
Bukk….. terdengar sangat jelas suara benda yang terjatuh. Dia meringis menahan pantatnya yang sudah keduluan menyentuh tanah. Dia kesakitan sendiri. Ya, benda itu adalah gadis berseragam putih abu-abu yang teledor menginjak roknya yang melilit ke bawah.
Ia menoleh ke seluruh penjuru madrasah, berharap tak kan ada seorang pun yang melihat kejadian sial ini. Namun ternyata waktu tak berpihak padanya. Di depan ruangan paling selatan terdapat sosok pria yang sedang memperhatikannya saat ini. Pria itu tak ber ekspresi sama sekali, membuang muka seakan tak peduli.
Pagi ini merupakan awal baru disekolah barunya. Yang pasti sejarah baru akan dimulai dari sekarang. Tentang kepindahannya tak banyak orang yang ia beri tau. Perlu digaris bawahi_ini merupakan perpindahannya yang ke tiga kalinya.
“Nama saya Aira Fatma.” Gadis itu memperkenalkan diri didepan kelas. Terlihat sangat jelas bahwa ia sedikit gugup menatap beberapa pasang mata dalam suasana yang baru.
“Dan kalian bisa memanggil saya Aira.” Tambahnya kemudian.
"Baiklah Aira, silahkan cari tempat duduk yang kosong.” Ucap guru Ekonomi memerintahkannya mencari tempat duduk. Sebelum masuk kelas, Aira pergi ke ruang guru terlebih dahulu. Kepala Madrasah memperkenalkan dewan guru yang hadir satu per satu. Untung ingatan Aira cukup bagus, sehingga dia masih hafal wajah pengajar Ekonomi dikelasnya.
“Duduk disini Aira.” Ajak perempuan cantik yang berkerudung senada dengan brosnya.
“Iya.” Dari tampangnya perempuan disebelah Aira terlihat seperti orang yang arogan.Ternyata salah, ia berkepribadian seperti seorang ibu. Baik, ramah, juga penyayang.
Hmmm ibu.. aku rindu. Dengan gayanya yang khas, ibu selalu membuatku nyaman berada disampingnya. Meskipun sering marah, tapi aku tau kalau ibu sangat menyayangiku. Batin Aira merindukan sosok ibunya.
“Aira, namaku Afina Nasira, kamu panggil saja sesuai yang kamu suka.” Dia tersenyum menatap wajah Aira yang sedikit sungkan.
“Saya panggil kamu Afi, boleh?.” Tanya Aira was-was. Khawatir yang ditanya tidak suka dengan panggilan baru darinya.
Responnya juga tak disangka-sangka.
“Hahaa great! Itu bagus Aira, baru kali ini ada seseorang yang memanggilku seperti itu.” Tampaknya perempuan itu sangat suka.
Semenjak saat itu, Aira dan Afi menjadi teman dekat sampai teman-temannya memberi julukan CARAMEL-CRISPY dua kelezatan dalam satu gigitan, hahaaa.
...****************...
Tiga minggu di Pesantren berhasil membuat Aira sesak, entah karena ruangannya atau karena manusianya. Aira benar-benar merasa berada dalam sel tahanan, penuh aura ketakutan, kebencian, serta amarah. Seandainya ada satu hal yang bisa membuatnya keluar dari bangunan menyeramkan ini, jika rumus akan ia pahami sampai mengerti, jika besi akan ia asah hingga tipis, jika samudera akan ia kelilingi hingga lelah. Sampai tak ada seorangpun yang tau kalau pernah ada nama AIRA di bumi pesantren.
“Aira, tugasnya sudah selesai?.” Tiba-tiba saja Afi nongol didepan gadis yang sedang sibuk mencari pensilnya.
Aira mendongak kan kepalanya.
“Kenapa?.” Setengah mengejek ia memalingkan wajahnya ke lain arah.
__ADS_1
“Pinjam Ai.” ucap Afi memohon memelas.
Tak sampai hati Aira membiarkan sahabatnya menunduk terus menatap lantai
“Ambil tuh sendiri!.” ucap Air menunjuk ransel hijau panda miliknya.
Adi berjalan kearah Aira dan Sambil mencubit pipi Aira, gadis bermata coklat itu ber ucap.
“Terimakasih Aira sayaaang, kamu terbaik dah pokoknya.” ucap Alfi, Kalau urusan memuji, dialah jagonya.
Setelah mengerjakan tugas alias meng-copy paste milik Aira, Afi melongo, mulutnya menganga, matanya seakan mau lepas. Dia terus berteriak-teriak menyebut nama seseorang dengan lantang. Aira tak menghiraukan sahabatnya, masih dengan posisi menatap bacaannya.
“Aira, Ai,…lihat dikit kek.” ucap Afi sambil mengguncang tubuh Aira dengan
keras.
