Mencintai Dalam Diam (MDD)

Mencintai Dalam Diam (MDD)
Bab VI


__ADS_3

Semoga di part ini kalian suka😊😊


❤Selamat membaca ❤



Suasana Madrasah selalu ramai seperti biasanya. Aira yang sudah sebulan berangkat ngaji dari rumahnya (Nyulok) tersenyum lebar kearah adik didikannya yang sedang melakukan tantangan darinya.



Ia sengaja memberi pertanyaan yang agak sulit. Agar kedepannya, adik yang ia didik tidak gampang terkecoh lagi dari pertanyaan ustad mereka.



Di seberang Madrasah, di lorong menuju dhalem pengasuh, terdapat seseorang yang tersenyum menyaksikan senyum ceria dari gadis berkerudung hijau daun di depan kelas pondok putri itu.Sikutan lengan seseorang dari belakang membuatnya spontan menoleh.



“Suka? Khitbah saja Ustad....jangan terus-terusan di pandangin, dosa lho!” Ucapan yang sangat menohok hati lelaki berseragam guru itu.



“Begini saja Ustad Nofil, mumpung yang di incar belum mempunyai ikatan dengan orang lain, cepatlah antum yang mengikatnya dengan erat, supaya tak akan ada yang berani melepasnya kecuali Ustad sendiri.” Saran Zain, salah satu pengajar senior di Pesantren Al-Miftah sekaligus sahabat Nofil itu berkata-kata dengan sangat tepat pada Nofil yang wajahnya sedang memerah.



“Kalau yang di ikat ternyata tajam dan membuat talinya terputus bagaimana Ustad Zain?”



“Maka, butuh bantuan benda lain untuk menjadi penguat tali yang akan putus, serta yang terpenting nih Ustad, jangan pernah berhenti mencoba dalam mencari cara agar bisa mengikatnya secara benar dan indah.”



Nofil terdiam sejenak, fikirannya tertuju pada sosok Aira yang teduh ketika tersenyum.



“Hmmm….” Lelaki itu memejamkan matanya.



“Tapi saya masih belum yakin Ustad.” Lanjutnya.



Zain mengusap pelan bahu Nofil sambil membisikinya sesuatu.



“Mintalah petunjuk pada Allah, istikharahlah!” Zain meninggalkan Nofil yang masih termangu di tempat. Nofil tak habis pikir, benarkah apa yang ia lakukan sekarang? Sesampainya di kantor pun, ucapan Zain menjadi bumbu pelengkap fikirannya. Ia terus mencerna kata per kata yang Zain sampaikan.



Gadis pencinta sunset juga penggila ice cream ini tak terlalu indah parasnya, masih banyak santri lain yang lebih darinya. Namun, hati Nofil terpaut hanya terhadap satu santri dengan tatapan teduh yang ia miliki.



“Kenapa murung Tad? Di panggil Kepala Madarasah tuh, sampeyan di suruh ke ruang kepala sekarang.” Suara besar milik pelayan pesantren membuyarkan lamunan indah nya.



“Saya Ustad? Kenapa? Apa terjadi sesuatu di Madrasah?” Tanya lelaki itu antusias.



“Kurang tau, yang jelas Beliau dalam keadaan kurang baik.” Pelayan tersebut pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di benak Nofil.



Terlihat dari luar ruangan, Kepala Madrasah sedang sibuk mengobrak-abrik beberapa berkas di mejanya. Nofil sedikit ragu-ragu untuk memasuki ruangan itu.



“Assalamu’alaikum wr.wb…”



“Wa’alaikumussalam wr.wb… Silahkan duduk nak Nofil” Ustad Saleh Abdullah menjawab salamnya serta memberi perintah kepada Nofil.



Lelaki berpostur lumayan bagus itu kikuk ditempat, ia memandang sekeliling ruangan untuk mengatasi kecanggungannya. Tiba-tiba Ustad Saleh angkat suara.



“Saya hanya ingin bertanya, benarkah yang di ucapkan Ustad Zain tentang perasaanmu terhadap salah seorang santri disini?” Tanya beliau.



Nofil menunduk, tak menjawab apa-apa.



