
Rinjaniku yang manja :)
Aku mengantar Rinjani ziarah me makam papanya. Ia tampak elegan dengan gaun berwarna hitam dan selendang senada yang menutupi kepalanya.
Dia menaruh bunga di atas tanah, kemudian bersimpuh seraya mengusap nisannya.
Beberapa detik kulihat bahunya bergetar. Aku ikut mengusap lengannya, mencoba menyalurkan kekuatan.
Tiba-tiba ia melirikku. Dari balik kacamata hitamnya, Rinjani berkata, "Mas ... aku gak bisa berdoa."
Aku menaikkan alis, sebentar lagi aku tertawa, tapi ditahan.
Apa maksudnya tidak bisa berdoa?
Sepertinya Rinjani paham apa yang ada dalam pikiranku, ia akhirnya membuka kacamata dan memandangku.
"Aku jarang berdoa," lirihnya. Saat aku membulatkan bibir, ia meralat perkataannya. "Tapi sholat gak pernah ketinggalan, ya. Jangan nuduh yang nggak-nggak."
"Ya, kamu doa apa aja, Jan. Pakai bahasa Indonesia aja. Tuhan pasti ngerti kok."
Rinjani mengembuskan napas. Ia memandang nisan papanya, lama tercenung, kini air matanya berderai kembali.
"Pa ... Rinjani gak mau jadi dokter!"
Aku yang mendengarnya sedikit menahan tawa. Pun dengan orang yang sedang berziarah pada makam sebelah kami. Sepertinya mereka sedang cekikikan di tengah membaca surah Yaasin.
"Gak apa-apa kan, Mas, Jani doanya gini?"
Aku mengangguk sembari mengalihkan pandangan.
"Harusnya papa tahu kalau aku tidak suka dengan hal-hal yang berbau rumah sakit. Biarlah aku ini menjadi jurnalis, tidak kreatif kalau anak papa semuanya menjadi dokter." Rinjani menyeka air matanya.
Selepas berziarah, Rinjani mengajakku mengunjungi mamanya. Ia rindu katanya. Kami disambut hangat, karena hari minggu, semua abang-abang Rinjani ada.
Dan mereka membuatku sedikit minder. Apalagi saat bertanya pada Rinjani: "Ini pacarmu, Dek?" Rinjani dan aku kehilangan kata-kata. Kami termangu.
"Mas Genta ini yang dulu ngajar les privat-nya Jani, Bang." Tante Ismi menjawab dari dapur.
"Oh, sekarang kerja apa?" tanya bang Ilham padaku.
"Masih kuliah sepertinya, ya?" Kini bang Rizky yang menimpali saat sedang membaca buku di ruang tengah.
Aku mengangguk.
"Jurusan apa?"
Mereka seolah memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya bisa menghela napas, sesekali memainkan jemari, berusaha bersikap tenang.
Ngomong-ngomong, aku nyesal ikut Rinjani kalau tahu bakalan seperti ini.
"Hukum, Bang."
"Mas Genta ini mau jadi pengacara, Bang." Rinjani datang dan membelaku. Ia mengupaskan apel, lalu memberikannya padaku.
"Kuliahmu gimana, Dek?"
Kulihat Rinjani sedikit malas menjawab.
"Baik. Pusing mikirin kuliah mulu," ujarnya sembari mencomot bakwan jagung.
"S2 mau ngambil apa?"
Eh, buset, Rinjani baru semester awal kuliah, udah mikirin S2 aja. Aku melirik pelan gadis itu, kini dia sedang mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Saraf mungkin kayak Ilham," gumam bang Rizky menunjuk adiknya dengan dagu.
"Tapi kuliahnya harus ke Jerman. Mama gak ngasih izin ah."
"Dokter anak aja kayak mbakmu ini, ya?" Aku kenal suara orang ini.
Namanya mbak Widya. Cantik, seorang dokter anak. Dia baik padaku, pernah mengajak jalan-jalan sama Rinjani. Meskipun anak itu kabur di tengah kami menikmati makan.
"Eh, Genta, ya?"
Aku menyalami tangan mbak Widya hormat.
"Sudah lulus kuliahnya?"
"Tahun ini lulus, Mbak." Lagi Rinjani yang menjawab.
Kulihat raut wajah tidak suka dari kedua kakak laki-laki Rinjani. Padahal aku sama Rinjani tidak mempunyai ikatan apapun, tapi pandangannya seolah-olah aku akan membawa Rinjani pergi dari mereka. Kemudian menjadikan putri bontot dari tante Ismi itu gelandangan.
Hanya karena aku belum lulus kuliah?
Atau mereka melihat tampang miskin dari wajahku?
Ah, motor matic di depan itu ... pasti mereka menilaiku darisana.
"Menurutku mending jantung, Dek. Kamu bisa kuliah di Jogja. Abang banyak kenalan di sana, kamu gak bakalan nyesel."
__ADS_1
Rinjani menyimpan piring-piring di meja. Tanpa menjawab ia kembali ke dapur. Sepertinya cukup malas membahas itu, tapi keluarganya tetap berbicara mengarah ke sana.
