Mas, Aku Padamu

Mas, Aku Padamu
Part 5


__ADS_3

Hari itu aku memutuskan berdiam di kasur seharian. Tidak akan kemana-mana. Diam saja, sesekali gerak kalau sudah merasa pegal.


Joko sudah memberikan obat dan makan tadi, sekarang ia bersiap untuk pergi ke kampus.


Melihat Joko bersiap, aku memandangnya. Ia menyemprotkan parfum, kemudian beberapa kali menyisir rambut dan bersenandung ria di cermin kamarku.


Aku rindu kuliah. Sudah setahun ini hanya rebahan setiap pagi. Tidak ada kegiatan. Ah, gara-gara aku nunggak membayar SPP, akhirnya menjadi seperti ini.


Bulan depan aku akan mengajukan masuk kuliah kembali. Ingin cepat lulus dan dapet kerja. Biar bisa segera pulang ke Malang dan kumpul bersama keluarga lagi.


Ingin membahagiakan ibu dan bapak. Rasanya sangat sedih, ketika tahu mereka semakin menua, sementara aku belum jadi apa-apa.


"Pake motor gue aja," ucapku lemah.


"Oke, siap, gas, Bro!" Joko bersemangat mengambil kunci motor dari laci.


Aku menutup mata selepas Joko berlalu. Dia berbincang-bincang entah dengan siapa, yang jelas, seperti ada nama Rinjani disebut-sebut. Sontak aku terjaga, Rinjani?


Pikiranku masih dipenuhi pertanyaan saat seorang perempuan paruh baya datang bersama putrinya yang manis. Beliau adalah tante Ismi, tersenyum menyapaku.


"Mas Genta sakit, Mah. Tapi kemarin masih sempet bantuin Jani masak buat mama," gumam Rinjani seolah sengaja menyebutkan bantuanku, entah apa tujuannya.


"Terima kasih, ya, mas Genta," kata tante Ismi penuh wibawa.


Aku memaksakan bangun dan melihat mereka, kubalas senyuman merekah ibu paruh baya yang pernah begitu baik memberikanku uang lebih saat selesai mengajar Rinjani.


"Tante mau pulang?" Pertanyaanku akhirnya lolos begitu saja.


"Iya. Tante nitip Rinjani, ya. Awasi kalau dia bolos kuliah, bantu-bantu dia, ya, Mas. Rinjani masih manja, badan doang yang gede. Masih suka teledor." Tante Ismi mendapat pandangan tidak suka dari Rinjani. Seolah-olah mamanya itu baru memberikan informasi tidak baik tentang dia padaku.


Anak itu mendelik dan menyerahkan teh hangat di nakas.


"Diminum, Mas."


"Tante pergi dulu, ya."


Selanjutnya mereka berdua pergi keluar. Aku tidak kembali berbaring, tapi menyesap secangkir teh hangat buatan Rinjani.


"Mas ... aku ngampus dulu, ya."


Aku mengangguk.


Rinjani mengelus rambutku.


Saat gadis itu hendak melenggang, Joko datang. Ia menunjuk laptopnya yang tertinggal.


"Kamu ke kampus sama Joko, ya."


Rinjani mengerutkan kening. Ia duduk seraya mengelus lenganku.


"Nggak apa-apa. Siang, ayo berangkat," ucapku dibarengi senyum yang dipaksakan.


Kutengok lewat jendela, Joko sedang memasangkan helm pada Rinjani, lantas mengetuk kacanya.


"Kuy!" seru Joko semangat. "Pegangan, Jan. Jalanan berlubang."

__ADS_1


"Iya ayo, udah siang, telat aku nih, Bang."


"Siap lewat jalan gang-gang lagi?"


"Ih, bang Joko ...." Rinjani memelas.


Motor melaju pergi. Aku tersenyum kecut melihat mereka berdua.


"Katanya lu sakit, Mas?" Dino menyapa dengan nyelonong masuk kamarku.


Kujawab lewat anggukan.


"Gak kerja, Din?" Kulihat Dino menggeleng mendengar pertanyaanku.


"Bagian shift malem," jawabnya cepat.


