
Sebuah pesan masuk. Dari nomor baru. Berisi hurup P doang. Aku bingung membalas. Akhirnya kudiamkan. Kembali aku melanjutkan aktivitas memasak mie di mejicom. Nasib anak kost.
'Ini Jani.' Kali kedua nomor baru itu mengirimi chat.
Aku harus membalas apa? Dengan sedikit disertai jual mahal, aku mengabaikan pesan dia. Padahal ingin sekali kubalas dalam hitungan detik, tapi aku masih mempertahankan sifat gengsiku.
Entah kesal atau gabut (baca: kesepian) Rinjani mengirimi pesan lagi.
Kali ini sukses membuatku memasukkan mie instan yang masih panas ke mulut.
'Punya nomor mas dari bang Joko.'
Terus? Apa harus pemberitahuan ke gue? Kan, nggak?! Aku merutuk dalam hati.
Lidahku terasa panas. Hingga aku meneguk air berkali-kali.
'Oh.'
Aku keduluan Joko punya nomor Jani. Mereka terlihat akrab (kayaknya) sudah saling bertukar nomor ponsel. Bahkan tadi pagi jalan.
Hmmmm ... aku bercermin. Melihat wajahku.
Ah, aku nggak jelek-jelek amat.
Kucari foto Joko di galeri. Aku mengalihkan pandangan, sedetik ke foto Joko, lima menit ke wajahku.
Masih gantengan aku kok!
Kusandarkan punggung ke ranjang. Masih terngiang kata-kata Joko waktu itu.
"Lo ganteng, sih, Ta. Cuma gak humoris."
Coba jelasin definisi humoris itu seperti apa? Cetakanku memang sudah begini. Digimanapun ya begini. Tidak berubah.
Aku harus gimana menghadapi cewek?
Kayak Joko gitu? Yang gombal-gombal gak jelas? Ah, aku rasa tidak perlu. Semua orang punya cara masing-masing untuk menunjukan perasaannya.
Aku harus kreatif. Tidak mengikuti Joko dalam urusan cewek. Aku punya caraku sendiri. Meski mungkin, cewek akan kabur duluan karena aku tidak bisa bersikap romantis.
'Main yuk, Mas, kemana aja.'
Aku menatap pesan dalam layar hape berkali-kali. Mengabaikan mie yang sudah kehilangan kuahnya.
Aku bingung harus membalas apa. Sampai Jani mengirimi pesan kembali.
'Pengin makan, nih.'
'Sekarang?'
'Iya. Mas gak kemana-mana, kan?'
'Nggak kok.'
'Aku kesana sekarang, ya.'
Hah? Gimana?
Aku masih menggunakan kolor dan jersey bola saat terdengar pintu diketuk. Kutengok terlebih dulu dari jendela kamar.
Aduh, Jani datang. Sudah cakep (emang darisananya). Memakai jaket rajut dan membiarkan rambutnya terkuncir asal.
Sementara aku?
Aku melirik baju yang kupakai? Ah, benar-benar kumal dan lusuh.
Pintu diketuk lagi. Kali ini dia memanggil-manggil namaku.
"Mas ... Mas Genta." Rinjani celingukan di depan pintu.
"Mas ... ada yang nyariin, tuh." Kudengar mpok Nur menyahut. "Genta, ada pacarnya, nih."
Sebelum mpok Nur yang nyelonong masuk begitu saja, aku membuka pintu dan tersenyum lebar pada gadis di depanku.
"Jadi jalan, kan, Mas?" tanyanya lembut.
"Iya ... iya, sebentar."
Rinjani mengangguk dan duduk di kursi rotan itu.
"Mau masuk dulu?" Kepalaku nongol di balik pintu.
"Nggak apa-apa?"
"Apa-apa, sih."
"Ih, mas Genta," balas Rinjani manja. "Tapi aku mau masuk!"
Gawat. Ngapain? Aku nyesel sudah nawarin dia begitu.
Rinjani masuk begitu saja saat aku tidak menjawab. Dia melihat isi kontrakanku yang sepetak. Tidak ada apa-apa, hanya galon, mejicom, rak buku, keranjang pakaian kotor dan gitar akustik, sumber keuanganku.
Dia tampak tertarik melihat foto-foto yang terpajang di dinding. Kemudian tangannya menyelusuri rak buku.
Aduh. Ngapain, sih?
Dia berbalik menatapku yang sudah berganti baju, agak rapi (menurutku).
__ADS_1
"Kita di sini aja, ya, Mas."
