
"Bertahanlah!" Ki Barjo memegang erat kedua tangan Yilya.
Yilya mengangguk cepat, ia tidak peduli bagaimana bisa Ki Barjo masuk ke dalam sumur begitu saja. "Tolong selamatkan Yilya, Ki!"
"Gerakan kakimu perlahan, Yilya. Tetap tenang agar situasi ini cepat berakhir."
"Aku sangat takut, Ki. Bagaimana jika aku terpeleset dan—"
"Jaga ucapanmu! Berusahalah untuk naik."
Yilya mengangguk cepat. Ia segera menggerakan kakinya dan berusaha menaiki sumur dengan bantuan dari Ki Barjo. Sampai akhirnya ia dapat selamat. Yilya mengatur napas sembari menatap keadaan sekitar. Tidak ada makhluk apapun di hadapannya. Nyai Lie dan Bu Eni sudah lenyap. Keadaan hening sangat menegangkan. Sementara itu, Ki Barjo mulai menaburkan tanah kuburan yang Yilya bawa sebelumnya ke sekitar sumur.
"Kali ini kau ceroboh, Yilya," ujar Ki Barjo. Ia menatap Yilya dengan sangat lekat.
"Maaf, Ki. Apa kesalahan Yilya?"
"Tanah kuburan ini. Kau tidak menaburkannya sebelum melakukan kejadian yang tidak boleh diketahui oleh orang lain."
"Maaf, Ki. Yilya melupakannya." Yilya menundukkan wajah, ia merasa sangat bersalah.
Beruntung Ki Barjo datang tepat waktu. Jika tidak, ia akan benar-benar kehilangan nyawa dan tetap berada dalam sumur tua seperti puluhan mayat lainnya. Yilya tak habis pikir jika sesuatu yang dianggapnya sepele, ternyata sangatlah berpengaruh besar.
"Cepat bersihkan tempat ini. Aku akan menemuimu besok pagi, ada sesuatu yang ingin kusampaikan."
Yilya mengangguk seraya berkata, "Baik, Ki. Terima kasih telah membantuku."
Ki Barjo sama sekali tidak membalas perkataan Yilya. Ia hanya tersenyum, kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu, Yilya segera membereskan kain kafan dan perlengkapan lainnya. Dengan singkat, Yilya dapat menyelesaikan semua. Ia kembali berjalan menuju kamar dan beristirahat. Namun, malam terasa sangat panjang, Yilya tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Ia mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Bu Eni benar-benar terlihat marah dan berusaha menghabisi nyawa Yilya.
***
Setelah Mas Arthur dan Nida pergi untuk sementara dari rumah, keadaan sangat menenangkan. Tidak ada pertengkaran dan perdebatan. Pagi hari, Yilya sibuk memasak makanan untuk kedua buah hatinya. Yilya mulai menyadari sesuatu, selama dirinya mencari cara untuk menyelesaikan misteri, Yilya kurang memperhatikan Kyna dan Dama. Ia terlalu sibuk, membuat kedua buah hatinya bermain tanpa kehadiran orangtua. Yilya merasa bersalah. Sembari memasukan sosis dan baso ke dalam nasi goreng buatannya, Yilya menghela napas berat.
Kejadian malam hari itu benar-benar membuat Yilya bingung dan takut. Bagaimana bisa ia menyebutkan suatu nama yang bahkan belum pernah ditemuinya? Mas Yono hanyalah warga baru. Namun, dengan teganya Yilya menyebut dan membawa masuk nama itu ke dalam kejadian besar yang menimpanya.
Yilya mempercepat gerakan, kemudian menghidangkan masakan tersebut di ruang tengah. Senyum terlontar begitu saja ketika Kyna dan Dama bersorak senang. Mereka sangat menggemaskan. Dulu, Yilya selalu menemani aktivitas mereka dari bangun dan tidur, tetapi kini tidak. Yilya benar-benar merasa bersalah.
"Asik! Bunda masak nasi goreng, ya?"
