Memasuki Tubuh Ratu Gila

Memasuki Tubuh Ratu Gila
7. Mencari Perdamaian dengan Negosiasi


__ADS_3

Krak!! Boom!!


Letusan yang dahsyat membuat gelombang udara dan tanah yang mereka pijak bergetar. Tahu-tahu para ras peri sudah jatuh pingsan tak sadarkan diri. Hanya sang Raja beserta anak-anaknya saja yang masih berdiri, namun telinga mereka berdarah. Para manusia tidak terkena efek apapun.


"Bom Merica! Para siluman melemparkan Bom Merica keseluruh lembah ras peri." Ujar Haven panik sambil menangkap ibu perinya yang jatuh. Alis Elves saling bertaut karena bingung.


〘Setting : Bom Merica adalah benda sihir yang sangat dijauhi oleh ras peri. Efek samping untuk para ras peri adalah penyakit jantung. Yang kebal terhadap Bom Merica hanya sang Raja dan keturunanya〙


Elves melirik kearah para selir Raja yang ikut pingsan. Walau sang Raja tetap berdiri, namun energi yang dipancarkan sangat lemah. Bahkan tanda dikeningnya memudar. Anak-anaknya mencoba duduk dan memulihkan diri.


〘Data Spesifikasi : Berbentuk bola-bola kecil berwarna ungu. Meledakan butiran-butiran debu halus berwarna ungu yang sangat indah namun mematikan〙


Elves paham sekarang, matanya memicing waspada, "Awas dibelakang kalian!"


Para prajurit belum sempat bereaksi dan berikutnya para peri yang menari tiba-tiba berdiri berubah menjadi siluman. Elves langsung beringsut mendekat kearah Haven, menyembunyikanya dibelakang tubuhnya.


Elves berbisik, "Jika keadaan tak menyenangkan, kabur dari arah belakang dan nyalakan kembang api!"


Haven hanya mengangguk patuh sembari bersembunyi.


Seorang peri yang sudah berubah menjadi siluman, berwajah gadis cantik namun bertubuh monyet dan berbulu sangat lebat itu mendekat kearah Elves. Matanya menatap lurus Elves kemudian tertawa mengejek. Pftttt! Elves ingin tertawa terbahak-bahak namun masih bisa ia tahan. Ingat wajah sang Ratu ini sangatlah tebal.


"Woah...Memang seperti rumor, sang Ratu Athanasius sangat cerdik. Bagaimana bisa Yang Mulia langsung tahu?"


Elves menggibaskan jubahnya dan kembali duduk dengan santai, "Hmph! Gampang saja. Bagaimana mungkin para peri yang sudah biasa terbang tiba-tiba bergelantung dipohon? Apakah sayap untuk pajangan saja."


Dari awal masuk Elves sudah agak curiga dengan para penari, bagaimana mungkin para peri yang terbiasa terbang itu dengan mudahnya bergelantungan diatas pohon? Mungkin sang Raja dan yang lainya hanya menatap remeh dan mengartikanya sebagai pertunjukan, tapi Elves tidak.


Ingatlah dia adalah Dewa Masa Depan. Aih, Dewa Masa Depan? Nama itu tidak buruk haha.


Wajah siluman itu agak keruh namun sedetik kemudian berubah menjadi seringaian licik, "Aku dan pasukanku sudah mengusai lembah peri. Kegagalan mereka sudah tampak, aku sarankan agar Yang Mulia tidak mencampuri urusan kami."


Elves bersitatap dengan Raja Ingran yang masih duduk terdiam berusaha menyembuhkan dirinya. Mengangguk dalam diam, Elves berdehem. "Apa kau mengusir Ratu ini?"


Siluman itu masih tetap menyunggingkan senyum. Dengan sopan yang dibuat-buat ia berkata, "Mana mungkin diriku ini berani. Jika Yang Mulia duduk diam saja seperti ini, kami tidak akan melukai Yang Mulia."


Elves mengangguk-anggukan kepalanya, "Hmmm, tapi Ratu ini tidak bisa hanya duduk diam dan menonton. Bagaimana menurutmu?"


Mata siluman itu berubah berkilat waspada ia berteriak, "Formasi!"


Siluman yang menyamar menjadi peri membuat pertahanan, mereka tahu sang Ratu dari Athanasius itu sangat terkenal dengan kelicikanya. Mereka harus extra hati-hati menghadapinya.


"Hahaha! Tidak ada gunanya. Lihatlah sekelilingmu."


Elves masih berucap santai dan malah menyesap teh yang belum sempat ia minum. Siluman kera itu menoleh kesekiling, tiba-tiba hawa dingin datang menusuk kearah punggunya.