"Gak jadi pergi?" Pertanyaanku langsung mendapat anggukan dari Rinjani. "Kenapa?"
"Kita makan mie rebus aja di sini. Aku pengin baca buku-buku ini," ucapnya seraya menunjuk buku di tangan.
"Gak enak sama tetangga. Dua-duaan di kamar malem-malem,"
Rinjani duduk, lalu membuka halaman buku.
"Enakin aja!"
Idih. Bisa sesantai itu. Kalau digrebek, gue yang kena semprot, Neng. Lu mah kagak. Bloon.
"Jadi masak mie gak?"
"Mau mie apa?"
Dasar cewek. Mau enaknya saja. Akhirnya aku yang bekerja sendirian di dapur.
Kudengar langkah Rinjani mendekat. Dia berdiri di belakangku, sedikit berjinjit untuk mengetahui apa yang sedang kulakukan.
"Kata bang Joko, mas penyanyi di kafe, ya?"
"Bohong dia." Aku menjawab seraya memasukkan mie ke air yang mendidih.
"Aku mau dengar mas nyanyi dong," celotehnya tepat di sisi telinga.
Woy, bisa jauh-jauh gak? Parfum kamu nyengat banget. Ganggu penciumanku.
Tapi ... lumayan seger. Wangi.
"Gak bisa. Kan udah dibilangin."
"Ih, judes."
Rinjani duduk di kursi plastik tempatku makan. Entah inisiatif darimana dia memasukki kamar mandi.
"Ngapain?" Aku sedikit tersentak.
Bahaya. Bahaya. Celana dalamku ada di sana.
"Pipis."
Aku memijit pelipis. Nih, anak nyebelin juga. Sumpah nyebelin banget.
Selanang-selonong masuk tanpa memedulikan sang empu rumah yang bersikap judes.
Kami akhirnya menikmati mie instan dalam diam. Stok mie instan di akhir bulanku berkurang satu, gara-gara makhluk ini.
Kenapa, sih, dia ada di sini?
Kenapa pula aku peduli padanya? Harusnya kan diemin aja.
Ah, payah!
"Besok anterin aku ke kampus, ya, Mas?" Rinjani nyengir kuda.
Sementara aku mematung. Ingin mencercanya: 'KENAPA SIH LU NGEREPOTIN?' Tapi yang kulakukan hanya mengangguk.
"Insya Allah kalau gak lupa,"
Rinjani mendelik manja.
"Iiiiih, jangan lupa."
"Manusia, kan, tempatnya hilap."
Skakmat. Rinjani mengangguk dan mengaduk-aduk mie instan. ******!
\*\*\*\*
Aku mengucek mata saat terdengar teriakan mpok Nur. Ada apa, sih? Aku tidak berniat menyahut teriakannya, hanya duduk di sisi ranjang dan masih terkantuk-kantuk.
Mataku langsung terjaga saat mendengar pintu dibanting.
"Mas ... anterin aku, ya ...." Suara mendayu-dayu itu memenuhi telingaku.
Rinjaniiiiiiiiiii, ngapain kamu di sini?
Aku salah tingkah. Lama-lama aku bisa terserang penyakit jantung nih.
"Kok bisa di sini?" Aku mendesis.
Rinjani nyengir kuda.
"Kan ada pintunya!" Rinjani membalas dengan matanya yang berbalik memelototiku.
"Anterin aku, Mas." Tatapan Rinjani memelas. Aku tak menjawab, hanya memakai sendal jepit, lantas berjalan ke kamar mandi.
Rinjani menarik belakang kausku, sehingga aku kesusahan bergerak.
"Iya, nggak?"
Aku berdecak dan mengangguk.
"Makasih, Mas." Rinjani histeris, ia memelukku dari belakang. "Ih, bau."
"Saya gak minta dipeluk kok."
__ADS_1
"Iya, maaf," gumamnya disertai seringai.
Aku kembali setelah mandi dan berganti pakaian. Dia tidak melirik, sibuk menatap ... entah apa itu di tangannya. Saat mendengar dehemanku, gadis bermata bening itu mengalihkan pandangan.
Sesaat setelah sampai di kampus Rinjani, aku celingukan. Rinjani tersenyum dan berterima kasih. Kubalas senyumannya dengan terpaksa.
Lalu sebelum aku benar-benar pergi, kudengar celotehan beberapa kawan Rinjani yang menatapku dengan mata menyipit.
"Kok mau, sih, Jan, dianterin mas-mas itu," komentarnya.
