Melati Terindah

Melati Terindah
BAB 2. Tak Akan Memilih


__ADS_3

Malam ini langit terlihat cerah. Bintang-bintang bertaburan di langit malam. Aldo yang sedang termenung di balkon kamarnya terus saja memandang ke arah langit sambil sesekali berdecak kagum akan ciptaan Tuhan yang maha sempurna.


Dia juga masih terus memikirkan tentang perjodohan yang di ajukan kedua orang tuanya. Terkdang dia merasa aneh dengan mama papanya kenapa di zaman yang sudah semakin canggih ini masih saja ikut praktek perjodohan.


Dua gadis pilihan Farhan dan Dara merupakan gadis yang di kenal Aldo. Zalfa Mahendra anak dari Fandi Mahendra merupakan rekan bisnis Farhan yang sudah lama menjalin hubungan baik dengan keluarganya.


Dara sering bertemu Zalfa karena Silvi yang merupakan mamanya Zalfa sering mengajaknya untuk sekedar hang out atau arisan dengan wanita sosialita lainnya. Karena itulah Dara sangat menyukai Zalfa yang cantik dan anggun meski sifatnya sangat manja.


Sementara gadis pilihan Farhan untuk Aldo adalah Davina Larasati anak dari sahabat lamanya yang merupakan seorang dokter.


Dari kedua gadis itu Aldo lebih dekat dengan Davina selain mereka sudah kenal dari kecil, Davina juga gadis yang cerdas, mandiri dan tentunya cantik. Tapi kelebihan yang dimiliki Davina tidak membuat hati Aldo bergetar. Mungkin karena Aldo sudah menganggap Davina adiknya sendiri.


Tuhan apakah aku harus memilih salah satu dari mereka. Tapi aku tidak mencintai mereka.


Haruskah aku menuruti kemauan mama papa. Tapi bagaimana dengan perasaan ku. Aku hanya menikah dengan gadis yang benar-benar sesuai dengan tipe ku.


"kamu mikirin apa sih Al." Dara tiba-tiba menghentikan lamunannya.


"mama sejak kapan mama berdiri di situ. Kemarilah ma duduk dengan Aldo." ucap Aldo sambil tersenyum kepada wanita telah melahirkannya.


"kamu sudah memilih nak." Dara memulai diskusi lagi.


"memilih apa ma." jawab Aldo pura-pura lupa.


"memilih antara Zalfa dan Davina."


"ma Aldo mohon jangan bahas itu lagi. Karena Aldo tidak akan memilih siapapun." Aldo mulai kesal.


"kamu ingat gak Al. Dulu kamu selalu menurut setiap apa yang mama dan papa perintahkan ke kamu. Hal itu sangat membuat kami sangat membanggakan mu." Dara mulai merayu Aldo dengan mengingatkan kebiasaan manisnya yg disukai orang tuanya itu. "mama rindu kamu yang dulu nak." sambung Dara.


"ma Aldo tidak pernah berubah ma. Aldo yang ada di hadapan mama masih sama dengan Aldo anak mama dan papa yang dulu." jawab Aldo.


"kalau begitu segeralah memilih antara Zalfa dan Davina." pinta Dara dengan intonasi yang meninggi. "dan mama tidak menerima penolakan." sambungnya.


"ma....... "


"cukup Aldo, apa harus mama berteriak dulu baru kamu ngerti maunya mama hah. Atau apa kamu mau lihat mama dan papa mati dulu baru kamu mau nurut. Mama sudah bosan dengan tingkah kamu. Mama minta sehari sebelum kamu ulang tahun minggu depan kamu harus sudah menentukan pilihan antara Zalfa dan Davina." tegas Dara panjang lebar.


"maksudnya apa ma..... "

__ADS_1


"mama mau merayakan ulang tahun mu yg ke 25, dan saat itu mama juga mau memperkenalkan calon menantu mama ke orang-orang."


"ma Aldo bukan anak kecil lagi yang ulang tahunnya harus di rayakan." ucap Aldo semakin kesal. "lagi pula Aldo tetap tidak akan memilih antara Zalfa dan Davina." sambung Aldo.


"tidak ada penawaran. Dan mama gak perduli sama lenolakan mu." Dara berlalu tanpa menoleh ke Aldo.


"kalau mama memaksa jangan salahkan Aldo kalau terjadi sesuatu nantinya." jawab Aldo sambil mengancam.


****...... kenapa mama gak mengerti juga mau ku. Tuhan....... tolong aku.


.


.


.


Pagi hari di meja makan.


"Aldo mana ma, kenapa gak ikut sarapan." tanya Farhan.


"mungkin dia masih marah sama mama pa."


