
Flasback.
“Wa’mur ahlaka bishsholaati washtobir ‘alaihaa.”
“WhoooaaaaM.” sekali lagi ku menguap.
“Itulah salah satu keutamaan dari perilaku suami istri yang saling mengajak menunaikan shalat di sepertiga malam.”
“Husst Aira, jaga tuh mulut kau, menguap saja kelakuannya.” sambil melempar gulungan kertas, Nabil meletakkan angka satu pada jarinya di depan mulutnya.
“Masih lama ini kah Bil?I am very sleepy now, kebiasaan lah kalau Ustad yang satu ini, pengajiannya lamaa minta ampuun.”
“Tenanglah sebentar lagi Aira, setelahini kita langsung ambil jatah sarapan kita pagi ini.” sambung Nabil lagi dengan suaranya yang krisik - krisik.
Begitulah kegiatan dipesantrenku (NURUL ISLAM) setiap petang menjelang paginya.Ada rutinitas pengajian yang diisi oleh sebagian Ustadz senior yang katanya waktu subuh sangat baik untuk mengisi hati dan fikiran dengan ilmu-ilmu Allah.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Siapa coba yang tak kenal ana (Aira Fatma)? Seantero pondok pun sangat hafal dengan wajah santri mungil sepertiku.
Disetiap Blok terpampang gambarku yang tak sama beda, buat apa coba? Apa lagi kalau bukan buat pajangan SANTRI SETRAPAN, sedikit-sedikit lambat ajian, tak hafalan mufrodad, telat ke musolla, dan masih banyak lagi pelanggaran kecil yang tak sengaja aku perbuat.
“Aira dipanggil Bu Nyai.” panggil salah satu santri padaku.
Tumben sekali Bu Nyai manggil saya di pagi - pagi buta seperti sekarang, biasanya kan masih nanti sepulang Madrasah. Ku mencoba mengingat mungkin ada hal yang tidak ku selesaikan kemarin sore.
Sampai di ndalem ku mencari-cari Ibu Nyai didalam kamarnya, tapi tak ada.Ku cari kedapur, tak ada.Pas ku lewat di serambi musolla ternyata Bu Nyai sedang berbincang-bincang dengan Ustad Syafiq.
Aku tak mau mengganggu beliau, jadinya ku mundur selangkah dua langkah menggeser tubuhku kesamping,,,
BRUUUKKKK,,,,, kakiku mengenak vas bunga yang berada dibelakangku.
“Ya Allah, Astaghfirullahal’adzim, Aira.” spontan Bu Nyai menoleh kearah bising yang aku buat.
“Maaf Bu Nyai Fatimah, Aira tidak sengaja, biar Aira langsung bersihkan sekarang pecahanpecahan vas bunga ini.” ku tertunduk penuh malu dan enak hati pada Bu Nyai.
“Sudah sudah biar bersihkan nanti saja Aira.”
“Sampean kembalilah kepondok nak Syafiq, kita lanjutkan nanti perbincangan ini.” suruh beliau pada Ustad Syafiq.
“Mari ikut saya Aira, ada hal yang ingin saya sampaikan.”
“Inggih Bu Nyai.”
Ternyata oh ternyataa, kalian tau apa yang Bu Nyai sampaikan padaku? Seorang Aira disuruh gantikan Bu Nyai murok santri ketika besok beliau meos sekeluarga ke Luar Kota.
Alamaaakk bisa apa aku ini? Waktu pengajian tak pernah menyimak, ke madrasah sering telat, kalau malam tak pernah mutola’ah, mampus lah akuuu ini.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
“KUMI AIRA!” “Anti mutakhkhiriina aidon?.” ketahuan aku lah, habisnya ngantre mandi lama sekali tadi.
“’afwan Ustadzah,,, iyalah saya telat, habisnya tadi pagi saya ngantre mandinya looooong very.” dengan kosa kata yang amburadul aku coba menangkan si hati Ustadzah.
“Cepat lari keliling lapangan tujuh kali Aira.”
“Yaelah Ustadzah, kan saya sudah minta maaf, sudah mengaku kalau salah.”