Aku termangu. Siap mendengar ocehan cewek-cewek itu.
Rinjani balik bertanya, "Emang kenapa?"
"Motornya, kan, matic!"
"Yang penting, kan, gak macet."
Aku merasa dibela oleh gadis menyebalkan itu, senyum kemenangan terpancar dari wajahku.
'Makasih, Jan!" Aku berkata dalam hati. Bersenandung ria dan pergi dari kampusnya.
\*\*\*\*
Selain bekerja sebagai penyanyi kafe, aku juga dipercayakan untuk ngajar les privat.
Selepas ngajar sore hari, aku buru-buru mengunci pintu. Sudah kulihat mbak Gita sedang tergesa jalan mendekati kost-ku.
"Awas aja kalau mau nitipin si Adrian!" Baru saja aku mendesis, sudah terdengar teriakan cemprengnya.
"Mas ... mas Genta. Titip Adrian, ya."
Aku meremas kertas bekas gorengan di tangan. Lantas menghampiri ke depan.
Mbak Gita memakai kerudung dengan buru-buru. Dia menunjuk anaknya yang sedang main sepeda sama anak lain.
"Kenapa nggak dibawa aja, sih, Mbak?"
Mbak Gita menjawab sambil ngeloyor .
"Ribet, Mas. Si Rian kalau mau jajan terus gak dibeliin, suka nangis guling-guling."
"Emang mau beli apa, sih, Mbak?" Mbak Eva yang baru pulang pengajian menyapa.
"Itu, coklat yang ada mainannya. Coklatnya seuprit,"
"Coklat apa, ya?"
"Yang suka ditaruh didekat meja kasir. Haduuuuh, udah ah, keburu anak gue lihat, nih." Secepat kilat mbak Gita kabur dari hadapan kami berdua.
Mbak Eva berkelakar saat aku memperhatikan Adrian yang sedang lari-larian.
"Gak enak, ya, dititipin mulu?"
Aku hanya menjawab lewat geraman.
"Makanya punya anak biar bisa nitipin juga."
Saat aku mau menjawab celotehannya, mpok Nur keburu nyamber dari samping. Dia habis ngangkat jemuran, tiba-tiba ikut nimbrung.
Aku mengangkat alis memperhatikan mereka berdua.
"Jangan jauh-jauh anak. Istri dulu aja. Eh, pacar aja, pacar gimana. Ada?" Dengan disertai tawa mengejek, mpok Nur mempercepat langkahnya. Sepertinya dia tahu kalau aku akan menanggapi dengan mata melebar.
Aku menghampiri Adrian yang terjatuh karena didorong Tasya. Bocah berusia tiga tahun itu masih tersenyum meski lututnya sedikit berdarah tergesek aspal.
Segera kupangku dia. Aku mengomelinya, dan saat aku mendudukkan Adrian di kursi, anak itu menunjuk jalan.
Kutengok dengan malas.
"Apa, sih, lu?" Pertanyaanku terjawab setelah melihat Rinjani dibonceng Joko. Mereka tampak lengket, bahkan sesekali terkekeh.
Aku mengobati luka di lutut Adrian tanpa berbicara sepatah katapun. Lalu terdengar suara lagu soundtrack ftv ikan terbang dari rumah mpok Nur.
'Kumenangis ... membayangkan.'
Liriknya cocok dengan apa yang kurasakan saat ini.
Adrian melompat begitu melihat ayahnya pulang. Karena terlalu antusias, dia terjatuh lagi.
"Rian ... kenapa?" Bang Rapli berbasa-basi. Dia juga melihat luka di lutut anaknya yang sudah diobati. "Makasih, Mas." Aku mengangguk.
Ada nada mencemooh saat bang Rapli berkata kembali, aku menoleh setelah berniat masuk ke rumah dan mengurung diri.
"Ingin rasanya kembali ke masa kecil. Yang dimana kalau jatuh, hanya lutut yang sakit. Bukan hati. Apalagi perasaan."
"Apaan, Bang?"
Bang Rapli menjawab seraya berlalu.
"The real sadboy!"
Dagunya seolah menunjuk ke arah teras Rinjani. Gadis itu sedang bercengkrama, keduanya bahkan sama-sama tertawa, tampak akrab sekali.
Melihat itu, gak tahu kenapa, aku kesal.
Kesal sekali. Aku mau yang ada di posisi Joko itu aku.
Tapi ini bukan cemburu, ya!
__ADS_1