Melati Terindah

Melati Terindah
BAB 4. Aldo Menghilang


__ADS_3

Sesampainya di mansion Farhan yang tidak langsung menjumpai Dara di dalam kamar yang sedang bersiap-siap.


"Ma apa-apaan ini semua. Kamu jadi juga ya melakukan semuanya." ucap Farhan tanpa basa basi lagi.


"Apaan sih pa datang-datang kok ketus gitu. Mending papa mandi terus siap-siap menyambut tamu-tamu kita." ucap Dara dengan santainya.


"Ma aku kan sudah melarang kamu, kalau kamu tetap ngotot itu artinya kamu menabuh genderang perang dengan Aldo." tegas Farhan.


"Pa mama tu udah lelah nunggu jawaban dari Aldo lagi pula mamanya Zalfa terus bertanya tentang perjodohan ini pa. Mama ka jadi malu."


"Akan lebih malu lagi kalau kita memaksa Aldo dan dia akan bertindak lebih jauh lagi. Akhirnya kita juga yang malu ma."


"Memangnya apa yang akan dia lakukan. Dia tidak akan berani mempermalukan kita pa."


Tok...... Tok...... Tok......


"Tuan besar di bawah sudah ada yang datang tuan." ucap mbok yem yang akhirnya menghentikan perdebatan antara Farhan dan Dara.


"Iya mbok saya kami akan segera turun." jawab Dara. "Ayo pa bersiaplah. Mama tunggu di bawah ya." Dara pun turun bertemu dengan tamu yang sudah datang.


"Baiklah tapi kalau terjadi sesuatu aku sudah memperingati mama dan jangan ada penyesalan di belakang hari." Farhan menegaskan ucapannya.


Di taman belakang tempat acara berlangsung sudah ada beberapa tamu undangan yang datang. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu sosialita yang sudah pasti teman arisan nya Dara. Davina juga ada disana tanpa orang tuanya.


"Davina kamu datang juga ya. Mama papa kamu mana kok gak ikut." sapa Dara.


"Sore tante apa kabar. Iya aku sendiri ni papa sama papa lagi liburan ke Bali tante." jawab Davina dengan sopan.


"Davina sebelum acara di mulai tante mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi kamu harus siap mendengarnya ya."


"Ada apa ya tante kok sepertinya serius banget." tanya Davina dengan raut wajah penuh tanya.


"Selain merayakan ulang tahunnya Aldo tante juga mau umumin calon istri Aldo ke semua orang. Tapi maaf karena pilihan jatuh pada Zalfa. Kamu gak apa-apa kan."


Deg.....


Apa ini bukannya Aldo tidak memilih siapapun tapi kenapa sekarang berubah. Batin Davina.


"Davina...... kamu melamun ya." Dara membuyarkan lamunan Davina.


"Ohh iya tante aku gak apa-apa kok. Lagi pula aku tidak pernah mengharap lebih sama Aldo karena aku udah anggap Aldo tu seperti kakak tante." terang Davina yang tentu saja berbeda dengan perasaan hatinya yang saat ini sedang patah.


"Baguslah kalau begitu. Tante tinggal dulu ya."

__ADS_1


"Iya tante." Davina memandang Dara yang meninggalkannya untuk menyambut tamu lainnya.


Kini Davina celingak celinguk sambil mencari sosok Aldo. Karena sejak kedatangannya Aldo belum menunjukkan batang hidungnya.


Kemana Aldo kok dia gak kelihatan. Apa aku susul aja ke kamarnya ya. Tapi gak deh ntar dikira tante Dara aku lagi ngejar-ngejar dia.


Batin Davina yang akhirnya mencari tempat untuk duduk.


"Asisten Jo tolong panggilin Aldo tamu udah mulai rame nih. Sekalian Papanya ya." perintah Dara kepada asisten Jo.


"Baik nyonya." Asisten Jo pun bergegas ke lantai atas menuju kamar tuan besarnya dan tuan mudanya.


Tok....... Tok.... Tok.....


"Tuan muda nyonya besar dan tamu undangan sudah menunggu tuan di taman belakang segera lah turun tuan."


Karena tidak ada jawaban dari dalam dia pun mengetuk pintu kamar itu lagi.


Tok..... Tok..... Tok.......


"Aldo masih di dalam ya Jo." tanya Farhan yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya tuan saya sudah mengetuk pintu kamarnya dari tadi tapi tuan muda tidak menyahut juga." jawab asisten Jo.


Setelah masuk Farhan dan Asisten Jo menyisir ruangan itu hingga ke toilet dan ruang ganti tapi Aldo tetap tidak di temukan.


Farhan dan Jo pun segera turun menemui Dara. "Jo coba kamu lihat mobil Aldo kalau tidak ada berarti dia pergi." perintah Farhan.


"Baik tuan." Asisten Jo pun segera keluar.


"Ma Aldo tidak ada di kamarnya." ucap Farhan dengan berbisik kepada Dara.