“Tapi kamu bukan cuma satu dua kali Aira, sudah berulang kali kamu telat, bahkan sudah berulang kali kamu janji tidak akan mengulanginya.”
Capek bukan main aku yang keliling lapangan. Untung kaki ini Tuhan yang menciptakan, kalau tidak?.
Sudah nyantol ke atas tiang satu per satu kaki aku.
Ku istirahat sebentar dibawah pohon Belinjo yang sangat rindang itu, ku menulis sedikit isi hatiku pada Diary ku yang sudah hampir usang.
Ya Allah,,,
Peluklah diri ini ketika sudah mulai goyah akan kuasaMu
Jangan Engkau biarkan hambaMu yang kecil ini
Jauh terjungkal-jungkal meniti duri-duri kehidupan tanpa cahaya.
Biarkan saya terus menengadah meminta maghfirohMu
Karna Engkaulah sebaik-baik penerang dalam hidup ini.
Ku akhiri tulisanku karena semua santri bergemuruh di depan Blok Al-Azhar.
Biasanya kalau sudah seperti ini pasti masalah nilai ulangan yang sengaja dipampang di papan informasi.
Kalau aku tenang saja lah, karna mau bagaimana pun hasil nilai ulanganku tak akan jauh dari angka 6.
“Gimana Bil hasil ulanganmu? Meningkat tak?.” ku tanya pada Nabil yang juga sibuk berjinjit melihat papan informasi.
“Yaaah Aira, kamu saja yang lebih pandai dari pada saya selalu dapat 6, apalagi saya?.” malu lah kalau lebih tinggi darimu Aira, pasti ketahuan sekali nyonteknya.Bisik hatinya.
“Alhasil kita bersama lagi ikut ulangan yang ke siswa.” ku berteriak sambil merentangkan tangan.
“Oh iya Bil, saya ke ndalem dulu ya, soalnya banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan habis ashar tadi” ku potong pembicaraan mengenai ulangan dengan cepat melangkah pergi ke ndalem.
"Take care Aira,,, kalau ketemu Lora Yusuf sampaikan salam saya, okey? I lope you puul.” suara Nabil terkekeh dari kejauhan.
Benar dugaan Nabila Marissa itu, sang lora ternyata berada di ndalemnya. Eits ada yang lupa aku ceritakan, Lora Yusuf itu putra tunggal KH.As’ad bersama Nyai Fatimah, alias penerus tunggal pesantren Nurul Islam yang cukup terkenal di pulau Jawa.
__ADS_1
Beliau lama nyantri di pesantren Tebu Ireng Jombang, sehingga kepulangannya mampu membuat seluruh santri putri pada caper (cari perhatian)untuk membantu lelakon yang ada di ndalem, padahal modusnya cuma satu.
Terlihat sempurna didepan Ra Yusuf.
“Assalamu’alaikum Ra, mungkin ada pakaian yang kotor mau saya cuci.”
“Inggih mbak, itu didalam keranjang.” dengan sopan Beliau menunjuk ketempat cucian tadi.
“Kalau ada Ummi, minta tolong sampaikan ya mbak kalau saya tidak mau murok nanti malam, soalnya saya masih capek, biar Ummi cepat cari pengganti saya.” sambil meneruskan membaca bacaannya.
“Inggih Ra, Insyaallah saya sampaikan.”
Ku tak habis pikir, banyak santri yang tergila-gila akan Lora Yusuf, dia tampan, pandai, alim, pokoknya spesies sempurna yang tak ada tandingannya.
Tapi kenapa dengan aku? Aku waras kan? Sampai sekecil biji jagungpun hati ini tak pernah sekalipun kepincut akan charisma sang Lora, ooooh masak iya Aira? Lalu seperti apa yang kau inginkan?.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
“Saida,,, minta tolong boleh?. tanyaku pada adik tingkatan.
Na’am ukhti, madza?.” jawab Saida.
“Sampaikan pada Nabil, saya izin tidak ikut pengajian, soalnya dipakon Bu Nyai membersihkan kotoran ayam dibelakang pesantren.”
“Na’am uballigh ilaa ukhti Nabil.”
