
Di bulan Juli hari ke sepuluh. Aku pergi bersama ibu menuju negara tetangga untuk melakukan pengobatan lanjutan.
Pemeriksaan demi pemeriksaan sudah dilakukan. Kami harus menunggu sampai keesokan harinya untuk mengetahui hasil pemeriksaan labor.
Aku menyewa sebuah apartement sederhana karena lebih menghemat uang. Jika harus menginap di hotel harganya lumayan mahal jika di rupiahkan.
“Bu, kita tunggu disana aja dokternya sebentar lagi datang”
Sekitar 30 menit kami menunggu dokter yang kemarin menangani ibu datang dan kami dipersilahkan untuk masuk.
Aku dengan seksama mendengarkan penjelasan dan semua konseling yang diberikan dokter. Aku bersyukur karena tidak ada penyakit serius yang diderita. Intinya ibu harus memiliki senagat untuk sembuh dan tidak putus asa menurutnya sebagian penyakit juga muncul dari pola pikir kita.
Tetapi aku memahami ketidakpuasan ibu yang masih bingung dengan penyakitnya karena tidak ada diagnosa yang pasti. Aku terus mencoba mensuport ibu dan selalu membuat dia bahagia.
Kami memutuskan sore itu juga kembali ke tanah air. Walaupun kami harus menginap satu malam lagi disebuah kota kecil sebelum kembali ke kampung halaman ku.
“Besok jam berapa kita check in?” tanya ibu sambil mengemasi bajunya didalam travel bag.
Aku memilih berbaring di ranjang dan memainkan ponselku.
“Jam 8 bu” jawabku
“Hubungan kamu sama Arwan gimana? Ibu lihat kamu juga dekat sama dokter Haris”
Aku bangkit dan duduk dihadapan ibu. “Bu, aku sama Arwan baik-baik aja kalau sama dokter Haris kami cuma berteman tidak lebih”
“Sebenarnya Arwan serius gak sama kamu? Kenapa sampai sekarang belum ada kepastian. Kamu perempuan jangan mau dipacarin lama-lama”
“Iya bu, kami sedang berusaha ngumpulin modal untuk kedepannya”
“Ibu cuma gak mau nanti kamu kecewa karena berharap sama orang yang gak tepat”
“Jadi menurut ibu orang yang tepat itu siapa?” tanya ku sambil membantu ibu merapikan barang-barangnya.
“Kamu pasti tahu siapa yang ibu maksud”
Ibu tersenyum seraya beranjak dari duduknya dan menuju kamar mandi.
Aku kembali berbaring di ranjang. “Andai saja ibu tau haris sudah punya istri, ibu gak akan ngomong gitu”
Aku memang sering menceritakan siapa saja yang sedang dekat dengan ku tapi untuk status Haris aku tidak menceritakannya pada ibu. Aku tahu tindakan apa yang akan dilakukan jika ibu tahu aku mendekati pria beristri.
Ibu sebenarnya sangat mendukung hubungan ku dengan Arwan hanya saja karena sikap Arwan yang tidak kunjung melamar ku menjadikan ibu ragu dan beranggapan Arwan tidak serius dengan ku.
Mungkin hal ini juga yang membuat aku perlahan mulai menyerah dan mengalihkan cinta ku pada pria lain.
**********
__ADS_1
Setelah beberap hari aku sampai dirumah Haris mengajak ku untuk makan malam. Haris memilih cafe ditepi pantai yang bernuansa romantis. Cukup ramai pasangan yang sedang makan malam. Keramaian ini juga membuat aku khawatir. Namun berbeda dengan Haris yang terlihat sangat santai.
“Sayang, aku seneng banget kita bisa dinner malam ini” Haris menggenggam tangan ku erat.
“Aku juga senang mas, tapi apa tempat ini gak terlalu ramai dan terbuka. Gimana kalau tiba-tiba ada yang ngeliat kita”
“Ssst...! sudah jangan pikirkan itu”
“Maaf aku Cuma takut aja mas”
“Gimana kondisi ibu?” tanya Haris
“Sudah baikan mas, tapi memang harus banyak istirahat”
“Jangan biarkan ibu melakukan pekerjaan berat ya”
Aku mengangguk menyetujui nasehat Haris. Setelah selesai makan malam kami memutuskan untuk berkeliling menyusuri gelapnya malam. Lebih baik kami tidak terlalu lama berada dikeramaian.
