
Hampir 3 jam kapal menyeberangi lautan, dan akhirnya sampailah kapal tersebut di pelabuhan. Aldo pun bergegas turun dari kapal. Sekarang dia bingung kemana tujuannya. Sampai akhirnya dia teringat akan adik mbok Yem yang tinggal di daerah terpencil di pulau itu. Pak Mul yah Pak Mul dulunya pernah bekerja dengan keluarganya. Setelah menikah pak Mul berhenti dan ikut ke kampung istrinya. Untunglah pak Mul pernah memberi alamatnya itu ke Aldo.
Akhirnya Aldo pergi menuju terminal bus untuk membeli tiket. Dia sangat bersyukur karena kini dia punya tujuan.
Siapa gadis itu, matanya....mata gadis itu indah sekali. Walaupun penampilannya sederhana tapi mata itu seperti memberikan keteduhan.
Aldo membatin saat tiba-tiba dia melihat seorang gadis berambut panjang tergerai indah dan mempunyai sorot mata yang sangat tajam dan menenangkan . Walaupun gadis itu memakai masker tapi Aldo yakin wajahnya pasti sangat cantik. Dan sepertinya gadis itu juga membeli tiket untuk pergi ke suatu tempat.
Aldo terus saja memperhatikan gadis itu. Pandangannya tidak pernah lepas dari gadis itu. Dia sangat penasaran dengan wajahnya dan kemana tujuannya. Rasa penasaran itu mendorongnya untuk mendekati gadis itu. Tapi sayang niatnya terhenti karena bus yang di tumpanginya akan segera berangkat. Aldo pun segera naik bus yang akan di tumpanginya.
Gadis.....semoga Tuhan memberi kesempatan kita untuk bertemu lagi. Batin Aldo.
Di perjalanan Aldo segera menelpon pak Mul untuk memberitahu kedatangannya. Perjalanan itu memakan waktu 3 jam dan sudah pasti bus akan tiba saat matahari mulai tenggelam.
Selama di perjalanan Aldo masih memikirkan gadis tadi. Ada rasa penyesalan di hatinya. Kenapa dia tidak buru-buru menghampiri m gadis itu. Paling tidak hanya untuk berkenalan dan tau namanya. Mungkin dengan begitu bisa membuka peluang untuk mengenal lebih jauh lagi.
Ah.... Mikir apa sih aku. Ada banyak gadis tadi terminal tapi kenapa aku hanya memikirkan gadis itu saja. Hhhmm buang-buang waktu.
"Untuk para penumpang tujuan desa Mekar Sari silahkan turun karena kita sudah berada di desa tersebut."
Suara kenek bus membuyarkan lamunan Aldo. Lalu dia pun segera turun melewati pintu bagian depan bus tersebut. Kedatangannya langsung di sambut oleh pak Mul.
"Wah tuan muda saya senang sekali tuan mau mengunjungi saya. Apa kabar tuan, tapi kenapa tuan naik bus. Terus apa nyonya besar dan tuan besar tau?" sapa pak Mul dengan hangat dan bersemangat.
__ADS_1
"Pak Mul pertama saya sehat banget, kedua mengenai kedatangan saya tolong jangan beri tau siapapun termasuk mbok Yem. Dan ketiga kenapa saya naik bus itu karena saya gak bawa mobil." jawab Aldo sambil tersenyum sumringah.
"Loh maksudnya....... "
"Udah deh pak Mul, kita pulang dulu aja saya udah capek banget nih. Ntar saya jelasin di rumah ya. Pak Mul naik apa kesini? " sela Aldo.
"Baik tuan. Itu motor saya."
"Satu lagi pak Mul. Tolong jangan pernah panggil saya 'tuan' panggil saja Aldo."
"Baik tuan...... Maksud saya nak Aldo. Yah lebih enak nak Aldo saja ya. "
Aldo hanya menjawab dengan anggukkan. Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju rumah pak Mul. Sesampainya di rumah Aldo disambut oleh istri pak Mul.
"Saya mandi dulu aja bu soalnya udah gerah banget. Oiya tolong jangan panggil saya tuan apa lagi tuan muda. Bu Sri boleh panggil saya Aldo atau nak Aldo saja."
"Baiklah nak Aldo. Rumah kami kecil sekali bahkan kamarnya juga cuma dua. Sangat jauh berbeda dengan rumah nak Aldo di ibu kota." jelas bu Sri lagi.
"Santai aja bu malah saya bersyukur pak Mul dan bu Sri mau menerima saya hehehehe . Terus kamar saya yang itu kan." ucap Aldo sambil menunjuk sebuah kamar yang berbatas dengan ruang keluarga yang ukurannya hanya 2x3 meter.
"Iya nak Aldo. Sekali lagi mohon maaf kamarnya kecil dan gak ada kamar mandinya."
"Gak apa-apa bu. Saya mandi dulu ya bu Sri pak Mul udah gerah banget nih."
__ADS_1
"Oh... Iya...iya nak Aldo."
Aldo pun segera munuju kamarnya untuk menaruh travel bag dan kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah sangat lengket karena seharian menempuh perjalanan jauh.
Kemudian Aldo bergegas ke meja makan untuk makan malam bersama pak Mul dan bu Sri. Setelah menyantap makan malamnya Aldo mulai menjelaskan tujuannya datang ke desa terpencil itu.
"Jadi nak Aldo akan tinggal disini selama 6 bulan?" tanya pak Mul.
"Rencananya sih begitu tapi kita lihat saja kedepannya bagaimana. Dan tolong jangan beri tau siapapun siapa saya sebenaranya."
"Baiklah nak Aldo tapi malam ini kita harus lapor dulu ke kepala desa karena bagaimanapun nak Aldo kan tamu di desa ini."
"Baiklah pak Mul. Oiya pak Mul kerjanya apa disini. Saya ikut pak Mul ya? "
"Saya cuma petani nak Aldo. Kebetulan uang pesangon yang tuan besar beri dulu saya belikan beberapa petak sawah di sini dan selama ini kami makan dari situ. Kalau nak Aldo mau saya akan mengajarkan nak Aldo untuk bertani. "
"Wah dengan senang hati pak Mul" jawab Aldo dengan semangat.
Setelah perbincangan itu mereka pergi ke rumah kepala desa untuk melaporkan kedatangan Aldo di desa itu. Dan tidak butuh waktu lama mereka berada di sana. Itu karena Aldo merasa lelah akan perjalanannya sehingga dia ingin segera pulang ke rumah pak Mul dan istrihat.
Sesampainya di rumah Aldo langsung pamit untuk istirahat pada pak Mul. Dia pun kembali membayangkan tindakan yang diambilnya sampai sejauh ini. Dia tidak tau bagaiman kedepannya. Yang paling penting baginya saat ini adalah menghindari perjodohan bodoh itu.
Papa mama maafin Aldo. Semoga papa dan mama sehat di sana. Dan semoga papa dan mama selalu berdoa untuk Aldo.
__ADS_1