"Iya, Sayang. Kyna sama Dama makan yang banyak, ya."
"Iya, Bunda." Kyna tersenyum senang. "Oh, ya, Bun. Kyna mau ke pasar malam. Bunda mau, ya, anter Kyna ...."
"Pasar malam? Kyna mau beli apa?"
"Permen kapas. Kyna juga mau main, Bunda. Bunda anter Kyna, ya." Kyna memeluk Yilya, perlakuannya membuat batin Yilya menangis.
"Iya, Sayang. Nanti kita pergi sama-sama, ya."
__ADS_1
Kyna mengangguk. Ia segera menyantap masakan yang Yilya buat. Sementara itu, Yilya terus menyuapi Dama kecil. Mulai hari ini, Yilya harus lebih peduli. Jangan hanya karena ancaman dari mayat-mayat itu, membuat Yilya lupa akan kewajibannya sebagai seorang ibu.
Belum habis makanan kedua buah hatinya, ketukan pintu membuat Yilya bergegas membukannya. Mungkin itu Ki Barjo, semalam Ki Barjo mengatakan bahwa esok pagi dirinya akan menyampaikan sesuatu. Namun, ketika Yilya membuka pintu, seseorang yang ada di hadapannya itu bukanlah Ki Barjo. Yilya sama sekali tidak mengenalnya.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Duduklah," balas Yilya tersenyum kaku.
"Perkenalkan, saya Yono. Warga baru di sini."
Yilya terkejut bukan main. Bagaimana mungkin Mas Yono bisa datang begitu saja?
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Mas Athur dan Nida."
Apa mungkin Mas Yono ingin memberikan perhitungan untuk Mas Arthur dan Nida? Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Untung saja Mas Arthur dan Nida sedang tidak ada di rumah. Jadi, Yilya tidak terlalu repot untuk memberikan alasan lain.
"Mereka sedang tidak ada di rumah."
"Oh, begitu. Padahal saya hanya ingin berkenalan."
"Mungkin bisa lain kali."
"Baiklah. Kalau begitu, apa kau mengenalku sebelumnya?"
"Tidak, tetapi aku pernah mendengar jika kau seorang pembunuh," balas Yilya menuding.
"Terserah. Kabar bahwa kematian Bu Eni itu akibat ulahmu. Jangan bersembunyi dan—"
"Ternyata kau sangat pandai berbohong. Kita lihat nanti, anggap saja kedatanganku ini sebagai pemanasan untuk kejadian selanjutnya. Kau tak perlu tau kejadian apa yang nantinya akan menimpa keluargamu. Yang pasti, bersiaplah!"
Mas Yono berlalu pergi sembari memberikan secarik kertas bertulisan "kau dalam bahaya".
Yilya meremas kertas itu, ia bermaksud membuangnya. Namun, seketika gerakannya terhenti ketika ia mendengar suara Ki Barjo mengentikannya.
"Jangan buang kertas itu. Kau memang sedang dalam bahaya, Yilya."
"Ki ... silakan duduk," balas Yilya sembari melontarkan senyum.
"Kau sudah masuk dalam perangkap, Yilya. Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang. Ini akibatnya!"
"Ki, Yilya benar-benar bingung dengan apa yang sudah terjadi."
"Ki akan memberikan satu petunjuk lagi untukmu."
"Pentunjuk apa, Ki?"
__ADS_1
"Mengenai mayat-mayat itu. Mereka korban, mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tugasmu mencari tahu apa penyebabnya dan siapa yang menyebabkan mayat-mayat itu kehilangan nyawa."
"Apa orang itu Mas Yono, Ki?"
Ki Barjo tersenyum. Ia berkata, "Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu, Yilya. Kau belum mengenal Yono. Bagaimana mungkin bisa menuduhnya begitu saja?"
"Tapi, Ki ... Mas Yono memberikan surat ini. Itu tandanya ia mengetahui tentang sumur dan masalah yang sedang Yilya hadapi."