“Tidak baik berlama-lama memelihara perasaan kepada yang bukan mahram, cepat halalkan dia dengan sebuah ikatan yang di ridhoi oleh Tuhan.”



“Tapi dia masih nyantri Ustad? Bagaimana kalau ternyata ke dua orang tuanya tidak pernah menerima rencana ini?” Ragu-ragu Nofil bertanya.



“Setiap rencana yang baik, akan menghasilkan yang baik pula. Apa salahnya mencoba nak Nofil? Bicaralah baik-baik kepada kedua orang tuanya, Insyaallah ia akan mengerti” Titah Ustad Saleh di cerna dengan sangat baik oleh Nofil, kini yang ada di fikirannya adalah kebenaran tentang perasaan yang saat ini ia miliki.



“Silahkan kau utus seseorang untuk bertanya lebih dulu kepada nak Aira, bukankah kau juga memerlukan jawaban darinya?”



Sejak saat itulah, nama Aira terkenal di kalangan para asatidz. Nofil mengangguk dengan pasti, lalu berpamitan sopan ke luar ruangan.



Ketika hendak berbelok menuju pondok putra, ia kembali melihat siluet gadis manis kesayangannya.



Astaghfirullah… pekiknya menahan gejolak hasrat hatinya. Langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa yang sedang ia lihat jatuh tersungkur kesandung batu besar di depannya. Gadis itu terlihat sangat terburu-buru.



Nofil tersenyum kecil, mengingat kejadian waktu lalu ketika tautan hatinya juga jatuh terjungkal dari atas meja. Gadis itu ceroboh… tebaknya. Lalu melanjutkan perjalanannya.



Aira yang terjatuh menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Namun, ketika ia mendongakkan kepala, sudah tidak ada siapa-siapa disana.



Duh… malunya saya! Melihat betapa ceroboh dirinya di segala tempat. Aira menampakkan kekesalannya dengan menendang batu yang telah membuatnya terjatuh, namun kakinya hanya di jadikan korban saja, tak bisa ia membalas memarahi seperti kepada sejenisnya.



Ia tergopoh-gopoh menuju ruangan yang sangat di segani semua kalangan, baik kalangan santri maupun kalangan para asatidz pun enggan memasuki ruangan penuh wibawa di dalamnya.



Ternyata setelah sampai ke tujuan, Kepala Madrasah yang sedang ia cari pergi ke kota. Ada rapat mendadak yang harus dihadirinya.



“Kenapa ada disini Ai?” Tanya seseorang yang ternyata Afi sahabatnya.



Dengan malas Aira menjawab, “Hmmm, tadi kata santri yang lain, saya di panggil Ustad Saleh, tapi ternyata Beliau sekarang lagi pergi.”



“Ada perlu apa Ai?”



“Maa ‘aroftu lah Fi, kan bukan saya yang mencari Beliau,?” Sahut Aira dengan ketus. Sahabatnya tidak tau kalau Aira terburu-buru sampai membuatnya terjatuh.



“Ya woles Ai… aku kan cuma nanya, SALAH?” Dengan nada tinggi membuat Aira semakin jengkel.



“Tau aah.. kamu nyebelin.” Aira kesal, membiarkan Afi sendirin.



Afi tak mau kalah, ia berlari mengejar sahabatnya dari belakang.



“Tunggu lah Ai, gitu aja ngambek, dasar cewek egois.” Panggilnya sembari mengumpat.



Yang di kejar berbalik arah, melotot sambil meletakkan ke dua tangan di pinggang.



“Iya iya maaf daaah, abisnya kamu cepet ngambek siih” Sambil menggandeng tangan Aira bersama-sama menuju pondok.



“Eh Ai, tadi aku denger Ustad Nofil juga di panggil Ustad Saleh lhoo.” Afi membalikkan tubuh Aira menghadap dirinya.


__ADS_1


“Teruuss? Apa hubungannya dengan saya Afi sayaaaaang?” Aira membelai kepala sahabatnya yang tertupi oleh kerudung.



“Kali aja kalian jodoh.” Imbuh Afi.