Pasukan yang datang bersama Elves hanya tinggal beberapa orang, dia berteriak murka ketika tahu situasinya sudah berbalik. Mereka telah terjebak, sebenarnya pertemuan ini hanyalah sandiwara. Elves sudah mengirimkan pasukanya kebukit siluman.


Sebagian rakyat peri juga sudah diungsikan ketempat lain. Yang tersisa disini hanyalah para prajurit ras peri yang sudah terlatih. Bersama dengan sang Raja dan keluarganya untuk mengelabuhi para siluman jika mereka menerobos masuk.


Tabir diluar dibuat sengaja dipulihkan tapi sebenarnya tabir itu tidak dipulihkan. Membiarkan para kaum siluman bebas masuk. Prajurit Athanasius yang berjaga didepan tabir, pura-pura kalah melawan para siluman yang menerobos masuk. Semua ini adalah ide dari Elves. Walau penyamaran para peri itu jauh dari perkiraan, namun sekarang Elves sudah bisa membalikan keadaan.

__ADS_1


Lihatlah, Haven sudah berhasil keluar secara sembunyi-sembunyi.


"Kepung agar mereka tidak bisa keluar!"


Siluman itu memberi perintah kepada para siluman yang lain. Namun terlambat, diluar petasan tanda peringatan telah berhasil diledakan oleh Haven. Cahaya biru sebagai tanda siaga dari pasukan Athanasius.


Elves berucap santai, "Ekhm! Rasanya akan sia-sia jika kalian melakukan perlawanan untuk sekarang. Tidak bisakah kita berbicara santai saja sambil meminum teh. Bagaimana Miss?"


Siluman kera itu menggretakan giginya menatap Elves tajam. Tak ada pilihan lain, ia berjalan mendekat dan ikut duduk disebrang. Menatap lekat-lekat Elves dengan mendengus. Mereka kalah telak, jika mereka gegabah pasukan dari Athanasius akan meratakan bukit siluman.


Memang Ratu ini tidak dapat diremehkan!


...*****...


"Jadi bagaimana? Apakah kalian semua setuju?"


Semua pasang mata yang berada disana menatap Elves tidak percaya. Sarah yang sedari tadi diampun menaikan satu alisnya karena ucapan Elves. Bahkan setelah Haven selesai menerjemahkan kata-kata Elves, Raja Ingran tak bisa untuk tidak terkejut.


Brak!!!


Siluman kera itu menggebrak meja, "Apa ini lelucon!"


Sarah mengamankan Elves dibelakang dan mengarahkan senjatanya kearah siluman itu. Elves memegang pundak Sarah dan menyuruhnya untuk mundur. Elves menatap Raja Ingran dan siluman itu bergantian ia menghembuskan nafasnya panjang.


"Hanya itu saja yang dapat Ratu ini negosiasikan. Pikirkanlah untungnya saja!"


Padahal didalam hatinya sudah komat-kamit tak karuan. Elves tak mau perang, karena jika perang akan sangat melelahkan. Dan tentu saja dia akan gagal mendapatkan item langka jika perang terjadi walau misi sukses.


Siluman kera itu mendengus, "Dengar! Kami juga tidak mau berbagi dengan kalian, perang dan dapat! Tidak bisa dibagi dua!"


Mereka saling melemparkan tatapan menusuk.


Elves memperingati, "Sadarlah bangsa siluman! Pasukan Athanasius sudah siap siaga dibukit siluman!"


Raja Ingran tersenyum samar, sedangkan siluman kera itu mendesis.


Elves melanjutkan, "Dan juga, Ratu ini menginginkan agar tidak terjadi pertumpahan darah yang akan melibatkan persidangan Lima Alam! Mensetujui untuk menjadi sekutu ras peri juga sudah termasuk pelanggaran."


Elves menatap Raja Ingran dengan datar dan giliran siluman kera itu menatap Raja Ingran remeh. Usulan yang dimaksudkan Elves adalah membagi kekuatan sihir Pohon Ek raksasa dengan para siluman. Tentu tanpa adanya pertumpahan darah.


Para siluman boleh mengambil Exilir tanpa harus menyerang para peri. Dan para peri bisa terus berada dilembah ras peri dengan mengambil bubuk emas di Pohon Ek raksasa itu. Tak adil memang dalam sudut pandang bangsa peri, namun tak ada pilihan lain.


Elves berani mengusulkan ide tak masuk akal ini, setelah kemarin seharian membaca seluruh pengetahuan tentang lembas ras peri. Ia mengetahui jika Pohon Ek raksasa itu tumbuh beberapa abad yang lalu sebelum ras peri pindah ke lembah itu.


