Mas, Aku Padamu

Mas, Aku Padamu
Part 3


__ADS_3

Kisah asmaraku selalu gagal.


Entah itu ditinggal menikah, dicampakkan, dijadikan pelampiasan, bahkan saat PEDEKATE saja jarang berjalan mulus sampe jadian. Keseringan cewek-cewek itu meninggalkanku sebelum sampai di pelabuhan pacaran.


Sadboy, panggilan itu resmi tersemat padaku.


Para penghuni kost selalu memandangku dengan tatapan sedih saat aku lagi-lagi gagal membawa pasangan.


"Mending jangan pacaran, deh, Mas!" Dino menjentikkan rokoknya.


Aku menoleh, menunggu apa perkataan Dino selanjutnya.


"Umurmu udah mau dualima, udah gak harus pacaran lagi. Sekarang, waktunya nyari yang mau diajak serius," cakapnya langsung membuatku tertegun.


"Bener, Mas. Pacaran, tuh, ngabisin waktu doang!" Arif yang baru tiba mengompori.


"Arif mah pengalaman ditinggal rabi," ejek Anton.


Kami semua tertawa.


Perkataan mereka ada benarnya. Pacaran terlalu banyak menghabiskan waktu, kuota, bensin dan uang.


Aku mulai enggan memikirkan cewek-cewek itu. Mereka itu meribetkan. Merepotkan. Menyebalkan. Selalu ingin dimengerti, selalu ingin diperhatian.


Cewek itu ... gak harus didekati. Mereka perlu dijauhi.


Tapi aku gagal dalam keteguhanku. Rinjani yang menggagalkannya. Dia mendekatiku, mengirimi chat setiap hari. Menelepon dan melakukan video call sampai kuotaku sekarat.


Hubungan kami bisa dibilang aneh. Rinjani yang aneh lebih tepatnya. Dia yang bermula mengajakku telponan sampai malam, tapi tiap hari ... pulang-pergi bareng sama Joko.


Aku kesal. Sungguh.


Aku berniat mendiamkan chat dan panggilannya. Memilih tidak memedulikannya.


Kalau ada Jani sedang ngobrol sama mpok Nur, aku memilih diam di kamar. Tapi diam-diam menengok lewat gorden. Ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.


Aku baru pulang dari kafe sekitar jam dua belas. Badan rasanya lelah sekali, suaraku juga sedikit serak. Aku ingin langsung membaringkan badan di ranjang sambil mendengarkan musik yang menenangkan.


Aku berhenti di tempat melihat Rinjani sedang duduk di kursi depan kamarku.


Ngapain dia di sini?


Tanpa berniat menyapa, aku membuka kunci dan langsung masuk ke dalam.


"Mas ... kenapa chat aku gak dibales-bales?"


Aku menyimpan gitar dan membuka jaket. Enggan kujawab pertanyaannya.


Emangnya penting buat kamu?! Huh!


"Boro-boro dibales, dibaca aja nggak." Rinjani mendengkus. "Salah Jani apa?"


Masih gak nyadar juga, nih, anak? Apa artinya kita teleponan sampai malam, membahas masa depan dan sayang-sayangan, kalau pada akhirnya lu milih Joko buat teman bepergian.


"Aku sama bang Joko gak ada hubungan apa-apa!" Dia meninggikan suarnya. Membuat telingaku sakit. Aku malu.


Bagaimana kalau para tetangga mendengar? Bagaimana kalau Joko sudah pulang dari tempat kerjanya?!


Cewek bodoh!


"Bukan urusanku!"


"Aku tahu mas cemburu," bisiknya.


Aku membuka pintu. Kutatap dia tajam.


Rinjani yang biasa cengengesan, kali ini terdiam. Menunduk takut. Aku duduk di sisinya, kuperhatikan dia lamat-lamat.


"Emangnya aku siapanya kamu, pakai acara mesti cemburu segala."


Rinjani tercekat. Dia membalas tatapanku dengan perlahan.


"Gak berhak, Jan!"


"Aku senang mas cemburu," ucapnya malu-malu.


Aku mengalihkan pandangan pada jalanan yang sepi.

__ADS_1


"Itu artinya mas sayang sama aku." Rinjani cekikikan. Membuatku semakin sebal dan berniat langsung masuk ke kamar tanpa memedulikannya.


"Lagian, apa susahnya bilang cemburu." Gadis itu mengejekku.


"Aku gak cemburu," balasku seraya melipat tangan. "Cuma gak suka aja kalau kamu jalan sama Joko."


"Huaaaaah ...!" Rinjani berteriak histeris. Membuat aku menutup mulutnya dengan sigap.


"Bisa diam gak, Bodoh?"


Rinjani menggelengkan kepalanya.


"Mas ... aku gak bakalan jalan lagi sama bang Joko,"


Aku menghela napas berat. Tidak mau terkesan posesif, padahal kami tidak ada hubungan spesial. Akhirnya aku menggenggam jemari Rinjani, dan tersenyum setelah pandangan kami bertemu.


"Aku gak melarang kamu."


"Kan aku yang nggak mau," kata Rinjani.


"Sekarang, tidur, ya."


Rinjani mengangguk. Dia melangkah pergi, sesekali kembali menatapku sambil memberikan senyuman. Saat sudah ada di depan pintu kamarnya, Rinjani memberikan isyarat ciuman lewat tangan yang ditempel di bibir.


Aku membalas dengan kedipan mata.


Gadis itu melompat tanpa malu. Aku melambaikan tangan dan menyandarkan tubuh di pintu.


Aku terbawa perasaan sama Rinjani.


Saat selesai mencuci muka dan siap tidur, sebuah pesan masuk dari Dino.


