Mawar Tak Bertangkai

Mawar Tak Bertangkai
Chapter 8


__ADS_3

Diana sedang duduk disebuah taman yang tidak jauh dari kediamannya. Setelah melakukan olahraga ringan dan sekedar merilekskan tubuh dan pikirannya. Semua yang terjadi sangat menguras tenaga dan emosinya.


Bagaimana tidak lelah. Beberapa hari ini Diana harus kembali merasakan lantai dingin Rumah Sakit karena harus menjaga ibunya. Kesehatan ibu menurun dan harus mendapat perawatan medis sementara.


Diana sudah berulang kali mengingatkan ibunya untuk tidak melakukan pekerjaan rumah dan melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Namun, ibu beralasan sangat bosan jika tidak melakukan apapun.


Beberapa kali ponselnya berdering. Namun, Diana mengabaikannya karena sedang ingin menikmati waktu luangnya saat ini. Melihat nomor yang menghubunginya tidak tersimpan dikontaknnya menandakan bahwa yang menghubunginnya bukan teman dekat atau keluarga.


Jika penting nomor itu bisa mengirimkan pesan terlebih dahulu. Diana memang tidak pernah menjawab panggilan dari nomor tidak dikenal. Biasannya nomor-nomor seperti itu banyak orang iseng atau agen dari suatu produk yang menawarkan barang jualan mereka.


Setelah merasa cukup mengistirahatkan pikirannya. Diana kembali ke Rumah Sakit menjaga ibunya.


“Handphone kamu bunyi terus dari tadi, kenapa tidak diangkat?”


“Nomor tidak dikenal, Bu. Malas angkat pasti orang iseng saja.” Diana kembali mengupas buah Apel untuk ibunnya


“Dy, tadi Bu Sarah kesini sama anaknya, Fitri. Bulan depan Fitri mau nikah katannya.”


“Fitri?”


“Iya, Fitri teman main kamu waktu kecil dulu. Inget, enggak?” tanya Ibu


Aku berpikir sejenak. Mencoba mengingat teman-teman masa kecilku saat itu. Sepertinya gadis cenggeng dan suka menggadu itu yang Ibu maksud.


“Oh, Fitri yang itu. aku inget, Bu.”


Aku memberikan potongan apel itu pada Ibu dan Ibu memakannya perlahan.


“Biar saja, Bu. Memang salah kalau dia nikah” ucap Diana


“Kamu kalah cepat sama anak kecil. Dia itu umurnya lebih tua kamu tiga tahun”


Diana menghembuskan nafas. Mengontrol diri untuk tidak terbawa susana dan menyakiti perasaan Ibu.


“Bu, aku juga maunya cepat nikah. Tapi keadaan belum memungkinkan”


“Ibu, cuma takut. Tidak bisa lihat kamu menikah nanti, Nak”


Diana meletakkan pisau dan buah apel itu dipiring. “Bu, aku enggak suka kalau Ibu ngomong gitu lagi. Umur, Jodoh bahkan maut sekalipun tidak ada yang tahu!”


Diana meninggalkan ruang rawat Ibunya dan duduk menyendiri dianak tangga menuju lantai dua. Tangga ini sangat jarang dilalui para tenaga medis atau para pengunjung karena lebih mudah menggunakan lift. Diana menangis tersedu-sedu. Meluapkan kesedihannya. Bukan maksud hatinya berkata kasar dan tidak sopan. Diana hanya tidak sanggup membayangkan hal buruk terjadi pada Ibunya.


Diana merasa belum bisa membahagiakan Ibu dan masih butuh bimbingan dan nasehat untuk menjalani hidupnya. Bahkan selam ini Diana belum pernah memberikan apapun.

__ADS_1


Setelah menangis beberapa saat. Diana kembali keruangan Ibunya. Diana mengusap air mata yang mulai mengering di wajah Ibunya. Dipandangnya wajah yang mulai banyak kerutan dan tidak sekencang dulu. Tanpa


sadar air matanya kembali mengalir. Diana menutup mulutnya menahan tangis. Dia tidak ingin Ibunya terbangun dengan suara tangisannya.


“Tante....” sebuah pelukan sampai padanya.


Diana segera menghapus air matannya. “Hei.. Kamu kok masuk kesini” Diana membalas pelukan keponakannya dengan gemas.


“Dy, bawa Salsa main diluar ya” pinta kakaknya


“Ayo, sayang” Diana menggendong Salsa keluar dari area ruang rawat.


Diana mengamati keponakannya yang sedang bermain dengan anak seusiannya dari kejauhan. Memang benar anak-anak bisa menjadi Mood Booster.


Sebuah pesan masuk diponsel Diana. Nomor yang beberapa kali menghubunginya sejak pagi. Perlahan Diana membaca pesan itu satu persatu.