Dino duduk dan menatapku dengan alis terangkat. Kubalas dengan tatapan sama.


"Apaan, sih, Din?"


"Lu pacaran sama Rinjani?" tanya Dino sembari menggeser tirai untuk melihat ke halaman.


Aku tidak menjawab. Bingung. Memangnya apa artinya hubungan kami ini?


"Bukan, ya?" Dino menebak seraya menyeringai.


"Bingung gue, Din!" Aku menyeru akhirnya.


Kusingkirkan selimut yang menggulung. Dino menepuk pundak akrab, ini waktunya aku menceritakan unek-unek yang selama ini menghantui.


"TAPI BUKAN!" tegas Dino akhirnya membuatku terkekeh.


 



 


Saat baru saja turun dari panggung, dan sedang ngopi-ngopi cantik, aku melihat Rinjani memperbarui story WhatsApp-nya.


'Yummi ....' Begitu caption yang ia tulis disertai foto seblak dengan kuah yang merah.


Aku kira dia kode, langsung kubeli sebelum pulang.


'Buka pintu dong.' Kukirim chat saat sudah berada di depan kamarnya.


Rinjani membuka pintu sembari melirik kiri-kanan. Dia tampak sedikit kaget saat kusodorkan satu cup seblak lengkap dengan minumannya.


"Makasih, Mas." Aku hanya menanggapi dengan senyuman.


"Cewek kalau lagi ngambek mending dikasih seblak apa dirayu?" Kutanya dia yang sedang menikmati seblak pedas itu.


Setelah menyesap minum, Rinjani menjawab, "Kalau dirayu gak bakalan bikin perut kenyang."


"Seblak bikin sakit perut, Neng."

__ADS_1


Rinjani terkekeh. Sejurus dengan itu terdengar suara teriakan mbak Gita pada suaminya. Gadis itu menatapku, kujawab dengan angkatan bahu.


"Kenapa mereka, Mas?" Rinjani memicingkan mata.


Sementara aku menghisap rokok santai. Sudah biasa kudengar suara orang berbaku hantam malam-malam. Dan Rinjaniku tampak cemas, ini pertama kalinya ia dengar pertengkaran pasangan suami istri itu.


"Mereka biasa seperti itu," gumamku sembari menjentikkan rokok.


Gadis di depanku tersenyum.


"Kok bisa, ya?"


"Kok bisa banyak anaknya maksudmu?" Mendengar pertanyaanku, Rinjani langsung tertawa.


"Iya, kok bisa, sih?" tanya Rinjani serius. Dia menatapku agak lama, membuatku membalas tatapan sayu itu.


"Kata mpok Nur, kalau habis berantem, rasanya beda."


"Beda?"


Entah tidak mengerti beneran, atau memang bertingkah sok polos. Tetapi Rinjani kali ini mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat tak ada jawaban yang keluar dari mulutku.


"Beda apanya, Mas?" Dia bertanya kali kedua.


Jawabanku hanya berupa garukan di kepala. Setelah itu tersenyum dan undur diri dari hadapannya.


"Mas, Jani nunggu jawaban," ucap Rinjani memelas.


Dia menarik tanganku untuk bisa duduk kembali di sampingnya. Aku menurut. Kusampirkan rambut yang jatuh di pipinya ke telinga, kutatap lebih jelas lagi Rinjani.


"Lebih enak atau nggak?"


"Ngapain, sih, nanya-nanya itu ya Allah ...."


Tawaku terhambur begitu saja melihat Rinjani cemberut.


"Mas pernah nyobain belum?"


"Belum."


"Mau nyobain sama Jani gak?"


Aku beringsut dan langsung mengangguk. Rinjani memukul lenganku, selanjutnya menjulurkan lidah.


"Dasar cowok!"


"Aku, kan, ditawarin."


Rinjani sudah masuk dan mengunci pintu.


"Jadi mau ngasih gak, nih?"


Tak ada jawaban dari Rinjani. Akhirnya aku berlalu, setelah itu kudengar suara bang Dika bertanya.


"Ngasih apa malem-malem?"

__ADS_1


Kujawab sambil melenggang, "Wedang jahe."


__ADS_2