MENANTU MISKIN VS MERTUA KAYA

MENANTU MISKIN VS MERTUA KAYA
BAB. 14. CURHATAN HATI MBOK SITI


__ADS_3

...Kreeeeeet.........


...Pintu sedikit mengeluarkan bunyi ketika saya mendorongnya dengan perlahan, agar bapak tidak kaget jika beliau masih tertidur....


..."Assalamualaikum........" ucap dengan suara yang halus. Sambil menatap bapak yang sepertinya masih tetap tidur....


...*Syukurlah, bapak masih tidur* Lirih ku sambil mengelus dada, kemudian melangkah keluar dari kamar bapak, dan menutup pintu dengan sangat hati-hati dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi....


...Selepas dari kamar bapak, saya melirik ke dapur, tapi tidak melihat sosok mbok Siti di situ. Ah, mungkin mbok Siti lagi masuk ke kamarnya kali! gumam ku sambil menuju ke ruang tamu untuk duduk bersantai sebentar, sambil memikirkan hal apa yang akan saya kerjakan hari ini....


..."Eh nak Nur kok sudah ada di sini? Bukannya tadi lagi masuk ke kamar tuan? Ini mbok juga baru mau masuk menemui nak Nur dan tuan! Tapi nak Nur tau-tau sudah ada di sini saja?" ucap mbok Siti dengan lembut dan terlihat sedikit bingung....


..."Iya mbok, tadi waktu saya masuk ke kamar bapak, beliau masih tidur, jadi saya segera keluar takut nanti keberadaan saya di situ menganggu dan membangunkan beliau." ucap ku ...


..."O wa la, ternyata tuan masih tidur to? Kalau begitu mbok permisi mau beres-beres rumah ya nak Nur, sambil menunggu tuan bagun?" ucap mbok Siti...


..."Tidak perlu sibuk beres-beres rumah mbok, biar saya saja yang mengerjakannya, mbok istirahat saja di kamar sambil mendengarkan jika tiba-tiba bapak memanggil ! Oh iya, mbok sudah sarapan pagi atau belum? Jika belum mbok sarapan dulu sana! Atau mari kita sama-sama sarapan!" ucap ku panjang lebar ke mbok Siti...


..."Saya belum sarapan sih nak Nur, memang sengaja menunggu nak nur, biar nak Nur sarapan duluan selesai itu baru mbok! Tapi, soal beres-beres rumah, nak Nur jangan melarang mbok ya! soalnya mbok sudah terbiasa mengerjakannya, jadi, jika di suruh hanya berdiam diri di dalam kamar dan menunggu panggilan dari tuan, mbok merasa ada yang kurang gitu atau bagaimana gitu? Memasak dan beres-beres rumah sudah menjadi sebagian dari hidup mbok," ucap mbok Siti dengan nada memelas, wajah dan matanya terlihat sedang memohon....

__ADS_1


..."Ya sudah, jika mbok mau mengerjakannya! Tapi ingat mbok juga harus jaga kesehatan, jangan terlalu capek memaksakan diri untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah! mbok harus banyak istirahat biar kuat merawat bapak! Kalau begitu mari kita makan sama-sama ya mbok! " ucap ku sambil sedikit menarik lengan mbok Siti menuju ke meja makan yang ada di tengah-tengah dapur....


..."Maaf, nak Nur makan duluan saja, biar mbok makan setelah nak Nur selesai!" ucapnya sambil mencoba melerai tangan saya yang menarik lengannya tersebut....


..."Tidak, mbok makan dengan saya!" ucap ku lagi sambil terus menarik lengan mbok Siti....


..."Tapi nak? mbok kan cuma perawat, ya bisa di bilang pembantu! Jadi tidak sopan jika bergabung dengan majikan dan makan bersama di atas satu meja." ucapnya dengan ekspresi wajah yang agak takut dan merasa rendah....


...Sontak saya pun terkejut, dan segera menarik napas panjang, kemudian membuangnya dengan perlahan. Agar bisa menetralkan kembali perasaan ini yang terkejut mendengar penuturan mbok Siti itu....


...Hhhhuuuuuuffffhhhhhh..........


...*Apa? kata mbok tidak sopan jika pembantu makan di atas satu meja dengan majikan? Nggak sopan dari mana, kan kita sama-sama manusia? Jadi tidak harus membedakan status antara pembantu atau majikan? * Lirih ku dengan suara kecil seperti sedang berbisik-bisik, tapi saya merasa mbok Siti masih mendengar perkataan saya itu....


