebih dari lima puluh chat masuk dari grup, aku tidak tertarik membuka. Sampai kemudian Joko mengirimi pesan pribadi.


'Bro, tengok grup noh, lagi bacotin lu!'


Aku membuka grup. Ternyata benar. Mereka sedang membicarakanku.


'Eh, mas Genta umur berapa, sih?'


Mamanya si Julaeha yang memulai.


Kemudian mama Jaenab membalas, 'Masih dua empat. Tapi belum pernah punya pacar kayaknya!'


'Hahaha.' Joko nimbrung.


Adeuh, sakit nih si Joko. Dia juga ngetawain kejombloanku.


'Jomblo ngenes dia mah.'


'Pemilih kayaknya.'


'Hahaha.'


Ibu-ibu rempong terus saling membalas. Sampai aku gedek membacanya.


'Mas Genta admin di grup ini lho.' Tumben mamanya si Adrian baru muncul.


Aku menyimak sambil minum kopi.


'Mana tertarik dia nimbrung sama emak-emak kayak kita.' Mbak Eni, alias mamanya Pian menjawab.


'Biarin aja. Toh emang bener.'


'Mas, nikah, Mas. Biar subuh hari jumat bisa keramas. Hihihi.'


Aku tidak tahan dengan gibahan mereka. Kubalas dengan ngegasssss.


'GUE ADA DI SINI, WOY!'


'NGAPAIN NIKAH, SHAMPO CEPET ABIS!'


'GUE JOMBLO BERKUALITAS, YA!"


satu detik ... dua detik ... sampai semenit. Ibu-ibu yang tadi menggibahkanku keluar dari grup.


"Kena lu sekarang."


Kusimpan hape di samping, aku kembali melanjutkan draft tulisanku di laptop. Baru beberapa kalimat, notifikasi sudah berderingg beberapa kali.


"Etdah, apaan, nih?" Aku melihat ada dua belas pesan pribadi dari mereka yang tadi keluar dari grup WhatsApp.


Mamah Pian: "Mas, masukkin lagi ke grup dong." Dia menyisipkan emoticon nangis kejer.


Aku membuka pesan selanjutnya dari mama Tina yang berisi: "Hehehe. Mas admin, kenapa gak bisa ngirim pesan di grup lagi, ya?"


KARENA LU BUKAN ANGGOTA GRUP LAGI, BODOH! Aku mengumpat dalam hati.


"Mas, baperan amat, deh, ih."


"Ingin kusentil ginjalnya!"


Mamah si Adrian yang paling membuatku mengernyit.


"KAN LU YANG KELUAR SENDIRI. LU YANG GIBAHIN GUE. TERUS YANG KELUAR JUGA LU. KENAPA GUE YANG DITUDUH BAPERAN!" Hanya chat mamanya si Adrian yang kubalas. Aku meluapkan kekesalan padanya.


Saat aku sedang fokus pada ponsel. Tiba-tiba ada yang berkata sembari melangkah agak cepat.


"Jangan marah-marah, nanti cepet tua," ucapnya kalem.


Aku melihat cewek itu masuk ke kamarnya yang terhalang lima kamar denganku.


"Namanya Rinjani. Yang tadi pagi gue bonceng," bisik Joko yang langsung meneguk kopi di meja.


"Anak mana?" jawabku tanpa menoleh.


"Jakarta juga. Seminggu yang lalu pindahnya,"

__ADS_1


Aku mengalihkan pandangan dari laptop, "Kok gue gak tahu."


"Seminggu yang lalu lu manggung di Bekasi, kan?"


Aku terkekeh.


Kemudian mengerutkan dahi. Wajah Rinjani seolah tidak asing di mataku. Aku seperti pernah melihatnya, tapi entah dimana. Saat aku mengingat-ingat, ada seseorang yang memanggil Joko.


"Bang Joko, ini helm yang tadi."


Aku memperhatikan wajah ayu itu. Gerak-gerik serta cara bicaranya.


Ya, tidak salah lagi. Itu adalah Rinjani Tsamara, dia pernah menjadi murid lest privatku setahun yang lalu. Cuma sebentar, karena Rinjani sering menjahiliku, berpura-pura sakit, sampai aku mengundurkan diri.


"Rinrin?" Aku menunjuk dirinya.


Dia tersenyum jahil. Sifat petakilannya tidak hilang, dia langsung duduk di kursi depanku sok akrab.


