Mayat Dalam Sumur

Mayat Dalam Sumur
episode 19


__ADS_3

"Jadi, selama ini Nyai Lie hanya berpura-pura?" Yilya sangat tidak percaya dengan kejadian yang sesungguhnya.


"Benar," balas Bu Nirma dengan singkat.


Selama ini, Yilya selalu mengikuti perkataan Nyai Lie, tetapi itu hanya akal-akalannya saja. Nyai Lie merupakan si pembuat perangkap. Sampai akhirnya Yilya mulai merenung. Ia berusaha untuk mengingat setiap kejadian yang dilalui bersama Nyai Lie. Tidak ada yang perlu dicurigai. Hanya saja, seketika Yilya menganggukan kepala saat ia mengingat pertemuan awal dengan Nyai Lie.


Si penari—Nyai Lie—yang muncul dari dalam lukisan itu tampak menggila dan marah besar. Ia menggeliat seperti orang kesetanan. Bahkan, Nyai Lie sempat membentak Yilya untuk mengeluarkan amarahnya. Bentakan itulah, yang membuat Yilya mulai saat ini, mengerti. Jika ternyata, Nyai Lie telah menutupi sesuatu.


"Dasar licik!"


Tidak ada sahutan apapun. Bu Nirma hanya terdiam meski Yilya terus membicarakan Nyai Lie. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Bu Nirma hanya menanggapi perkataan Yilya dengan raut wajah.


"Sekarang saya sudah tahu, Bu Nirma. Nyai Lie itu sebenarnya busuk. Untung saja Ki Barjo selalu memperingati saya. Ki Barjo juga memberikan saya serbuk."


"Serbuk itu memang Bu Yilya butuhkan," ujar Bu Nirma, akhirnya membuka suara.


"Kalau begitu, kenapa Ki Barjo tidak memberikan serbuk itu dari dulu?"


"Untuk melatih kepekaan Bu Yilya. Ternyata, justru semua itu hanya memperlambat penyelidikan. Bu Yilya sangat mudah terpengaruh dengan perkataan Nyai Lie."


"Saya tidak dapat menyadarinya, Bu. Bagaimana dengan masalah lain jika saat ini saja saya tidak mampu?"


"Bu Yilya pasti bisa. Yang perlu Ibu lakukan hanyalah tetap bersikap tenang dan belajar dari kesalahan."


Yilya mengangguk. Seketika dirinya memikirnya sosok tante yang selalu mengajak Dama bermain. Apa mungkin wanita itu mempunyai sifat yang jahat seperti Nyai Lie? Terutama ketika Yilya menyadari bahwa Nyai Lie-lah yang mengenalkannya. Bisa jadi, jika ternyata wanita itu merupakan suruan Nyai Lie. Ini tidak dapat dibiarkan!


"Dama!" seru Yilya seketika.


"Bocah itu pasti sedang bermain dengan Kyna," ujar Bu Nirma menimpali.


"Tidak mungkin. Saya harus bagaimana, Bu Nirma? Dama pasti dalam bahaya sekarang! Bodoh sekali saya meninggalkannya meski hanya sebentar." Yilya merasa bersalah ketika menyadari bahwa ia meninggalkan buah hatinya demi mengunjungi rumah Bu Nirma.


"Tenang, Bu. Jarak rumah Bu Yilya dari sini hanya beberapa langkah saja." Bu Nirma tetap bersikap biasa saja. Seolah mengetahui sesuatu.


"Tidak. Saya harus pulang, Bu. Firasat saya tidak enak. Saya takut Dama berada dalam bahaya."


Bu Nirma tersenyum tenang. "Silakan, Bu. Kabari saya jika terjadi sesuatu."

__ADS_1


Tanpa menunggu apapun, Yilya mempercepat langkahnya menuju rumah. Ia tidak menyangka jika obrolan antara dirinya dengan Bu Nirma semakin panjang. Padahal, Yilya hanya mampir ke rumah Bu Nirma untuk mengambil beberapa tomat hijau karena dirinya kehabisan tomat hijau ketika membeli sayur. Namun, seperti biasa, Bu Nirma sudah mengetahui kejadian yang Yilya alami. Dengan begitu, Yilya selalu membuka suara dan menceritakan banyak hal.


Kecemasan Yilya akhirnya mereda ketika melihat Dama dalam keadaan baik-baik saja. Bersama sang Kakak, tubuh kecilnya menaiki tumpukan kasur dan bantal. Dama dan Kyna terlihat sangat senang. Namun, seketika pandangan Yilya kerkunci pada wajah Kyna. Gadis kecil itu tampak sangat pucat. Dari pagi hari, Kyna mulai menunjukan bahwa dirinya sedang tidak enak badan.


Kyna terlihat sangat lemas, tetapi ia tetap berusaha menemani adik kecilnya bermain. Sesuatu yang terjadi pada Kyna terasa sangat mendadak. Beberapa hari yang lalu, Kyna bahkan tidak menunjukan tanda apapun.


"Bunda udah pulang?" tanya Kyna berusaha menyapa Yilya. Kyna melontarkan senyum sembari membenarkan posisi duduk.


"Udah, Sayang. Kyna masih pusing?"


"Nggak, Bun. Kyna haus."


Yilya segera mengambilkan segelas air mineral untuk buah hatinya. "Sore ini kita ke dokter, ya, Sayang. Kalau Kyna pusing, Kyna bilang sama bunda."


