Mawar Tak Bertangkai

Mawar Tak Bertangkai
Chapter 6


__ADS_3

Haris sedang mempelajari satu persatu status pasiennya. Terutama untuk pasien yang baru masuk agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian therapy. Rutinitas yang setiap pagi ia lakukan sebelum melakukan visit.


Haris memiliki waktu dua jam untuk memberikan konseling dan melakukan pemeriksaan pada pasien rawat inap. Pukul 10 pagi Haris akan beralih melayani pasien di poli.


Rutinitas yang sama setiap harinya dia lakukan. Lelah memang tapi baginya melihat orang-orang sembuh dan mendapatkan ucapan terima kasih dari pasiennya adalah kebahagian tersendiri.


Kerja dan kerja, itulah yang tertanam dibenak Haris. Rumah yang seharusnya tempat untuk dia pulang kini tidak seindah dulu.


Satu tahun adalah usia pernikahan mereka. Namun sudah begitu banyak konflik yang muncul. Bukan tanpa alasan Haris berubah. Semua itu berawal ketika istrinya masih memiliki hubungan dengan mantan kekasihnya.


Haris sangat marah kala itu. Rasa kecewa kepada istrinya semakin memuncak saat Haris tidak melihat perubahan sikap dan penyesalan.


Tetap bertahan disituasi seperti ini hanya untuk menjaga perasaan kedua orang tua masing-masing. Mereka tinggal bersama dan berbicara hanya seperlunya.


Mereka bagai orang asing yang terpaksa tinggal bersama. Cinta yang dulu mereka agungkan entah hilang kemana.


Tanpa disangkal lagi kehadiran Diana memberikan warna baru bagi Haris. Rutinitasnya yang melelahkan akan terasa hilang saat bertemu dengannya. Saat bersamanya Haris merasa dihargai dan dicintai. Setiap gerak-geriknya mempesona dan selalu menari-nari dibenak Haris.


Walaupun Haris sudah mengungkapkan perasaannya Diana masiih bersikap pasif dan terkesan masih menjaga jarak dengannya. Haris paham betul apa yang sedang dipikirkan Diana.


Takut. Bimbang dan ragu itu sudah pasti yang Diana pikirkan karena status Haris sebagai suami orang.


“Mas aku telpon kamu dari tadi kok gak diangkat sih?”


Lamunan Haris buyar seketika “Kamu bisa gak ketuk pintu sebelum masuk ini bukan dirumah”


Tari tanpa permisi masuk keruangan Haris dan duduk dikursi dihadapan Haris. Tari adalah wanita yang sedang menyandang status sebagai istri Haris.


“Iya karena ini bukan dirumah gak perlu ngeributin hal kecil gini”


“Kamu mau apa?” tanya Haris pada istrinya

__ADS_1


“Kamu tau kan nanti malam ada acara perpisahan untuk dokter Rano. Jadi kita harus pergi bareng aku gak mau nanti ada gosip tentang kita”


“Kamu cuma peduli sama pandangan orang tapi kamu gak pernah peduli sama perasaan ku”


“Ck...! Aku lagi males ribut, pokoknya nanti malam kita pulang dan perginya harus barengan setelah itu terserah kamu mau kemana” Tari meninggalkan ruangan Haris.


Haris menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Menatap langit-langit ruang kerjannya.


Menyesal?


Tidak. Kini Haris hanya merasa gagal. Gagal mempertahankan cintanya agar tidak terbagi pada wanita lain.


“Ah sial!” Haris bangkit dari duduknya


Haris melupakan sesuatu. Malam ini dia ada janji dengan Diana untuk makan malam. Padahal ini yang sudah dia nantikan sejak lama setelah beberapa kali ajakannya ditolak.


“Jika aku tidak datang keacara malam ini sangat terlihat tidak sopan karena aku sangat dekat dengan dokter Rano”


Ya, jika hanya makan malam biasa dengan Tari itu sangat mudah Haris membatalkannya tapi ini teman kerja yang mengundangnya bahkan ini acara perpisahan pindah tugas temannya yang entah kapan bisa bertemu lagi.


Suasana malam lebih menguntungkan untuk mereka berdua karena mengurangi potensi untuk dikenali orang terdekat.


Namun sepertinya Haris memang harus menunda kencannya dengan Diana. Haris sangat yakin Diana memahami situasi yang dialamainya saat ini.


                                                                                                    **********


Diana melemparkan ponselnya diatas ranjangnya setelah melihat pesan singkat yang dia kirimkan pada Arwan dua hari lalu masih saja belum ada balasan.


“Aku harus gimana lagi sih biar kamu ngerti” Diana membenamkan wajahnya diatas batal.


Diana merasa hanya berjuang sendiri untuk mempertahankan hubungannya. Setiap tindakan dan nasehatnya pada Arwan tidak pernah dihargai. Jika memang Arwan tidak mencintainya lebih baik mengatkan langsung dari pada harus digantung seperti ini.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian ponsel Diana berdering. Ada panggilan dari nomor yang tidak tersimpan dikontaknya. Diana mengacuhkan panggilan itu. Namun ponselnya terus berdering sampai beberapa kali dan Diana menerima panggilan.


“Hallo siapa ya?” tanya Diana


“Akhirnya diangkat juga, kamu lagi sibuk ya?” Terdengar suara seorang pria yang Diana kenal


“Oh mas Haris aku kira siapa. Tadi lagi gak bawa hp mas jadi gak denger ada telpon masuk” Diana enggan untuk menceritakan alasan yang sebenarnya.


“Iya ini nomor aku yang lain”


“Ada apa mas jam segini nelpon aku? Bukannya ini jam sibuk kamu ya” Diana ingin tahu apa tujuan Haris menghubunginya dijam kerjanya seperti ini.


“Makasih ya kamu perhatian banget sampai tahu jam sibuk ku. Tapi walaupun sibuk aku tetap mikirin kamu kok”


Diana senyum-senyum sendiri mendengar gombalan klasik Haris. Walaupun itu hanya kata-kata pemanis Diana merasa sangat senang.


“Gombal terus mas sampai malam...Haha..”


“Aku Cuma mau bilang kalau malam ini kita gak bisa dinner dulu. Kamu gak apa-apakan kalau kita atur ulang jadwalnya?”


“Kenapa mas?” Diana merasa kecewa dengan pembatalan sepihak dari Haris.


“Nanti malam ada acara perpisahan sama dokter mata yang mau pindah tugas, kalau nunggu aku pulang dari sana takutnya kemalan kasian nanti kamu capek nunggu”


“Ya udah mas gak masalah kok, lain kali aja kita dinnernya” Diana berusaha sesantai mungkin untuk tidak memeperlihatkan kekecewaannya pada Haris.


“Maaf ya sayang”


“Gak apa-apa mas kan bisa lain kali kita perginya”


“Ok sayang, aku lanjut kerja dulu ya” Haris memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Diana medegus kesal. Arwan tidak menghubunginya dan sekarang Haris membatalkan rencana dinner mereka.


“Kalian berdua sama-sama menyiksa ku dengan cara masing-masing” keluh Diana


__ADS_2