Mayat Dalam Sumur

Mayat Dalam Sumur
episode 20


__ADS_3

Bagai terkena petir di siang bolong, puluhan mayat berjatuhan. Entah berasal dari mana, mayat-mayat itu menghantam barang-barang milik Yilya hingga di antaranya hancur tak tersisa. Nyai Lie tidak hanya mengancam, tindakannya sama sekali tidak pernah terduga. Kondisi rumah Yilya mendadak dipenuhi dengan sesuatu yang sangat mengerikan. Mayat-mayat itu dipenuhi luka sayat, sampai dengan luka bakar. Menatap sekilas saja, Yilya sudah mengetahui jika mayat-mayat itu merupakan korban.


"Ti—tidak." Yilya meneguk ludah. Napasnya berubah tidak beraturan, melihat seisi rumah dipenuhi dengan mayat.


"Saya tidak pernah bermain-main, Yilya. Karena kau yang sudah mendahului permainan ini, silakan nikmati kesengsaraanmu!" Bentakan Nyai Lie mampu membuat nyali Yilya seketika menciut.


"Mayat-mayat ini akan selalu berada di sini! Mereka akan mengusik kehidupanmu! Berharaplah untuk tetap mampu bertahan hidup, terutama jika buah hatimu sudah sadarkan diri."


Nyai Lie benar! Bagaimana jika Kyna dan Dama sadar dan melihat puluhan mayat mengerikan berada di dalam rumah? Yilya sangat yakin jika Kyna dan Dama pasti ketakutan.


"Nyai sangat licik!" seru Yilya berusaha melawan rasa takut.


"Untuk apa Nyai Lie melakukan hal ini? Saya kira Nyai Lie itu baik. Tapi, ternyata? Semua itu palsu!" lanjut Yilya meluapkan emosi.


"Ini balasan untukmu, Yilya! Kau berkhianat!"


"Saya sama sekali tidak melakukan pengkhianatan apapun! Saya tahu, Nyai Lie sama jahatnya seperti si pembunuh mayat-mayat ini!" Nyai Lie mengambil rekaman tua, kemudian memperlihatkan rekaman ketika Mas Arthur memenggal perempuan.


"Tidak perlu memperlihatkan rekaman tersebut, Nyai. Seperti yang pernah Nyai Lie katakan dulu, saya tidak akan mudah mempercayai makhluk lain," ujar Yilya sembari melontarkan senyum meremehkan.


"Mereka dapat memanfaatkan situasi, sama seperti Nyai! Hati-hati termakan perkataan sendiri."


"Dasar—"


"Siluman!" lanjut Ki Barjo menyelesaikan perkataan Nyai Lie.


Ki Barjo datang dengan tiba-tiba. Entah dirinya masuk dari pintu mana, yang pasti, rumah kumuh ini masih tertutup rapat. Bahkan, Yilya tidak dapat membayangkan bagaimana jika tetangga dan warga mengetahui perihal mayat yang ada dalam rumah ini.


"Sang pelindung datang, hahaha." Seketika Nyai Lie melontarkan tawa yang sangat mengerikan.


"Jaga mulutmu! Kau memang siluman!"


"Baik, baik!" seru Nyai Lie menganggukan kepala berulang kali.


"Lebih baik kau pergi sebelum aku menyuruh Ar—"


"Menyuruh Arthur untuk melenyapkanku?" Pertanyaan Nyai Lie membuat Yilya terkejut bukan main.


Apa maksud perkataan tersebut? Mengapa harus nama Mas Arthur yang Nyai Lie lontarkan?

__ADS_1


"Jangan lancang! Kau mau terperangkap ke dalam lukisan itu lagi?" tanya Ki Barjo sembari menunjukan jemarinya ke arah lukisan penari yang tidak lain bahwa lukisan tersebut merupakan perangkap untuk Nyai Lie tempati.


Wajah Nyai Lie mendadak cemas. Ia merasa gelisah, terutama ketika Ki Barjo mengatakan hal tersebut. Nyai Lie sangat takut jika dirinya harus terus terkurung dalam lukisan tersebut karena selama ini, bertahun-tahun lamanya ia dikurung dalam lukisan penari tersebut karena kutukan yang dilakukan oleh Mas Arthur.


Bukan tanpa alasan Mas Arthur mengutuk Nyai Lie menjadi lukisan. Setelah Nyai Lie benar-benar terperangkap dalam lukisan itu, Mas Arthur membawa lukisan menuju ruang gelap. Keadaan sangat sepi. Lukisan Nyai Lie ditempatkan pada ruangan itu hingga puluhan tahun. Sampai akhirnya, Mas Arthur memberikan lukisan itu kepada Yilya setelah menikah. Mas Arthur mengetahui bahwa Yilya sangat menyukai lukisan penari.


Bersamaan dengan habisnya masa kutukan tersebut, Nyai Lie muncul dihadapan Yilya. Hari itu pertama kalinya Nyai Lie dan Yilya berintaksi. Namun, emosi Nyai Lie meluap begitu saja ketika pertama berinteraksi dengan Yilya. Sampai akhirnya, si penari itu membuat sebuah sandiwara.


"Jangan ... lakukan itu," ujar Nyai Lie dengan raut wajah ketakutan.