"Kyna nggak pusing, Bun. Kyna mau main sama Dama, ya."


"Istirahat aja, yuk. Kyna pucet banget, Nak. Bunda nggak mau ada sesuatu yang terjadi," kata Yilya berusaha membujuk.


"Kyna nggak ... wuek!"


Tiba-tiba, Yilya dikejutkan dengan muntah darah yang dialami oleh putri kecilnya. Kyna mengeluarkan darah segar. Namun, tidak hanya itu, sesuatu yang keluar dari mulut mungil Kyna tampat sangat menjijikan!


"Kyna, tenang, Sayang!" seru Yilya sembari menggenggam jemari buah hatinya.


"Bunda, di mulut Kak Kyna banyak ...." Seketika Dama tak sadarkan diri sebelum ia sempat menyelesaikan bicara.


Bau busuk memenuhi ruangan. Bau itu seperti kotoran manusia. Padahal, muntah yang dikeluarkan oleh Kyna tidak lain hanyalah ulat-ulat kecil.


"Oh, Tidak!" Yilya mulai semakin panik.


Darah yang keluar dari mulut Kyna seketika bertambah banyak. Entah apa yang sedang terjadi, ulat-ulat itu pun menjadi lebih besar. Meski Yilya merasa jijik, Kyna lebih penting!


Puncaknya ketika muncul sesuatu yang mengganjal dari dalam mulut Kyna. Hal tersebut membuat darah yang keluar dari mulut Kyna terhalangi. Sekilas Yilya melihat ke dalam mulut Kyna, sesuatu yang mengganjal itu tampak seperti daging.


"Kyna, Sayang. Kyna coba batuk sekarang, Nak! Jangan ditahan."


Kyna menggeleng, ia memberikan tanda kepada ibunya bahwa dirinya tidak dapat melakukan hal tersebut. Kyna merasa sangat kesakitan. Melihat Kyna hampir saja menyerah, Yilya segera mengambil tindakan. Ia menepuk-nepuk pundak Kyna, berusaha untuk membuat sesuatu yang ada di dalam mulut Kyna dapat keluar. Namun, usahanya sia-sia. Sampai akhirnya, Yilya terpaksa untuk mamasukan beberapa jemarinya ke dalam mulut Kyna, kemudian mencongkelnya dengan perlahan.

__ADS_1


Beruntung, Yilya tidak terlambat. Ternyata, sesuatu yang ada di dalam mulut Kyna itu merupakan usus manusia. Meski sudah dapat sedikit keluar, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Yilya harus menarik paksa agar panjangnya usus tersebut dapat keluar dari mulut Kyna.


"Akhirnya ...," ujar Yilya sembari menghirup napas lega ketika usus tersebut dapat keluar semua.


Seketika Kyna tidak sadarkan diri.


"Kita awali perang dengan kejadian ini, Yilya. Kau sudah siap?"


Yilya menoleh ke asal suara. Ternyata, perempuan itu kembali membuat masalah. Tanpa berpikir panjang Yilya berteriak, "HABISI AKU, TAPI TIDAK DENGAN ANAKKU!"


Sungguh, Yilya merasa bahwa makhluk-makhluk itu hanya ingin mempermainkan dirinya. Mereka selalu mengusik dan membuat perangkap untuk Yilya. Sampai akhirnya, keburukan-keburukan itu mulai terbongkar.


"Tentu saja itu yang aku inginkan!" bentak perempuan itu seraya tertawa mengerikan.


Keadaan rumah seketika sunyi, gelap, dan terasa sangat mengganjal. Rupanya, semua ini ulah perempuan itu. Dari awal pertemuan dengannya, perempuan itu sangat menginginkan Yilya mati. Mungin ini saatnya untuk ia berusaha membuat keinginannya menjadi nyata. Namun, mengapa harus Kyna? Apakah perempuan itu salah sasaran?


"Satu hal, Yilya. Sepertinya aku lebih menyukai anakmu. Dia lugu dan dapat melihatku berubah wujud. Maka ...." Perempuan itu berusaha menggantung ucapannya.


"Aku ingin membuatnya mati," lanjut perempuan itu diiringi dengan sorot mata tajam Yilya.


"Tidak semudah itu! Aku ibunya! Aku akan melakukan apapun untuk tetap membuat buah hatiku tumbuh dan berada di dunia ini!"


"Anggap saja itu sebuah impian yang hanya menjadi omong kosong. Kita lihat nanti. Aku tidak segan-segan untuk membuat hidupmu menderita. Mungkin, dengan membunuh Kyna, kau akan lebih tunduk kepadaku. Hahaha!"


"Mustahil!" seru Yilya membalas ucapannya.


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Bersiaplah atas kematian putrimu!"


"Tid—"


"BERSIAPLAH!"


Oh, tidak! Itu suara Nyai Lie. Ia tampak sangat mengerikan. Giginya bertaring, riasan di wajahnya pun sama sekali tidak mencerminkan Nyai Lie yang dulu—sangat ramah.


"Nyai ...," lirih Yilya sembari meremas ujung baju.


"Kau dalam bahaya setelah ini! Akan kupastikan jika hidupmu semakin dipenuhi tanda tanya."

__ADS_1


"Kau menyimpan dendam, Nyai?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja.


"Tentu. Mulai detik ini, akan kukirimkan puluhan mayat untuk mengganggu kehidupanmu!"


__ADS_2