Mas, Aku Padamu

Mas, Aku Padamu
Part 4


__ADS_3

Kata orang, hujan turun membawa kenangan. Benar, aku percaya dan merasakan itu. Saat rintiknya jatuh, hujan membawaku pada suatu masa ... di mana yang ada dalam pikiranku hanya bersenang-senang. Masa kecil.


Tiba-tiba saja aku rindu pada masa itu. Rindu berjalan-jalan di hari minggu sama bapak. Rindu masakan ibu. Rindu berkumpul dengan mereka saat hujan turun dengan lebatnya.


Kuhela napas berat. Semoga mereka sehat dan panjang umur sampai aku bisa membahagiakannya.


Angin menyapa, menyelusup dengan dinginnya. Kunikmati setiap rintik yang berjatuhan dengan menutup mata. Merasakan kenangan itu begitu dekat.


Suasana bengkel Karjo sepi, sunyi. Aku melipat tangan dan menatap beberapa kendaraan yang berlalu. Sesekali aku menguap ngantuk. Ingin berniat segera tidur di kamar, tapi hujan seperti tidak memberikan izin untuk itu.


Alhasil ngopi sambil berceloteh dengan Karjo dan satu kawannya lagi.


Aku menghisap rokok dalam. Pandangan mengabur ke depan.


Pada angkot berwarna coklat tua yang berhenti persis di depan bengkel Karjo. Rinjani keluar dari angkot membawa belanjaan di tangan kiri dan kanananya.


Ia segera menjatuhkan kantung belanjaannya di depanku.


Saat aku bertanya, Rinjani menjawab sembari terduduk di samping. Bisa kucium aroma parfum yang menguar dari tubuhnya. Menyegarkan.


Ia mengusap tangannya.


"Dingin!" lirih Rinjani. "Mama mau ke sini. Pengin ketemu aku katanya."


Aku menjentikkan rokok, setelah itu mengangguk.


"Bantuin aku masak, ya, Mas."


Lagi kujawab dengan anggukan kepala.


Gadis itu sedikit pucat, lipstik yang biasa merona di bibirnya hilang. Tersisa wajah lugu yang cukup menarik untuk ditatap. Iseng kulirik matanya, ia salah tingkah dengan mengalihkan pandangan.


"Cewek emang gitu, ya, kalau lagi baper?" tanyaku dengan alis terangkat sebelah.


"Aku gak baper," tegasnya.


"Iya ... nggak." Kembali kuhisap rokok, reaksi Rinjani malu-malu. Beberapa detik yang lalu menatapku, tapi buru-buru dialihkan lagi pada Karjo yang sedang menghitung uang.


Tanganku berinisiatif merangkulnya. Memberikan kehangatan lewat rengkuhan mesra.


Pipi Rinjani memerah, dia tampak serba salah. Ditepisnya tanganku perlahan.


"Ih ... mas, diem." Rinjani mengerucutkan bibirnya.


Bukan sebal, aku malah berbalik senang membuatnya bersikap seperti itu. Manis manja kalau kata orang.


Aku mendesah berat sembari melepaskan tangan.


"Katanya dingin, tapi dipeluk gak mau," tandasku sekali lagi.


Rinjani menggigit bibir bawahnya. Dia terlihat semakin gugup. Kembali kurangkul pundaknya, kali ini terdiam, meski pipinya sudah seperti kepiting rebus.


Aku merapatkan tubuh pada Rinjani, lantas membisik tepat pada telinganya.


"Mau masak apa?"


"Masak mie rebus."


Plak ... tangan Rinjani mendarat di pipiku. Tidak terlalu keras, tapi sampai membuatku meringis dan memundurkan tubuh.


Kutatap dia dengan tajam. Rinjani membalas dengan memeletkan lidah, dia mengejekku. Seolah-olah berkata: RASAIN, SURUH SIAPA MEPET-MEPET!


"Cuma rangkul doang, Jan. Masa gak boleh," rengekku.


Rinjani menghela napas berat.


Tidak ada perlawanan dari dirinya saat aku menyentuh tangannya. Menggenggam erat, menautkan dengan tanganku.


"Sudah hangat sekarang?" Pertanyaanku dijawab senyuman polosnya. "Lepas jangan?"


Rinjani menarik kembali tanganku yang hampir terlepas.


"Jangan. Biarin aja gini," urai gadis bermata sayu itu.


