Mayat Dalam Sumur

Mayat Dalam Sumur
episode 18


__ADS_3

Ki Barjo tampak sangat tenang ketika Mas Arthur menghabisi banyak nyawa dengan perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Membunuh tanpa megasihi, memukul tanpa peduli, serta menghancurkan tubuh-tubuh itu tanpa alasan. Mas Arthur hanya ingin mendapatkan kesenangan. Mendengar jerit korban itu merupakan candu baginya. Tiada sedikit rasa iba. Yang ia lakukan demi kepuasannya semata.


Seseorang yang memiliki perlakuan buruk tentu saja akan berdampak bagi orang lain dan berpotensi untuk mengikuti jejaknya. Topeng yang ia kenakan hanyalah palsu. Yang ia inginkan, banyak orang yang mau melangkah bersamanya. Namun, langkah itu akan membawa orang lain ke ambang kehancuran.


“Gimana? Sepertinya kamu sudah pandai membuat korban-korban itu tertunduk.”


“Ah, itu mudah. Apalagi, kamu lihat wajah ini, Barjo! Tampan, bukan?”


Ki Barjo tertawa sembari menujukan raut wajah meledek. Ia menjulurkan lidah, kemudian berkata, “Tidak ada yang lebih tampan dariku.”


“Baikklah, Barjo. Terserah apa maumu. Aku sedikit merasa cemas. Bagaimana jika orang lain mengetahui perbuatan kita?”


“Jangan pikirkan sesuatu yang hanya akan membuat pertanyaan di kepalamu itu muncul. Tetap bersikap tenang.”


“Apakah kita seorang pembunuh?”


Tawa Ki Barjo seketika memudar. Mereka memang seorang pembunuh!


"Minumlah darah ini untuk membuat pikiranmu lebih tenang."


Meski kejiwaan Mas Arthur sangat terganggu, sisi baik yang dimilikinya terkadang muncul dan membuat rasa bersalah mulai menghampiri. Namun, Mas Arthur sudah menentukan pilihan. Ia lebih memilih tetap bersama Ki Barjo dan melakukan kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya.


“Kau benar! Kita sangat jahat, Arthur.”


“Lebih tepatnya, kita berhati seperti iblis.”


“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”


“Aku ... tetap membunuh!”


“Sialan,” balas Ki Barjo sembari memukul kepala Mas Arthur menggunakan koran.


Mereka tertawa bersama, seolah dunia yang mereka pijaki tiada beban. Kesadaran mereka hanyalah angin lalu. Kini, yang tertanam dalam diri, tak lain ialah menghabisi nyawa manusia. Dengan begitu, Mas Arthur benar-benar masuk ke dalam perangkap kejahatan. Hidupnya berubah, gelap, dan tidak dapat terkendali.


Ki Barjo mulai mengajari Mas Arthur perihal sesuatu yang mampu membuat batin kecil seseorang menangis. Ia mengajak Mas Arthur menuju ruang bawah tanah. Tempat itu sekilas tampak seperti gudang tua yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Namun, gudang tua itu ternyata tempat pemenggalan mayat-mayat manusia. Mereka dibunuh dengan cara yang amat keji.


Ketika pertama kali Mas Arthur menginjakan kaki di tempat itu, ia mendadak lemas di tempat. Jantungnya berdebar, ia dapat merasakan bahwa tempat ini merupakan neraka yang sesungguhnya. Ia melihat banyak manusia tak berdaya yang digantung dan dibiarkan membusuk. Mas Arthur sangat tidak percaya jika dirinya akan menapakan kaki ke tempat semengerikan ini. Manusia-manusia di sini diperlakukan tidak manusiawi.


"Barjo ... apa yang terjadi?"


Ki Barjo melontarkan senyum sembari merangkul Mas Athur, ia berusaha menenangkan sosok yang akan menjadi bagian dari sisi gelap yang dimilikinya. Ia berkata, "Selamat datang Arthur! Ini semua duniaku. Sekarang, kamu akan masuk ke dalamnya."


