Mayat Dalam Sumur

Mayat Dalam Sumur
episode 15


__ADS_3

“Tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu pada Kyna dan Dama.”


“Baik, Nyai, terima kasih su—”


“Urusan saya sudah selesai, tapi, jangan karena kejadian ini, dengan mudahnya kamu mempercayai makhluk lain. Mereka dapat memanfaatkan situasi.”


Perkataan Nyai Lie benar!


“Tentu saja, Nyai. Terima kasih sudah menjaga Kyna selama aku berbicara dengan makhluk itu.”


Nyai Lie tersenyum seraya mengangguk. Ia mengibaskan selendangnya, kemudian membacakan suatu kalimat yang selalu diucapkan sebelum dirinya lenyap dan masuk kembali ke dalam lukisan. Yilya sadar, pertemuan pertama dirinya bersama Nyai Lie, ia sangat terkejut dan dengan mudahnya menilai bahwa Nyai Lie merupakan sosok yang sangat mengerikan. Namun, Yilya salah mengartikan sesuatu.


Selama ini, selain Ki Barjo dan Bu Nirma, Nyai Lie selalu membantu Yilya unuk menyelesaikan semua masalah yang di hadapinya. Tanpa Nyai Lie, mungkin saja semua yang terjadi hanyalah abu-abu, tidak bisa dilewatinya dengan tepat waktu. Yilya mengulum senyum, ia bergegas menggendong Kyna dan membawanya ke dalam kamar.


Dama tengah asyik bermain lego, ia tampak begitu kaget ketika melihat Kyna tidak sadarkan diri. Dama bertanya, “Kak Kyna kenapa, Bunda?”


“Kakak nggak papa, Sayang. Dama tolong bantu bunda, ya. Dama beresin mainan Dama dulu biar Kak Kyna bisa tiduran di sini.”


Dama mengangguk, ia membereskan mainannya dengan cepat.


Yilya sangat mengerti bahwa Kyna masih kaget atas apa yang sudah dilihatnya. Ia sangat berbeda dengan adiknya. Jika Dama berani berbicara dengan makhluk aneh, maka, Kyna tidak. Gadis kecil itu hanya bisa melihat, tetapi tidak sanggup berinteraksi. Kyna akan langsung tergeletak jika tak sanggup melihat sesuatu kejadian buruk.


Dering ponsel membuat Yilya mempercepat gerakannya untuk membaringkan Kyna di atas kasur. “Dama jagain Kak Kyna, ya. Bunda mau angkat telepon dulu.”


“Iya, Bunda.”


Telepon itu ternyata dari Mas Arthur. Bisa-bisanya ia baru menghubungi Yilya saat ini? Sebelum Yilya menekan tombol hijau yang ada di layar ponsel, seketika Yilya menaruh curiga pada suaminya. Bagaimana mungkin Mas Arthur pergi bersama Nida dengan waktu yang kebetulan sama? Jika bukan karena malam itu dirinya ingin segera melakukan ritual dengan tenang, Yilya pasti sudah bertanya banyak hal pada Mas Arthur.


“Mbak! Mas Arthur kecelakaan!”


Ponsel Yilya terjatuh begitu saja ketika mendengar kabar buruk yang disampaikan oleh Nida menggunakan ponsel Mas Arthur. Apa lagi, ini? Belum cukupkah kejadian yang selama ini menimpa kepada Yilya?


Kegelisahannya mulai bertambah ketika ia kembali meraih ponsel dan mendengarkan perkataan yang terlontar oleh adik iparnya.


“Kita nggak bisa pulang dalam waktu yang singkat, Mbak. Mas Arthur harus dirawat, kalo nggak, Nida nggak mau ngambil resiko kalau sampai terjadi apa-apa sama Mas Arthur.”


“Apa yang terjadi, Nida?”


“Rumit, Mbak. Yang pasti, kita nggak bisa pulang cepat.”