“Mulai dah, mulai, entar saya tampar mulutmu pakai sandal baru tau rasa kamu.”



“WAAH galaknya..” Afi menampilkan ekspresi kedua tangan menghadang wajahnya, “Takuuut..” Berpura-pura bergidik.



“Sudahlah ayo Fi, please don’t say about him again, okey?” Tangan kananya membentuk lambang gerakan pramuka.



Aira segera menarik tangan sahabatnya, ia takut Afi memulai lagi mengejeknya dengan Ustad Nofil gurunya.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sakit Aira sudah di obati, Dokter spesialis tidak sampai menganjurkannya di operasi, cukup di rawat jalan seperti pasien lainnya. Selain itu, ia juga mencoba melakukan pengobatan herbal yang ternyata lebih banyak menghasilkan efek baik dari pada mudhorotnya.



Namun sesekali ia merasakan sakit yang sangat, lebih-lebih ketika santri membicarakan tentang penyakit yang di idapnya bisa membuat seorang perempuan tidak dapat mengandung janin seumur hidupnya.



Aira berfikiran yang aneh-aneh, bagaimana bisa ia hidup sebagai seorang wanita jika mahkota yang sangat di idamkan para lelaki tak ia miliki. Lebih-lebih ketika dirinya memikirkan perasaan aneh yang sering kali muncul setiap mendengarkan nama atau berpapasan dengan lelaki idaman para santri.



Pernah di benaknya terlintas, pantaskah dirinya yang serba kekurangan bersanding dengan lelaki hebat impian para wanita itu? Aira merasakan perutnya yang mulai melilit kesakitan, serta darahnya semakin banyak keluar dari organ kelaminnya. Ia lemas, berjalan ke kamar mandi sempoyongan tak karuan. Tak ada orang lain di sisinya, kebetulan malam ini malam hadiran, yaitu semua santri wajib ada di musholla ketika malam Jum’at untuk tahlil serta diba’iyah bersama.



Aira memejamkan mata, mencoba mengatur nafasnya. Namun keadaannya tak memungkinkan, ia ambruk tepat di sebelah rak penyimpanan gayung para santri.



Bella yang baru keluar dari kamar mandi menemukan kondisi Aira terkapar penuh dengan darah segar. Bella berteriak meminta tolong kepada santri yang lain untuk membopong Aira ke kamar.



“**SIAPAPUN YANG ADA DI MUSHOLLA, AKU MINTA TOLONG, AIRA PINGSAN**!” Teriak Bella dengan nyaringnya.



Beberapa pengurus yang mendengar suara Bella langsung menghampiri Aira yang bersimbah darah. Mereka menyangka telah terjadi benturan keras pada salah satu organ tubuhnya sehingga menyebabkan darah segar mengalir deras. Namun darah itu merupakan darah yang keluar dari organ vitalnya akibat penyakit kista yang dia alami.



“Aira kenapa Bell? Bukankah tadi malam masih ikut munaqosah syarhil qur’an di Madrasah? Kenapa tiba-tiba ia seperti ini?” Tanya pengurus keamanan pesantren.



Bella kebingungan, setahu Bella, Aira memang punya penyakit cukup serius, tapi ia tidak tahu apa nama penyakit tersebut.



“Kurang tahu Ustadzah… yang jelas Aira punya penyakit cukup serius.” Tutur Bella penuh waspada.



“Assalamu’alaikum… Aira kenapa Ustadzah? Aira kenapa?” Seseorang tiba-tiba datang dengan tangisan cukup hebat. Afi baru mendengar kabar ini dari adik Aira yang kamarnya bersebelahan dengan dia.



“Aira tiba-tiba pingsan sebelum sampai ke kamar mandi, darahnya terus mengalir tanpa henti, kami takut terjadi sesuatu dengan Aira.” Ucap Bella yang kehabisan kata-kata.



“Aira sakit Bell, Aira sakit, sudah aku peringatkan kalau dia tidak boleh kecapean, Aira memang selalu mengeluarkan darah dari daerah vitalnya, namun tidak pernah separah ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Wajahnya sudah semakin pucat, Aira sudah mengeluarkan banyak darah, yang aku takutkan akan merambat kepada penyakit kecil lainnya.” Suara Afi tersendat-sendat, ia memaparkan keadaan Aira dengan prihatin, ia sangat menyayangi sahabatnya. Tak sanggup ketika melihat keadaan Aira yang sangat lemah.



