Mencintai Dalam Diam (MDD)

Mencintai Dalam Diam (MDD)
Bab VII


__ADS_3

Berpapasan dengan seseorang yang menaruk hati terhadapnya adalah situasi tersulit yang segera dihindari. Aira yang keluar dari ruang guru tanpa sengaja bertatap muka dengan Nofil singkat beberapa detik, namun keduanya segera menundukkan pandangan, khawatir nafsu syetan mengalahkan akal sehatnya masing-masing.



Ekhem-ekhem…



Dekheman seseorang dari dalam ruangan menambah kecanggungan diantara mereka ber dua. Aira tak ingin berlam-lama di tempat horror tersebut, namun seketika,



“Perlu apa Aira?” Pertanyaan Nofil seketika membuat Aira semakin menundukkan padangannya.



Aira hanya menggeleng. Sebenarnya, niat Nofil hanya ingin membuat mereka terbiasa seperti yang lainnya. Namun, bagi Aira, waktu seakan mencekamnya dengan beribu sayatan hampa kerinduan.



Nofil merasa bersalah, ia menganggukan kepalanya mencoba mengerti sikap ketidak sukaan Aira, lalu memasuki ruang guru dengan meninggalkan bekas ekspresi wajah Aira di benaknya.



Aira pun begitu, ia sedikit merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan, ia yakin Nofil terganggu akan sikapnya. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu di depan seseorang yang statusnya masih sebagai Ustad di Pesantren Al-Miftah.



Perasaan Aira berdesir ketika mengingat sosok lelaki pembawa cinta kedalam kehidupannya, ia ingin segera mengutarakan niat sucinya agar tak segera bermunculan fitnah di kemudian hari. Serta tak ingin terlalu lama menggantung pengharapan seseorang.



Sebuah surat kecil Aira tulis dengan penuh keindahan.


*Bismillahirrohmanirrohim…


Isyaallah saya bersedia menerima khitbahmu, semoga Tuhan meridhoi niat suci ini.


_Aira Fatma


Suratnya ia titipkan kepada Anna untuk disampaikan kepada lelaki pilhan hatinya. Setelah ini ia akan menjalani kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Nofil akan menjadi tempat peraduannya berbagi masalah selain sahabatnya.

__ADS_1



Ya, Afina Nasira belum mengetahui hal ini. Ia akan segera memberitahukannya lalu tak lupa juga meminta maafnya yang tertunda.



Aira berkeliling mencari keberadaan sahabatnya, sudah semua tempat ia datangi, namun sahabatnya masih tetap tak kunjung ia temukan.



Aira berhenti di bawah pohon belinjo sambil merasakan desiran angin yang cukup membuatnya rileks. Disaat ia hendak berdiri meninggalkan tempatnya, Sahabatnya datang menepuk bahunya. Aira telonjak kaget, segera menepis tangan yang mengganggunya.



“Hush Fi, bikin kaget saja kamu,” Marah Aira penuh kedengkian.



“Yaa laah Airaa, kamu memang sering cepet ngambeknya, dikit - dikit ngambek, dikit - dikit ngambek, nggak seruu,” Afi memonyongkan mulutnya.



“Abisnya siapa yang berulah duluan, harusnya kamu yang sadar diri, jangan selalu menyalahkan saya Fii..” Ucap Aira yang tak mau disalahkan.




Aira merendahkan suaranya perlahan, “Fii..” sambil mengguncang tubuh sahabatnya.



“Ada satu hal yang ingin saya ceritakan padamu Fii..tapi jangan marah ya? Ya?”



“Hemm” Jawab Afi datar. Namun, terlihat sedang focus mendengarkan cerita dari sahabatnya.



“Saya menerima khitbah Ustad Nofil Fi,”

__ADS_1



“APA?” Tanya Afi tidak percaya.



Jujur Aira merasa bersalah telah lama menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari sahabatnya.



“Maaf Fi, saya baru cerita, sebenarnya sudah lama, tapi waktu itu saya masih bingung dengan perasaan saya sendiri.”



“Sejak kapan Ai..? Beneraan? Saya nggak salah denger kaan?” Afi masih tetap tak percaya.



“Iya Fi, bener. Waktu itu Mbak Anna yang Beliau utus kepada saya,” Aira semakin merasa bersalah.



“YES” Ucap Afi antusias. Respon Afi berbanding terbalik dengan dugaan Aira, Afi terlihat senang mendengar keputusan sahabatnya.



“Aku sudah menyangka Ai, Ustad Nofil menyimpan rasa terhadapmu, sangat jelas sekali dari tatapannya ketika melihat bangku kosongmu kala itu,” Ya, ketika Aira tidak masuk sekolah dulu, ketika Aira berperang melawan sakitnya.



“Saya juga tidak tahu Fi, kapan rasa itu muncul di hati ini,” Sembari Aira menyentuh dadanya.



“Cinta ada karena terbiasa Airaa.. mungkin kamu terbiasa menyaksikan ke arifan Ustad Nofil, sehingga menumbuhkan rasa yang tak pernah kau duga sebelumnya.” Jelas Afi seperti dokter cinta.



Aira tersenyum malu-malu, berbagi masalah dengan orang lain membuat ke khawatiran serta ketakutan sedikit teratasi. Keduanya berjalan bersisian menyaksikan siluet sunset dari gedung tingkat dua Madrasahnya. Kebiasaan Aira dari dulu, susah senang nya ia abadikan melalui sinar sunset yang kemerah-merahan.


Maaf ya cuma sedikit di part ini,, semoga di part ini kalian semua suka😊😊 dan satu lagi terima kasih sudah mampir ke sini ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


🌸 Selamat membaca 🌸


__ADS_2