"Sudah ... sudah, kita di sini mau makan bersama, bukan untuk membahas soal itu," kata tante Ismi menenangkan anak-anaknya.
"Come on, Ma. Ini penting buat Rinjani, masa depan dia. Sebagai adik bungsu tersayang, kami ingin Rinjani mempunyai profesi yang sama," sela bang Ilham.
Rinjani menatap sinis pada kakak-kakaknya. Dia menjatuhkan sendok pada piring kembali, lalu mengembuskan napas.
"Dokter?" tanya Rinjani dengan alis terangkat.
"Ya, Dek. Wasiat papa kan begitu," pungkas mbak Widya tersenyum.
Rinjani menyampirkan rambut ke telinga, ia ke ruang tengah untuk mengambil tas-nya. Ditariknya tanganku untuk menjauh.
"Jan ... kamu kenapa?" Bang Rizky beranjak dari duduknya.
"Kalau Rinjani gak jadi dokter, apa kalian bakalan menghapus namaku dari kartu keluarga?"
"Hei, Dek. Nggak gitu," ucap bang Ilham sembari melepas kacamatanya.
"Aku tuh capek. Seolah dituntut meneruskan profesi keluarga. Aku tahu abang-abang dan mbak tidak menginginkan menjadi dokter, kalian tidak pernah dibebaskan memilih apa yang kalian inginkan sama papa. Tapi jangan melampiaskan balas dendam kalian ke aku."
Bahu Rinjani bergetar, ia terisak. Sedangkan kakak-kakaknya tidak ada yang bergerak, semuanya membisu. Pun dengan tante Ismi, perempuan paruh baya itu perlahan melangkah mendekati mbak Widya.
"Karena aku anak bungsu, makanya kalian bebas menindasku. Kalian memilihkan jurusan kuliah untukku, pekerjaan untukku. Bahkan mungkin nanti, kalian seolah yang akan menentukan masa depanku. Begitu?"
"Maksud kakak-kakakmu gak gitu, Sayang ...." Tante Ismi menyela, mencoba membuat Rinjani berhenti menangis.
"Iya, mereka begitu, Ma. Mereka tuh gak bisa marah ke papa, akhirnya melampiaskan semuanya sama aku. Padahal sebenarnya, kalian semua tidak ada yang ingin menjadi dokter. Bang Ilham bercita-cita menjadi arsitek, bang Rizky juga ingin menjadi musisi. Sementara mbak Widya, dia ingin jadi pengacara. Tapi karena papa ... ah, sudahlah."
Bang Ilham meradang. Ia menunjuk Rinjani, matanya menyala, sepertinya masalah ini akan menjadi panjang. Aku memilih menyaksikan di balik pintu.
"Kamu mau nyalahin papa?"
"Nggak. Cuma ... aku ngerasa, kita semua tidak pernah diberikan pilihan. Kita hanya menjalani apa yang papa katakan."
Setelah berkata seperti itu, Rinjani menyusulku keluar. Ia mengambil tanganku dan menyuruh pergi darisana dengan segera.
"Mau kemana sekarang?" tanyaku saat petang sudah mau habis.
Senja baru saja kembali. Langit membakar dirinya menjadi semburat jingga.
Tak ada jawaban dari Rinjani, yang kutahu, ia memasukkan tangannya pada saku jaketku.
"Terserah mau kemana. Aku ikut."
"Beneran?"
"Siap, Bu."
Aku menuntun tangan Rinjani untuk duduk di antara hamparan pasir putih. Kami sedang berada di pantai, aku membiarkan Rinjani menatap deburan ombak itu dengan lelehan air mata.
"Nangis aja. Nggak apa-apa kok," ucapku perlahan. "Nangis di dada mas juga gak apa-apa."
Tentu saja Rinjani menghambur. Sesenggukan menangis di dadaku. Dari tangisnya aku menyimpulkan, Rinjani kesakitan. Mungkin karena keluarganya tadi.
Tangisannya sudah berhenti, tapi Rinjani masih memelukku.
Iseng aku menggodanya, "Nangisnya udah?"
Mantap mengangguk. Kurasakan kaus yang kugunakan basah oleh air matanya.
"Kok masih meluk, ya?"
Sontak ia melepaskan diri dariku.
"Iya, eh, kok gimana, ya?"
"Nangis terus, biar aku dipeluk terus."
Rinjani memeletkan lidahnya.
Rinjani akhirnya melupakan amarahnya dengan berlarian bebas di bawah langit kekuningan. Ia mengajakku, aku mengikutinya. Kami berdua basah-basahan.
Akhirnya terdiam dengan napas tersengal. Kami saling berpandangan.
"Keluarga mas tidak pernah menuntut apapun?" Rinjani bertanya saat kami menyusuri pantai.
Aku mendongak, sekilas mengenggelengkan kepala.
"Tidak menuntut kalau sudah lulus kuliah mas harus kerja apa? Di mana?"