“Kita tunggu sampai dia sadar dulu.” Ucap seseorang dibelakang.



“Aku akan mengganti pakaiannya,” Pinta Bella seketika.



“Biar aku yang cuci pakaiannya.” Sambung Afi. Semua yang Aira kenakan penuh dengan noda darah, sampai warna dan motif aslinya tidak terlihat.



“Ya sudah, kalian urus Aira dulu, nanti kalau sudah sadar, pihak pengurus yang akan mengatasinya.” Titah pengurus yang mengurusi bidang kesehatan dan kebersihan.




Banyak respon khawatir akan keadaan Aira, ada yang hanya melongo tak percaya, ada yang sampai menangis tersedu-sedu, serta ada juga yang seharian penuh fikirannya terfokus pada sosok Aira dengan pandangan teduhnya. Ia tak lain adalah Ahmad Nofil Kaitsar Ghiyatsullah.



Di sudut kamar ber corak lukisan masjid setengah jadi serta gedung-gedung lain yang telah roboh terdapat sosok adam dengan tasbih di tangannya, mulutnya penuh dengan bacaan dzikir, matanya terpejam mengeluarkan sedikit air. Tak henti-hentinya ia berdo’a atas keselamatan gadis yang di cintainya, sungguh ingin segera ia halalkan agar supaya bisa leluasa menjaga dan merawatnya dengan kasih sayang.


“Sabar Fil, mungkin ini ujian sebelum sampeyan benar-benar bersamanya,” Hibur Zain yang kini cukup tertegun melihat sahabatnya begitu antusias terhadap seorang wanita.


“Saya tidak tega mendengar keadaanya Tad, apakah ada sakit yang lebih sakit dari menerima kenyataan seperti ini?”



“Mintalah yang terbaik kepada Allah, jangan hanya bertindak sesuka hati, takut yang kuasa tak meridhai.” Ucap Zain. Setiap perkataan yang Zain ucapkan diambilnya dengan penuh hormat.



Nofil tersenyum, ia menyadari jelas bahwa dirinya dengan Aira


masih abu-abu, tak ada kelanjutan dari rasanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Gadis yang telah membuat semua orang mengkhawatirkannya kini telah tersenyum kembali dengan candaan lelucon anak-anak kamarnya. Terlihat Aira sangat senang, seperti tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.



Begitulah yang Aira alami, ia terlihat sangat sehat dari luar, namun kenyataanya sangat berbanding terbalik dengan semua penglihatan orang disekitarnya. Hanya Afi lah satu-satunya orang yang paling mengerti Aira dari sudut manapun.



Dari kejuahan, Aira melihat Afi berlari-lari menuju kamarnya. Memang kelakuan Afi diluar kemampuan orang dewasa alias kekanak - kanakan. Tiba-tiba Afi melambaikan tangan pada Aira, Aira tak mengerti maksud sahabatnya, akhirnya ia keluar menghampirinya.



“Ada apa Fi, kok sampai lari-lari seperti itu?” Tanya Aira.



“Ini penting Ai, sangat penting!” Jawab Afi berbisik.



“Apaan sih, ntar tau-taunya cuma mau minta di beliin cemilan warna sekitar.” Aira tak menggubris.



Afi mendekati Aira kemudian membisikkan sesuatu yang bisa membuatnya berlari-larian seperti anak SD.



“Airaa… kamu dapat salam dari Ustad Nofil,”



“WHAT? Me?” Jerit Aira kenceng.



“Sssttt jangan berteriak, nanti kedengeran santri lain bisa bahaya aku,” Afi menutupkan tangannya ke mulut Aira.



“Kenapa?”



“Ustad Nofil bilang jangan sampai ada yang tahu, soalnya takut timbul fitnah yang tidah mengenakkanmu,” Tutur Afi.