Bisa diartikan juga, Pohon Ek raksasa itu bukan sepenuhnya milik ras peri. Hanya karena sudah berabad-abad tumbuh dan dimanfaatkan kegunaanya oleh para ras peri pendahulu, Pohon Ek itu diklaim milik bangsa ras peri.


Elves memikirkan cara agar dirinya dapat untung dengan meraih item dengan mendamaikan para siluman dan ras peri. Alih-alih membantu perang dan pertumpahan darah sia-sia. Jadi dirinya memiki ide ini. Memang akan sedikit sulit, namun lebih baik mencoba daripada tidak.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya dengan amat terpaksa Raja Ingran menyetujui. Dengan syarat, seluruh ras peri yang menjadi tahanan bangsa siluman harus dipulangkan. Mata siluman kera itu melotot tajam tidak terima, namun tatapan datar Elves membuat dirinya tidak bisa berkutik.


Apalagi dengan adanya banyak prajurit yang dikirmkan oleh pasukan Athanasius untuk mengepung bukit siluman. Dengan angkuh bangsa siluman menyetujinya. Sumpah darah yang dilakukan oleh bangsa peri dan siluman pun dilaksanakan.

__ADS_1


Sumpah darah \= Sumpah darah tidak bisa diingkar karena sudah mengikat dan mengalir dalam diri yang menjalani. Jika dilanggar akibatnya akan sangat fatal.


"Kalian sudah siap?"


Elves menatap siluman kera dan raja Ingran bergantian. Mereka mengangguk dengan terpaksa, Elves menyentuh keningnya dengan kedua jari telunjuknya. Mengucapkan mantra dan cahaya merah keluar dari sana.


Dua jari telunjuk Elves diarahkan ke tangan siluman kera dan tubuh Raja Ingran. "Dengan ini sumpah darah antara bangsa siluman dan ras peri dilaksanakan." Tali merah transparan terpasang dijari kelingking mereka dan tersambung.


Kreak! Kreak!


Petir merah dilangit menandakan bahwa sumpah darah telah dilaksanakan. Angin berhembus sangat kencang. Tepat ketika angin mereda, munculah sulur willow kuning. Membentang dan melingkar dalam pergelangan tangan seluruh bangsa siluman dan para ras peri.


Awalnya sulur willow itu berwarna hijau, lalu berubah kuning kermasan dan menghilang kedalam tubuh mereka. Itu akan menjadi pertanda bahwa sekarang bangsa siluman dan peri akan menjalani kehidupan secara berdampingan.


Jika salah satu ada yang menyerang, sulur willow yang tertanam didalam tubuh mereka akan mengerat. Lama-kelamaan akan menghancurkan tubuh dan hawa mereka dari dalam. Karena sumpah darah tidak boleh dianggap remeh.


Elves tersenyum cerah, rencananya berhasil dengan sempurna. Suara BGM yang sangat dinantikanya akhirnya tiba.


〘Setting : Selamat Misi telah berhasil dicapai. Penambahan poin +15 untuk keberhasilan misi〙


Seketika wajah Elves berubah masam, hanya 15 poin?, "Kenapa sangat sedikit poinya? Setting kau bercanda kan?"


〘Setting : Mohon untuk berhenti mengirim spam. Silahkan klik kotak bagian bawah untuk mendapatkan item langka〙


Elves lupa masih ada item level 10 yang akan diturunkan, "Hahah iklaskan sajalah Setting. Lagian kemarin aku meminta bantuan Ensiklopedia Setting ditolak mentah-mentah. Ini adalah hasil kerja kerasku sendiri omong-omong." Elves bergaya sombong.


〘Setting : .... 〙


〘Status Kini〙


❰Nama : Kagendra Arsey - Kode (Big Dixx)❱


❰MC : Elves Athanasius❱


❰Gelar : Pemimpin Kerajaan Athanasius, Ratu Egois, Antagonis Utama, Karakter Rusak❱


❰Level : Pemula <> 1❱


❰Poin : Untuk saat ini +1000 (Log in pemula) Pengurangan - 20. Total sekarang \= 980 poin. Penambahan 15 poin untuk keberhasilan misi. Total 995 poin❱


❰Skill : Manusia Abadi - Kecantikan Memikat - Kecerdasan Tak Terbatas❱


❰Misi Utama: Membuat perubahan untuk karakter sang Antagonis❱


❰Misi Sampingan: Misi ke (0,1) \= Membantu para Ras Peri❱


❰Misi Berhasil : Reward Hadiah❱


〖Gold Card Identity〗


❰Item yang dijanjikan - Cambuk Cincin Petir Merah❱

__ADS_1


❰Kegunaan : Bisa digunakan sebagai senjata magis. Level 1, masih harus diasah skil dalam pertarungan❱


__ADS_2