..."Mbok....!, mbok! Yang tadi mbok katakan itu, ajaran dari mana? Status kita itu sama di mata sang pencipta, dan di dunia, kita sama-sama manusia dan berstatus sebagai hamba, tidak ada yang berhak membedakan manusia satu dengan manusia yang lain ke cuali Allah semata. Baik pembantu maupun majikan kita sama-sama manusia, jadi tidak ada kata tidak sopan jika kita makan atau berkumpul bersama-sama. Untuk itu, jika dengan saya mbok tidak perlu sungkan, karena saya memegang prinsip tersebut, entahlah dengan orang lain di luar sana yang selalu merendahkan status seorang pembantu!" ucap ku dengan penuh penekanan di setiap kalimat yang saya katakan tersebut, biar mbok tidak sungkan dengan saya dan mau akrab dengan saya....


..."Wah, terima kasih banyak ya nak Nur! Jujur, selama mbok bekerja sebagai perawat sekaligus pembantu, dan sudah beberapa kali pindah-pindah majikan, dan terakhir di sini, baru kali ini saya bertemu majikan seperti nak Nur yang tidak merendahkan status seorang pembantu!, sebelum-sebelumnya tidak ada yang menghargai mbok seperti nak Nur ini." ucap mbok Siti dengan wajah yang terlihat memerah dan terlihat juga butiran-butiran bening terjatuh dari kedua matanya dan membasahi pipinya yang masih terlihat awet muda itu....


...Mendengar perkataan mbok Siti itu, saya merasa apakah di dunia ini sebagian orang tidak bisa menghargai dan menyayangi seorang pembantu seperti keluarga sendiri?....

__ADS_1


...Hati ini seketika terasa remuk dan hancur, mendengar bahwa seorang pembantu sangat rendah di mata sebagian majikannya. Sehingga mereka tidak terlalu di hargai. ...


...Air mati ini pun tanpa sadar sudah terjatuh dan tak terhentikan, semakin memandang wajah mbok Siti yang terlihat sangat sedih, semakin deras pula jatuhnya, sontak saya pun langsung memeluk dengan erat tubuh mbok Siti. Mbok Siti pun membalas pelukan saya, dan kami pun menangis bersama menghilangkan kegundahan di hati kami masing-masing, dan saling memberi kekuatan di dalam menghadapi kenyataan hidup di dunia ini....


...Ya kenyataan hidup kami berdua, mbok Siti di rendahkan karena statusnya sebagai seorang pembantu. Sedangkan saya di rendahkan bahkan tidak di anggap karena status ekonomi, ya karena saya dari keluarga yang status ekonominya di bawah, bisa di bilang orang miskin. Seperti itu yang selalu di ucapkan ibu mertua saya jika memanggil saya, selalu saja kata miskin ikut di ujung kalimatnya....


..."Pokoknya mbok harus kuat, menghadapi cobaan dan kenyataan ini! Karena kita sesama manusia memiliki cobaan yang berbeda-beda, saya juga memiliki banyak cobaan kok mbok! Makanya kita harus saling menguatkan agar bisa menghadapinya!" ucap ku dengan suara yang ku buat seperti seorang yang sangat kuat, padahal aslinya saya juga rapuh dalam menghadapi kenyataan hidup ku terutama selama berada di rumah ini....


...*Saya sempat berpikir jika ibu mertua saya itu bertemu dengan mbok Siti, apa ibu mertua saya itu juga tidak bisa menghargai mbok Siti atau bagaimana ya,? soalnya mbok Siti cuma perawat di sini? Saya saja yang berprofesi sebagai menantu beliau tidak pernah di anggap, dan selalu di hina?* Lirih ku dengan ekspresi yang sedikit ngeri dan takut jika mengigat wajah garang ibu mertua saya itu....


..."Ya sudah! Mbok yang sabar ya! Lebih baik kita sarapan dulu yuk! Dari pada terus bersedih - sedih seperti ini, mending kita mengisi perut biar ada tenaga. Terutama mbok harus mengumpulkan banyak tenaga agar dapat merawat bapak! Tapi mbok tenang saja, saya pasti akan selalu membantu mbok jika kebetulan saya tidak sibuk!"...


..."Sekali lagi terima kasih nak Nur! Nak Nur sudah mau mendengarkan curhatan hati mbok!" ucap mbok Siti kali ini wajahnya sudah terlihat ceria kembali....


...Kami pun sama-sama menuju ke meja makan, untuk memulai sarapan di pagi hari ini....


...BERLANJUT............


...MAAF MASIH BANYAK TYPO..... JANGAN LUPA UNTUK BERKOMENTAR ATAU MEMBERI MASUKAN DAN SARAN !!!!!!!!!...

__ADS_1


__ADS_2