
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi Aldo belum juga pulang. Saat di mansion Farhan dan Dara cemas menanti kepulangan Aldo. sementara Aldo sendiri masih betah berada di night club mendengar musik yang hingar bingar. Ini bukan lah kebiasaanya. Tapi karena dia muak dengan perjodohan itu maka dia mencoba untuk menghabiskan malam ini di night club itu.
Tiba-tiba Aldo terfikir untuk menghubungi Davina. Lalu dia pun mengambil handphone dari saku celananya. Tidak butuh waktu lama panggilan pun di jawab.
"Kamu belum tidur ya Vin..."
"Aldo..... oh Tuhan aku cemas banget dengan kejadian di mansion tadi. Kamu dimana sih, lagi di night club ya kok berisik banget." tanya Davina penuh semangat.
"Nyantai dong Vin. Iya aku lagi di night club. Aku penasaran bagaimana kejadian tadi ceritalah." Aldo bertanya sambil tertawa kecil.
Lalu Davina pun menjelaskan semua kejadian di mansion tadi. Bahkan tentang perjodohan yang di batalkan oleh Farhan.
"Benarkah baguslah kalau begitu semoga mama benar-benar tidak melanjutkan perjodohan bodoh ini. Kalau begitu aku mau pulang dulu ya Vin. Thanks ya Vin."
"Ah kamu kayak sama siapa aja. Do kamu gak mabuk kan." Tiba-tiba Davina khawatir.
"Gak kok Vin kamu tenang aja aku masih sadar kok." Aldo pun mengakhiri sambungannya dengan Davina.
Sepertinya mama sudah sadar akan perjodohan bodoh ini, baiklah aku akan pulang.
Belum sempat Aldo keluar dari night club tiba-tiba tangannya di pegang oleh dua orang berbadan tegap. Dan dia pun di paksa untuk keluar dari sana.
"Lepaskan aku siapa kalian??"
"Maaf tuan kami suruhan nyonya besar. Dan kami akan membawa anda pulang." jelas salah satu dari mereka.
"Apa kalian pikir aku anak-anak hah, pergilah kalian aku juga mau pulang." Aldo bergegas ke parkiran tapi dua pemuda berbadan tegap itu masih mengikutinya.
__ADS_1
"Apa mau kalian kenapa masih mengikuti ku." Aldo mulai kesal dengan dua pemuda itu.
"Kami harus memastikan tuan pulang kerumah, setelah itu kami tidak akan mengikuti tuan lagi." jawab mereka dengan serentak.
Apa?? Kalau seperti ini berarti mama tidak benar-benar mengakhiri perjodohan itu. Tidak...... aku tidak akan pulang. Karena aku yakin mama pasti merencanakan sesuatu.
Aldo mulai menyalakan mogenya dan meluncur kearah pulang. Tapi dia masih melaju dengan kecepatan rendah. Karena sedang memikirkan cara untuk lepas dari dua pemuda itu. Sampai tiba-tiba dia punya ide untuk menginap di hotel saja malam ini.
Kebetulan di depan ada simpang tiga lalu Aldo pun menambah kecepatan tiba-tiba berbelok ke kiri. Dan sepertinya semesta mendukung idenya itu. Tidak jauh dari belokan itu Aldo bertemu lagi dengan simpang tiga yang sedikit sempit dengan lampu jalan yang tidak menyala, lalu dia berbelok lagi ke kanan sehingga dua pemuda suruhan Dara yang mengendarai mobil tidak dapat mengikutinya.
Aldo terus saja melaju dengan kecepatan tinggi demi menghindari mereka. Sampai dia melihat dari sepion bahwa mereka sudah tidak mengikutinya lagi.
Setelah sekitar 15 menit melaju akhirnya Aldo berhenti di depan hotel. Diapun menginap di hotel tersebut.
Setelah check-in dia masuk ke kamarnya. Disana dia masih tidak habis fikir kenapa mamanya melakukan ini semua. Fikirannya sangat kacau. Aldo benar-benar kehabisan akal untuk menghadapi mamanya.
"Bodoh...... badan saja yang besar tapi otak kalian nol. Sekarang kemana aku harus mencari anak ku hah???" ucap Dara dengan wajah yang memerah karena menakan amarah.
"Maafkan kami nyonya." jawab salah satu dari mereka.
"Sudah lah pergi kalian sebelum amarah ku semakin memuncak."
Mendengar keributan dari bawah Farhan pun segera keluar dari kamar dan turun ke bawah.
"Ada apa ma, sepertinya tadi papa mendengar suara pria. Dan mama kenapa belum tidur." tanya Farhan dengan mata yang masih mengantuk.
"Ti... tidak ada apa-apa pa." jawab Dara dengan gugup.
__ADS_1
"Jujur lah ma papa tau mama menyimpan sesuatu." selidik Farhan. "Atau papa yang akan mencari tau sendiri?? " sambung Farhan.
Dara sadar betul dia tidak bisa berbohong kepada pria yang sudah berdampingan dengannya lebih dari 25 tahun itu.
"I.... itu pa tadi mama menyewa dua bodyguard untuk mencari Aldo dan mengikutinya untuk pulang. Tapi mereka gagal." jawab Dara dengan rasa takut.
"Trus Aldo tau??"
"Karena Aldo taulah makanya mereka kehilangan jejak Aldo."
"Mama............ Kesalahan apa lagi yang kamu perbuat tidak bisakah kamu memberi satu kebebasan saja untuk Aldo." Farhan mulai marah pada Dara.
"Bersiaplah ma untuk hal yang lebih gila lagi yang akan di lakukan Aldo. Papa yakin itu."
"Maaf kan mama pa. Mama hanya takut Aldo salah memilih istri pa." Dara mulai menangis karena takut akan ada hal yang lain lagi.
"Sepertinya ada orang yang mempengaruhi Aldo pa, mama yakin itu."
"Cukup ma jangan menambah kekacauan lagi."
"Mama bukan mau menambah kekacauan pa, Aldo tidak pernah melawan kepada kita. Tapi kali ini dia benar-benar menentang kita dia mulai membangkang sampai mempermalukan kita." Dara mulai bersemangat meyakini Farhan.
"Ma...... semua kemauan kita selalu di turutinya mulai dari pemilihan sekolah, jurusan, pemilihan teman, semua ma semua. Hanya satu yang tidak di turutinya terus mama mau bilang dia pembangkang. Ini gak adil ma." cerca Farhan dengan intonasi yang makin meninggi.
"Lalu kita hrus apa sekarang pa."
"Bukan kita tapi mama. Papa sudah menyerahkan semuanya ke Aldo. Sekarang apapun keputusan itu terserah dia. Toh dia sudah dewasa sudah 25 tahun. Sekarang papa mau tidur." Farhan beranjak menuju kamar.
__ADS_1
Tinggal lah Dara sendiri di ruang tengah dengan penyesalan yang sudah tidak berguna.