"Kau tahu Yono itu siapa, Yilya?"
"Tidak, Ki. Dia hanya warga baru di sini."
"Tidak sepatutnya kau mencurigai seseorang. Kecuali rasa curiga itu membuatmu berusaha mencari tahu tentang orang yang kau curigai."
"Baik, Ki. Maaf."
Ki Barjo mengangguk. "Arthur belum pulang?"
"Belum, Ki. Baru satu hari dia pergi. Mas Arthur bilang, dia ada urusah yang sangat penting.
"Kau pun mempunyai urusan yang sangat penting, Yilya. Kuberi tahu satu hal, Bu Eni akan selalu mengusik hidupmu. Ki tidak bisa terus membantumu. Ki ingin kau mampu melewati semua."
"Yilya akan berusaha, Ki."
"Baik, Ki tidak bisa mengatakan lebih dari itu. Ki pamit." Ki Barjo bergegas melangkahkan kaki pergi.
Yilya kembali berjalan menuju ruang tengah. Piring-piring yang berisi makanan itu sudah tidak ada lagi di tempat. Ternyata, Kyna sudah menyimpan kembali pada tempatnya. Kini, waktunya Yilya untuk sekedar beristirahat dan bersantai. Namun, kejadian buruk kembali menimpa. Kyna tiba-tiba mengeluarkan isi perutnya. Ia muntah begitu saja. Entah apa penyebabnya, Yilya panik dan berusaha menenangkan Kyna.
Betapa terkejut diriya saat melihat begitu banyak darah yang keluar dari mulut Kyna. Wajah Kyna pun terlihat sangat pucat. Yilya dapat melihat jelas jika Kyna benar-benar merasa kesakitan.
"Kyna! Kyna tenang, Sayang!"
Tidak ada jawaban, Kyna terus memuntahkan isi perutnya. Campuran antara makanan yang baru saja Kyna makan dengan darah tampak sangat menjijikan. Yilya segera mengambil beberapa kain lap dan wajah berukuran sedang untuk dijadikan tempat Kyna mengeluarkan semuanya.
Yilya sangat ketakutan. Samar terlihat sosok mayat perempuan yang tengah menatap kosong apa saya yang ada di hadapannya. Mayat itu berusaha mencekik Kyna sembari memasukan jemarinya ke dalam mulut Kyna. Dapat terlihat dengan jelas, sorot mata itu penuh dengan kebencian. Namun, mengapa harus Kyna? Kyna sama sekali tidak tahu apapun.
"Lepaskan! Lepas!" Yilya berusaha berseru. Ia sangat berharap jika mayat tersebut mempunyai rasa iba dan mau melepaskan Kyna.
Sementara itu, Dama memeluk boneka beruangnya dengan sangat ketakutan. Yilya sangat berharap jika Dama tidak bisa melihat sosok yang tengah mencekik Kyna. Namun, dugaannya salah. Dama justru mengajaknya berbicara!
"Tante, lepasin Kak Kyna. Kak Kyna kesakitan, Tante."
"Dama, Sayang. Jangan—"
"Nanti kita main lagi, Tante. Dama nggak mau lihat Kak Kyna kesakitan," lanjut Dama sembari meneteskan air mata.
Yilya sangat tidak menyangka, ternyata perempuan itu benar-benar menuruti perkataan Dama. Entah apa yang sebrnarnya terjadi, yang terpenting kini, Kyna tidak lagi merasa kesakitan. Setelah perempuan itu lenyap, Kyna mulai sadar dan menangis. Yilya segera memeluk Kyna, tidak peduli dengan banyaknya darah yang menempel pada tubuh dan pakaian Kyna.
__ADS_1
Dama tersenyum senang, ia berkata, "Kak Kyna, maafin, ya. Tante cuma mau ngajak Dama main, tapi, Dama nggak mau. Jadinya Kak Kyna harus kesakitan. Tante bilang, dia nggak akan ngelakuin itu lagi."
Apa yang Dama katakan?