
“Dama, Sayang?” ujar Yilya sembari melontarkan tatapan penuh tanya.
Dama menggeleng cepat. “Tante itu nggak jahat, Bunda. Dia sering ajak Dama main. Kalau Kak Kyna lagi bobo, Tante suka usap kepala Kak Kyna. Katanya, tante juga sayang sama Kak Kyna.”
Ya Tuhan! Apalagi ini?
“Dama, mulai sekarang Dama jangan main sama Tante lagi, ya, Sayang. Dama main sama Kak Kyna aja.”
“Nggak mau, Bunda. Tante bilang, Tante mau ajak Dama beli boneka. Jadi—”
“Kita beli boneka sekarang, Sayang! Kalau Dama mau, kita pergi sekarang. Dama jangan—”
“Bunda sama Kak Kyna sama aja! Dama mau main sama Tante,” ujar Dama sebal.
Yilya menghela napas sembari mengelus pucuk kepala Dama, ia berharap bocah itu dapat memahami arti larangannya meski usia Dama masih sangat kecil. Kain lap yang ada di dekat sisa muntah darah Kyna segera Yilya ambil dan kembali dibersihkan.
Kyna harus mandi karena tubuh dan bajunya sangat terlihat menjijikan akibat sisa muntah darah. Yilya segera menimba air dari dalam sumur. Namun, Kyna meminta kepada ibunya untuk mandi di dekat sumur saja. Awalnya, Yilya sedikit khawatir akan kejadian buruk yang dapat saja terjadi, tatapi Kyna tetap bersikeras.
“Boleh, ya, Bunda?”
“Sayang ... Kyna tau sendiri, kan, kenapa—”
“Tapi Bunda bisa tunggu Kyna di sini!” seru Kyna cepat.
“Sayang, tadi—”
“Bunda ... boleh, ya? Kyna janji Kyna nggak akan deket-deket sumur. Kyna lebih suka mandi di sini, Bunda. Air dalam sumur seger banget.”
Senyum yang Kyna lontarkan membuat Yilya seketika menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Ia kembali mengingat pada saat pertama kali dirinya melihat puluhan mayat tergeletak di sekitar sumur. Bahkan, air sumur yang dikataan Kyna menyegarkan, tidak lain tampak sangat menjijikan. Yilya menggeleng cepat, ia berusaha untuk melupakan kejadiaan itu untuk agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Kyna segera mengganti pakaiannya menggunakan samping bermotif batik. Ia terlihat sangat menggemaskan, bak seorang bidadari yang tengah mandi di tepi sungai. Entah mengapa, Yilya sangat tidak tenang melihat puri kecilnya. Ia segera menimba air kembali ketika melihat ember milik Kyna perlahan mulai berkurang isinya. Sorot matanya pun tidak henti melihat sekeliling, bersiap untuk kejadian yanng mungkin saja dapat terjadi.
Yilya menundukan kepala sembari memegang air sumur yang berada di dalam ember. Menyentuhnya secara perlahan, air itu sama sekali tidak menampakan sesuatu yang berbeda. Kejernihannya pun tidak bisa dipungkiri. Sementara itu, Kyna tampak sangat senang. Gadis kecil itu membuat sebuah gelembung dari sabun, seperti tidak pernah terjadi hal buruk sebelumnya. Padahal, kejadian yang baru saja terjadi tentu dapat membuatnya kehilangan nyawa.
“Sayang, sabunan yang bersih, ya.”
“Iya, Bunda. Abis ini, Bunda masak, ya? Kyna lapar lagi, Bunda.”
__ADS_1
Yilya tertawa singat, kemudian mengangguk cepat. Ia membantu putri kecilnya untuk segera menyelesaikan kegiatannya agar lebih cepat meninggalkan sumur tua ini. Yilya tidak boleh terlalu lama berada di sumur ini, terutama Kyna. Sampai akhirnya, Yilya dan Kyna kembali berjalan menuju ruang tengah. Namun, tiba-tiba Kyna tidak sadarkan diri ketika melihat sesuatu.
“Kyna! Sayang, bangun. Kyna kenapa, Nak?” Yilya tampak sangat cemas ketika melihat Kyna terkapar begitu saja.
Yilya mengalihkan pandangan sembari memeluk erat tubuh Kyna. Gawat!
“Dama ....”
Sesosok makhluk aneh yang sangat mengenaskan tengah duduk memangku Dama. Tampak dengan jelas jika Dama sangat senang dan tidak merasa takut sedikitpun meski kondisi makhluk itu sangat hancur dan menjijikan. Tangannya penuh dengan ulat kecil dan beberapa serangga lain. Bau busuk pun tidak dapat dihindari meski jarak antara tempat Yilya memandang terbilang tidak terlalu dekat.
Sementara itu, Dama sama sekali tidak memberikan reaksi. Ia terus tertawa atas lelucon yang makhluk itu berikan. Yilya kembali memeluk Kyna dengan sangat erat, khawatir jika kejadian hari ini dapat membuat situasi menjadi kacau dan ia kehilangan kedua buah hatinya. Ini tidak bisa dibiarkan terjadi!
“Nyai Lie, bantu saya ...,” lirih Yilya sembari menunduk lesu.
Yilya tentu saja sangat merasa capek dan menyudahi semua teka-teki ini. Namun, ia belum bisa mengetahui semuanya. Setelah Yilya berucap lirih, Nyai Lie seketika muncul, seolah dirinya merasa terpanggil, Nyai Lie mengibaskan selendangnnya seraya tersenyum penuh arti. Ia menunjuk Dama dan makhluk aneh itu.
