
Tiga bulan sudah Diana dan Haris menjalin hubungan diam-diam. Kini, Diana tinggal bersama dengan Haris di apartement.
Entah kebetulan atau takdir. Diana bekerja sebagai kasir di sebuah mini market tidak jauh dari rumah sakit tempat Haris bekerja.
Haris meminta Diana untuk tinggal bersamanya dengan begitu memudahkan mereka untuk pulang dan pergi bersama karena tempat bekerja mereka berdekatan.
Hari ini dia sedang libur jadi di habiskan untuk bermalas-malasan di ranjang. Menonton film secara maraton. Diana mengambil ponselnya di samping ranjang. Di layar ponsel itu sudah menunjukkan pukul 13.25, sebentar lagi Haris akan pulang.
Diana bangkit dari ranjang dan bergegas ke dapur, membuka lemari pendingin. Mengambil beberapa bahan makanan untuk di masak.
Haris bukan orang yang pemilih masalah makanan. Apapun yang Diana masaka maka dia akan menghabiskannya dengan lahab.
Saat Diana sedang memotong sayur-sayuran. Bel berbunyi. Diana menyudahi ke sibukannya lalu membasuh tangannya kemudian mengeringkan dengan tissu.
Diana memastikan terlebih dulu siapa yang datang di layar monitor di samping pintu. Setelah memastikan bahwa Haris yang datang, Diana bergegas membukanya.
"Kamu mengganti kode pintu?"
"Iya, supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan."
"Kamu tenang saja. Tari tidak akan datang ke sini tanpa memberitahu aku."
"Aku cuma jaga-jaga saja. Coba kamu bayangkan, jika dia muncul di saat kita sedang berduan begini."
"Ya sudablh terserah kamu saja. Tapi, kenapa aku tidak kamu kasih tahu kodenya?"
"Maaf, aku lupa."
"Kalau aku sampai tidur di luar gimana?"
"Ya ngga mungkinlah, Mas. Memangnya aku tuli sampai ngga dengar bel bunyi."
Haris tertawa lalu mencubit pipi Diana dengan gemas. Sebuah ciuman mendarat di bibir Diana. Sebelum berlanjut lebih jauh Diana mendorong dada Haris.
"Mandi dulu sana."
"Sebentar saja..." Haris tersenyum menggoda
"Ngga mau, aku lapar belum makan siang."
"Ok, berarti habis mandi ya." Haris menaikan alisnya kembali menggoda Diana.
"Iya, mandi sana...." Diana mendorong Haris untuk bergegas membersihkan tubuhnya.
Diana memutuskan untuk memesan makanan cepat saji. Jika harus memasak akan memakan waktu lama. Haris pasti juga sudah lapar.
Diana sedang memindahkan makanan yang baru saja tiba ke dalam piring dan menatanya di atas meja. Setelah memastikan semuanya tersedia, Diana masuk ke kamar untuk memanggil Haris yang sudah selesai mandi.
"Kamu mau kemana? Kok, sudah rapi banget."
__ADS_1
"Sayang, maaf ya. Aku harus kembali ke rumah sakit, ada keadaan darurat."
"Kamu belum makan, Mas. Aku bungkusin ya."
"Aku makan di rumah sakit saja. Kamu makan sendiri saja ngga apa-apa kan?"
Diana mengangguk dan Haris mengecup kening Diana sebelum pergi.
Untuk mengusir kejenuhanya Diana menghubungi dua orang temannya untuk bertemu di sebuah cafe. Fani dan Salsa.
Diana memilih tempat duduk paling nyaman menurutnya, yaitu tepat di dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan lalu lalang jalanan. Diana datang lebih dulu dari pada ke dua temannya. Setelah menunggu cukup lama terlihat ke dua temannya sedang memarkirkan sepeda motor mereka.
Diana melambaikan tangannya pada Fani dan Salsa, mereka membalasnya dan berlari kecil menemuinya.
Fani duduk di sampinh Diana, sedangkan Salsa duduk di depan Diana.
"Kamu sudah lama sampainya?" tanya Salsa
"Lumayan berlumut nungguin kalian."
"Nih, biang keroknya." Salsa menunjuk Fani dengan jari telunjuknya.
Fani tersenyum masam, mendengar protes dari Salsa. Fani memang memilik kebiasaan mandi cukup lama, bahkan waktu tiga puluh menit tidak cukup untuknya.