“Kan aku sudah bilang Ai, kalau Ustad Nofil punya rasa lain terhadapmu.”



“Why me Afina? Kenapa harus saya? Bukankah masih banyak santri lain yang masuk kategori santri pintar juga face okey.”



“BODOH!” Afi mengumpat, “Ustad Nofil tidak memandang rupa, mungkin ia melihat sesuatu yang berbeda darimu.”



“Tidak Fi, mungkin kamu salah dengar kali… palingan bukan saya, kan kamu memang selalu jodoh-jodohin saya dengan Ustad Nofil.” Elak Aira tak percaya.

__ADS_1



“Dan ucapanku menjadi kenyataan.” Goda Afi menyikut lengan sahabatnya.



“Sudah Fi, saya tak mau dengar kamu bicara lagi, omonganmu selalu omong kosong, tak ada benar-benarnya.”



“KALI INI YANG PALING BENAR AIRA FATMAA” Teriak Afi setelah Aira meninggalkannya.



Sudut bibir Aira sebelah kanan sedikit terangkat mendengar teriakan dari sahabatnya. Seandainya Afi tak berbelok membelakangi keberadaan sahabatnya, mungkin wajahnya yang semakin bersemu kemerah-merahan terekam di ingatan Afina untuk dijadikan bahan bulian di kemudian hari.



Jantung Aira berdetak delapan kali lipat dari biasanya, setelah pergi dari hadapan Afi, Aira menuju tempat yang paling nyaman di pesantren, yaitu pojok an masjid sebelah kanan belakang. Selain tertupi rak Al-Qur’an juga tempatnya terlalu sempit, jadi tak ada yang betah berlama-lama disana.



Aira melakukan shalat dua kali rakaat untuk menetralkan detak jantungnya. Ia memohon petunjuk dan pilihan terbaik di masa yang akan datang. Namun wajah sang Ustad yang mulai memberikan irama cinta dalam hidupnya terus terngiang-ngiang dalam otak dan fikirannya.



Setelah sekitar beberapa jam di musholla, Aira kembali menghampiri Afi di kamarnya.



“Fii.. jawab dengar jujur sekarang, saya nggak mau kamu berbohong, apalagi pada saya.” Ucap Aira pelan.



“Kurang jujur gimana lagi aku Ai, itu sudah sangat jujur, tak ada yang dikurangi maupun ditambah,” Jari Afi membentuk huruf V.



“Kok bisa Fi, gimana ceritanya?”


“Cieeee yang mulai kepoo,” Afi mengedikkan sebelah matanya ke arah Aira.



“Serius ah Fi, jangan ngeledek!” Tatapan Aira penuh amarah.



“Ya ya maaf,” Ucap Afi.



“Jadi ceritanyaaa, tadi aku ke ruangan guru mengambil absensi kelas, disana cuma ada Ustad Nofil, ada siiih Ustad yang lain tapi pada sibuk di ruangannya. Ustad nofil memanggilku, dan mengatakan seperti apa yang sudah aku sampaikan padamu.” Afi menghentikan suaranya. Aira terlihat masih keheranan.



“Sudah, itu saja.” Ucap Afi, “Kalau mau yang lebih, biar aku sampaikan pada Ustad Nofil.” Goda Afi lagi membuat ekspresi Aira berubah.



“Nggak, nggak usah. Saya berterimakasih karena kamu sudah mau bercerita,”



“Hmmm Aira baper (bawa perasaan) nih daah..”



“Iiihh apaan sih Fi..” Aira memasang wajah malu-malu.



“Sudaaah terima saja kalau Ustad nofil mengkhitbah ntaar.” Kata - kata Afi membuat jantung Aira kembali bekerja lebih cepat.



“Siapa mengkhitbah siapa? Nggak ada begituan!”



“Sudahlah Aira Fatmaaa, akui saja perasaanmu. Tuh muka sudah nggak bisa berbohong lho.”



Aira menyentuh mukanya yang memanas, kemudian berlari sambil terus berteriak.



“TIDAK AFINAA, TIDAAAAK.”