"Mas Genta sehat?" Rinjani mengulurkan tangan.


Aku membalas dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Sementara saat aku menanyakan bagaimana kabar keluarganya, Rinjani terdiam.


"Ayah meninggal, Mas. Kemarin baru empat puluh hari pas aku pindah ke sini," jawabnya dengan bergetar.


"Maaf saya tidak tahu. Turut berduka, Rin."


Rinjani menyeringai geli, "Jangan panggil aku Rinrin lagi. Kan udah dibilangin dulu juga, Mas."


"Maaf lupa."


"Istri mas?" Pertanyaan polos Rinjani langsung membuat Joko tertawa terbahak-bahak di sisiku. "Ke Arab, ya?" Kali kedua yang membuat sobatku tertawa membahana.


"Genta jomblo, Jan."


"Katanya setahun lalu mas Bilang ke aku, pas ditanya: alasan ngajar les privat, mas butuh modal buat nikah."


Aku terkekeh, selanjutnya menggaruk tengkuk.


"Biar kesannya laku aja, Jan."


"Bangke lu, Ta. Haha." Joko tidak berhenti tertawa. Membuatku sedikit malu.


"Aku sekarang udah kuliah, Mas," cerita Jani saat Joko sudah pergi.


"Alhamdulillah. Jangan sering bolos, ya."


Jani hanya mengulum senyum. Dia masih terlihat polos, meski usianya sudah sembilan belas tahun (kalau tidak salah).


"Kenapa milih ngekost?"


Aku menyimpan teh hangat untuk teman ngobrol kami berdua.


Jani tampak berpikir. Daripada menjawab, ia lebih memilih menyesap teh.


"Jan? ... hey."


Aku menatap Rinjani. Dia semakin terlihat manis dan menggemaskan, apalagi saat tertawa lepas dan bercanda bersamaku.


"Pengin bebas dari cengkraman abang-abang. Aku meyakinkan mereka kalau aku udah gede," celotehnya.


"Gede apanya?"


Jani mengerucutkan bibirnya, semakin membuatku tersenyum tanpa tahu alasannya.


"Ih, Maaaaaas."


Saat kami sedang asyik ngobrol, mbak Gita menyahut dari depan pintu kamarnya.


"Cie ... cie."


Aku menggaruk rambut. Sedangkan Rinjani terlihat tidak mengerti, ia hanya mengangkat bahu.


"Pulang, ya, Jan. Kamu habis dibully mereka kalau masih duduk di sini," usirku halus.


"Kenapa?"


"Mereka suka bully kejombloanku, aduh. Makanya kalau ada cewek suka ngomong kemana-mana."


"Oh, oke."


Rinjani masih termangu di tempat. Meski aku sudah memberikan tatapan mohon pengertiannya.


"Mas ... antarin, di sana banyak cowok ih," erangnya manja.


Aku melihat di gazebo rumah mpok Astri banyak kawan-kawanku yang sedang main catur. Pasti aku terbully lagi kalau mengantarkan Rinjani sampai ke depan kamarnya.


Tapi kasian dia. Di balik sifat petakilannya, Rinjani lemah sama cowok. Akhirnya aku mengantarkan dia.


Kawan-kawanku bersiul, apalagi melihat Rinjani yang hanya menggunakan celana pendek dan sweater.


"Cie ... akhirnya," kata Dino.


Aku duduk di tengah-tengah mereka.


"Ada kemajuan juga lu, Mas." Lagi yang lainnya meledek.


"Dia pernah jadi murid les privat gue!" bentakku.


"Kalem dong, Boskuh."


Aku beranjak.


"Udah ah, gue mau pulang." Aku melangkah, tapi mata tidak lepas dari pintu kamar Rinjani.


Lagi apa, ya, dia sekarang?


"Cie ... cie. Mau kontaknya gak?" Ilham berteriak.


Aku melemparkan kerikil.


"GAK!" Kujawab tegas.


Aku tidak lagi menoleh. Lurus berjalan. Mencoba biasa-biasa saja. Tapi dalam hati ...? Jujur saja, hatiku berteriak girang.


'Jan, mau jalan-jalan, gak?'


Seandainya aku punya keberanian untuk ngajak dia main. Sayangnya, aku gak berani.


'Semoga betah di sini, Jani.' Aku bergumam dalam hat

__ADS_1


__ADS_2