“Oh iya juga sekalian suruh ngambilkan jatah makan saya yang nanti sore ya.”
Dibelakang pesantren terdapat banyak kandang ayam, namun untuk sekarang hanya dua yang terpakai, aku dan dua santri lainnya disuruh membersihkan kandang ayam yang tidak terpakai.
Sekumpulan santri putra terlihat begitu jelas dari kejauhan sedang bersih-bersih selokan di samping kanan jalan raya, aku melihat dengan jelas ada Ustadz Anwar dan Ustadz Syafiq yang sedang berjaga. Namun aku yakin Beliau tidak akan menyadari adanya santri putri di tempat yang sedang aku bersihkan sekarang.
“Eh Nur, Laila, tolong ambil galah dan sekop di pondok putri sana, biar saya disini sambil meneruskan membuang kotorannya.” suruhku pada mereka berdua.
“Tapi Mbak Aira tidak apa-apa sendirian disini?.”
“Sudah jangan khawatirkan saya.”
“sana cepat.”
“Kalau tak ada galah, kami ambil sapu saja ya mbak?.”
“Terserah kalian lah Nur,,, yang penting bisa jangkau kotoran yang ada diatap sana.” kumenunjuk keatap yang kebetulan sangat-sangat kotor.
Keluar kedalam ku coba bersihkan kotoran itu sendirian, tapi musibah yang terjadi, kakiku terpelosok jatuh kebawah kandang, karna bertepatan kandang ayam milik Kyai terbuat seperti rumah panggung Upin dan Ipin.
“AAAAKKKHHHH YA ALLAH,,,” ku bertariak sekuat tenaga agar ada seseorang yang mendengarnya.
“AAAAKKKKHHHHHHHHH.”
“Astaghfirullahal’adzim Aira, apa yang terjadi?.” ternyata Ustadz syafiq bertepatan sedang berkeliling pondok. Langsung beliau mencoba mengangkat saya dari jebolan kandang.
“Coba ana bantu Aira berdiri.”
“AAAuuh sakit ustadz.” ku terduduk kembali tidak kuat menopang tubuh dengan kaki yang sepertinya terkilir.
“Baik, ana bantu ukhti sekali lagi.”
“ASTAGFIRULLAH apa-apaan Ustadz dan Mbak Aira ini?.” tiba-tiba Nur dan Laila sedang memegoki kami yang sedang berpegangan tangan.
“Maaf, ini tidak seperti apa yang kalian fikirkan.” Ustadz Syafiq mencoba membela diri.
“Lalu seperti apa Ustadz?.”
“Ustadz yang mengajarkan kepada kami untuk menjaga batasan antara seorang muslim dan muslimah, tapi kenapa Ustadz sendiri yang tak tau batasan.” mereka geram kepada kami.
Bantulah hamba meluruskan masalah ini Ya Rabb..pintaku pada Tuhan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sesampainya dipondok, aku langsung menceritakan kejadian tadi kepada sahabatku Nabil, dia tidak merespon seperti biasanya karna ia juga tau, Nur adalah anak asuhan Bu Nyai yang bisa saja langsung mator kepada Beliau. Setelah aku mulai sedikit tenang, ku coba mengambil wudlu’ untuk bermunajat pada Rabb ku.
Tak henti-hentinya bibir ini bergetar menyebut namaNya, memohon agar mereka semua diberi penjelasan tentang kebenaran atas apa yang telah terjadi.
Ku meringkuk menahan tangis yang jatuh bercucuran bersamaan dengan peluh.Ku coba tetap dalam kondisi sadar agar lafadz yang ku ucapkan tak sia-sia. Kini mukenaku telah basah akan air mata, mataku bengkak, lututku nyilu. Aku masih takut untuk keluar kamar karena isu-isu tak benar itu telah menyebar ke seluruh penjuru pesantren.Aku takut Kyai dan Bu Nyai murka terhadapku. Aku masih takut akan segala hal.
Tiba-tiba saja…
“Silahkan ukhti Aira ikut saya ke ndalem, anti di panggil Bu Nyai.” ucap Ustadzah di pintu kamarku.
