
“Kenapa kita kesini sih? Kamu bilang mau antar aku pulang”
“Sebentar aja kok. Udah lama kita gak ke pantai”
“Iya tapi ini udah malam gak ada yang bisa di liat juga”
Tanpa persetujuan ku Arwan memutar balik mobilnya menuju ke pantai. Kami memang dulu sangat sering menghabiskan waktu bersama bahkan hampir setiap hari bertemu.
“Aku tahu kamu masih kesel dari pada aku antar pulang terus kamu masih ngambek sampai besok, mending kita santai bentar disini”
“Besok kamu kan harus pergi pagi banget emang udah disiapin barang-barangnya”
“Cuma beberapa baju aja sayang, gak usah dipikirin”
Suasana pantai sudah tidak ramai seperti pada siang hari. Hanya beberapa pasangan yang sibuk dengan obrolan masing-masing.
Arwan mengajak ku untuk menyusuri bibir pantai. Dia terus menggenggam tangan ku. Kami berjalan tanpa suara. Tidak berbincang. Kami larut dalam pemikiran masing-masing. Kami terus berjalan sampai aku sadar kami sudah terlalu jauh dari keramaian.
“Apa gak sebaiknya kita balik ke mobil?” tanyaku
Arwan menghentikan langkahnya dan melepas genggamannya.
“Sini” Arwan duduk di atas hamparan pasir pantai.
Aku menolak permintaanya dengan alasan tidak ingin mengotori pakianku.
__ADS_1
“Disini aja kalau gitu” Arwan menarik tubuh ku dan mendudukan ku diatas pahanya.
“Kamu ngapain sih nanti dilihat orang?” Arwan memeluk ku erat saat hendak beranjak dari pahanya.
“Kamu yang ngapain, sama pacar sendiri kok takut gitu”
Aku tahu tidak akan ada yang bisa melihat dalam suasana malam gelap seperti in bahkan wajah kami masing-masing saja tidak terlihat. Tetap saja aku merasa tidak aman saat harus bermesraan di tempat terbuka seperti ini.
“Aku cuma gak mau kita...Mmmmmpph...” Suara ku teredam karena Arwan tiba-tiba saja mencium bibir ku
Arwan tidak berhenti sampai disitu jari-jemarinya sudah menyentuh daerah sensitif ku. Sangat mudah baginya melakukan itu karena aku memang sedang mengenakan dres selutut.
“Kita lakukan disini. Kita udah lama gak gini”
Iya, Arwan benar. Kami memang sudah lama tidak melakukan hubungan intim. Kesibukan Arwan yang menjadi masalahnya. Aku memang menginginkan itu tapi untuk melakukan disini. Diantara ombak berdebur, pasir pantai dan tidak ada penerangan sekali pun. Sepertinya aku harus pikir-pikir dulu.
“Aku mau suasana baru. Kalau kamu gak suka cukup kali ini saja untuk selanjutnya kita lakukan di tempat biasa”
Arwan meraih tanganku dituntun ke gundukan diantara selangkangannya. Mengeras dan menjanjikan kepuasan. Arwan membuka resletingnya dan memposisikan aku duduk mengangkang diatasnya.
“Engghhh...” Desahan kami keluar secara bersamaan saat dia berhasil meloloskan miliknya. Terasa ngilu karena memang aku belum terlalu siap menerimanya.
Aku mulai mengerakkan tubuh ku naik turun. Setiap gerakan Arwan semakin meremas kedua payudara ku dengan cepat dia membuka seluruh pakaian ku yang di lempar sembarang arah. Tanpa menunggu lama dia menghisap ****** ku dengan kuat. Terasa perih dan nikmat secara bersamaan. Dia terus melakukan itu bergantian dikedua payudara ku.
Arwan menarik tubuhku dan membaringkan aku diatas hamparan pasir kini dia yang mengambil kendali penuh. Dia menekan kuat agar dirinya terbenam lebih dalam. Hentakkanya semaki kuat begitu juga dengan desahan demi desahan yang teredam ombak pantai.
__ADS_1
Satu tangannya memilin salah satu payudara ku dan kembali mengulum dan mengigitnya. Setiap kami melakukan hubungan intim Arwan sangat suka melakukan ini bahkan terkadang rasa perih dan lecet masih terasa, bebarapa kali aku mengatkan padanya agar melakukan secara perlahan. Namun dia beralasan aku terlihat menikmati saat dia melakukan itu.
Ya benar aku menikmati tetapi terkadang Arwan hilang kendali menggigit terlalu kuat dan meninggalkan bekas luka setelanya.
Aku menjerit kuat saat ******* pertamaku, Arwan masih dalam posisinya terus mengayun penyatuan kami. Arwan membalikkan tubuhku dan kembali memasukkan kejatannya dengan posisi doggy style. Saat dalam posisi seperti ini dia akan bertindak lebih agresif menekan dalam sangat dalam sampai menyentuh mulut rahim ku.
Aku merintih kesakitan sangat tidak nyaman didalam sana. Namun Arwan mengacuhkan rintihanku. Mungkin dia bingung antara rintihan sakit dan kenikmatan yang bersamaan.
“Jangan terlalu dalam sakit” Akhirnya aku tidak bisa menahan rasa sakitnya
“Sebentar lagi” Suaranya parau dan terdengar lirih tanda bahwa dia akan sampai pada puncaknya.
Benar saja dia segera melepaskan penyatuan kami dan menyemburkan benih cintanya di punggung ku. Kami segera mengenakan pakaian masing-masing. Terasa sangat tidak nyaman karena terasa pasir masih banyak menempel ditubuh.
“Aku gak mau kaya gini lagi” ucapku kesal dan berjalan meninggalkan Arwan
Arwan mengikuti ku dan merangkul pundak ku. Mengecup pipiku dengan gemas. “Jangan nakal ya selama aku pergi”
Sesampai dirumah aku segera membersihkan tubuhku. Aku membukan ponsel sekedar membalas pesan dari salah satu teman dan membuka sosial media ku sekedar menunggu rasa kantuk.
Rasa penasaran muncul saat aku melihat sosial media milik Haris. Aku terus mencari-cari apapun itu yang setidaknya bisa memberikan gambaran seperti apa Haris itu. ternyata tidak ada hal yang menarik. Biasa saja tidak ada postingan terbaru. Hanya ada dua buah foto pernikahannya yang dia posting satu tahun lalu.
Tetapi aku mendapatkan hal berbeda pada akun sosial media milik istrinya. Disana begitu banyak moment kebersamaan mereka. Aku melihat satu persatu foto itu.
Jujur ada perasaan tidak suka akan kemesraan mereka. Apakah aku cemburu?
__ADS_1
Entahlah. Mungkin saja ini tidak benar atau aku yang masih takut mengakui perasaan ku sendiri.