Mayat Dalam Sumur

Mayat Dalam Sumur
episode 9


__ADS_3

Dari sudut pandang Mas Arthur.


***


"Hei! Kalian berdua lagi ap ... MAYAT!"


Bu Eni berteriak kencang ketika melihat seseorang memotong dengan buas mayat perempuan di bawah pohon besar. Mayat tersebut dalam keadaan yang sangat buruk.


Seseorang itu ialah Mas Arthur dan Nida. Mereka tertangkap basah oleh Bu Eni tengah melancarkan aksinya di tempat yang sangat sepi. Saat itu, kebetulan Bu Eni sedang melintas, hingga akhirnya ia mencium bau darah yang sangat menyengat.


"Udah aku bilang, tempat ini nggak aman," bisik Nida sembari menghentikan gerakan.


Dengan sigap, Mas Athur segera memegangi tubuh Bu Eni agar perempuan bertubuh gempal itu tidak lari dan membuat semuanya kacau. Bahkan, Nida tidak tinggal diam. Ia langsung mengambil sebuah tali dan berusaha mengikat Bu Eni tepat pada pohon. Namun, tidak mudah bagi Mas Athur dan Nida untuk mengikat tubuh Bu Eni yang sangat berisi.


"Lepas!" Bu Eni tampak sangat ketakutan.


"Diam atau mau kubunuh?"


"Aku sama sekali nggak nyangka kalau kamu itu seorang psychopath, Arthur!" Seruan Bu Eni membuat Mas Athur kalap dan menampar perempuan itu dengan sangat kencang.


"Lepaskan aku! Aku akan memberitahu semua orang tentang perlakuanmu!"


"Perlakuan apa maksudmu? Tidak usah mengusik hidupku!"


"Tidak bisa kubayangkan jika Yilya mempunyai suami yang ternyata seorang pembunuh berdarah dingin. Apa kau sadar, Athur? Hal yang kau lakukan ini tampak menjijikan!"


"Mulutmu lebih menjijikan! Kau pikir, aku tak tahu jika selama ini kau selalu--"


"Ikut campur dengan urusan keluargamu? Oh, tidak. Jangan bodoh, aku hanya memperingati istrimu ketika kudengar bahwa ia ingin membeli kemenyan. Untuk apa? Pesugihan? Atau mungkin, dia pun seorang psychopath sepertimu!"


Jleb!


Mas Arthur menancapkan pisau tepat di perut Bu Eni sampai menyebabkan sorot mata Bu Eni tampak sangat kesakitan. Ia tak lagi mampu berucap meski dapat terlihat dengan jelas dari bibirnya bahwa ia ingin mengucapkan sesuatu.


"Aku bisa membunuh kapan saja! Sampai akhirnya, mulutmu sendiri yang membawamu kedalam jerat kematian. Nikmatilah masa sekarat itu, Bu Eni yang terhormat."


"Jangan lupa, nikmati pula waktu bernapasmu. Setelah ini, kau harus menerima kematianmu."

__ADS_1


Mulut Bu Eni terbuka lebar, ia berusaha untuk menghirup napas. Namun, darah dari perutnya terus keluar begitu saja. Mas Arthur sama sekali tidak berpikir panjang mengenai pembunuhan malam hari itu.


"Cepat kemasi barang-barang. Kita harus segera pulang sebelum Yilya curiga."


"Calon mayat ini bagaimana?" tanya Nida seraya menunjuk Bu Eni yang tampak kesakitan.


"Bawa pulang saja. Kita habisi dalam sumur."


Nida menganguk. Dengan cepat, ia membacakan suatu kata yang menjadi tameng untuk dirinya bersembunyi—mantra. Tanpa menunggu waktu lama, Bu Eni menghembuskan napas terakhir di bawah pohon tersebut. Sampai akhirnya, Mas Athur dan Nida pulang sembari membawa plastik hitam yang berisikan beberapa makanan ringan agar Yilya tidak mencurigainya. Sementara itu, mayat Bu Eni berada dalam gendongan Mas Arhur untuk dihabisi nanti.


Mas Arthur sama sekali tidak melihat istrinya menunjukan tanda-tanda kecurigaan. Ia segera berjalan menuju sumur untuk meletakan mayat Bu Eni. Sementara itu, Nida memberikan plastik berisi makanan ringan untuk dua ponakannya. Mereka berdua—Mas Athur dan Nida—sangat mampu menyembunyikan hal yang sebenarnya sangatlah buruk.


"Kyna, tidur yuk!" Suara Yilya terdengar sangat lembut.


"Sebentar lagi, Bunda."


"Ayo, Say—"


"Kyna nurut sama Bunda, ya. Udah malem," ujar Mas Arthur memotong ucapan Yilya. Sementara itu, Kyna segera mengangguk.


Mas Arthur tersenyum licik ketika melihat istrinya berjalan masuk ke dalam kamar. Ia melirik ke arah Nida yang juga tersenyum penuh arti.