Aku mengulum senyum. Iseng kuambil telunjuknya, lantas kumasukkan pada lobang hidungku.


Rinjani menjerit histeris. Dia memukul punggungku, dan sekarang mencecarku.


"Mas jahat ih!" Ia bersungut.


Aku tertawa terbahak-bahak. Sedangkan ia masih terlihat ngambek, wajah manisnya ditekuk, Rinjani menjauh dariku.


Ia lebih memilih kedinginan dan terciprati air hujan daripada bergenggaman tangan denganku.


"Jo, minjem payung."


Tanpa menunggu jawaban Karjo, aku mendekati Rinjani. Kusentuhkan pundakku dengan pundaknya.


"Apaan, sih!"


"Mas jorok ih! Hush jauh-jauh. Jaga jarak aman. Social distancing, Maaaas!"

__ADS_1


Aku cukup menyeringai melihat tingkah Rinjani. Inginku dekap sekali-kali sampai ia kesusahan bernapas.


"Mas pulang, ya."


Dia cemberut. Aku terdiam.


"Ya udah nggak."


"Kalau mau pulang duluan, pulang aja sana!" Aku mendengar Rinjani menggerutu.


Aku melangkah pada aspal yang dipenuhi genangan air. Baru beberapa langkah menjauh, Rinjani berteriak.


"Tinggalin aja terus," umpatnya.


"Yuk, sayang, yuk. Mau kamu apa?"


Disodorkannya kresek belanjaan itu, segera kuraih sambil tersenyum.


"Kalau cewek lagi ngambek tuh, dibujuk. Bukan malah diambekin balik."


"Iya, mohon maaf, Ndoro. Hamba gak tahu."


"Peka dong kamu, Mas."


"Maafkan hamba, Ndoro."


"Jijik tau gak!"


Aku membiarkan tubuhku basah oleh air hujan, sementara payung kuberikan padanya. Pada gadis kecil manja, banyak maunya dan kadang-kadang gak jelas itu.


"Mas ...!"


Aku menggeram.


"Sini sama aku."


"Nggak apa-apa, Jan."


"Tapi nanti mas sakit," selorohnya sambil memandangku kuat.


Aku menjawab sambil berjalan.


"Biarin!"


"Mau sakit, ya?"


Aku mengangguk.


"Kenapa mau sakit?" Tak kujawab. Memilih menghiraukannya. "Mas ... ih, kenapa?"


"Ya karena mau sakit lah," balasku ngasal.


Tiba-tiba Rinjani merengut. Membuatku terkekeh.


"Biar aku nggak ngerepotin kamu, ya?" Rinjani menuduhku. "Kamu nggak suka aku repotin?"


"Apaan? Gak jelas!"


"Mas ... kalau emang gak suka aku manja-manja sama mas, ya tinggal bilang. Jangan bikin drama."


Asli! Nih anak gak jelas. Kukira dia bercanda. Makanya milih kuabaikan. Tapi sepertinya nggak.


Rinjani benar-benar mengerucutkan bibirnya, dia sedang kesal padaku kayaknya.


Malas berdebat, aku ikut masuk di bawah naungan payung yang sama. Kami berdesakan, pundak saling bersentuhan.


Rinjani tampak tak nyaman. Sedangkan aku hanya bisa diam, sesekali melirik gadis di sampingku. Menunggu perubahan ekspresinya.


"Sempit, ah."


Dia mendorongku saat kami sudah memasuki area kost.


Setelah menyelesaikan mandi dan beberapa ritual lainnya, aku menemui Rinjani. Aku melihat dia cukup sibuk di dapur. Mengupas bawang, mengulek cabe, mengoseng bumbu dan lainnya. Aku berinisiatif membantu.


Rinjani tampak girang sekali. Ia tersenyum bahagia saat kubantu.


Aku baru selesai menggoreng ayam, duduk sebentar untuk minum. Kepalaku merasa pening, perutku meronta, rasanya mual sekali. Akhirnya aku hanya terdiam menatap Rinjani yang sibuk dengan kegiatannya.


"Kalau gak niat bantuin, ngapain ke sini!" ocehnya seraya mengambil ayam dari depanku.


Kutatap dia dengan perlahan.


"Kamu, nih, kenapa sih?" Aku bertanya dengan mendekatinya. Aku berdiri di samping Rinjani, mataku menatap tajam. Mulutnya komat-kamit, sepertinya ia sedang menggerutu tanpa suara. Aneh.