Pengirim pesan itu mengaku bernama Sifa. Diana mengingat kembali nama itu. Gadis berambut sepinggang dengan paras cantik dan memiliki kulit kuning langsat.


Diana merasa heran karena Sifa tiba-tiba menghubunginya dan meminta untuk bertemu karena ada hal penting yang ingin disampaikan. Mereka memang saling mengenal tapi hanya sepintas saja.


Rasa penasaran menuntun Diana untuk segera menyetujui permintaan Sifa. Diana menuju kealamat yang sudah diberikan Sifa. Alamat itu ternyata sebuah Cafe.


“Sifa” panggil Diana ragu


“Kamu mau ketemu sama aku? Ada perlu apa?” tanya Diana terburu-buru karena sudah dilanda penasaran sejak tadi


“Kita tunggu minumannya datang ya, Dy”


“Maaf, kalau aku tidak sopan dan terburu-buru.”


Mereka saling bertanya kabar satu sama lain dan meceritakan kegiatan sehari-hari. Lima belas menit kemudian minuman yang mereka pesan sudah sampai.


“Dy, sebenarnya sudah lama aku mau bilang ini ke kamu. Tapi aku baru punya keberanian sekarang.”


Diana menatap Sifa penuh tanya. Dia merasa ini masalah yang sangat serius dan berat. “Tentang apa, Sifa?” tanya Diana


“Tapi janji ya, kamu enggak marah dan jauhin aku”


“Ya, tergantung apa yang mau kamu bicarakan. Jika layak untuk marah maka aku akan marah.” ucap Diana jujur


Sifa terdiam. Sesekali dia bergerak gelisah. Lebih tepatnya ragu untuk bicara.


Diana merasa harus sedikit meyakinkan Sifa agar segera bicara. “Cerita saja, aku akan dengerin semua kok dan aku pastikan kerahasiaan percakapan kita ini.”

__ADS_1


“Aku..aku ha..mil” ucapnya terbata-bata


“Hamil?” Diana setengah berteriak. Sadar suaranya terdengar pengunjung Cafe yang lain Diana segera menutup mulutnya.


Ternyata Sifa menghubunginya karena sedang mendapat masalah yang sangat besar. Mungkin saat ini dia tidak tahu harus bagaimana dan harus bercerita kepada siapa.


“Reno? Reno tahu kamu hamil?” tanya Diana sambil menggenggam tangan Sifa


Diana cukup mengenal Reno. Dia sahabat Arwan sejak lama. Beberapa kali Reno mengajak Sifa untuk menemui Diana dan Arwan.


“Enggak. Dia tidak tahu apa-apa soal ini, aku sudah putus.”


“Ini masalah besar, kamu harus cerita ke Reno. Dia pria yang bertanggung jawab. Aku yakin dia tidak akan meninggalkan kamu sendiri.”


Diana mengambil ponselnya dari dalam tas yang dia bawa. “Sebentar, aku minta Reno untuk kesini”


Sifa tiba-tiba menarik ponsel Diana dari genggamannya. “Jangan, kasih tahu Reno”


Diana berusaha mengambil ponselnya dari Sifa. Sifa masih tidak ingin memberikan ponsel itu. “Ini bukan anak Reno, Dy”


“Apa?”


“Ini bukan anak Reno! Aku...aku hamil anak Arwan”


Dentuman keras terasa menghantam Diana. Tubuhnya lemas, terasa sakit yang menyesakkan dada. Bahkan untuk bernapas Diana kesusahan.


“Maaf...maafkan aku, Dy.”


“Hahaha...” Diana tertawa mendengar pengakuan Sifa.


“Kamu bercanda. Arwan tidak mungkin melakukan itu”


“Ini kenyataannya, Dy. Ini buktinya” Sifa menyodorkan ponselnya “Kamu baca! Dia meminta aku menggugurkan anak ini, Dy. Tolong aku, aku tidak bisa melakukan ini”


Diana membaca isi percakapan antara Sifa dan Arwan satu persatu. Nomor yang tertera dipercakapan itu memang benar nomor ponsel Arwan. Ini menandakan pesan itu benar dari Arwan.


“Sifa, sepertinya aku tidak bisa membantu kamu dlam hal ini. Kalian selesaikan saja masalah kalian berdua. Aku tidak bisa berlama-lama disini”


Diana beranjak pergi. Langkahnya gontai. Sekuat mungkin Diana menahan air matanya. Dia tidak ingin air mata itu menetes dihadapan Sifa. Perempuan yang sudah berhasil membuatnya hancur berkeping-keping.


“Arwan tidak mungkin melakukan itu. Aku harus bertanya langsung pada Arwan. Ya, harus!”


Bukankah harus mendengarkan dar dua sisi. Tidak adil juga jika mengambil keputusan hanya karena ada pihak yang mengaku menjadi korban.

__ADS_1


__ADS_2