Sambungan telepon diputuskan sepihak oleh Nida. Yilya menggerutu kesal, ia harus tau bagaimana kondisi suaminya. Namun, saat kembali menghubungi Mas Arthur, nomor tersebut sudah tidak dapat dihubungi lagi.


***

__ADS_1


Nomor Mas Arthur benar-benar tidak dapat dihubungi.


Yilya segera mendatangi rumah Ki Barjo untuk memberi kabar mengenai Mas Arthur. Namun, ketika ia sampai di depan rumah Ki Barjo, ternyata Ki Barjo sudah lebih dulu mengetahui kabar Mas Arthur.


Ki Barjo melontarkan senyum. “Jangan khawatirkan Arthur. Tetap tenang dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan.


“Yilya tidak bisa tenang jika keadaan Mas Arthur di luar sana sedang tidak baik, Ki. Yilya sangat khawatir.”


“Fokus terlebih dahulu ke tujuan awalmu sebelum Arthur tiba di rumah, Yilya. Jangan menyia-nyiakan kesempatan.”


“Maaf, Ki. Yilya hanya takut akan kondisi Mas Arthur. Yilya pun bingung, apa yang harus Yilya lakukan lagi?”


“Saat ini, kamu hampir sampai ke titik di mana semua masalah akan menghampiri. Semua yang akan terjadi akibat ulahmu sendiri.”


“Ulah apa, Ki? Yilya sama sekali tidak pernah melakukan apapun.”


“Sampai saat ini, apa kau tidak mengerti, Yilya? Kedua bola matamu sejatinya masih tertutup. Kau belum bisa melihat perlakuan orang lain dengan sudut pandang yang berbeda.”


“Ki ... Yilya benar-benar tidak mengerti. Yilya sangat takut jika suatu saat kejadian buruk menimpa.”


“Berhati-hatilah dengan sesuatu yang dapat membuatmu semakin tidak mengerti. Cepat atau lambat kau akan sadar jika melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja tidak cukup.”


“Baik, Ki. Yilya minta maaf.”


Ki Barjo mengangguk, ia memberikan sebuah serbuk yang ditempatkan ke dalam botol kaca. Serbuk tersebut berwarna hitam pekat dan memiliki aroma bunga melati. Yilya menerima serbuk tersebut sembari menatap Ki Barjo penuh tanya.


“Serbuk yang dapat menyadarkanmu mengenai suatu hal. Kau akan mengetahui bagaimana kegunaannya.”


“Bagaimana Yilya bisa menggunakan serbuk ini, Ki?”


“Dengan menaburkannya tepat di atas kepala sosok yang kau curigai.”


Yilya sangat bingung dengan jawaban Ki Barjo, sampai saat ini, hanya Mas Yono-lah satu-satunya sosok yang Yilya curigai akibat kertas yang Mas Yono beri. Sementara itu, Yilya masih bersikeras untuk tidak menaruh sedikitpun rasa curiga pada Mas Arthur. Yang Yilya tahu, dirinya sangat mengenal Mas Arthur, Mas Arthur tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk meski tidak bisa dipungkiri, Yilya harus berusaha melupakan kejadian pembunuhan Bu Eni. Namun, sampai saat ini, Yilya belum mengetahui mengapa Mas Arthur dapat melakukan pembunuhan itu tanpa memberikan raut wajah bersalah.


“Yilya ... jangan mudah percaya. Seseorang yang kau temui dapat saja bersembunyi di balik topeng kebaikannya.”


“Baik, Ki.”


“Serbuk ini hanya berfungsi untuk dua kali menaburkan saja. Kau harus menggunakannya untuk sesuatu yang benar-benar dicurigai.”


“Yilya sudah yakin dengan dua orang yang di maksud oleh Ki Barjo. Semoga dugaan Yilya benar, Ki.”


“Baik. Pulanglah! Kyna dan Dama membutuhkan waktumu. Jangan khawatirkan keadaan Arthur, dia baik-baik saja.”