Ku memejamkan mata untuk sejenak sebelum akhirnya melangkah mengikuti Ustadzah.
Kalian tau apa yang terjadi setelah itu?.
PLAAK… satu tamparan berhasil mendarat dipipi kananku.
PLAAK… satu tamparan lagi dipipiku yang kiri.
BSSRT… kli ning kli ning, kini tasbihnya melayang ke hidungku, hingga ku merasa ada yang mengalir perlahan ke permukaan hidungku. Darah segar.
“Maafkan saya Bu Nyai, sungguh itu diluar kesadaran saya, saya benar-benar tidak sengaja berpegang tangan dengan Ustadz Syafiq.” jatuh sudah air mataku.
“Saya tau kamu ngerti agama Aira tapi kamu perlu hati-hati dengan hal kecil disekelilingmu.” terdengar sekali suara Beliau melemah mengecewakan sesuatu.
“Maafkan saya Bu Nyai.” ku menunduk sebisaku agar beliau tak sampai melihat hidungku yang berdarah. Nyeri kurasa.
__ADS_1
“Silahkan kamu bertunangan dengannak Syafiq sekarang Aira."~! keputusan final Beliau.
APAAA?tidak mungkin, tidak mungkin ini terjadi.
**************
Bismillah ku terangi siang malamku dengan memohon petunjukNya, Dengan silap mata ku tertatih seorang diri mengejar, berlari, mencari sebuah sinar.Sinar yang akan mengantarkanku pada keridhoan sang Ilahi.
Begitulah sedikit tulisan yang bisa ku tulis ke dalam Diary ku. Entah apa ku bosan menulis, bosan tersenyum, mengingat keputusan Bu Nyai yang terlalu cepat itu. Ku hanya berharap sebuah keajaiban datang menghampiriku.Ya, keajaiban.
Selang beberapa hari, ada panggilan untukku di ruang pengiriman santri.
Ku tanya pada Ustadzah ternyata panggilan dari Ustadz Syafiq.
Ku tertunduk lesu menerima kenyataan ini, bagaimanapun caranya aku tidak mau Beliau yang menjadi pendamping hidupku, aku malu dengan diriku. Aku seseorang yang tak bisa di samakan dengan Beliau, baik dari segi alimnya, ilmunya, bahkan fisiknya. Beliaulah idaman para bidadari di Surga.
Kalian tau?Aku ingin pria yang romantis dan menarik, tidak seperti Beliau yang terlalu menoton.
Aaaaakkkh…
“Assalamu’alaikum Aira.” sapanya.
“Wa’alaikumussalam.” kujawab ketus.
“Saya tau Aira tidak mau bertunangan dengan saya.”
Alhamdulilah, akhirnya dia ngerti
“Saya juga tidak mau memaksa Aira untuk bersedia menjadi tunangan saya, maka dari itu tujuan saya memanggilmu kesini untuk mengatakan bahwa saya bersedia pindah tugas ke pesantren lain agar Bu Nyai tidak memaksa kita lagi untuk segera bertunangan.” dia menghela nafas sebentar.
“Bukannya saya mau menolak keputusan Beliau Aira, bukannya saya tidak mau menghormati Beliau. Tapi saya tau dan sangat sadar, kalau hubungan yang terjalin tidak atas dasar cinta, bagaikan sebuah bangunan tampa tembok, yaitu sia-sia.” lanjutnya.
“Terimakasih Ustadz terimakasih, semoga Ustadz mendapatkan jodoh yang terbaik, Amin..” ucapku polos dengan senyum mengembang.
Beliaupun meminta maaf serta memohon ridho kepada Kyai dan Bu Nyai di ndalemnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Seperti hari-hari sebelumya, aku lagi-lagi kena setrap oleh Ustadzah dan aku tidak lagi membantu lelakon ndalem, bahkan aku tidak pernah lagi berpapasan dengan Bu Nyai, dan beliaupun tidak pernah mendikani ku.
“Hei Aira.” menepuk pundakku.
“Yaelah Bil keget tau saya.” cemberut dibuat-buat.