\*\*\*\*\*\*\*



Aira menulis sesuatu di diary nya, tulisan-tulisannya ia setor kepada bidang kesastraan yang nantinya akan di muat di harian pesantren. Aira tak pernah menyertakan namanya pada setiap tulisannya. Hanya Afi yang tahu tentang hobi gadis pecinta ice cream ini.


...…



Jika kamu bertanya siapa yang selalu ada di bait doa, tersenyumlah, sebab kamu tidak pernah lepas dari genggam itu. Jika kamu bertanya siapa yang saya inginkan ada di masa depan saya, tersenyumlah, sebabsemesta pun tahu, kamu lah jawabannya.



Do’a saya sederhana, semoga tuhan mempertemukan dan menyatukan kita dengan cara yang sebaik-baiknya. Lalu setelahnya, tidak ada alasan lagi semesta memisahkan kita.


...…



Aira tersenyum sendiri membaca tulisannya, spontan saja ia menulis, tak tertuju kepada siapa pun. Namun jika orang lain yang membaca, mereka pasti mengira tulisan Aira tertuju pada Nofil.



Getaran apa yang kali ini dia rasa, tak bisa di definisikan melalui kata-kata. Ia tak mengerti, apakah rasa yang ia miliki hanya sebatas rasa kagum atau bahkan lebih dari itu.



“Airaa, Mbak Anna bisa bicara?” Tanya seseorang di balik pintu.



“Iya Mbak, silahkan masuk,” Jawab Aira menoleh ke sumber suara dan mendapati Anna yang cukup cantik dengan jubbah pink yang dipakainya.



“Kamu ada waktu buat bicara serius sama Mbak , Ai?”



“Mbak Anna apaan sih, bicara saja Mbak, jangan bikin bulu kuduk saya merinding seperti ini,” Ucap Aira bergidik.



“Mbak serius Aira,” Tatap Anna penuh aura keseriusannya.



Aira tak bergeming, ia menatap Anna dengan seksama.



“Apakah Aira sekarang sudah ada yang mengkhitbah?” Tanya Anna meyakinkan. Tangannya ia letekkan pada punggung tangan Aira.



“Mbak Anna nih yaa ada-ada saja, mana bisa seperti itu, saya kan mesti belajar dulu Mbak, tak terfikirkan tentang hal begituan sama sekali.” Aira mencoba bercanda, untuk mengusir ketegangan yang terjadi.



“Aii,, selama kita mampu, tidak boleh kah kita menjalin ikatan secara adat kebiasaan masyarakat, adakah batasan umur yang tertulis?” Anna membalikkan pertanyaan menohok pernyataan Aira.



“Ndak Mbak Ann, Aira masih belum cukup dewasa untuk menjalaninya.” Bantah Aira yang kini membalikkan badannya membelakangi Anna.



“Tidak ingin tahu kah siapa orang yang bersedia mengkhitbahmu Aira?”



Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.



“Seandainya ia Ustad Nofil, apakah kamu masih mau menolaknya?” Tanya Anna membuat Aira kembali membalikkan badannya.



Aira bungkam, sosok yang tak mungkin ia genggam ternyata ingin menggegamnya.



“Mbak Anna, kenapa harus saya?” Tanya Aira yang mulai terisak. Ia sangat mengagumi kepintaran seorang Nofil, tapi sulit baginya menerima kenyataan ketika berhadapan dengan hal yang seperti ini.



Air mata Aira terus mengalir sesuai dengan hatinya yang tak menentu, tak mungkin secara jelas ia menolak seseorang yang begitu dikaguminya, namun, rasanya juga tak mungkin dirinya bersanding dengannya.



“Sudah Aira jangan menangis, istikharah dulu, minta yang terbaik kepada Tuhan, karena awal yang baik akan berakhir baik pula.” Kata - kata yang di ucapkan Anna hampir persis seperti yang di ucapkan Zain pada Nofil tempo hari.

__ADS_1



Aira ingin bercerita kepada sahabatnya mengenai yang terjadi hari ini, namun ketidak siapan hatinya mencegah niatnya sendiri.Inikah jawaban dari semua do’a-do’anya? Nofil kah yang Tuhan utus menjadi pelengkap takdirnya?


__ADS_2