
Sekumpulan orang yang berjumlah puluhan ribu berkumpul pada satu tempat di depan gerbang yang merupakan pintu masuk kota yang saat ini Rei tuju.
dari yang Rei rasakan melalui indranya terdapat empat pintu masuk kota yang ada, dua diantaranya dipenuhi oleh orang-orang dalam jumlah besar.
"kakek, aku lapar" eluhan seorang anak kecil berumur 7 tahun, suaranya begitu serak terdengar di telinga.
"sebentar lagi ya, kau tidurlah dulu nanti kakek bangunkan kalau kita sudah memasuki kota" kata seorang pria paruh baya, dengan wajah senyumnya dia mencoba menenangkan cucunya itu.
Anak itu hanya menurut, dia berusaha mencoba untuk tidur didalam sebuah gerobak dengan suara perut yang kadang berbunyi, melihat keadaan cucunya yang sangat kelaparan itu membuat si kakek jadi sedih.
karena tak memiliki uang kakek itu hanya berharap, nanti ketika dia sudah berada di kota, dia bisa menjual sesuatu untuk mendapatkan uang dan makanan guna mengisi perut mereka.
dia bahkan berharap akan ada seorang dermawan yang mau memberi dia dan cucunya sedikit makanan.
Sebelumnya, si kakek dan para warga yang lainnya mendengar berita bahwa mereka harus pergi mengungsi.
Berita mengenai munculnya gerbang Monster terdengar di siaran radio, membuat orang-orang dari kota dan desa tetangga mengungsi ke kota yang ingin dimasuki kakek dan cucunya ini.
namun, masih banyak orang yang enggan untuk pergi mengungsi. mereka percaya bahwa tidak akan terjadi apa-apa, karena jarak gerbang Monster yang jauh dari tempat tinggal mereka.
kakek itu hanya seorang pengrajin keramik sederhana, namun dari pagi dia belum menjual apapun sehingga dia hanya membawa bekal seadanya saat melakukan perjalanan.
"permisi pak tua" kakek itu menoleh kebelakang, untuk sesaat Dia terkejut ketika melihat orang yang memanggilnya.
"iy..iya tuan ada apa?" dia berusaha menjawab dengan sikap merendah, dia takut menyinggung orang yang ada di hadapannya.
"berikan ini kepada cucumu, dia yang terlihat sangat kelaparan" kata Rei, dia menyodorkan sebuah keranjang yang berisi penuh dengan makanan kepada si kakek.
__ADS_1
"ehh..?" kakek itu bingung, karena orang yang baru dia temui tiba-tiba memberinya sesuatu.
"ta..tapi tuan, aku tak punya apapun yang layak ditukarkan dengan ini semua" kata kakek itu, Perutnya keroncongan saat melihat makanan yang hanya mampu dibeli oleh orang kaya.
Adegan ini terlihat sangat klise bagi Rei.
"ambil ini dan jangan menolak, untuk bayarannya cukup kau ceritakan saja kenapa banyak orang yang berkumpul disini, dan juga tentang kerajaan ini kalau bisa" tegas Rei.
"bu..bukan nya aku menolak tuan, tapi ini terlalu banyak untuk dapat kuterima" mulut kakek itu gemetar.
"kubilang terima ini, lihatlah cucumu itu apa kau mau dia menderita kelaparan" kata Rei, kemudian kakek itu melihat cucunya yang terlihat sangat kurus tertidur dengan wajah pucat, akhirnya itu membuatnya luluh dan menerima pemberian Rei.
"oh dewa, terima kasih tuan atas kemurahan hati anda, aku berdoa semoga HERIOS selalu melindungimu" kata kakek itu sambil mencoba mencium sepatu Rei, tapi dengan cepat ditahan olehnya.
beberapa orang menganggap HERIOS sebagai dewa dan lainya menganggap dia sebagai leluhur umat manusia karena ciri-cirinya dan masih banyak lagi kepercayaannya tentangnya.
umurnya Masih 7 tahun tapi dia mengerti betul bagaimana berterima kasih, itu membuat Rei kagum.
"hei lihat! orang itu memberikan makanan gratis kepada pak tua dan anak gembel itu" banyak orang melihatnya dan beberapa terlihat iri, tapi tanpa diketahui siapapun Rei menggunakan sihir peredam suara, itu membuat ocehan orang-orang busuk yang ada disekitar menjadi tidak terdengar sama sekali oleh keduanya, Rei tidak mau acara makan keluarga menjadi terganggu.
Setelah memakan beberapa roti kakek itupun mulai berbicara.
"jadi tuan dua hari yang lalu ada......" orang tua itu mulai menjelaskan tentang kenapa banyak orang berkumpul disini, saat mendengarkan dengan baik Rei teringat dengan Monster yang dilawan singa kegelapan.
'sepertinya raja dan prajuritnya akan sia-sia datang kesini pikir Rei' patinya.
"tunggu dulu!" berbicara pada dirinya sendiri, tapi kakek yang berada di sebelahnya salah paham akan perkataan Rei.
__ADS_1
"ah.. tidak, lanjutkan" kakek itu bingung namun dia melanjutkan penjelasannya.
Rei ingat bahwa gerbang yang dia lihat melalui ingatan singa kegelapan sebelumnya belum tertutup, itu menandakan bahwa masih akan ada Monster yang keluar dari sana.
'kenapa aku melupakannya?!' terkutuk untuk hal yang selalu ia lupakan.
1 jam kemudian.
Beberapa saat telah berlalu, Rei cukup senang mengobrol dengan si kakek, mungkin mereka merupakan orang yang terbelakang tapi perilaku mereka lebih beradab dari pada kebanyakan orang.
"perhatian semuanya! ada kabar baik untuk kalian semua" orang-orang yang tadinya ribut mulai diam memperhatikan.
"walikota ingin memindahkan kalian semua kelapangan yang berada di dalam kota, untuk proses pendataannya akan dilanjutkan esok hari" pengumuman ini membuat orang-orang menjadi senang, mereka mulai pergi ke lapangan dengan diarahkan oleh sejumlah penjaga agar tidak ada yang berkeliaran.
"terima kasih untuk informasinya kakek" kata Rei dengan ramah membuktikan kedekatannya dengan si kakek meski itu hanya pertemuan singkat, Rei juga meminta anak kecil itu menyebutnya dengan sebutan kakak daripada tuan.
"tidak tidak...aku yang seharusnya sangat berterima kasih atas kemurahan hatimu nak"balas si kakek, mereka pun berpisah setelah itu.
Tanpa diketahui si kakek Rei diam-diam menyelipkan sejumlah uang dan surat di gerobak mereka sebelum berpisah.
Untunglah kakek itu tidak menanyakan kenapa atau apapun itu tentang dirinya, karena dia tidak ingin memikirkan itu sekarang.
ctt: -sejauh ini saya merasa plot cerita benar-benar kacau, karena saya tidak benar-benar bisa menggambarkan segala hal yang saya pikirkan.
-saya juga buruk dalam memberikan nama.
-saya sering melakukan edit ulang pada setiap chapternya karena tulisannya terlalu buruk untuk dibaca.
__ADS_1
-KRITIK DAN SARAN AKAN SANGAT MEMBANTU SAYA YANG BARU DALAM HAL MENULIS CERITA.