“Kamu tau tidak Ai, tadi pas saya lewat di depan ndalem, sedikit mendengar perbincangan Bu Nyai dengan seorang santri.” tutur Nabil.
“Gimana katanya Bil?” tanyaku antusias.
“Beliau makon santri itu untuk memanggilmu.”
"Elah, bohong lah kau Bil.”
“Sumpah Aira.” sambil membentuk jarinya menjadi huruf V.
Hmmm ada apa ya Bu Nyai tu selalu bikin jantung saya mau copot.
Tepat setelah aku bergumam sendiri dengan hatiku, sudah ada Laila yang menyampaikan pesan Bu Nyai padaku untuk segera menemui Beliau.
“dhalem Bu Nyai.”
“Aira, sampean cuma saya tegur sedikit, sudah tidak mau pergi ke ndalem.” Ada-ada lah Bu Nyai ini, sedikit? Sampai berdarah seperti itu di bilang sedikit? Lalu di tegur yang banyak seperti apa?.
“Begini Aira, saya terima alasan sampean tidak mau bertunangan dengan nak Syafiq, tapi saya mohon dengan sangat pada sampean menikahlah dengan putra saya, Yusuf.”
"Ya Allah,,, cobaan apa lagi ini? Saya tidak pernah sekalipun tertarik dengan Ustadz Syafiq apalagi dengan Lora Yusuf, tolonglah bantu hamba
Ya Allah, saya tidak pernah sedikitpun berkeinginan untuk menjadi istri Beliau." batin Aira.
Aku menangis dalam dudukku. Aku tidak mampu ber-ucap apalagi sampai mendongakkan kepala.
“Saya tau sampean tidak akan setuju dengan apa yang saya katakan, saya punya alasan sendiri kenapa saya memilih sampean.” tutur Beliau.
"Tapi Bu Nyai,,, sa,,ya,,sa,,,ya,, sayaaa, belum siap untuk menikah dengan beliau, dan saya tidak pantas untuk bersanding dengan putra Bu Nyai.” suaraku terbata-bata.
“Pikirkan baik baik nak Aira, saya cuma ingin sampean yang menjadi ibu dari cucu-cucu saya.” Beliau menekankan kata-katanya.
"Mohon maaf Bu Nyai saya tidak ingin menikah sekarang, dan saya ingin mencapai cita - cita saya, dan saya mau memberi tahu ke Bu Nyai bahwa bapak saya mau ke sini." ucapku.
"Kapan yang mau kesini?." Bu Nyai bertanya
"Sekarang di perjalanan menuju kesini."
Beberapa saat kemudian tidak ada yang bicara satupun dari kami.
40 menit kemudian orang tua saya datang ke dhalem Bu Nyai, dan disambut dengan ramah.
Beberapa saat berbincang - bincang, bapak langsung to the poin.
"Mohon maaf Bu Nyai saya mau bawa Aira pulang dan berhenti dari pondok sini, dikarenakan saya pindah kerja ke luar kota, jadi saya mau bawa Aira pulang, mohon maaf sekali lagi Pak Kyai dan Bu Nyai."
"Jika itu keputusan bapak dan ibu saya tidak bisa mencegah Aira untuk tetap disini." Kata Bu Nyai.
Setelah selesai pamit ke Bu Nyai, saya pergi ke kamar untuk mengambil pakaian beserta kitab - kitab, sebelum saya keluar saya menuliskan surat untuk Nabil.
lsi suratnya
"Nabil..... sahabatku
Maaf saya gak bisa pamitan langsung ke kamu,, kau sahabatku yang selalu ada disaat saya sedih atau senang,,, oya sampai saya lupa😊😊 saya berhenti dari pondok sini karena bapak saya pindah kerja ke luar kota, jadi saya pindah, maaf sekali lagi...
Terima kasih atas waktunya Bestfriend."
Waktu itu Nabil tidak ada dikamarnya, makanya Aira nulis surat dan ditaruh di sekipan diantara bukunya.
...****************...
...Assalamualaikum teman - teman...
Terima kasih sudah membaca part ini
__ADS_1
Semoga kalian suka 😁😊😁