
Aku kembali kuliah, seorang mahasiswa tingkat akhir, tentu langsung disibukkan dengan berbagai macam tugas.
Sepulang ngampus aku pergi mengajar les privat. Malamnya manggung di kafe-kafe yang membutuhkan jasaku. Lumayan sibuk, bahkan ponsel hanya sesekali tersentuh.
Aku harus mengejar gelar sarjanaku tahun ini. Ingin segera kerja dan membantu keluarga. Aku juga rindu tanah kelahiranku, Malang. Rasanya kota itu sudah ada di depan mata. Tahun ini aku akan pulang ke sana, mencurahkan rindu dengan bercengkrama.
Maghrib sepulang ngajar, aku berbenah membawa gitar akustik dan menyalakan motor. Biarlah makan dan sholat di jalan, asal aku sudah ada di tempat kerjaku tepat waktu.
"Mas ... mau kemana?"
Aku menoleh saat sedang memakai helm. Kulihat Rinjani menyapa.
"Ini kan malam minggu?" Dia bertanya kedua kalinya.
Kujawab dengan anggukan.
"Jalan yuk. Makan lesehan lagi." Rinjani tersenyum.
Aku tak bereaksi. Hanya menggaruk pipi dan melemparkan pandangan.
"Mas nggak bisa. Kan harus kerja," jawabku akhirnya.
Dia cemberut, tapi justru semakin manis.
"Sekali aja, Mas. Senin sampai minggu rasanya sibuk mulu!"
Bagaimana caranya agar kamu mengerti?
Aku menghela napas, turun dari motor dan mengelus lengannya.
"Mas harus kerja, maaf, ya."
Kudengar ia mendesis jengkel. Raut wajahnya terlihat kesal padaku.
Maafkan aku, Rinjani.
"Sudah nggak ada waktu buat aku sekarang?"
"Aku pikir kamu ngerti posisiku sekarang lho, Jan."
"Posisi apa?" tanyanya dengan alis terangkat satu. "Posisi kamu sibuk dengan les privat dan jadi vokalismu itu?" Dia seolah menyindir.
Aku terkekeh sinis, lantas duduk di kursi plastik depan kamarku.
"Kamu gak bakalan ngerti, ini permasalahan orang susah."
Mendengar jawabanku, Rinjani sepertinya kaget. Ia tiba-tiba duduk di sampingku.
"Apa sih yang mas kejar selama ini? Gelar hukum? Kerja jadi pengacara?"
Sedikit tersinggung, aku mengembuskan napas gusar. Aku tidak bisa berkata kasar, meski lidahku memaksa.
"Katanya kuliah buat belajar, bukan mengejar itu semua," sindirnya sembari memainkan rambut.
Aku bungkam. Kubiarkan ia mengoceh sesukanya.
"Giliran mas kangen, butuh tempat cerita, aku selalu ada. Sekarang pas bagian aku? Gantian dong!"
"Oh, jadi kamu kangen?" tanyaku seraya memokuskan pandangan padanya.
Rinjani gelagapan.
"Kalau kangen bilang, jangan panjang lebar ngomong kemana-mana," tandasku.
"Aku cuma mau jalan sama kamu. Aku cuma butuh perhatianmu, kamu tidak peka, Mas."
Memandang dengan tak percaya, aku tertawa setengah dipaksakan.
"Aku pikir kamu ngerti kalau perempuan inginnya apa!"
"Lalu kamu inginnya apa?" Kurendahkan suaraku, kutatap dia balik.
"Pikir sendiri!"
PIKIR SENDIRI?
Hei, perempuan. Kami (para cowok) bukan dukun yang bisa menebak ingin kalian apa.
Cewek kenapa ngeselin, sih, ya Allah?
"Udah, ya, marahnya."
"Aku lagi marah-marah malah disuruh udah!"
"Kita menyerupai mbak Gita dan bang Rapli nih sebentar lagi," gumamku. "Lanjut, mau marah kayak gimana lagi?"
"Kamu nyepelein aku?"
"Nyepelein apa? Ya Allah."
Kali ini aku sukses menepuk jidat. Merasa pusing dengan apa yang Rinjani katakan.
Dia jenis perempuan membingungkan! Ataukah semua perempuan seperti itu kalau sedang marah?
"Gak usah ya Allah, ya Allah."
__ADS_1
Aku mengerlingkan mata. Kini tak kupedulikan ucapannya, aku menyalakan motor dan segera pergi dari hadapannya.
"Kamu terkena pasal karena sudah meninggalkan orang dalam keadaan marah!" Rinjani berseru.