"Bukankah kamu mengetahuinya? Kuasa terbesar itu milik—"


"Milik Ki Barjo," lanjut Nyai Lie menimpali.


Yilya semakin bingung dengan pembicaraan Ki Barjo dengan Nyai Lie. Ia hanya diam, tidak melontarkan perkataan apapun. Namun, seketika Yilya mengalihkan pandangan saat melihat Kyna mulai terusik.


"Eungh ...." Kyna mulai membenarkan posisi.


"Tidak bisa dibiarkan!" Yilya segera menghampiri Yilya, berusaha menutupi suasana rumah yang tampak sangat mengerikan.


"Ini semua ulahmu, Siluman! Pergi!" bentak Ki Barjo.


"Eungh ... ada ap ... Bunda, tolong!" teriak Kyna ketika menyadari bahwa dirinya tengah melayang di atap rumah bersama sosok yang tampak sangat mengerikan.


"Kyna!" seru Yilya sangat cemas. Ia tidak habis pikir jika ternyata Nyai Lie akan melakukan hal demikian.


"Ki, tolong Kyna! Yilya takut Kyna terjadi apa-apa. Tolong, Ki ...," lirih Kyna memohon.


"Siluman itu tidak pernah berubah. Tenanglah, Yilya. Biar ini menjadi urusan Ki dengan—"


"Denganku!" lanjut Nyai Lie menimpali.


"Kembalikan Kyna! Jika tidak, aku akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari selama ini!" seru Ki Barjo berusaha membuat Nyai Lie melepaskan Kyna.


"Jika itu benar, aku juga dapat melakukan sesuatu yang lebih parah pada bocah sialan ini!" balas Nyai Lie tak mau kalah.


"Tidak perlu mencari kami, urusi saja puluhan mayat itu! Biar aku urus bocah ini," lanjut Nyai Lie memperingati.


"Jangan macam-macam, kau! Cepat lepaskan Kyna!"

__ADS_1


"Tidak semudah itu! Kesengsaraanku selama ini harus dibayar! Aku sudah muak berprilaku baik dan membuat sandiwara," ujar Nyai Lie sembari tersenyum miring.


"Jangan katakan jika kau—"


"Hanya bersandiwara! Untuk apa aku takut kepadamu? Meski kekuasaanmu lebih besar, akalku lenih licik!"


Selama ini, Nyai Lie hanya ingin keluar dari lukisan penari itu. Namun, setelahnya, Nyai Lie melakukan kamuflase untuk membantu Yilya menyelesaikan teka-teki mengenai mayat dalam sumur. Sifat aslinya sangatlah mengerikan. Untung saja Ki Barjo tidak terlambat memberikan Yilya serbuk.


"Selamat tinggal ... nyawa bocah ini tidak aman. Hahaha." Nyai Lie melengkingkan tawa.


Seketika Nyai Lie lenyap.


Air mata Yilya menetes begitu saja. Ini bahaya! Kyna dibawa pergi oleh makhluk mengerikan. Bahkan, Yilya sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ini semua akan terjadi. Seharusnya, Yilya dapat menjaga Kyna, tapi ia tak mampu. Nyai Lie tidak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar membawa Kyna.


Sekarang, ke mana Yilya harus mencari buah hatinya?


"Ki, jangan diam saja! Tolong bawa Kyna kembali! Yilya takut, Ki. Yilya nggak sanggup kehilangan Kyna ...," seru Yilya dengan suara gemetar.


"Tidak untuk saat ini, Yilya," balas Ki Barjo menundukan wajah.


"Apa maksud Ki Barjo? Ki tau, kan, Kyna itu buah hati Yilya, Ki! Yilya tidak bisa diam saja."


"Ki pasti membantumu, Yilya. Ki akan mencari cara. Ki juga tidak bisa tinggal diam. Bukankah tadi kamu sudah mendengar bahwa kekuasaan terbesar ada di tangan Ki? Untuk saat ini, kamu harus menenangkan pikiran. Jaga Dama. Jangan sampai, kamu mengabaikan Dama dan membuat semuamya bertambah rumit."


Ki Barjo benar! Yilya segera menghampiri Dama, kemudian memeluknya.


"Arthur perlu mengetahui ini. Ki akan memberitahunya nanti."


"Tapi, Ki ...."


"Kyna juga buah hati Arthur. Dia harus mengetahui. Tidak peduli jika kamu harus terlambat menyelesaikan persoalan yang ada pada rumah kumuh ini." Ki Barjo berbicara dengan sangat tenang.


"Baik, Ki, Yilya mengerti," balas Yilya menuruti perkataan Ki Barjo.


"Ki akan kembali ke rumah sekarang. Kunci semua pintu rumah, jangan biarkan siapapun masuk. Jika tidak, seluruh warga akan menaruh curiga padamu atas puluhan mayat ini."


Yilya mengangguk. Pandangannya kembali memperhatikan mayat-mayat yang tergeletak begitu saja. Batin kecilnya sangat ketakutan. Namun, Yilya harus tetap bersikap tenang, berusaha untuk memantapkan diri jika semua ini hanyalah halusinasi—meski nyatanya tidak.


"Baik, Ki. Yilya akan—"

__ADS_1


"MATI."


__ADS_2