"Oh, ya, aku baru inget kalau tadi pagi, Dama hampir masuk ke dalam sumur akibat kelalaian Yilya. Itu bisa jadi salah satu cara buat kamu marah-marah dan suruh dia tidur."


"Anak aku hampir masuk ke dalam sumur?" Mas Arthur tampak sangat tidak percaya.


"Iya! Aku rasa, ada sesuatu yang Yilya lakuin. Nggak mungkin, kan, tiba-tiba Dama masuk ke dalam sumur."


Mas Arthur mengangguk. Tidak lama kemudian, Yilya kembali sembari menyuruh Mas Arthur untuk segera tidur. Sementara itu, Nida segera memulai drama mengadu antara Yilya dan Mas Arthur sampai akhirnya Yilya benar-benar merasa kecewa dan memasuki kamar untuk menuruti perkataan suaminya agar segera tidur.


Selang beberapa lama, Nida berkata, "Aku udah nggak sabar buat habisin nyawa perempuan itu!"


"Jangan terburu-buru, Nida! Dia masih istriku. Lagi pula, cepat atau lambat pun Yilya akan tetap mati."


"Sebelum semua rahasia yang kita tutup rapat-rapat ini terbongkar, kenapa kita nggak habisi saja dia?"


"Kita punya ratusan cara yang lebih licik. Untuk saat ini, kita urus saja mayat Bu Eni. Aku sudah muak dengan perlakuannya."

__ADS_1


Percakapan itu berakhir ketika mereka segera bergegas mengambil peralatan untuk memutilasi mayat Bu Eni. Mas Arthur merasa, tubuh gempal tetangganya itu sedikit sulit untuk dipotong jika menggunakan pisau biasa. Sementara itu, Nida dan Mas Arthur tentu saja mempunya pisau khusus untuk melancarkan aksinya.


"Bodoh sekali! Berikan pisau yang biasa aku gunakan, Nida! " seru Mas Arthur geram.


"Maaf, aku keliru."


"Kekeliruanmu dapat membuat hasrat ingin membunuhku ini timbul."


"Seorang pembunuh memang seperti itu. Sangat sensitif jika merasa kesal. Namun, pernahkah berpikir untuk menghabisi istrimu?"


Mas Arthur menggeleng cepat. "Untuk saat ini sepertinya tidak. Dia terlalu cantik dan aku masih ingin bersenang-senang dengannya sampai kematian itu tiba."


"Aku sudah tidak sabar menunggu hari kematian itu."


Mas Arthur tersenyum simpul seraya membacakan sesuatu agar tameng yang ada pada mayat Bu Eni terbuka. Mayat Bu Eni tidak boleh memiliki batas antara dunia dan sesuatu yang tidak dapat terlihat agar raganya dapat dipotong dan mendapatkan perlakuan lain.


"Sebelum memotong asal mayat perempuan gempal ini, aku mau meninggalkan jelak." Mas Arthur menuliskan namanya tepat di bagian bekas tusukan.


"Jangan seperti itu. Kamu bisa membuat mayat itu kesakitan."


"Tidak apa, membunuhnya pun sudah membuat aku bahagia, Nida. Sakit atau tidak, itu resikonya jika ia ingin bermain denganku!" Pisau tertancap dengan sempurna tepat pada dahi mayat Bu Eni.


Darah bercucuran dengan sangat deras. Mas Athur dan Nida sama sekali tidak peduli dengan hal yang ia lakukan. Yang pasti, mereka merasakan kenikmatan yang begitu besar jika melihat darah korban akibat perbuatannya itu bercucuran. Bahkan, Mas Arthur sangat tidak memiliki empati. Ia merobek paksa cangkang kepala mayat Bu Eni sampai isi kepala tersebut jatuh berserakan.


Jemari Mas Athur yang salah satu memegang pisau itu segera menancapkan tepat di otak yang sudah tidak tersusun dengan bagian lainnya. Kini, mayat Bu Eni terihat sangat mengerikan. Mas Athur dan Nida terus melakukan hal mengerikan lainnya sampai tubuh Bu Eni benar-benar hancur tak tersisa. Namun, ketika Nida berjalan menuju pintu belakang untuk mengambil beberapa lap, Nida merasa curiga jika ada orang lain yang sedang memperhatikan pergerakannya.


Ketika jemari Nida akan segera membuka pintu belakang tersebut, Mas Arthur kembali memanggilnya. "Nida! Tolong bantu patahkan tulang tangan ini dulu!"


"Tapi, aku mau ambil lap."


"Selesaikan ini dulu, kamu bisa mengambil lap nanti."


"I—"


"Aduh!" Terdengar suara perempuan lain ketika Nida hendak mengatakan sesuatu.


"Jangan bilang ada seseorang yang lihat aksi kita lagi," bisik Nida sebelum membalikan tubuh.

__ADS_1


"Jangan-jangan, orang itu ...."


__ADS_2