Karena terganggu akhirnya Aira menuruti perintahnya.
“Laah apa fi?.”Tanya Aira jengkel.
“Ustad Nofil ganteng banget Aira, ganteeeng sekali.” ucap Afi Nama yang terdengar asing ditelinga Aira.
Jelas-jelas tidak ada siapa-siapa disana.
"Afi Afi..ada ada saja kamu." gumam Aira.
...****************...
Semua santri terlihat kurang semangat, terutama Aira yang kelihatan begitu lusuh didepan kamarnya.Butuh kekuatan tubuh yang fit agar bisa mengikuti segala macam kegiatan di pesantren. Pagi harus bangun sebelum ayam berkokok, berdesakan dikamar mandi, ngantre buat ambil jatah makan, dan semuanya serba ting, ting, ting (bel berbunyi). Beda lagi kalau malam. Bel ini bel itu., uuuuh ribet. Pusing, pegel, dan bikin bete.
Aira merebahkan tubuhnya sebentar dilantai putih bermotif bunga-bunga. Ia mengunjuk nafas perlahan, pertanda bahwa ia benarbenar letih siang ini.
Satu, dua, tiga, matanya terpejam dan semuanya menjadi gelap. Suara anak-anak lama-kelamaan menghilang dari pendengarannya.
“Aira, Aira, banguun! Kok sampeyan malah ada disini, tidak ikut jamaah dzuhur yaa?.” Suara lantang seseorang membangunkan Aira yang terlelap.
Aira terlonjak kaget seketika.
__ADS_1
“Ya Allah mbak, ini sudah jamaahnya?.” Tanya Aira yang dijawab dengan anggukan kecil.
“Kenapa saya tidak dibangunin mbak?.” sambung Aira.
“Suruh siapa sampeyan tidur pada jam segini?.” ucap Orang tersebut berlalu meninggalkan Aira yang masih setengah sadar.
Dia, Anna. Ketua kamar dikamar Love Room. Kamar yang menjadi tempat peraduan nasib seorang Aira. Anak manja penuh cerita, banyak bicara, juga banyak berfikirnya.
Awalnya Anna sangat membenci Aira, semua itu bermula ketika kejadian yang tak diharapkan oleh Aira terjadi begitu saja. Setelah ajian kitab malam sekitar jam 10:00, Aira menangis sesenggukan didalam kelas.
Aira tidak mau kembali kekamarnya apalagi disuruh kembali menghadapi suasana yang serba aturan. Ingin sekali ia menangis sepanjang malam, namun seketika terdengar dentuman keras dari ruangan sebelah yang berhasil membuat air matanya berhenti mengalir.
“Aneh, masih adakah orang lain ditempat ini pada jam ini?.” batin Aira melambung kemana-mana, takut sesuatu terjadi, takut ada makhluk bukan sejenisnya yang bertamu.
Aira berjinjit hati-hati menuju ruangan sebelah. Dan dua makhluk diruangan itu sedang bertengkar, dan kini menoleh kepintu, tepat kearah Aira berdiri.
Disana Anna dan pria berpeci hitam menatap angkuh dengan pandangan mematikan. Aira hanya melongo tak percaya. Pria itu adalah ustadnya di Madrasah Diniyah.
“Kenapa Mbak Anna ada disini berdua dengan pria itu?.” ucap Aira bertanya penuh selidik dalam hati.
Sejak saat itulah Aira dan Anna menjadi akrab, mereka saling bercerita satu sama lainnya, saling membantu, juga saling menguatkan.
Anna menganggap Aira seperti saudaranya sendiri bahkan melebihi dari itu.
“Mbak Ann maaf yaa!.” teriak Aira Yang dikejar tak kunjung menoleh
“Buat?.” Tanya Anna mengangkat sebelah alisnya. Sebenarnya ia tau kalau Aira tak sengaja tidur sampai tak ikut jama’ah dzuhur.
“Semuanya Mbak Ann.”
“Hmm???.” Lagi-lagi Anna menampilkan raut wajahnya yang sok kebingungan.
“MBAK ANNA JANGAN MARAH YAA.”
Kali ini Aira berteriak sekuat tenaga supaya Anna mendengar kan suaranya. Setelah Aira pergi begitu saja, Anna senyum-senyum sendiri dengan kelakuan saudaranya itu. Sungguh melegakan bagi Anna membuat Aira sedikit terusik karena ulahnya yang kampungan.
Sementara dilain sisi, Aira merasa kalau Anna sedang kesal terhadapnya. Aira selalu cepat memvonis seseorang tanpa berfikir panjang. Karena bagi Aira, seseorang itu mudah ditebak hanya dengan melihat raut mukanya saja.
__ADS_1
...****************...
...🌼Selamat membaca🌼....