"Mas yang kenapa?"


Aku mengangkat bahu. Kembali aku terduduk. Kuiris bawang putih dan seledri.


"Lagi mens, ya?" Iseng kutanya begitu. Rinjani mendesis. "Kok ngeselin?"


"Siapa?" Ia menoleh. "Aku?"

__ADS_1


"Bukan!"


"Kamu mah gak pernah ngeselin. Sumpah!"


Rinjani tersenyum sok imut. Mendekatiku. Ia menggelayutkan tangannya di lenganku.


"Maaf, ya, Mas. Suka marah-marah gak jelas."


Kuelus rambutnya yang harum shampo.


"Daripada marah sama orang lain."


"Hehehe."


Saat ia bermanja padaku, aku bersin. Ia langsung ngacir. Tapi sedetik kemudian menghampiri. Rinjani menatapku dengan khawatir.


"Mas sakit?" Tanpa kujawab, Rinjani sudah menyentuh keningku. "Panas, Mas." Aku mengangguk.


Rinjani cemas. Ia memberikanku makan, kemudian kembali dari kamarnya membawa obat.


"Minum dulu obatnya, Mas."


Tatapannya menyiratkan kekhawatiran. Ia menyentuh tanganku, lalu menciumnya. Hanya beberapa detik, selanjutnya kembali ngomel.


"Mas tadi hujan-hujanan?"


"Nggak kok," balasku kalem.


"Boong!" pungkasnya.


Aku mengingat-ingat. Senyuman terukir dari bibir. Rinjani langsung melayangkan tatapan ganas saat aku menggaruk kepala.


"Tadi nganterin temen pas hujan." Akhirnya aku mengeluarkan kata-kata itu dengan terpaksa. Meskipun tahu kalau Rinjani bakalan mencecarku.


"Terus?"


"Nggak apa-apa," simpulku sembari meremas jemari kekasihku, eh. "Kan nggak enak temen udah main ke kost, masa gak dianterin balik. Ya udah mas anterin."


"Duh, Mas. Besok-besok jangan terlalu gak enakan sama orang. Orangnya aja seenaknya sama kamu. Tadi diajak mampir dulu gak pas hujan?"


Aku menggeleng. Rinjani menepuk dahi.


"Nah, kan. Kalau hujan diem di rumah, ya."


Kuanggukan kepala dengan senang menanggapi perhatiannya. Diam-diam menggumam dalam hati.


'Bu, ada yang perhatian sama Mas.'


Rinjani kembali memasak. Entah memasak apa, tapi kudengar sodet dan wajan beradu. Kututup mata pelan, ngantuk dan lelah.


Sebuah tangan menyentuh rambutku. Memainkannya dengan pelan. Tangan Rinjani mengelus lembut, tapi pelan-pelan dilepaskan.


Aku membuka mata, pandangan kami beradu. Dia tersenyum dan menahanku berbicara.


"Ssssst ... tidur aja gak apa-apa."


"Tangan kamu jangan dilepas. Bentar aja, ya," pintaku yang langsung diturutinya. "Aku rindu ibu. Rindu Malang." Aku berceloteh seraya menutup mata.


"Nanti pulang, ya."


Kuanggukan kepala.


"Jani ikut," bisik Rinjani.


"Udah siap ketemu calon mertua emang?"


Ia terkekeh. Tak ada jawaban. Tapi tangannya tidak berhenti mengusap rambutku. Sekarang Rinjani bersenandung.


"Assalamualaikum. Rinrin, ini mama, Nak," ucap seseorang dengan tiba-tiba.


Aku dan Rinjani sontak menoleh bersamaan pada sumber suara.


"Mama ...."


"Tante Ismi ...."


Rinjani menghambur pada pelukan orang yang dicintainya. Sedangkan aku gelagapan. Takut tante Ismi menyangka hal yang tidak-tidak.


Beliau menatapku setelah aku mencium tangannya hormat. Ia menerka, matanya begitu fokus memandangku.


"Mas Genta yang dulu ngajar Rinrin?"


Aku mengangguk mantap.


Rinjani Maharani




Genta Wicaksono

__ADS_1


HAPPY READING💙💙 jangan lupa komen, like dan tambahkan jadi favorite💙💙


__ADS_2