
Beberapa kali aku menghubungi Arwan. Namun, tidak ada jawaban. Hatiku bergejolak tidak tenang, ingin segera meluruskan masalah ini. aku ingin Arwan segera membantah semua pernyataan wanita itu. aku ingin Arwan mengatkan bahwa dia tidak mungkin melakukan itu.
Aku memaksa datang ke kantornya. Menurut penuturan teman sedevisinya, Arwan sedang rapat. Aku menunggu dengan gelisah. Ingin rasanya menerobos masuk ke ruang rapat itu dan menyeret Arwan keluar.
“Sayang, kamu sejak kapan di sini?”
“Kamu sibuk?” tanyaku
“Ada apa?” Arwan menggenggam jemariku.
“Apa tidak ada yang perlu kamu bicarakan ke aku. Sebuah pengakuan atau semacamnya?”
Arwan mengerutkan dahinya. Dia tidak memahami maksud dari pertanyaanku.
“Kamu sedang ada masalah?” tanya Arwan seraya mengajakku duduk di kursi kerjannya
“Kita bicara di luar saja”
“Kamu tunggu di Apartemen. Satu jam lagi aku pulang”
Arwan mengantarku sampai ke lobi dan memanggil taksi untuk mengantarku ke Apartementnya.
Satu jam sudah berlalu. Tetapi, Arwan belum juga kembali. Pandangan mataku tidak lepas dari pintu masuk. berharap pintu itu terbuka dan Arwan muncul sekarang juga.
“Kamu dimana? Ini sudah lebih dari satu jam” tanyaku pada Arwan melalui sambungan telepon.
Suara pintu terbuka dan Arwan masuk. “Ada apa, Dy? Ada masalah apa?” Arwan membelai wajahku lembut.
“Sifa. Dia menemui aku tadi siang”
Raut wajah Arwan berubah. Dia memalingkan wajahnya dariku. “Untuk apa wanita itu menemui, kamu”
__ADS_1
“Sifa mengatakan bahwa dia sedang hamil... dan kamu ayah dari bayinya?” Arwan tidak menjawab sepatah katapun.
Walaupun Arwan tidak menjawab pertannyaan dariku. Tetapi, perubahan sikapnya selama ini sudah terjawab.
Tubuhku lemas, air mata yang sejak tadi aku tahan tumpah seluruhnya. Duniaku seakan hancur. Ingin sekali aku mengumpat Arwan dengan kata-kata kasar dan tak bermoral. Tetapi, lidah ini kelu dan tubuhku terasa
beku. Kekecewaan atas pengkhianatin ini sangat menyakiti seluruh jiwaku.
“Dy, aku mohon percaya sama aku. Aku tidak melakukan itu!”
“Lalu, untuk apa kamu meminta dia untuk menggugurkan kandungannya? Jawab, jawab aku Arwan!”
“Satu hal yang harus kamu tahu, Sifa tidak hamil anakku. Perempuan licik itu sedang menjebak aku”
“Apa yang kurang dariku? Apa yang membuat kamu memilih dia?” tanyaku putus asa.
Arwan memeluk erat tubuhku “Dy, itu bukan anakku. Dia berbohong”
halamannya.
“Sejak kapan? Sejak kapan kalian bermain dibelakangku? Kalian menjijikkan!” aku mendorong tubuh Arwan dan pergi meninggalkan Apartementnya.
Semua telah aku berikan. Aku selalu melakukan hal terbaik untuknya. Waktu terbuang sia-sia selama bertahun-tahun hanya untuk mempertahankan hubungan seperti ini.
Kecewa yang aku rasakan tidak bisa diungkapkan. Aku merasa sangat direndahkan dan terhina karena aku tahu Sifa memang bukan wanita baik-baik. Menurut penuturan Reno. Sifa sudah memiliki seorang putra dari hubungan tanpa pernikahan.
Bahkan Reno mengatakan bahwa Sifa sering tidur dengan pria lain saat mereka masih memiliki hubungan.
Aku menertawakan diriku sendiri. Jika Arwan memilih wanita seperti itu mungkin menurutnya aku lebih rendah dan bukan menjadi pusat kebahagiannya lagi.
Ponselku berdering. Sebuah panggilan masuk dari Haris. Dia panik saat mendengar suaraku terbata-bata saat menjawab teleponnya. Haris memintaku untuk menunggun karena dia akan segera menjemputku.
__ADS_1
Haris membawaku ke Apatementnya yang tidak jauh dari Rumah Sakit. Dia memberiku segelas coklat panas.
Aku menceritakan pada Haris. Apa saja yang telah aku alami hari ini. pengkhianatan dari Arwan dan seseorang yang mengaku sebagai teman.
Bahkan setelah kejadian ini. Aku sadar, bahwa aku lebih mencintai Arwan daripada Haris. Tanpa menunggu lama aku mengatakan pada Haris bahwa aku tidak mencintainya.
Namun, bukan kata menyerah yang aku dengar dari Haris. Dia malah tertantang untuk meluluhkan hatiku.
“Aku tidak mau kamu sakit hati, Mas”
“Aku akan buat kamu cinta sama aku, Dy” ucapnya sambil tersenyum
“Istri kamu? Aku tahu sakitnya dikhianati...” Haris menempelkan jari telunjuknya di bibirku.
“Sssstt... kamu lupa peraturan kita. Saat bersama jangan pernah sebut wanita itu”
“Tapi, bagaimana caranya aku mengabaikan perasaan bersalah setiap menatap kamu, Mas”
Haris memelukku. Membelai kepalaku dengan lembut. Aku memilih untuk tidak membalas pelukkannya.
“Peluk dong” Haris menaik kedua tanganku ke pinggangnya.
Perlahan aku memeluk tubuhnya. Hangat dan menenagkan. Perlahan Haris melepaskan pelukkannya. Kini dia menatap wajahku dan perlahan bibir kami saling bertemu.
Haris mencium lembut bibirku. Perlahan aku larut dalam permainannya. Haris membawaku ke ranjangnya. Napsu dan cinta sudah membaur jadi satu. Aku menyerahkan tubuhku pada Haris malam itu.
Rasa kecewaku pada Arwan semakin mendorongku untuk melakukan balas dendam. Jika Arwan bisa kenapa aku tidak, pikirku.
Sat hal yang pasti. Aku sudah menjadi wanita simpanan Haris. Aku sudah bermain api, kini aku sedang tertawa di atas penderitaan istri Haris.
Saat tengah malam aku kembali ke Rumah Sakit untuk menjaga ibu. Air mata penyesalan menetes di wajahku. Rasa di hati berkecamuk. Antara sedih dan bahagia menjadi abu-abu.
__ADS_1
Berhari-hari aku memilih diam tanpa mengatakan apapun pada keluargaku. Mereka memang mengetahuin aku pergi untuk menemui Arwan. Membicarakan masalah ini akan semakin menambah masalah untuk keluargaku.