“Tenang saja, Yilya, wanita itu hanya kesepian. Dia tidak mempunyai maksud buruk pada Dama.”
“Tapi ... aku takut, Nyai. Aku—”
“Nyai, dengarkan saya! Kyna hampir saja kehilangan nyawa karena makhluk sebelumnya. Saya tidak mau—”
“Percaya padaku, Yilya. Jika tidak, kau bisa ajak makhluk itu bicara, lalu temukan jawaban dari setiap pertanyaanmu. Tidak perlu takut, aku akan menjaga Kyna sampai kau selesai mengajaknya berbicara.
Yilya menghela napas berat. Ia menuruti perkataan Nyai Lie, kemudian berjalan mendekat Dama dan sosok yang selalu disebut “Tante”.
“Permisi ....” Yilya tersenyum canggung.
Dama tampak senang ketika melihat Yilya duduk di sampingnya tanpa memberikan reaksi apapun. Sementara itu, makhluk itu seketika menunduk. Sorot matanya penuh penyesalan. Keadaan mulai hening seketika, Nyai Lie hanya menatap Yilya tanpa memberikan suatu arahan.
“Dama, Sayang, Dama lagi apa?” tanya Yilya sembari mengusap lembut pucuk kepala buah hatinya.
Yilya berusaha menahan bau busuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Meski tubuh Yilya mulai gemetar hebat, ia bersikeras untuk menahan semua. Melihat keadaan Dama yang baik-baik saja, mampu membuat rasa gundahnya sedikit terobati.
“Dama lagi main sama Tante.” Dama tersenyum senang. “Tante, kenalin, ini Bundanya Dama.”
“Panggil saja Tante, seperti panggilan kesukaan Dama kepada saya.”
__ADS_1
Yilya mengangguk cepat, ia mulai memperbaiki posisi duduk, kemudian berkata, “Saya Yil—”
“Saya sudah mengenal kamu sejak lama. Tolong biarkan saya bermain dengan Dama, saya tidak akan melukai hati dan fisiknya. Hanya kamu, Kyna dan Dama yang dapat melihat saya. Sementara itu, hanya Dama-lah yang mau berteman dengan saya.”
“Maaf, saya tidak tahu, Tante,” balas Yilya sembari memaksakan senyum.
“Jangan khawatir, Yilya. Saya juga ingin meminta maaf atas perlakuan buruk yang terjadi pada Kyna. Saya hanya ingin memiliki teman ....”
“Saya tidak akan melarang Tante untuk berteman dengan Dama, tapi ... tolong jaga mereka, Tante. Saya—”
“Saya tahu masalah besar yang sedang kamu hadapi, Yilya.” Makhluk itu mulai mengangkat kepalanya sembari melontarkan tatapan yang sangat aneh. “Dama, Tante mau ngobrol sama Bunda. Dama main di dalam kamar dulu, ya.”
Makhluk itu menyuruh Dama untuk pergi agar dapat berbicara lebih luas dengan Yilya. Dari dekat pintu, Nyai Lie mulai melontarkan senyum.
“Saya ini korban, Yilya. Sama seperti puluhan mayat lainnya.”
“Lalu, mengapa Tante ingin berteman dengan Dama? Sementara itu, puluhan mayat lain berusaha dengan keras untuk menyakiti keluarga saya.”
“Dulu, saya juga seorang ibu, Yilya. Saya merasakan betul bagaimana rasanya ada di posisi kamu. Saya sangat mencintai anak-anak. Namun, takdir buruk membuat mereka kehilangan saya.”
Tetes air mata membasahi wajah makhluk itu, meski tampak hancur dan menjijikan, sinar kasih dan sayangnya sama sekali tidak terlepas begitu saja. Yilya mulai benar-benar merasakan ketulusan darinya.
“Sejak kehadiran kamu di rumah ini, saya selalu memperhatikan Dama dan Kyna, tapi, hanya Dama-lah yang berhasil menerima wajah buruk rupa saya. Dama anak yang baik, pintar dan sangat menggemaskan.”
“Maaf, saya sudah salah menilai Tante.”
“Tidak, wajar kamu cemas dan takut terjadi hal buruk karena luka dan keadaan fisik saya sangat menjijikan.”
“Saya tidak bermaksud untuk—”
“Terima kasih atas percakapan singkat ini, Yilya! Saya sangat senang, tapi, saya harus kembali masuk ke dalam sumur. Tempat saya tinggal jauh di dasar sana, tetapi hal hal tersebut tidak meruntuhkan semangat saya untuk selalu bertemu Dama meski terkadang bocah itu tidak mau menemani saya.”
“Tante ini orang baik, jangan merasa sendiri. Kita bisa berteman,” ujar Yilya sembari tersenyum tulus.
Makhluk itu mengangguk, kemudian melayang pergi menuju sumur. Yilya berjalan mengejarnya, melewati Nyai Lie yang masih duduk terdiam bersama Kyna. Kedua bola matanya kembali melihat sosok mengerikan lainnya masuk ke dalam sumur. Perlahan tapi pasti, sosok itu mulai tenggelam bak tertelan dalam sumur.
Yilya kembali berjalan menghampiri Nyai Lie, ia berkata, “Aku merasakannya, Nyai ....”
__ADS_1