“Kamu masih berhubungan sama Arwan?” tanya Haris yang sedang fokus dikemudinya.
“Iya mas” jawab ku singkat.
Kami saling terdiam. Aku rasa tidak perlu membahas pasangan masing-masing saat ini.
Haris menghentikan mobilnya ditepi pantai. Dia mengajak ku keluar dan duduk kursi kayu.
“Maksudnya?”
“Tunggu waktu yang tepat”
Aku mulai mengerti apa yang sedang Haris bicarakan. Pernyataan itu tentang kelanjutan hubungan kami.
“Berapa lama aku harus sabar mas?”
“Enam bulan dan paling lama satu tahun dalam kurun waktu itu aku akan menceraikan istriku”
Kebenaran atau hanya bualan yang jelas aku saat ini sedikit merasa bahagia. Setidaknya Haris memiliki rencana untuk hubungan kami selanjutnya.
Suasana heningnya malam menenangkan hati kami masing-masing. Tak benar-benar hening tentunya, suara deburan ombak menyapu bibir pantai.
Haris terus menggenggam tangan ku. Dia menceritakan masa kecilnya dan tentang keluarganya.
Haris tidak memiliki saudara kandung dia anak tunggal. Ibunya meninggal saat dia masih bersekolah di tingkat menengah pertama.
Setelah kematian ibunya Haris hanya tinggal berdua dengan sang ayah. Mereka memiliki usaha jual beli minyak melintasi pulau-pulau. Setelah lulus dari sekolah menengah atas Haris tidak langsung melanjutkan kebangku perkuliahan dia memilih membantu usaha ayahnya.
Namun musibah menimpa mereka. Ayahnya terkena penyakit jantung dan harus ke Jakarta melakukan
__ADS_1
operasi. Tanpa berpikir panjang ayahnya mempercayakan semua urusan perusahaan diberikan kepada karyawan kepercayaannya sedangkan Haris menemani ayahnya ke Jakarta.
Awalnya semua berjalan dengan lancar tetapi semakin hari uang yang diberikan pada ayahnya berkurang dengan berbagai alasan. Setelah proses pemulihan selesai Haris dan ayahnya kembali kerumah. Ternyata perusahaan mereka sudah lama bangkrut dan semua aset mereka sudah disita bank.
Mereka terpaksa harus tinggal disebuah kos sederhana. Kondisi kesehatan ayah Haris semakin memburuk dan tidak lama kemudian ayahnya meninggal.
Haris sebatang kara menjalani kehidupannya. Keluarga dari kedua orang tuanya hanya bisa membantu seadannya saja. Haris hanya memilik sebuah mobil yang dia jual untuk biaya kuliah kedokteran.
Sambil kuliah Haris bekerja disebuah apotek 24 jam. Haris juga bekerja sambilan di restauran sebagai pelayan.
Pekerjaan apapun Haris lakukan untuk mencukupi biaya kuliah dan kebutuhannya. Haris mengatakan bahwa dia sampai bekerja sebagai kuli bangunan untuk membayar biaya wisuda yang cukup mahal.
Bahkan Haris mengungkapkan dia pernah berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup dengan semua beban yang dia tanggung sendiri.
Saat Haris menceritakan semua masa lalunya masih terpancar kesedihan diwajahnya.
Andai saja aku yang berada disisi mu saat ini, aku akan selalu mendukung dan membuat senyum diwajah mu tidak pernah pudar. Kini yang bisa aku lakukan hanya mendengar semua keluh kesahnya tanpa bisa berbuat banyak.
Aku memeluk Haris. Mencoba untuk menenangkan hatinya dan menyadarkannya bahwa aku akan selalu ada untuknya.
Terima kasih saya ucapkan untuk readers yang sudah membaca cerita saya ;\)
Jangan lupa klik 'Favorite' serta 'Like dan Comment'
Jangan lupa juga baca cerita saya yang lain 'LOVE AFFAIR' & 'NARA'
Di tunggu kritik dan sarannya....


__ADS_1