"Tunggu! Apa ... kau akan membunuhku seperti mereka?" tanya Mas Arthur. Ia memundurkan langkah kakinya sedikit demi sedikit.


"IYA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Ki Barjo berteriak sangat kencang.


Tubuh Mas Athur gemetar hebat. Ia tampak sangat ketakutan. Ekspresi wajahnya tidak jauh seperti banyaknya korban yang pernah ia habisi. Namun, seketika Ki Barjo tertawa dengan sangat renyah.

__ADS_1


"Dasar bodoh!" seru Ki Barjo seraya menepuk-nepuk bahu Mas Arthur.


"Hei! Aku sedang tidak becanda!"


"Memangnya, untuk apa aku membunuhmu? Justru, aku membawamu ke sini untuk membantuku membunuh manusia-manusia itu," ujar Ki Barjo, ia menunjuk sebuah ruangan yang berisikan manusia-manusia muda. Mereka semua perempuan!


"Membantumu membunuh? Bukankah selama ini—"


"Itu hanya pemanasan, Bodoh!"


"Oh, oke. Sekarang aku tahu kenapa kamu menghilang selama ini."


"Ini sebabnya, Arthur. Aku memiliki sisi gelap yang tidak diketahui oleh siapapun sebelum aku memberitahumu. Aku merasakan jika ini semua sebuah candaan. Mereka mampu membuatku bersenang-senang atas kehidupan yang kujalani." Ki Barjo mulai bercerita tentang hidupnya.


"Tapi, Barjo! Sejak kapan kam—"


"Aku tidak tahu sejak kapan melakukan semua ini. Yang pasti, aku merasa bahagia dengan semua yang kujalani. Ini sudah menjadi rutinitasku."


"Lalu, apa mayat mereka akan tetap berada di ruangan ini sampai membusuk?"


"Iya. Aku akan membiarkannya. Selain itu, aku juga menjual organ-organ tubuh mereka untuk menghasilkan uang."


"Astaga, Barjo! Aku tidak menyangka jika kamu sejahat ini."


"Terserah bagaimana pandanganmu. Aku melakukan ini untuk bersenang-senang. Terlebih, aku mendapatkan bonus untuk tetap bertahan hidup dengan jumlah uang yang tidak sedikit dari penghasilan menjual organ dalam manusia," tutur Ki Barjo tanpa merasa bersalah.


"Dan, sekarang kau dapat hidup dengan ratusan juta uang di tanganmu. Tidakkah kamu berpikir untuk mencari kesenangan lain?"


Ki Barjo melanjutkan bicara dan berkata, "Ayo, ikut aku. Akan kupastikan jika kesan pertamamu melakukan pembunuhan di tempat kni sangatlah menyenangkan. Jangan khawatir."


Tidak ada jawaban yang Mas Arthur lontarkan. Dirinya mulai menyadari satu hal, bahwa mulai saat ini, ia sangat yakin jika kehidupannya akan lebih mengerikan dari sebelumnya. Namun, meski begitu, Arthur tetap bersikap tenang. Ki Barjo mengajaknya menuju suatu ruangan yang sangat dipenuhi dengan darah segar. Ternyata, ruangan tersebut merupakan tempat Ki Barjo untuk menghabisi korbannya.


Terdapat banyak sekali pisau di dalam sebuah lemari tua. Pisau-pisau tersebut selalu Ki Barjo jaga untuk melancarkan aksinya. Mas Arthur memperhatikan satu persatu pisau tersebut, kemudian mengambil salah satu di antaranya yang tampak sangat tajam. Ia memberikan sebuah kode mimik wajah yang dapat diartikan jika dirinya sudah siap melancarkan aksinya. Tanpa rasa iba, Ki Barjo menyeret salah satu perempuan dari dalam ruang gelap yang menjadi tempatnya menunggu kematian.


"Ayo, ikutlah denganku nona manis," ujar Ki Barjo tanpa memberikan celah untuk perempuan itu bergerak. Ia menyeret dengan sangat berhati-hati, khawatir jika perempuan itu lolos, perempuan itu bisa saja menghancurkan segalanya.