__ADS_1


“Yilya pamit, Ki,” balasnya sembari mengangguk dan meraih lengan Ki Barjo untuk bersalaman.


Serbuk yang Yilya genggam terus ia perhatikan sembari melangkahkan kaki menuju rumah. Yilya sedikit melontarkan senyum, cincin yang Ki Barjo berikan saja sudah sangat membantunya untuk mempertahankan nyawa. Ia berharap jika serbuk ini pun dapat kembali membantunya.


Yilya menyadari suatu hal yang baru saja diucapkan oleh Ki Barjo, ia tidak perlu mengkhawatirkan Mas Arthur. Yang harusnya ia khawatirkan yaitu dirinya sendiri beserta kedua buah hatinya. Ia harus bergegas menyelesaikan semua masalah sebelum kedatangan Mas Arthur agar tidak ada kecurigaan dari suaminya.


***


“Bunda, kita jadi, kan, ke pasar malam?” tanya Kyna sembari melontarkan senyum.


“Kita istirahat aja, ya, Sayang. Pasar—”


“Tapi, tadi Bunda bilang kalau nanti malam kita ke sana. Bunda nggak lupa, kan?”


“Bunda nggak lupa, kok.”


“Ya udah kalo gitu kita pergi sekarang, Kyna mau beli permen kapas.”


Rengekan Kyna membuat Yilya menghela napas berat. Akhirnya, Yilya menyetujui keinginan buah hatinya. Ia pergi menuju pasar malam bersama Kyna dan Dama. Tidak lupa, Yilya mengajak Bu Nirma untuk menemani. Beruntung saat itu Bu Nirma mempunyai waktu luang hingga akhirnya ia dapat menemani Yilya.


Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana pasar malam itu berada, Kyna dan Dama terus berceloteh riang. Mereka saling berpegangan tangan, bahkan, setiap kali melihat sesuatu yang dapat mengundang gelak tawa, mereka semakin terlihat bahagia. Sementara itu, Yilya dan Bu Nirma hanya diam dan sesekali menimpali perkataan yang anak-anak lontarkan.


Yilya sangat merasa senang telah berteman baik dengan Bu Nirma. Bu Nirma dapat menjadi pembicara yang menyenangkan dan tidak pernah menyebarluaskan setiap perkataan yang Yilya lontarkan. Namun, entah mengapa, seketika bayangan wajah Bu Eni muncul di haapannya. Yilya kembali mengingat pertemuan awalnya dengan Bu Eni yang sangat menyebalkan.


“Bu Nirma ...,” ujar Yilya pelan, ia mulai membuka pembicaraan.


“Ada apa, Bu?”


“Saya mau tanya mengenai tuduhan pembunuhan mayat Bu Eni. Apa Mas Yono benar-benar terbukti bersalah?”


“Tidak, Yilya,” balas Bu Nirma singkat.


“Lalu, apa yang terjadi?”


“Tenang saja, warga mendapati beberapa benda aneh di sekitar sungai. Dugaan sementara, Bu Eni tenggelam ke dalam sumur dan mati di tempat. Luka dan tubuhnya yang terpotong dan hancur mengerikan itu akibat binatang buas yang ada di dalam sungai itu.”


“Binatang buas?”


“Iya. Suamimu benar-benar pandai menyembunyikan kelakuan buruknya.”


“Saya bingung, Bu Nirma ... bagaimana mungkin Mas Arthur membunuh Bu Eni?”


“Saya tidak tahu, Yilya.” Bu Nirma menimpali seraya melontarkan senyum. “Yang pasti, Arthur akan aman meski ia sudah membunuh Bu Eni. Suamimu itu memang sangatlah licik.”

__ADS_1


“Aku takut Mas Arthur dalam bahaya, Bu. Apalagi sekarang Mas Arthur lagi ada urusan. Nida sudah mengabari saya bahwa Mas Arthur kecelakaan.”


“Kecelakaan itu hanya omong kosong.


__ADS_2