
"Kamu kenapa menghindar dari aku?"
"Perasaan kamu saja, Mas. Aku ngga ada bermaksud begitu."
"Biasanya kamu tidak seperti ini. Bahkan aku berkali - kali telpon kamu ngga kamu jawab."
"Aku cuma ngga mau ibu keganggu istirahatnya. Mas, aku ke ruangan Ibu dulu, dia pasti sudah nunggu."
"Diana, kamu kenapa?"
Diana meninggalkan Haris yang masih duduk di tangga ruang rawat penyakit dalam.
Tangga menuju lantai dua rumah sakit yang terletak di ujung lorong tempat mereka bertemu diam - diam setiap ada kesempatan.
Setelah kejadian malam itu Diana berusaha menghindari Haris. Rasa bersalah menghantuinya. Hati kecilnya ingin sekali memiliki Haris seutuhnya bukan sebagai simpanan.
Walaupun itu hanya angan yang tidak akan menjadi nyata. Diana berusaha untuk sedikit demi sedikit membuat Haris untuk tidak menemuinya lagi dengan begitu mereka akan saling melupakan.
Pukul 12 malam Diana masih terjaga. Dia berbaring di sofa. Sesekali dia menatap Ibunya yang sudah tertidur.
'Aku ingin kita bicara'
Sebuah pesan masuk di ponsel Diana.
'Dimana?'
'*Aku tunggu di parkiran'
'Ya*'
Diana menyelimuti Ibunya dan menyentuh dahi wanita tua itu, memastikan bahwa suhu tubuhnya tidak bermasalah. Kemudian dia menuju parkiran.
Diana melihat mobil Haris dan segera menghampirinya. Sebelum itu dia gunakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Kita bicara di tempat lain."
Haris membawa Diana ke Apartemennya.
"Kamu kenapa?" Tanya Haris lagi pada Diana
__ADS_1
"Aku... tidak bisa menghilangkan perasaan bersalah sama istri kamu, Mas. Aku takut jika dia tahu, maka dia akan marah besar. Keluargaku akan sangat kecewa."
Ketakutan terbesarnya adalah mengecewakan keluarga, terutama Ibunya. Di mata mereka Diana adalah anak yang oenurut dan tidak pernah membuat masalah.
Jika keluarganya tahu, mungkin Diana akan mengakhiri hidupnya untuk menebus kebodohannya saat ini.
"Dia tidak akan pernah tahu, kita akan mengatasi ini. Selama kita berhati - hati."
"Di saat dia tahu semuanya, kamu pasti akan lebih memilih dia daripada aku."
"Aku akan tetap memilih kamu."
"Bagaimana jika dia hamil. Kamu pasti langsung meninggalkan aku."
"Apapun yang terjadi aku akan tetap memilih kamu, Di. Aku sunggu mencintai kamu."
"Tinggalkan aku, Mas. Aku takut kecewa lagi. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersama."
"Aku akan menceraikan istriku demi kamu tapi kamu harus menunggu."
"Berapa lama aku harus menunggu?"
"Tidak akan lama, aku janji. Kita akan segera menikah."
Perasaan itu yang sangat di takutkan Diana. Rasa ingin memiliki yang bukan miliknya, ingin merbut milik orang lain untuk di jadikan kebhagiaannya.
Dia terus bertanya benarkah Haris bisa di percaya. Apakah semua ucapannya benar atau hanya bualan semata.
Entahlah kegagalan dan kekecewaan pada lelaki sudah sering dia hadapi. Sehingga rasanya setiap ucapan pria tidak ada yang tulus.
Malam itu mereka kembali larut dalam perasaan masing - masing. Diana kalah dengan belaian dan kelembutan Haris.
Mencapai puncak kenikmatan bersama. Peluh bercucuran seakan pendingin suhu ruangan tidak berfungsi.
"Kenapa kamu tidak menggunakan pengaman? Bagaimana jika aku hamil."
"Aku akan langsung menceraikan istriku dan menikah dengan kamu."
Haris menarik Diana dalam pelukannya.
__ADS_1
"Seandainya kita bertemu lebih cepat, pasti kita tidak akan seperti ini."
"Maaf karena belum bisa menjadikan kamu satu - satunya di hidupku."
"Kamu masih cinta sama istri kamu?"
Haris tidak menjawab pertanyaan Diana. Dia memilih diam.
Tentu saja itu pertanyaan sangat sulit. Diana merutuki dirinya sendiri yang memberi pertanyaan konyol. Kini dirinya yang terluka karena tidak mendapat jawaban apapun.
Jika Haris menjawab tidak mencintai istriny maka Diana tidak mungkin percaya dan jika Haris mengatakan hanya mencintai dirinya maka itu juga tidak bisa di terima.
"Aku harus kembali ke rumah sakit sekarang."
"Kita mandi dulu. Setelah itu aku akan mengantar kamu kesana. Ibu sudah tidur saat kamu pergi?"
Diana mengangguk dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Mereka melakukannya satu kali lagi saat mandi. Sentuhan Haris sangat memabukkan, Diana tidak bisa menolaknya.
Namun rasa penyesalan terus saja muncul setelahnya. Diana tahu Haris juga merasakan itu. Beban pikiran Haris juga sangat berat bagaimanapun juga dia sudah beristri.
Keesokan harinya Diana meminum morning after pill untuk mencegah kehamilan.
Diana tidak ingin hamil di luar nikah dengan Haris. Jujur saja Diana tidak ingin mempercayai semua perkataan Haris.
Walaupun berulang kali dia mengatakan ingin segera mendapatkan keturunan darinya.
Ini bentuk proteksi diri untuk Diana. Karena semuanya sekarang masih terlihat abu - abu dan penuh ketidak pastian.
Bisa saja Haris tiba - tiba meninggalkan dirinya saat semua terbongkar.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
****Morning after pill merupakan kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan.
*Tidak patut untuk di tiru. Jangan melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨***
__ADS_1
Jangan lupa ❤️ 👍 Vote & Comment
Follow IG Author: @hanania442