Kali kedua aku menggeleng.
"Enak banget. Gak kayak aku!" serunya saat kami sudah duduk di sebuah kedai kopi.
"Tidak penting menjadi apa. Yang penting bahagia. Begitu kata bapak."
"Keluargaku dari pihak mama, hampir semua tenaga kesehatan. Pun dari papa. Jadi, ya ... kami seolah harus mewarisi profesi mereka gitu," celotehnya.
"Kuliah itu untuk belajar, bukan untuk kerja."
__ADS_1
Rinjani menyela, "Tapi tujuan kebanyakan orang begitu."
Kugaruk kepala yang tidak gatal itu.
Sekarang kami sedang menikmati sate sembari menatap laut yang gelap. Kudengar alunan lagu dari sebuah tenda yang menjual pakaian pantai. Aku hafal lagu itu, milik Kunto Aji yang berjudul rehat.
Seolah teringat sesuatu, Rinjani bertanya padaku.
"Mas kuliah jurusan hukum, tapi kok suka musik?"
"Tadinya mau milih jadi musisi. Cuma ragu aja," jawabku terkekeh.
"Tapi sekarang kan sudah jadi musisi."
"Ah, musisi apa. Aku hanya mengerjakan ini semata-mata untuk menambah uang kuliah saja. Setelah lulus nanti, kayaknya nggak lagi."
Rinjani protes tidak setuju, "Padahal berbakat masnya." Ia menyimpan piring di samping.
"Hahaha. Bahkan sampai saat ini, aku belum tahu bakatku apa selain suka jual-jual barang kalau kontrakan nunggak."
"Oh, ya?" Gadis itu seolah tak percaya.
"Hidupku begini, Jan. Kalau nggak kerja keras ya nggak makan." Aku tertawa setelah menjentikkan rokok.
Ia mengangguk, entah mengerti atau tidak.
Selanjutnya kami berjalan tidak tentu tujuan. Hanya sesekali mengobrol, keseringan terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai akhirnya berhenti setelah ada dua pengamen yang memainkan gitar ukulelenya, memberhentikan langkah kami.
"Gini aja, saya nggak mau bayar. Biar saya aja yang minjam gitarmu. Gimana, boleh?"
Kedua pengamen tadi saling berpandangan sebelum menyerahkan ukulelenya padaku.
Aku menyanyikan lagu Kunto Aji berjudul mercusuar. Kulihat kedua pengamen tadi sedikit melongo, sementara Rinjani tampak menikmati dengan semilir angin malam yang menerbangkan rambutnya.
'Dari yang sudah-sudah
Cinta hanyalah bualan
Dari yang sudah-sudah
Hanya rasa tanpa tujuan'
"Lumayan. Sini lah aku mau ngamen lagi." Bocah lelaki kira-kira berumur lima belas tahun itu berlalu setelah memberikan penilaian terhadap suaraku.
Tak kuberi uang, karena uangku habis dipakai membeli rokok dan sate.
"Lipstikku luntur," ucap Rinjani seakan kesal.
Kami sudah bersiap pulang.
"Mana coba lihat."
Aku modus padanya. Kudekatkan bibirku, selanjutnya mengulum pelan. Rinjani tak bereaksi, dia bergeming. Sepertinya masih sedikit kaget, Rinjani hanya berdehem, aku sebagai lelaki mulai merangkul pundaknya. Siap menyerang dengan modus kedua.
"Ah, itu masih ada juga."
"Mana-mana, coba sini kayak tadi lagi. Mastiin kalau lipstikku awet."
Kudengar nada riang dari suaranya. Entah apa yang dirasakannya, namun ia seolah menyuruhku untuk ******* kembali bibir pucat itu.
Aku tidak melakukannya, tapi kuusapkan telunjukku di bibirnya. Kulihat tidak ada sisa lipstik berwarna merona itu. Akhirnya aku berpura-pura heran.
Padahal, ya ... modus lagi.
"Eh, nggak awet. Lipstik murah, ya?"
Ia cemberut.
"Mana sini cobain lagi."
Kali ini lebih siap. Matanya sudah terpejam, detik berikutnya aku sudah meluncurkan bibirku untuk bersentuhan dengan bibirnya. Agak lama, lidahku bahkan menelusuri rongga mulutnya.
Napas kami terengah-engah setelah saling melepaskan. Aku merasa dadaku berdebar, yang kulihat Rinjani juga sedikit gugup seusai kami berciuman untuk kedua kalinya.
"Tadi ciuman pertama," bisik dia bersamaan dengan desau angin. "Belum terlalu bisa. Aku nggak ahli kayak mas."
"Ndak apa-apa, nanti diajarin."
"Bener, ya?"
"Iya, pelajaran, kan?" Aku bertanya sembari menolehkan kepala.
"Pelajaran dari guru cabul dan mesum."
Kuusap lututnya sembari tertawa.
"Aku mau selamanya sama mas." Rinjani menyerahkan helm saat kami sudah sampai depan kost.
"Mas bukan dokter."
__ADS_1