"Aku sudah pesan minum, mungkin bentar lagi datang."
Seperti wanita pada umumnya, mereka bertemu untuk saling mencurahkan isi hati masing-masing. Fani yang di pusingkan dengan Ayahnya yang tiba-tiba ingin menikah lagi di usia 70 tahun dan Salsa yang selalu di pusingkan dengan tetangga kosnya yang suka diam-diam mengamatinya.
"Kamu kali yang ganit sama dia." Fani menertawakan wajah kesal Salsa.
"Atau kamu yang terlalu percaya diri. Mungkin saja dia ngga ngeliatin kamu." Diana menimpali ejekan Fani
"Diana, akhir pekan kita liburkan. Aku boleh ngga nginep di kos kamu?" tanya Salsa
"Aduh, maaf Sa. Aku mau pulang ke rumah Ibu."
"Yah, kamu pulang terus sih setiap akhir pekan."
Diana hanya tersenyum menanggapi rengekan Salsa. Diana beralasan begitu agar ke dua temannya tidak tahu bahwa dirinya tinggal di sebuah apartement bersama Haris.
Diana bersama Salsa sedang mengantre di toilet cafe. Setelah satu toilet kosong Diana hendak masuk akan tetapi Salsa lebih dulu meraih pintu toilet dan masuk ke dalam.
"Salsa, cepatan aku udah ngga bisa nahan lagi." Diana mengetuk pintu toilet berkali-kali.
"Iya, Di. Sebentar lagi," jawab Salsa dari balik pintu.
"Mbak, di sini saja. Saya sudah selesai kok," ucap seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet sebelah.
"Terima kasih, Mbak."
__ADS_1
Diana segera masuk ke dalam toilet karena sudah tidak bisa menahan ekskresinya.
"Perempuan itu aku pernah lihat di mana, ya?" gumam Diana
Setelah selesai Diana segera keluar dan mengejar wanita yang baru saja dia temui.
"Diana... tunggu jangan tinggalin aku," teriak Salsa yang masih memoleskan lipstik di bibirnya.
Merasa penglihatannya tidak salah, Diana mengendarkan pandangannya ke pencuri cafe untuk menemukan wanita itu.
Namun, tidak ada satu pun dari pengunjung cafe yang menunjukkan ciri-ciri seperti wanita itu.
"Di, mana Salsa?" tanya Fani yang melihat Diana kembali seorang diri.
"Diana!"
Diana terperanjat saat Fani menepuk pundaknya.
"Ah, itu... Salsa masih di toilet."
Diana kembali hanyut dalam lamunanya. Kemudian, Diana segera bangkit lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Fani tanpa mengatakan apa pun.
"Diana kenapa, Salsa? Kamu apain dia di toilet?" tanya Fani pada Salsa yang baru saja kembali.
"Kami pikir aku tukang bully. Aku juga ngga tahu kenapa dia tiba-tiba begitu."
Diana menuju parkiran mobil, karena baru saja wanita yang dia cari berada di sekitar sini.
"Itu dia. Aku akan melihat lebih dekat, supaya bisa memastikan."
Diana berjalan perlahan mendekati wanita itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat pria yang bersamanya.
"Haris... jadi benar wanita itu istrinya."
Haris membukakannpintu mobil intuk istrinya. Sebuah senyuman mengembang di bibir ke duanya. Senyuman Haris berubah menjadi terkejut saat melihat Diana yang melihatnya dengan wajah yang juga penuh tanda tanya.
Diana memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Tidak ada gunanya terus melihat semuanya.
Saat sampai di apartement, Diana merebahkan tubunya di atas ranjang. Pandangannya kosong dan air mata yang sudah dia tahan dengan susah payah akhirnya menetes.
Akal sehatnya terus memaksanya untuk berpikir jernih, bahwa apa yang di lakukan Haris bukanlah sebuah kesalahan, Tari istrinya dan sewajarnya mereka pergi bersama. Namun, Diana tidak bisa mengusir kecemburuan yang terus meluap.
Sungguh sakit dan sakit yang dia rasakan juga di alami Tari jika dia tahu suaminya memilik wanita lain.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
***Maaf ya kalau up nya lama sampai kalian lupa alurnya.😁
Tapi author punya alasan yang kuat kok🤣
__ADS_1
Yang follow IG author pasti tahu banget deh apa alasannya🤭
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak 😘😘***