
Dara tidak menghiraukan larangan Farhan untuk tidak merayakan ulang tahun Aldo. Dia yakin kalau Aldo pasti aka menuruti maunya. Apa lagi di depan banyak orang, pasti Aldo tidak akan mempermalukannya dan Farhan.
Dia berencana untuk memilih Zalfa yang akan menjadi calon menantunya. Tidak perduli apakah Fargan dan Aldo setuju atau tidak.
Sementara di lain tempat Aldo mengatur temu janji dengan Davina di cafe biasa dia nongkrong. Dia ingin mengatakan kepada Davina bahwa dia tidak setuju dengan perjodohan ini.
Aldo sedikit terlambat karena macetnya ibu koya yang sangat panjang. Dari kejauhan dia sudah melihat seorang gadis cantik yang sedang menunggunya dengan sabar.
"Davina.......sorry aku telat, jalanan macet banget." Aldo mengambil posisi duduk di hadapan Davina.
"Aldo Rafasya Abimana kamu sudah membuang 15 menit waktu ku dengan sia-sia." jawab Davina sambil tersenyum.
"Kan aku sudah bilang macetnya parah banget."
"Terus kamu pikir aku gak kena macet ya, tuh aku udah pesanin minumuan buat kamu. Sekarang ayo katakan apa yang mau kamu omongin ke aku. Jangan bilang kamu kangen aku ya." goda Davina.
"Pede banget sih." celetuk Aldo.
Aldo diam sejenak sambil mengatur nafas. Sebenarnya dia bingung harus ngomong dari mana. Tp sudah gak ada waktu langi, karena dia takutsemakin lama Davina akan semakin menaruh harapan padanya.
"Davina aku tidak akan memilih Zalfa."
Deg....
Berarti kamu memikih aku Do. Batin Davina sambil mengukir senyum.
"Davina maaf...... Aku juga gak memilih kamu. " lirih Aldo.
Eksoresi Davina tiba-tiba berubah. Wajah yang tadi manis dengan senyuman berubah jadi datar. Tetapi Davina sadar dan langsung menyuruput minumannya untuk mengalihkan perhatian.
"Aku sudah tau Do mana mungkin kamu menikahi aku. Aku kan terlalu sempurna buat kamu." Davina berkata dengan senyum getir yang di buat semanis mungkin untuk menutupi kekecewaannya.
Aldo tau ada peresaan kecewa di balik senyum Davina. Dia tau sebenarnya gadis yang sudah menjadi teman mainnya dari kecil ini menyimpan perasaan padanya. Tapi dlsang gadis selalu berprinsip bahwa pantang bagi perempuan untuk mengejar laki-laki.
"Davina aku minta maaf. Aku gak bisa menikah dengan orang yang tidak ku cintai." Aldo coba untuk menjelaskan.
"It's ok...... Lagi pula yang punya ide ini kan hanya papa ku dan om Farhan. Kamu tenang aja nanti aku yang akan jelasi ke papa."
__ADS_1
"Baiklah." Sejenak suasana terasa hening. Mereka saling menundukkan wajah entah memikirkan apa. Sanpai akhirnya Aldo memecahkan keheningan itu "oiya gimana dengar karir kamu."
"Seperti rencana ku dulu bahwa aku akan pergi ke pelosok untuk mengabdikan ilmu ku pada banyak orang yang membutuhkan."
"Kamu mau kemana."
"Ntah lah yang pasti aku akan mencari daerah terpencil yang jauh dari jangkauan medis dan akan menikong mereka di sana."
Davina mempunyai keinginan untuk mengabdikan ilmu kedokteran yang dia punya untuk menolong orang yang membutuhkan yang tinggal di pedalaman.
.
.
.
Siang itu semua pelayan di mansion keluarga Farhan tampak sibuk. Aldo yang baru pulang habis bertemu Davina merasa heran pasalnya dia gak tau bakal ada acara apa. Demi memenuhi rasa penasarannya di samperinnya mbok yem ART yang sudah belasan tahun bekerja di keluarga mereka.
"Mbok ada apa sih kok pada subuk sih."