Membuatku kembali terdiam.
"Sumpah baru kali ini aku sebel sama kamu."
"Kalau sebel muntah!" gertaknya.
Wajah cantiknya mendadak seperti singa di hadapanku. Aku sedang kelelelahan mengajar murid les privatku yang bandel, sekarang harus berhadapan dengan perempuan seperti ini lagi.
Sungguh membuatku ingin terbang dan tak kembali lagi ke sini.
"Aku pergi, ya. Kalau sudah marahnya kabarin. Nanti aku beliin seblak sama minuman kesukaan kamu."
Kujalankan motor menjauh. Pikiranku semrawut. Kayaknya aku jauh-jauh harus terikat dengan Rinjani. Sekarang baru aku rasakan, dia kalau marah ternyata seperti ini.
Tidak kebayang kalau sampai menikah. Aku mungkin tidak akan bisa tenang. Selalu ada ocehan dan celotehannya yang membuat tanduk-tanduk di kepalaku bermunculan.
Sampai di tempat kerja, beberapa kawan menyapa. Melihatku tak bergairah, mereka menyodorkan kopi dan sebungkus kue.
"Kenapa, Mas?" Adi bertanya.
"Cewek lu lagi?" Akmal sang barista menimpal dari samping.
Mengangguk, kuteguk kopi dan menutup mata. Capek, demi Tuhan.
"Cewek emang gitu, susah dimengerti."
"Mereka seolah menganggap bahwa dunia ini miliknya. Kami para lelaki dipaksa menuruti apa inginnya, dipaksa nengerti apa yang dia inginkan."
Akhirnya kucurhatkan semua uneg-uneg yang sedari tadi menggumpal dalam otak. Rasanya sedikit lega, kembali kuteguk kopi itu.
"Kayaknya gue memilih nggak terikat sama Rinjani."
"Terus rencana lu ke depannya apa, Mas?"
"Intinya gue harus kejar dulu mimpi-mimpi gue. Lulus kuliah terus kerja."
"Jangan mikirin cewek lah. Capek berurusan dengan mereka tuh. Kita ngomong dengan intonasi tinggi aja mereka ngerasa dibentak. Tapi sebaliknya, cewek akan membentak tanpa memikirkan perasaan kita." Adi menepuk pundakku.
Apa yang dia katakan benar. Aku selalu merasa tidak enak dengan Rinjani. Tapi ia malah seenaknya mengata-ngataiku.
Kutandaskan kopi.
Kafe sudah ramai. Banyak pasangan kaum muda yang ngopi-ngopi cantik dan berceloteh ria. Aku bersiap naik ke panggung setelah melepas jaket denim yang tadi kukenakan.
Rambut gondrongku diikat acak-acakan. Saat aku menaiki panggung, terdengar tepuk tangan dari para pengunjung.
"Selamat malam semuanya," sapaku hangat.
"Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman kembali. Malam minggu ditemani rintik hujan, lagu yang cocok apa, ya?"
Tiba-tiba seorang cowok yang baru duduk di kursi berteriak.
"Armada - awas jatuh cinta."
"Mas-nya lagi galau, ya?"
"Lagi ngarep! Hahaha."
Kemudian kuturuti dengan menyanyikan lagu itu. Kulihat beberapa pengunjung terlarut dalam lagu yang kubawakan.
Setelahnya mereka memberikan tepuk tangan.
Aku pamit ke belakang, kulihat ada pesan dari Rinjani.
'Maaf kalau memaksa mas harus selalu ada. Aku cuma rindu kita yang dulu."
\*\*\*\*
"Cewek kalau cari gara-gara terus berarti dia kangen." Masih terngiang perkataan Akmal saat aku bercerita panjang lebar tentang pertengkaranku dengan Rinjani seblum berangkat kerja.
Aku setuju dengan perkataannya.
Kemudian Adi juga berkata, "Rinjani cari perhatian sama lu."
'Maafkan aku, Jani.'
Kujalankan laju roda dengan pelan, rintik gerimis membuatku sedikit menggigil. Rambutku basah, aku tidak jadi mampir membeli seblak, tapi aku akan meminta maaf dan mengajaknya jalan besok.
Semoga Rinjani tidak kemana-mana.
\*\*\*\*
Kelasku dimulai jam sepuluh, aku bisa bersantai rebahan sebelum masuk kampus.
"Nanti malam mas free, jalan, yuk."
Aku menyapa Rinjani yang sudah rapi dengan dres selutut berwarna coklat susu. Ia tampak berpikir, "Kayaknya nggak bisa deh, Mas."
Rasa optimisku pupus.