'Mas, jangan TERLALU dalam hal mencintai. Biar nanti sakitnya tidak terlalu serius juga.'


Kupandangi langit-langit kamar. Benar kata Dino, aku tidak mau terlarut menyimpan rasa untuk Rinjani. Karena kami sebenarnya tidak mempunyai ikatan, kurasa Rinjani bebas menjalani hubungan dengan siapapun. Pun dengan aku.


Hanya saja kami mempunyai perasaan sama ... saling sayang.


Aku tersenyum simpul.


'Gak bisa tidur.'


'Kenapa, Sayang?'


'Keinget mas terus,' Rinjani menyisipkan emoticon nangis.


'Kangen, bilang.'


Rinjani membalas dengan emot ngakak. 'Iya. Eh. Hahaha.'


'Jangan dikunci, dong. Nanti mas masuk ke sana.'


'Takut digrebek.'


'Bilangin aja mas lagi bantu kamu ngerjain tugas praktek.'


'Praktek apa?'


'Bikin anak. Haha.'


Rinjani membalas dengan emoticon marah. Aku tersenyum. Aku memang suka bercanda seperti ini. Tapi untuk melakukannya kepada Rinjani, aku tidak punya keberanian.


Malam itu, aku dan Rinjani video call sampai gadis itu terlelap. Kutatap dia dengan sayang.


"Selamat tidur Rinjaniku."


\*\*\*\*


"Mas, sehat?" Aku mendengar suara orang yang kuhormati dan cintai menyapa di ujung sana.


"Alhamdulillah, ibu bagaimana?" Tanyaku dengan antusias.


"Sehat. Kuliahmu bagaimana?"


Aku tercenung lama. Beberapa bulan lalu sudah kukatakan bahwa aku memilih bekerja dan berhenti kuliah. Aku tidak mau merepotkan ibu karena harus mengirim sejumlah uang setiap bulannya.


Tapi kayaknya, ibu tetap kekeuh menginginkanku melanjutkan kuliah.

__ADS_1


"Mas Genta kerja, Bu." Kudengar Riani menyela. "Jadi penyanyi."


Suara adikku membuat ibu terdiam agak lama.


"Bu ... ibu."


"Penyanyi apa, Nak?"


Aku kebingungan menjawab. Setelah menghela napas, akhirnya kukatakan kalau aku menyanyi dari kafe ke kafe. Kadang juga manggung di beberapa acara pentas sekolah.


"Tapi kamu niat lanjut kuliah lagi, kan, Nak?" Suara ibu penuh wibawa, membuatku mengusap wajah.


"Mau kok, Bu."


"Cepat lulus, Lek. Cepat jadi orang hebat." Kakakku sepertinya baru tiba, langsung mengambil ponsel di tangan ibu.


"Iya, Mbak."


"Jangan mikirin cinta dulu ya, Mas."


Aku terkekeh mendengar celotehan Riani.


"Harus jadi musisi dulu. Harus sarjana dulu. Biar bisa bahagiain kami ...."


Aku kembali tersenyum menanggapi perkataan keluargaku. Aku rindu mereka. Rindu bercengkrama. Ingin rasanya segera pergi ke sana.


"Kapan pulang ke Malang?" Kali ini bapak yang berbicara. Aku berdebar, aku juga ingin pulang, tapi uangku belum cukup. "Sudah empat bulan, Mas. Lagian kalau gak kuliah, pulang saja. Di sini juga banyak tempat anak muda nongkrong, kamu bisa jadi penyanyi di sini. Berkarir di kampung halamanmu."


"Genta pasti pulang, Pak," jawabku ragu.


"Awas kalau pulang bawa cewek!" teriak mbak Fitri.


"Emangnya kenapa?"


"Genta harus kerja dulu, Pak. Jaman sekarang, gampang mikirin jodoh, mapan dulu aja. Ya, kan, Mas?"


Kujawab dengan berkata: "Nggih, Mbak."


Saat aku sedang berceloteh ria, suara Rinjani memanggil.


"Mas, yuk."


Ah, sampai lupa. Hari ini kami mau jalan-jalan.


"Siapa itu, Mas?"


"Cewek, Fit. Pacarnya Genta."


"Mas ... jangan pacaran dulu."


Saat mereka berdebat. Kututup telepon. Rinjani melihatku dengan kening mengerut.


"Nggak apa-apa, aman."


Kami menyelusuri Jakarta yang macet di minggu pagi. Lalu berhenti untuk makan bakso dan beristirahat.


"Habis ini mau kemana?" Aku menyodorkan bakso panas.


Rinjani mengangkat bahu.


Melanjutkan perjalanan tanpa tahu tujuan. Aku senang menatap Rinjani lewat kaca spion, mengelus lututnya saat lampu merah, dan saat helm kami beradu.


Rinjani akan sangat malu saat tahu bahwa aku sedang memperhatikannya. Dia menyubit pinggangku. Kemudian kupindahkan tangannya ke perut.


"Peluk, ya."


Dia menjawab lewat anggukan. Kepalanya menyandar, tampak nyaman. Kuusap tangannya yang melingkar di perut, lalu kucium dengan cepat.


Bahagia sesederhana itu. Kami hanya pergi untuk menikmati bakso dan melihat gedung-gedung yang menjulang. Rinjani bilang, itu menyenangkan. Pun dengan aku.


Kami pulang dengan senyuman renyah di bibir masing-masing.


Aku merasa nyaman berdekatan dengan Rinjani. Kurasa ... Rinjani juga.


Kami terjebak dalam kenyamanan yang tanpa ikatan.


Hubungan macam apa ini?

__ADS_1


__ADS_2