"Apa jangan -jangan perayaan ulang tahun ku ya. Mama benar-benar keterlaluan." gerutu Aldo.
"Mbok gak tau tuan."
"Mbok aku mau nanya. Kalau mbok punya anak apa mbok yem bakal menjodohkannya dgn seseorang pilihan mbok? "
"Gak la tuan, mbok akan membebaskan anak mbok untuk memilih calonnya sendiri. Lah wong yang jalani rumah tangga itu kan dia bukannya mbok." jelas mbok yem.
"Kenapa sih mbok bukannya mbik aja yang jadi mama ku." celoteh Aldo sambil sambil tertawa dan beranjak meninggalkan mbok yem.
"Astaga tuan muda ngomong apa sih pamali tuan." mbok yem ikut tertawa. Mbok yem juga sebenarnya kasihan lihat tuan mudanya itu karena harus menirima paksaan dari majikannya.
Di dalam kamarnya Aldo duduk sambil merenungi ucapan mbok yem dia berfikir bahwa mengapa mamanya gak bisa berpikir seperti mbok yem yang hanya seorang ART. Tanpa sadar Aldo tertidur karena kelelahan sampai menjelang sore.
Tok........ Tok..... Tok......
"Aldo bangun nak. Kamu harus segera bersiap-siap." Dara membangunkan Aldo dari luar pintu kamar.
__ADS_1
Karena tidak ada sahutan dari dalam kamar akhirnya Dara masuk saja ke dalam kamar.
"Al........udah sore ayo bangun kamu harus bersiap-siap."
Aldo yang merasa tidurnya terusik segera bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. "ada apa sih ma Aldo masih ngantuk ni."
"Bersiaplah Al, sebentar lagi para tamu akan datang. Sekarang kamu mandi dan gunakan pakaian terbaik kamu." ucap Dara dengan senyum yang melengkung.
"Tamu apa ma........oooo jangan-jangan mama jadi ya buat acara ulang tahun Al." tanya Aldo dengan mata yang membulat.
"Iya sayang ini moment penting untuk mama........"
"Mama stop Aldo gak mau ma." tegas Aldo memotong ucapan mamanya.
"Aldo keputusan mama sudah bulat kamu harus patuh sama mama. Dan masalah pilihan kamu sudah tidak perlu memilih karena mama yang akan memilih Zalfa untuk kamu." Dara menaikkan volume suaranya.
"Ma yang menikah itu Aldo ma, yang menjalani rumah tangga itu Aldo bukan mama kenapa mama ambil keputusan sepihak."
"Mama gak perduli. Kamu ingat Al kamu harus tetap jadi anak mama papa yang penurut. Jangan membantah dan jangan coba mempermalukan mama dan papa nanti." Dara pergi meninggalkan Aldo dengan tergesa-gesa. Karena dia yakin pasti akan makin panjang perdebatan mereka kalau dia masih di dalam kamar Aldo.
Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku gak mau pernikahan bodoh itu terjadi. Kalaupun aku menikah aku mau menikahi gadis pilihan ku sendiri. Batin Aldo dengan rasa kesal yang memuncak.
"Aaarrggghhhh....... ****... ****......" Aldo teriak sambil menendang sofa yang ada di dalam kamarnya itu.
"Aku harus menelpon papa." Aldo mengambil handphone nya dan menghubungi Farhan.
"Pa...... papa dimana."
"Papa lagi di jalan menuju pulang. Ada apa Al."
"Apa-apaan ini pa, kenapa mama tetap mengadakan acara ulang tahun Aldo dan mengundang orang-orang. Dan mama juga akan mengumukan perjodohan antara Aldo dengan Zalfa pa."
"Benarkah..... papa gak tau Al, mama gak ada cerita apa-apa sama papa. Ya sudah kamu tunggu aja papa akan segera pulang." telepon di tutup Farhan. "Jo percepat laju mobilnya kita harus segerasampai rumah secepatnya." perintah Farhan kepada Johan sang asisten.
"Baik tuan." balas Johan dan diapun menambah kecepatan laju mobilnya.
.................
__ADS_1