"Cantik sekali, Barjo. Dari mana kau dapatkan perempuan ini?"


"Pesta coklat hangat di salah satu klub malam. Dia memang sangat cantik dan penurut pastinya."


"Tapi, apa aku dapat tega menghabisinya?"


Sorot mata perempuan itu penuh dengan harap ketika mendengar ucapan Mas Arthur, seolah hanya Mas Arthur-lah yang dapat menyelamatkan hidupnya. Namun, dugaannya ternyata salah.


"Tentu saja aku tega! Kemari, akan kuhabusi kau dengan perlakuan yang sangat lembut!" Mas Arthur mulai mengambil alih perempuan itu. Perlahan dirinya mulai menyayat bagian tubuh itu, membuat si pemilik tubuh mengerang kesakitan.


"Perempuan yang malang," ujar Ki Barjo sembari menuangkan air hangat yang ada di dalam termos ke dalam cangkir berwarna putih.

__ADS_1


"Kamu harus selalu ingat kejadian ini, Barjo! Ini kali pertama aku membunuh di tempat yang tidak pernah kupijaki sebelumnya."


"Baik, bagaimana perasaanmu, Arthur?"


"Ini lebih menyenangkan dari apa yang aku bayangkan!"


"Benarkah?"


"Tentu! Kau lihat, setelah kulit perempuan ini habis tersayat, aku akan memenggalnya. Kemudian, menyiapkan satu botol plastik untuk menjadi tempat darah yang mengalir dari tubuh itu dapat kusimpan rapi."


"Aku tidak yakin kamu akan menyimpannya. Bukankah kam—"


"Ah, iya, aku mengaku! Aku akan meminum darah-darah itu agar dapat merasa tenang."


"Aku bahkan lebih suka memakan daging manusia dibandingkan meminum darahnya."


"Apa?!" seru Arthur terkejut dengan ucapan Ki Barjo. Rasa terkejutnya itu membuat pisau yang ia genggam menancap tepat di leher si perempuan malang. Akhirnya, perempuan itu menghembuskan napas terakhir setelah mengalami kejadian yang sangat menyiksa.


"Kamu becanda, kan?"


"Tidak, Arthur. Aku memang menyukainya. Daging manusia terasa lebih lembut dan empuk. Bahkan, aku sering mengolah daging manusia menjadi sup."


Mas Arthur menatap Ki Barjo dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Ia berkata, "Dasar kanibal!"


"Terserah kamu bilang apa. Setelah ini, aku akan mengajakmu mengolah daging manusia."


"Untuk apa?"


"Untuk membuatmu menjadi seorang kanibal sepertiku."


"Sialan."


Mas Arthur sangat tidak menyangka, ternyata Ki Barjo menutupi banyak hal. Satu persatu di antaranya mulai ia ketahui. Namun, tidak dapat dipungkiri jika Mas Arthur harus membiasakan diri untuk tetap tenang ketika mengetahui hal lain yang ada pada diri Ki Barjo.


Kekejaman Ki Barjo dapat begitu saja Mas Arthur ikuti. Entah apa yang ada dipikiran Mas Arthur, sikapnya jauh berbalik. Ia justru melakukan sesuatu tanpa memberikan rasa iba. Yang kini ia lakukan hanyalah untuk bersenang-senang, seperti apa yang dikatakan oleh Ki Barjo.


"Kamu sudah jago memenggal, Arthur. Besok, akan kuajarkan untuk memotong bagian keras yang ada di dalam tubuh manusia."


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku tidak pernah menutupi sesuatu darimu."


"Aku sangat senang, Barjo. Terima kasih."


"Tentu. Mari, sekarang saatnya kita membereskan semua ini," ujar Ki Barjo sembari menunjuk bagian tubuh perempuan itu yang sudah tak dapat dikenali.


"Baik."

__ADS_1


"Jangan lupa, setelah ini aku akan memperlihatkan kepadamu bagaimana cara mengolah daging manusia."


"Bagaimana caranya?


__ADS_2