"Kenapa?"
Dia menjawab, "Ada tugas kampus. Aku harus nginap di rumah kawanku."
__ADS_1
"Oh, ya sudah nggak apa-apa. Semangat, Bu dokter." Aku mengacungkan tangan.
Ia membalas dengan senyuman paksa.
Rinjani, kamu kenapa, sih?
Kulihat di ujung gang ia pergi sama Joko. Aku tidak berpikiran kemana-mana, mungkin jam kuliah mereka bersamaan.
"Pergi dulu," teriak Joko padaku.
"Ti ati."
\*\*\*\*
Cukup telat saat aku sampai di kafe, Indra si barista berkacamata itu memelotot. Sementara para penikmat kopi tampak sedikit mengernyit ketika aku tiba dan langsung menaiki panggung.
"Gua kira lu gak bakalan dateng, Mas."
"Tadinya gitu. Sorry gua telat," balasku meminta maaf pada sang manager.
"Ya sudah lu naik," titahnya yang segera ku iyakan.
Perlahan aku mengedarkan pandangan pada sekeliling kafe. Cukup ramai, meja-meja bundar itu penuh di kelilingi muda-mudi.
Lantas saat aku menyelesaikan lagu pertama, aku melihat perempuan yang tidak asing di mataku memasuki kafe bersama seorang lelaki berpakaian rapi.
Rinjani. Entah bersama siapa. Yang jelas, dadaku terasa sesak, dan kerongkonganku kering melihat mereka.
"Mas ... nyanyiin lagu untuk orang yang baru ditinggal pacar dong."
Suara dari pengunjung tetap kafe ini, aku kenal dia. Namanya Farhan, biasa datang ke sini sambil berhadapan dengan laptop. Katanya dia seorang penulis.
"Apa, ya?"
Aku berpikir sembari mengetukkan tangan.
Ada raut kaget di wajah manis Rinjani, ia tampak pucat. Meski orang di depannya duduk percaya diri menghadapku.
"Lyla, Mas. Detik terakhir."
Aku memaksakan tersenyum.
Jika kalian ada di posisiku mungkin akan merasakan hal yang sama. Sedikit sakit, namun buru-buru sadar.
Hati sudah kuperingati beberapa kali, Rinjani bukan milikku, dia bebas menjalani hubungan dengan siapapun.
Siapalah aku ini?
Aku tidak apa-apa dia jalan sama cowok lain. Tetap mengoptimiskan hati, kalau orang yang duduk bersama Rinjani adalah kawannya.
Saat gitar mengalun, suaraku keluar bebas begitu saja. Kulihat beberapa dari pengunjung mulai terlarut dalam lagu yang kubawakan.
Setelah turun dari backstage, aku mengacak rambut. Perlahan dihisap rokok. Perasaan apa ini.
Apakah aku cemburu?
Iwan, seorang waiters menghampiriku. Menyodorkan kopi pahit yang biasa kupesan.
"Kenapa, Mas?" Iwan bertanya dengan membuka kacamatanya.
"Cewekku jalan sama cowok lain," tuturku akhirnya.
Iwan berdehem. Sepertinya dia menunggu aku melanjutkan cerita.
Baiklah.
"Tadi di depanku. Dia duduk sama cowok berpakaian rapi itu,"
"Yang mana ah?" Iwan celingukan melihat ke belakang.
"Meja nomor tujuh!"
Dia mengangguk.
"Itu mah anak sekampusku, si Gabriel."
"Beneran?" Aku memandang Iwan. Dia mengangguk lagi. "Dia anak kedokteran juga, ya?"
"Iya. Kok mas tahu?"
"Kelihatan dari pakaiannya, rapi, cakep. Pantes Rinjani mau."
"Sekarang kan emang yang cakep selalu dijadiin prioritas."
Aku setuju dengan omongan Iwan.
Kembali ia berkata, "Kalau lu good looking, lu otomatis akan dihargain."
"Bangke!" Aku mengumpat dibalik senyuman kecut.
"Dah, aku mau kerja lagi."
Sesaat Iwan pergi, menyisakan hening, aku sibuk dengan pikiranku. Kemudian Aldi memanggil untuk naik lagi ke backstage.
"Halo, Mas." Silfia, juniorku di kampus menyapa dengan lesung pipitnya. "Ditunggu lagu Kunto Aji-nya lho."
Aku mengacungkan jempol.
__ADS_1
Rinjani pergi. Sempat kulihat ia menengok, tatapannya serba salah. Gabriel mengalungkan tangannya ke pundak Rinjani, mereka tampak intim memasuki mobil keren itu.