"semalam mama. ke kamarnya membahas tentang perjodohan itu. Mama sudah putuskan pa minggu depan kita buat oerayaan ulang tahunnya dan saat itu mama juga berencana untuk memperkenalkan calon menantu kita sama orang-orang." jelas Dara kepada suaminya.


"terus siapa yang Aldo pilih Zalfa atau Davina. Aku berharap Davina yang dipilihnya, karena dia gadis mandiri."


"dia belum memilih. Dan masih tetap pada pendiriannya untuk tidak memilih salah satu dari mereka berdua." jawab Dara dengan nada kesal.


"ya sudah nanti biar papa yang bicara sama Aldo. Mbok yem..... tolong panggilkan Aldo suruh sarapan ya."


"baik tuan besar". Mbok Yem berlalu ke lantai dua untuk memanggil tuan mudanya.


Tidak berapa lama Aldo datang dengan menunjukkan wajah yang masih marah kepada mamanya.


Selama sarapan tidak ada yang bersuara satupun. Suasana terasa hening. Hanya terdengar suara sondok dan garpu yang saling bergesekan di atas piring.


Sampai akhirnya Farhan yang duluan memecahkan keheningan "papa sudah selesai. papa berangkat dulu ya ma, Aldo kamu nyusul ya. Kamu sudah harus sering-sering ke kantor untuk belajar menggantikan papa."


Aldo hanya menjawab dengan anggukan. sebenarnya Farhan sudah ingin sekali menyerahkan jabatannya ke Aldo, tapi dia masih ragu. Karena Aldo belum juga mau menerima jabatan itu, alasannya dia ingin merintis sendiri karirnya dari nol. Tapi Farhan dan Dara tidak setuju akhirnya dia menuruti saja kemauan orang tuanya.

__ADS_1


.


.


.


Di Kantor


Saat jam makan siang Farhan mengajak Aldo untuk makan siang bersama. Tujuannya untuk membahas soal perjodohan itu lagi. Meskipun Farhan tau hasilnya pasti tetap sama seperti kemarin-kemarin. Tapi dia tetap akan mencoba dan berharap kali ini dia akan berhasil.


"Al....... kamu sudah punya gadis lain ya." Farhan memulai percakapan.


"maksud papa....?"


"mama cerita ke papa tentang kejadian semalam. Kalau kamu gak mau memilih mereka apa kamu sudah ada pilihan sendiri." sambung Farhan penasaran.


"papa ngajak Aldo makan siang bareng hanya untuk bahas itu lagi ya." Aldo mulai kesal. "pa pleas...... Aldo gak mau bahas itu lagi." sambungnya.


"nak mengertilah akan maunya mama dan papa."


"pa Aldo ngerti, tapi jangan paksa Aldo untuk melakukan hal yang gak Aldo suka. Pa sekali aja tolong jangan paksakan kehendak mama dan papa ke Aldo. Selama ini apakah pernah Aldo membantah kemauan mama dan papa. Semua Aldo turuti. Tapi kalau untuk yang satu ini Aldo mohon pa, biarkan Aldo yang memilih gadis mana yang Aldo mau jadikan pendamping hidup." jelas Aldo tanpa jeda.


Mendengar semua itu Farhan jadi tersadar. Dalam hatinya mengakui bahwa Aldo memang tidak pernah menolak semua kemauannya dan Dara. Lalu bagaimana mungkin untuk calon istri juga Aldo harus nurut dengannya.


"jadi untuk ulang tahun mu bagaimana."


"Aldo udah bukan anak-anak lagi pa, gak perlu lah di rayain segala."


"Al papa minta maaf ya, papa sadar papa salah, dana skarang papa janji gak akan masakan kamu untuk mulih antara Zalfa dan Davina. Dan mama kamu....nanti biar papa yang ngomong. Tapi ingat papa beri kamu waktu 6 bulan untuk mencari jodoh mu sendiri nak." tawar Farhan dengan serius.


"6 bulan......???"


"papa tidak mau mendengar penolakan."


potong Farhan. "dan untuk Davina biar nanti papa yang bicara langsung dengan om Rangga."


"Davina biar Aldo aja pa, kami sudah berteman cukup lama. Jadi akan sangat mudah menjelaskan dengannya." jawab Aldo.


Ada perasaan lega di hatinya. Dia sudah menjelaskan semua pada Farhan. Dan untunglah sang papa mengerti dan mau menerima keputusannya.

__ADS_1


Tentang Davina dia akan menjelaskan dengan mudah. Karena Davina gadis yang pintar dan selalu menggunakan logika. Jadi gak bakal sulit.


__ADS_2