Meet Darkness To Be Light

Meet Darkness To Be Light
pasukan kerajaan


__ADS_3

suasana kota yang tadinya sunyi berubah seketika dengan datangnya para tentara kerajaan, mengartikan bahwa mereka sangat ditunggu kehadirannya.


“Lihat! Itu mereka sudah datang!” banyak dari mereka mulai bersorak-sorai.


Masyarakat dengan cepat memenuhi jalan, berdesakan hanya untuk melihat seorang pria yang paling mereka puja.


“di mohon untuk menyingkir! menyingkir! jangan menghalangi jalan!” bentak seorang prajurit.


Para prajurit kota dengan cepat disiagakan di setiap sisi jalan utama, guna membatasi orang-orang yang berdatangan agar tidak mengganggu rombongan raja beserta tentaranya untuk lewat.


“wah.. jenderal Asura!....”.


“lihat disana! itu sang Rantai raja!” gelar salah satu jenderal.


Ada dua jenderal yang berada di sisi kanan dan kiri raja, Rei mendengar orang-orang menyebutkan nama dan gelar kedua orang itu.


Raja, kedua jenderal, dan 4 letnan jendral menunggangi Griffin sebagai kendaraan, Sedangkan para prajurit mengunakan Pegasus.


Jumlah pasukan yang dibawa raja sekitar 50,000 dengan setiap 1000 orang memilki pemimpinnya tersendiri berdasarkan perannya masing-masing.


Ditengah jalan para rombongan disambut oleh walikota.


“kemuliaan untuk raja Vedric yang bijaksana, dengan segala hormat saya Rohardjo menyambut kedatangan anda” kata Rohar sambil membungkuk.


Dalam waktu yang hampir bersamaan seluruh orang yang ada di sana berlutut kecuali para pasukan yang dibawa raja.


melihat semua orang hendak berlutut Rei dengan cepat mengikutinya.


Ketika matahari benar-benar menerangi hampir seluruh kota, sebuah suara terdengar bergema.


“berdirilah wahai rakyat ku…” kata raja Vedric, suaranya begitu menggetarkan jiwa membuat semua orang bangkit dalam diam, suasana sunyi datang kembali.


Vedric turun dari Griffin di ikuti oleh para prajurit yang berada dibelakangnya.


Dia lalu berjalan kearah Rohar.


“Rohar,.. apakah mereka semua sudah makan.. pagi ini?” tanya raja Vedric.


’!?’

__ADS_1


Terkejut.


Sebuah pertanyaan yang tidak pernah Rohar duga terdengar di telinganya, dia diam sebentar, namun tak lama akhirnya dia mengerti maksud raja.


“kumohon maafkan aku yang mulia, sebagian hasil panen dua hari yang lalu telah rusak dan….stok hampir habis jadi kurasa kelaparan tak bisa dihindari, kami berencana meminta bantuan namun…..” sebelum Rohar menjelaskan semuanya Rei menghentikannya.


“Ligia,…” panggil raja Vedric.


“disini! Siap menerima perintah!” seorang letnan jenderal perempuan maju dan berlutut.


“berikan dan bagikan apa yang sudah kita bawa secara adil kepada mereka yang benar-benar berhak” tegas raja Vedric.


“laksanakan!” jawab Ligia , sikapnya membuat orang sedikit segan.


Kemudian Vedric beralih kembali ke Rohar.


“Rohar… aku hanya meminta jawaban singkat, kau tak perlu menjelaskannya karena aku sudah tau dan….”, Sambil melihat sekelilingnya


“aku hanya ingin mendengar kabar terkini saja” lanjutnya.


“dimengerti! Mohon maafkan kebodohan saya yang mulia” jawab Rohar dengan lebih membungkuk, keringat dingin muncul di dahinya.


Vedric memperhatikan Ligia dan para pasukannya sedang membagikan kebutuhan pokok, melihat rakyatnya untuk kesekian kali membuat Vedric sedih.


Para pasukan juga sudah mulai menyiapkan segala sesuatu untuk peperangan yang akan berlangsung.


Kapal perang sedang dirakit, mereka tidak bisa membawanya ketika dalam bentuk utuh karena sumberdaya yang di perlukan terlalu besar, jadi mereka membuatnya lebih mudah dibawa dengan sistem bongkar pasang.


"raja ku, persiapan sudah selesai kami menunggu perintah anda" seorang jenderal bernama Guitier berbicara kepada Vedric yang sedang berdiri termenung di sebuah menara tembok kota Dracoris.


“kita akan berangkat besok, intensitas mana yang ada menunjukan belum adanya kemunculan, beritahu mereka untuk menjaga kondisi mereka untuk esok hari" kata Vedric.


sebenarnya kemarin mereka sudah muncul.


“baik, kami akan selalu siap kapanpun untuk negeri ini” ujar Guitier.


Pengukuran intensitas mana dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang belum lama ini ditemukan, alat itu dinamai Beauratos.


'yang mulia..'

__ADS_1


'!?'


“.......” Vedric mendengar seseorang memanggilnya, tapi tak ada siapa pun disekitarnnya.


'yang mulia raja Vedric'


Vedric merasa suara itu seakan-akan berbisik dari dalam kepalanya.


“......, sungguh, apakah aku sedang berbicara dengan salah satu orang bijak?” tanya Vedric.


'bukan'


“...!, lalu siapa gerangan orang yang aku ajak bicara ini?” Vedric benar-benar menunjukan ketenangannya.


“namaku Rei Durwell”


'!?'


Vedric refleks melihat ke samping kanan, karena suara itu tiba-tiba saja terdengar jelas di sebelah nya.


“maaf yang mulia, aku harus tau orang seperti apa yang aku ajak bicara" jelas Rei, dia ingin menguji apakah Vedric benar-benar bisa diajak bicara.


“bukankah kita dalam posisi yang sama..” kata Vedric sambil melihat cincin di jari kanannya..


"kurasa yang mulia benar" Rei sedikit tersenyum.


“aku tidak pernah mendengar tentang mu, siapa dirimu sebenarnya?” tanya Vedric.


“dan apa yang mau kau bicarakan dengan ku?” Vedric terus bertanya.


“maukah yang mulia menerima prajurit tambahan, aku disini menawarkan bantuan” jawab Rei dengan yakin.


Vedric sedikit tertegun, “apa yang kau bicarakan?”Vedric bingung.


''tukkk!"


ketika suara jentikan jari terdengar ditelinga, dunia di sekitar Vedric menjadi gelap, kegelapan itu lalu berubah dan terlihat hamparan hutan yang luas.


saat ini Vedric menyaksikan hal yang disaksikan Rei ketika melihat ingatan singa kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2