"Apa...... kemana dia pa." Dara terkejut dengan ucapan suaminya.


"Tuan besar mobilnya ada tapi mogenya tidak ada tuan sepertinya tuan muda pergi dengan mogenya." asisten Jo menerangkan.


"Kemana anak itu tamu sudah mulai ramai. Pa telponlah Aldo. Dia pasti tidak akan menjawab panggilan ku." Dara mulai cemas.


"Papa sudah bilang ke mama jangan buat dia bertindak lebih jauh lagi." kesal Farhan sambil mengambil handphone dari dalam sakunya.


Setelah beberapa kali melakukan panggilan, Aldo masih belum menjawabnya. Hal itu membuat Farhan dan Dara cemas. Apa lagi Dara bukan hanya cemas dia juga pasti akan malu kalau Aldo pergi di acara yang sudah di persiapkannya ini.


Para tamu undangan yang melihat kasak kusus Dara dan Farhan pun mulai curiga. Dan mereka juga mulai saling tanya apa yang terjadi di mansion mewah ini.

__ADS_1


Tidak ketinggalan Davina yang juga mulai curiga dengan gerak gerik Farhan dan Dara. Dan dia mempunyai inisiatif untuk menghubungi Aldo sambil menjauh dari keramain para tamu undangan.


"Hallo Aldo kamu dimana." Davina sedikit lega karena Aldenjawab panggilannya.


"Iya Davina aku lagi di luar. Kenapa? "


"Iya aku tau, tp kamu di mana mama papa kamu dan tamu undangan udah nungguin kamu nih."


"Ooh....kamu ada di situ juga ya. Aku pergi. Buat apa aku di situ. Kan acara itumama ku yang buat. Jadi biarlah mama ku yang menikmatinya." jawab Aldo penuh dengan kekesalan sambil mengakhir panggilan.


Yah di tutup. Sekarang aku mengerti jadi ini semua ide tante Dara. Kasihan Aldo selalu saja di tuntut untuk memenuhi kemauan orang tuanya.


Batin Davina.


"Tante Aku datang. Maaf ya tante aku sama mama papa telat. Tadi aku ke salon dulu biar makin cantik tentunya." ucap Zalfa dengan narsisnya sambil tersenyum semanis mungkin kepada para undangan dan Davina khususnya.


"Wah sudah ramai ya pasti lagi pada nungguin Zalfa kan......" senyumnya makin mengembang.


"Kamu sudah datang ya Zalfa, mama papa kamu mana." jawab Dara dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Kami di sini, ada apa ini kenapa sepertinya terjadi seuatu." tanya Silvi mamanya Zalfa.


"Aldo pergi, dan mungkin acaranya di hentikan." sela Farhan dengan ketus. "Dan untuk tamu yang lainnya maaf karena anak saya tidak ada maka acara di hentikan sampai disini." sambung Farhan sambil menatap sinis ke arah Zalfa.


Sontak saja semua yang ada di sana mulai riuh ada yang langsung beranjak, ada yang masih diam di tempat agar bisa mendapat informasi lebih lagi.


"Dan buat anda Tuan Irfan Mahendra, saya rasa perjodohan antara Aldo dan Zalfa tidak akan pernah terjadi. Karena semua ini kan idenya istri-istri kita." Farhan menjelaskan dengan ganblang tanpa memperdulikan apakah Dara akan setuju apa tidak.


Menurut Farhan, Aldo lah yang akan menentukan jodohnya sendiri. Dia tidak akan memaksakan urusan jodoh.


"Saya setuju tuan Farhan dari awal saya juga ragu akan perjodohan ini." Irfan menjeda sejenak. "Kalau begitu kami permisi dulu ya. Toh acara ulang tahunnya juga di batalin kan. Ayo Zalfa ayo ma kita oulang." Irfan mengajak anak serta istrinya untuk segera meninggalkan mansion keluarga Farhan.


"Tapi pa gak bisa gini dong. Tante ini gak benar kan." protes Zalfa.


"Sudah lah Zalfa nanti kita bicarakan lagi sekarang kamu oulang saja ya." ucap Dara.


"Ayo Zalfa buat apa lagi kita di sini ini semua karena kamu merengek-rengek minta di jodohin sama Aldo yang tidak mencintai kamu. Kami permisi." Silvi menarik tangan anaknya penuh dengan rasa malu dan kecewa.


"Om tante aku juga pamit ya." Davina juga pergi meninggalkan mereka.


"Davina kamu adalah orang terdekat Aldo yang om kami kenal, mungkin dia akan menghubungi mu untuk sekedar curhat jadi tolong suruh dia pulang ya." pinta Farhan kepada Davina.


"Baik om." Davina pun pergi.

__ADS_1


"Lihat ma aku sudah bilang jangan menabuh genderang perang dengan Aldo." ucap Farhan sambil berlalu meninggalkan Dara yg terduduk lemas tak percaya semua ini terjadi.


__ADS_2